LAURA

LAURA
Episode 78



“Sayang bagaimana perasaanmu? Aku harap kalian baik-baiks saja” ucap Dion yang baru saja masuk ke dalam ruang khusus dimana Laura terbaring lemah


“Aku baik-baik saja” jawabnya sinis


“Syukurlah kalian baik-baik saja aku sungguh mengkhawatirkan kalian tadi” ucapnya dengan tangan hendak mengelus perutnya namun langsung mendapat tepisan tangan Laura cepat.


“Apa kau ingin makan sesuatu sayang?” menatap dengan penuh perhatian tulus


“Tidak, berhentilah memanggilku seperti itu”


“Tidak akan, kalau begitu istrihatlah agar keadaanmu cepat pulih kembali”


“Suster” panggilnya


“Iyya tuan” datang menghampiri


“Jaga nyonya Laura jangan sampai terjadi sesuatu padanya, jika ada sesuatu segera lapor padaku atau Hendri, perhatikan jam makannya juga jangan sampai terlambat”


“Baik tuan, saya mengerti”


“Aku tinggal sebentar ya” pamitnya pada Laura tapi tidak ada respon sama sekali hanya memalingkan muka


Dion pun keluar dari kamar itu Laura menatap punggungnya hingga pergi tak terlihat lagi.


“Sayang.. terimakasih sudah menjadi anak mommy yang sehat dan kuat. Semoga kita segera bisa keluar dari tempat ini yaa. Mommy janji padamu jika kita bisa keluar dari sini, mommy akan membawamu bertemu dengan daddy” berbicara dalam hati


Laura tersenyum kecil sambil mengelus perutnya yang sudah membesar.


***


Tanpa membuang waktu lagi Dokter Vian segera datang menghampiri ke rumah Nindy untuk menyampaikan sebuah pesan penting untuknya.


“Permisi….” Dokter Vian mengetuk pintu di sebuah rumah kawasaan elit yang nampak sepi penghuninya,


“Selamat siang” akhirnya pintu terbuka oleh wanita paruh baya


“Selamat siang tuan mencari siapa?” tanya wanita itu


“Ahh, apa Nindy ada di rumah? Saya temannya” tanyanya langsung tanpa berbelit-belit lagi


“Teman nona Nindy, Ada perlu apa anda mencarinya?”


“Ada pesan yang harus saya sampaikan padanya”


“Sayang sekali nona Nindy sedang tidak ada di rumah, nona sedang ada pekerjaan di luar kota dan baru tadi pagi berangkat” jelas wanita itu


“Kapan dia akan pulang?”


“Maaf saya tidak tau tuan kapan nona akan pulang karena tidak memberitahu pada saya. Apa anda sudah mencoba untuk menghubunginya?”


“Sudah, tapi ponselnya tidak bisa dihubungi, saya akan mencobanya lagi nanti. Kalau begitu saya permisi”


“Baiklah tuan, jika nona Nindy sudah pulang saya akan memberitahunya jika anda mencarinya”


“Terimakasih katakan padanya jika Dokter Vian mencarinya ini sangat penting tolong minta padanya untuk segera menghubungiku / datang ke rumah sakit”


“Baik tuan, saya akan sampaikan”


Dokter Vian pun pergi meninggalkan rumah Nindy dengan rasa kecewa.


“Kenapa sulit sekali di telfonnya, kemana dia pergi” gumam dokter Vian dalam mobil


Dirinya tidak tau harus berbuat apalagi jika Nindy tidak bisa dihubungi sedangkan untuk menghubungi Rya dirinya tidak tau alamatnya ataupun nomer telfonnya.


***


Tiga hari sudah berlalu semenjak Dokter Vian sulit untuk menghubungi Nindy entah apa yang sedang terjadi padanya sehingga sangat sulit untuk dihubungi.


