LAURA

LAURA
Episode 61



“Eh, dasar orang gila ngapain sih kak teriak-teriak nggak jelas di depan rumah orang bikin kuping panas aja. Ini masih pagi” kesal Nindy melihat Surya yang sedang berjongkok membelakanginya


“Surya kamu ngapain di situ?” tanya Gery


“Lihat siapa ini” menoleh dan menggeser tubuhnya


Tampak seorang perempuan yang tergeletak tak sadarkan diri membuat mereka kaget melihatnya. Segera mereja menghampirinya.


“LAURA” teriak Rya kaget melihatnya


“Dia bukan Laura” sahut Nindy tidak terlalu kaget tapi bingung


“Apa kau tidak bisa melihat wajahnya hah” marahnya dengan tangis yang menetes mencoba membangunkannya dengan menepuk pipinya pelan


“Tapi dia bukan Laura seperti yang kamu kira. Bukankah kalian tidak percaya apa yang aku katakan kemarin tentangnya”


“Jadi dia bukan Laura? Tapi Lyra Jakson?” mengusap air mata. Nindy hanya mengangguk entah kenapa dia terlihat tenang tapi hatinya juga sangat gelisah


“Sudah-sudah jangan berdebat tidak ada gunanya lebih baik cepat bawa dia masuk. Aku akan memanggil dokter. Surya tolong bawa dia masuk”


“Kak tolong bantu angkat masuk ke dalam” ajak Rya


“Baiklah” mengangkat dan membawa ke masuk dalam


Gery dan Nindy masih di luar


“Jadi dia yang membawa mobil kita. Lihatlah” menunjuk arah mobil yang terparkir


“Ahh, kakak benar. Tapi buat apa dia melakukannya dan tau darimana dia alamat rumah ini. Ayo masuk kak dan segera panggil dokter aku kasihan padanya” masuk ke dalam


***


“Dok bagaimana keadaannya?” tanya Rya. semua sudah menunggu dokter untuk selesai memeriksa keadaannya.


“Tidak apa-apa nona, teman anda baik-baik saja hanya kelelahan dan sepertinya belum makan. Sebentar lagi pasti akan siuman untuk itu biarkan dia istirahat dulu”


“Baik dokter, apa ada perlu obat yang harus saya tebus?”


“Untuk obat tidak ada nona, tapi saya akan memberikan vitamin untuk ibu dan calon bayinya agar tetap sehat. Jangan lupa perhatikan pola makannya ya” memberikan sebuah kertas resep


“Apa dokter calon bayi?” ucap Nindy kaget bahkan semua orang yang mendengarnya


“Iya, teman anda sedang hamil saya perkirakan usianya 7 minggu tapi lebih baik bawa saja ke rumah sakit untuk diperiksakan jika kalian ingin memastikannya dan satu lagi jangan sampai ibunya stress atau terlalu banyak pikiran itu sangat berpengaruh pada calon bayinya. Usahakan dia selalu tersenyum”


“Baik dokter, mari saya antar ke depan” ucap Surya


Semua orang duduk terdiam dalam satu pikiran.


“Kenapa kalian terdiam, wajar bukan jika dia hamil dia sudah menikah. Apa kalian pikir dia Laura teman kita?. Jangan gila dong” membuka suara


“Bukankah kalian yang kemarin membantahnya sendiri” semua masih terdiam


“Aku akan melihatnya. Apa dia sudah bangun atau belum


***


“Tuan…”


“Ada apa Bil? Apa kau sudah menemukannya?”


“Maaf tuan saya belum bisa menemukannya, bahkan sudah bertanya pada warga sekitar jawaban mereka sama tidak ada yang melihatnya. Tapi saya membawa kabar yang lainnya tuan” wajah cemas


“Ada apa? katakan” kesal


“Itu tuan, kita harus segera kembali ke Bali sekarang juga”


“Aku tidak akan kembali sebelum menemukan istriku”


“Tapi tuan, keadaan perusahaan sedang kacau sepertinya ada pengkhianat dalam perusahaan, mata-mata dari perusahaan lain tuan” berbicara hati-hati


“APA? Apa kau tidak bisa mengurus hal sekecil itu Billy!” marahnya membanting gelas


“Maaf tuan” menunduk


“Aku tidak mau tau kau harus menemukan orang itu secepatnya dan juga istriku” tekannya


“Siapkan mobil. Kita kembali” berlalu


“Baik tuan”


***


“UUUuuuuhhh… kepalaku sakit” membuka mata perlahan memegang kepala


“Aunty sudah bangun?” ucap gadis kecil itu


“Namaku Aulia aunty. Apa kepalamu masih sakit?”


