LAURA

LAURA
Episode 76



Selama perjalanan Nindy hanya duduk dengan tenang dalam diamnya


“Apa kau akan diam saja seperti itu tidak mau bicara sesuatu nona?” tanya Vian membuka suara


“Jika kau tidak mau mengatakan dimana alamat rumahmu maka jangan salahkan aku jika membawamu ke rumahku dan mengatakan aku menculikmu” ucap yang sesekali melihat Nindy yang duduk disampingnya


“Aku akan mengatakannya nanti jika sudah dekat” jawabnya singkat


“Apa aku menakutkan?” menoleh ke arah NIndy


“Bahkan tampangmu lebih pantas seperti begal dibandingkan dokter kandungan” jawabnya pedas


“Astaga ucapanmu pedas sekali nona” Vian tersenyum kecil


“Bisakah kita berhenti sebentar di supermarket depan aku ingin membeli sesuatu”


“Baiklah nona pedas” tawanya meledek


“Apa kau mau menitip sesuatu tuan begal?” tanya Nindy sebelum keluar dari mobil


“Hah, tidak” Nindy pun pergi meninggalkannya


Vian menatapnya hingga tak terlihat lagi setelah masuk ke dalam supermarket


DI DALAM SUPERMARKET


Ketika hendak membayar ke kasir Nindy melihat seseorang yang sangat dikenalnya sedang berjalan menuju kasir.


“DION?” laki-laki yang di panggilnya langsung menoleh pada arah suaranya


“Nindy!” kaget


“Kenapa kaget begitu melihatku? Apa aku seperti hantu?” tanyanya merasa aneh dengan tatapan Dion padanya


“Ti.. tidak, bagaimana kabarmu? Lama tak jumpa?” ucapnya basa-basi


“Ya aku baik-baik saja seperti yang kau lihat, dan sepertinya kau juga terlihat sangat baik”


“Tentu aku sangat baik-baik saja” mengucap dengan senyumnya


“Kau membeli susu untuk wanita hamil? Apa kau sudah menikah?” menatap beberapa kotak susu yang berada di tangannya


“Ya… aku sudah menikah”


“Baguslah, kenapa tidak mengundang mantan mahasiswamu ini? itu artinya kau sudah bisa move on dari sahabatku Laura itu bagus untuk membuatnya tenang disana” dengan senyum menyeringai


“Untung saja dia tidak tau jika Laura masih hidup. Aku harap selamanya dia tidak tau” batin Nindy


“Yaa.. bisa di bilang begitu. Maaf nind aku harus segera pergi ini sudah malam dan aku harus cepat pulang” menjawab dengan ragu-ragu


“Baiklah aku doakan untuk keluarga kecil kalian semoga bahagia selamanya, kapan-kapan aku ingin bertemu dengan istrimu, aku sungguh penasaran dia seperti apa wanita yang bisa membuatmu move on dari sahabatku yang sudah kau sakiti hingga membuatnya pergi selamanya!?” ucapan yang dilontarkannya begitu lembut namun pedas untuk dengarnya


“Maaf aku harus pergi” Dion pun langsung meninggalkan Nindy begitu saja dan langsung masuk kedalam mobilnya


Setelah selesai Nindy pun kembali ke mobil Vian dengan wajah kesalnya untuk melanjutkan perjalanan pulangnya.


“Ini untukmu” Nindy menyerahkan minuman kaleng untuk dokter Vian


“Terimakasih, kenapa wajahmu kesal begitu?” tanya dokter Vian yang begitu memperhatikan wajahnya.


“Apa terlihat jelas?” tanya setelah meneguk minuman di tangannya


“Ya, sangat terlihat” dokter Vian langsung menjalankan mobilnya untuk melanjutkan perjalanan


“Padahal aku sudah menyembunyikannya” ucapnya dengan menatap ke arah jendela mobil disampingnya membuat dokter Vian sesekali meliriknya


“Itu artinya kau tidak pintar untuk menyembunyikannya, memang ada apa?”