“Aulia?” heran


“Nona kau sudah bangun rupanya” ucap Nindy di sudut pintu


“Nindy” senyum melihatnya berusaha duduk


“Ya ini aku. Ternyata nona ini masih mengingatku. Bagaimana keadaanmu apa yang kau rasakan?” menghampiri. Tidak merasa aneh


“Hanya sedikit pusing”


“Apa Aulia ada disini?” tanya Rya yang baru saja datang


“Ya mah, aku ada disini” jawabnya yang mendengar suara mamahnya


“Rya? dia anakmu?”


“Kau mengenalku?” mereka saling menatap heran


“Apa yang kau katakan, tentu saja aku mengenalmu kau sahabatku” jawabnya


“Kalian ini kenapa hah? Kenapa menatapku seperti itu?”


“Kau Lyra bukan?” tanya Nindy bingung


“Lyra? Siapa dia? Aku Laura sahabat kalian” saling menatap


“Aku sungguh tidak mengerti. Jika kau Laura kemana kau selama ini? Kenapa baru kembali?”


“Maaf untuk itu, aku baru saja mendapatkan kembali ingatanku yang hilang setelah kecelakaan itu”


“Hilang ingatan? Tidak perlu minta maaf lebih baik ceritakanlah lebih detail ra. sungguh aku tidak mengerti maksudmu” sambung Rya


“Saat bangun dari koma aku sudah tidak ingat apa-apa aku sudah kehilangan ingatanku. Aku terbangun di sebuah rumah yang cukup besar dan ada seorang laki-laki yang mengatakan bahwa dia adalah suamiku. Awalnya aku tidak percaya tapi lama-kelamaan aku mulai percaya padanya karena bukti-bukti yang dia berikan padaku dan tempat itu di Bali”


“Bukti apa?”


“Buku nikah dan banyak foto-foto disana aku bersamanya”


“Tunggu dulu! Jika kau disini dan masih hidup lalu siapa wanita yang kita makamkan kemarin dan siapa yang ada di sana maksudku orang sebelum Laura datang pada pria itu? Apa mungkin dia istrinya” ucap Nindy


“Ini sungguh rumit. Apa mungkin mereka tertukar?” imbuh Rya


“Kau pikir ini sinetron hah” geram Nindy


“Wanita yang dimakamkan? Siapa?” tanya Laura


“Waktu itu kata suster disana kamu sempat menghilang lalu kamu di temukan dalam kondisi setelah kecelakaan dan wanita itu mirip sekali denganmu. Mungkinkah dia Lyra Jakson istri dari…. Siapa nama pria itu?”


“Namanya Davin.. Davin Kyo Gunawan”


“Bisa saja Lyra adalah istri dari Davin karena kalian mirip makanya dia menganggapmu Lyra” ucap Nindy


“Tapi bagaimana bisa kita mirip sedangkan aku dengan kakak perempuanku saja berbeda dan aku tidak memiliki adik atau pun saudara kembar bukan”


“Kau benar, kau jauh berbeda dengan kakak perempaunmu yang judes itu” sahut Rya


“Aku akan pulang ke rumah besar untuk memastikannya”


“Kau yakin ra akan pulang? Tapi kita juga harus memastikannya melalui cctv rumah sakit apa benar Davin yang membawamu” Nindy bersuara


“Ya dan kita akan mengantarmu” ikut Rya


“Baiklah, tapi bisahkah kalian memberiku makan sekarang aku sangat lapar dari kemarin malam belum makan” rintihnya sambil memegang perutnya


“Hampir saja kita melupakannya. Ayoo turun kau bisa makan sepuasnya”


Laura menjawab dengan senyum penuh semangat


“Apakah anak kecil tadi anakmu Ry? Aku hampir lupa menanyakannya” mereka berjalan menuruni tangga


“Yaa dia anakku bersama Kak Gery” senyumnya


“Kapan kalian menikah?”


“Saat kau menjadi putri tidur”


“Duduklah” kata Nindy


“Hay Kak Gery Kak Surya apa kabar?” sapa Laura yang melihat mereka datang menghampiri justru membuat mereka bingung ada apa dengan orang ini.


Jangan lupa vote, like dan coment kalian biar bisa tambah semangat buat update episode selanjutnya. Thank you see you next episode