“Tidak apa-apa hanya baru saja bertemu orang yang aku benci karena hampir saja aku kehilangan sahabatku” murung


“Sahabatmu? Laura?”


“Ya bagaimana kau bisa tau?” menoleh ke arah dokter Vian


“Aku hanya menebaknya, sahabatmu hanya ada dua antara Laura dan yang satu aku lupa namanya” tawanya


“Rya itu namanya.. jangan-jangan kau juga lupa namaku atau tidak tau?” ucapnya dengan mentap tajam pada lawan bicaranya yang hanya sekilas melihat ke arahnya karena harus fokus untuk menyetir dan malah tertawa


“Tentu saja aku mengingatnya” jawabnya dengan terus tertawa


“Siapa namaku?”


“Cewek galak” jawabnya dengan masih tertawa


“Hah, jangan seenaknya ganti nama orang dong” kesalnya kembali menatap ke depan


“Hahaha… lucu sekali”


“Apanya yang lucu?” masih dengan muka kesal


“Wajahmu sangat lucu jika kesal begitu Nindy” senyum mempesona Nindy tak sengaja melihatnya dengan melirik membuat pipinya terasa panas


“Kau ingat namaku?”


“Tentu saja aku mengingatnya Nindy cewek galak yang sangat lucu haha” tertawa dengan tangan yang mengusap rambut Nindy hanya diam saja


“Tentu saja aku harus tau siapa dokter yang bertanggung jawab pada sahabatku dokter Vian”


“Baguslah kalau begitu, tapi aku lebih suka di panggil Vian saja ini khusus untukmu”


Mereka saling menatap satu sama lain. Mata mereka saling bertemu.


“Apa yang akan dia lakukan padaku?” batin Nindy. Dia pun memejamkan matanya.


Kini terasa wajah mereka sudah semakin mendekat hingga hembusan nafas bisa dirasakn satu sama lain. Vian terus memajukan wajahnya semakin mendekat hingga akhirnya…


“Kita sudah sampai nona” ucapnya tepat di telinga Nindy dengan senyum nakalnya membuat Nindy menjadi membuka mata dan salah tingkah dibuatnya


“Baiklah, terimakasih atas tumpangannya” ketika Nindy hendak akan turun dari mobil


“Tunggu” Vian menahan tangannya untuk tidak keluar dari mobilnya


“Bisakah aku meminta nomer telfonmu nona Nindy”


“Untuk apa?”


“Ahh baiklah, tolong kirimkan nomor rekeningmu aku akan mengganti biaya antarnya” memberikan nomor telfonnya


“Tentu aku akan memintanya sangat banyak” dengan senyum jahil


“Terserah berapapun asal aku masih sanggup membayarnya”


“Kau tidak akan sanggup membayarnya” senyum jahil


“Selamat malam, dan terimakasih untuk tumpangannya” Nindy segera menutup pintu mobilnya dan masuk ke dalam rumah. Nindy langsung masuk ke dalam kamarnya dan merebahkan tubuhnya


“Huh, apa itu tadi hanya pikiran kotorku? Kalau dia mau menciumku?” berbicara sendiri, menatap ke langit-langit kamarnya membayangkan apa yang baru saja terjadi padanya


“Sudahlah Nindy itu hanya fikiranmu saja yang sudah terkontaminasi, kau bukan siapa-siapa mana mungkin dia menciumu” ucapnya pada diri sendiri


***


Beberapa hari telah berlalu kini Laura menjadi seorang yang sangat pendiam, dia tidak akan berbicara pada siapapun kecuali dia sendiri yang menginginkannya. Sudah tak ada akal lagi untuknya bisa kabur dari sana. Penjagaan yang bertambah dan semakin diperketat oleh pemilik rumah sulit membuatnya pergi dari sana. Kini dirinya hanya bisa pasrah hingga ada keajaiban datang untuknya.


“Ra ayo sarapan” ajak Dion yang berjalan menghampiri Laura yang sedang duduk disebuah balkon rumah dengan memandang lurus kedepan entah apa yang diperhatikannya


“Ra, ayoo” ajaknya kini dengan menggandeng tangan Laura yang hanya diam menurut mengikut langkah kakinya kemana berjalan


“Duduklah” Dion membukakan kursi untuknya lalu Laura duduk disana


“Kamu mau makan apa ra? nasi goreng atau roti? Aku baru saja membeli selai kacang favoritmu” tawarnya namun tak mendapat jawaban apapun dari orang yang dimaksud hanya mendapat tatapan yang tak bisa dijelaskan apa maunya


“Aku rasa kamu ingin memakan roti dengan selai kacang favoritmu, aku akan menyiapkannya untukmu” Dion pun mengambilkan sepotong roti dan mengoleskan selai kacang di atasnya dan memberikannya pada Laura


“Ini rotimu dan susunya juga, kau harus menghabiskannya tanpa sisa agar bayinya sehat” ucapnya dengan senyum yang dibuatnya semanis mungkin


Tanpa bicara Laura mengambil roti di atas piringnya dan mengigitnya sedikit demi sedikit hingga tersisa beberapa gigitan sudah menyudahinya dan meletakannya kembali di atas piring. Tangannya kini meraih segelas susu ibu hamil yang berada di depannya, baru saja setengah dari gelas Laura meminum susunya gelas itu terjatuh ke lantai dan pecah bahkan tumpah mengenai bajunya. Wajahnya kini berubah menjadi pucat dan memerah begitu saja. Dion langsung datang menghampirinya


“Laura ada apa?” tanya Dion panik dan beberapa pelayan yang sedang berada disana


“Apa yang terjadi apa yang kau rasakan huh ayo katakan?” melihat wajah dan tangan hingga leher menjadi merah karena kontras dengan kulitnya yang putih


“Pa… paanas…. Gatal..” kata Laura dengan menggaruk leher dan tangannya bergantian


“Jangan menggaruknya, nanti kulitmu terluka” kata Dion melarangnya menahan agar Laura tidak melakukannya namun sulit


“Henddrriii… cepat panggil dokter pribadinya!” teriak Dion pada asistennya


“Baik tuan” Hendri segera pergi untuk menelfon


“Ayo kita ke kamar” ajaknya merangkul Laura agar mau berjaln dengannya


“Kalian periksa makanannya” titahnya pada para pelayan sebelum meninggalkannya


Para pelayan kelihatan panik dan ketakutan. Jika terjadi hal buruk pada Laura maka mereka yang bersalah akan terkena imbasnya tak hanya di pecat namun juga tidak akan bisa bekerja lagi pada siapapun. Mereka akan masuk dalam blacklist.


Sesaat kemudian dokter datang.


Mata Dion tiba-tiba tertuju pada laki-laki yang tak dikenalnya kini datang bersama Hendri asistennya


“Dia siapa Hendri?” tanya Dion


“Ini Dokter Vian tuan dia dokter yang di utus oleh dokter Sindy untuk kemari karena dokter Siska sedang menjalankan operasi besar secara mendadak. Dan kebetulan dokter Vian juga sedang dalam perjalanan dekat sini tuan” jelasnya


“Selamat pagi tuan saya Dokter Vian saya dokter spog saya memang terlihat lebih muda tapi saya….” Belum selesai berbicara Dion sudah memotongnya


“Sudah cepat periksa istri saya, saya tidak mau terjadi apa-apa dengannya. Saya percaya kamu karena dokter Siska yang merekomendasikannya”


“Baik Tuan” hendak berjalan masuk dan menutup pintu


“Maaf tuan sebaiknya anda tunggu di luar biarkan saya dan suster Fanny yang memeriksanya”


“Baiklah, lakukan yang terbaik”


Dokter Vian pun masuk dan memeriksa bersama suster Fanny


Jangan lupa vote, like dan coment kalian biar bisa tambah semangat buat update episode selanjutnya. Thank you see you next episode