“Kenapa belum ada yang datang kemari? Apa mereka belum bertemu? Atau mereka sulit untuk datang kemari ya?” tanya Laura dalam hatinya


Laura hanya bisa menunggu dengan berbaring di tempat tidurnya tanpa bisa menghubungi siapa pun termasuk dokter Vian yang sekedar menanyakan kelanjutannya. Susternya pun tidak bisa membantunya menghubungi karena ponselnya di sita oleh Hendri dan jika dia ingin menelfon keluar harus dengan telfon rumah yang sudah disadap oleh pemilik rumah.


***


Di sebuah apartemen yang penuh dengan fasilitas mewah. Davin duduk bersantai di balkon apartemennya, dirinya memutuskan untuk segera pindah sejak kedatangannya beberapa hari lalu karena merasa kurang nyaman jika harus tinggal di rumah Laura sedangkan pemiliknya masih menghilang belum ada kabar hingga sekarang.


“Permisi tuan” Billy asistennya datang menghampiri


“Ya bil, ada apa? Apa kau sudah menemukan sesuatu?” menghadap kea rah Billy


“Ya tuan, saya sudah mendapatkan informasi dimana keberadaan nyonya Laura sekarang”


“Apa kau yakin Laura ada disana?” menatap Billy


“Iyya tuan, saya sudah memastikannya dan menyuruh orang untuk mengawasi pavilion itu hingga sekarang”


“Saat nyonya Laura pergi hendak naik taksi dirinya telah terekam cctv di sekitar sana. Saya juga melacak kemana taksi itu membawa nyonya pergi tuan” menyerahkan sebuah ipad pada Davin


Disana terlihat Laura yang sedang menunggu sebuah taksi dan setelah datang Laura masuk kedalamnya. Taksi itu pun pergi membawanya pada sebuah pavilion besar dan mewah serta penjagaan yang ketat.


“Saya juga sudah meminta orang untuk berjaga dan mengawasi pavilion itu hingga sekarang karena sampe saat ini mereka belum melihat keadaan nyonya di dalamnya”


“Kerja bagus bil, siapkan orang-orangmu. Kita akan segera menjemputnya”


“Baik tuan, saya permisi”


Ada sedikit senyum kecil yang terpancar dibibirnya entah melambangkan apa dalam pikirannnya


***


Waktu terus berlalu Nindy masih tidak bisa dihubungi sedangkan dokter Vian sibuk dengan pasiennya yang banyak menjalani kelahiran dengan operasi cesarnya. Harus datang ke rumah sakit setiap paginya bahkan terkadang pulang hanya untuk ganti baju dan harus kembali pergi lagi ke rumah sakit.


“Ini sudah tiga hari tapi Nindy masih juga belum bisa dihubungi. Sungguh ini membuatku gilaa” geramnya melihat layar ponselnya yang sudah membuatnya geram


“Aku harus ke rumah sakit sekarang” Dokter Vian langsung masuk ke dalam mobilnya dan menjalankannya menuju rumah sakit.


Saat perjalanan menuju rumah sakit di persimpangan jalan hampir saja mobilnya menabrak sebuah taksi yang berlawanan arah dengan mobilnya.


“SIAL” gumam Vian harus menginjak remnya agar mobilnya cepat berhenti


“Auuuww…” teriak seorang penumpang di dalam taksi sambil memegangi kepalanya yang terbentur pada jok mobil di depannya


“Maaf nona, apa anda tidak apa-apa?”


“Saya tidak apa-apa pak, memangnya ada apa? Kenapa harus rem mendadak pak?” tanyanya


“Itu nona ada mobil yang jalannya ugal-ugalan” jawab sopir taksi itu


“Hah, resek sekali. biar saya yang keluar pak”


“Kenapa aku selalu di buat geram dengan mobil yang di bawa ugal-ugalan sih” geramnya dalam hati.


“Tidak perlu nona, biar saja saja yang keluar menegurnya” ucap supir yang sudah berumur setengah abad itu


“Tidak apa-apa pak, dia perlu diberi pelajaran agar tidak seenaknya menggunakan jalan”


Penumpang taksi itu pun segera keluar dari taksinya menuju mobil yang hendak menabrak taksi yang di tumpanginya


“Tookkk… toookk… tookkk…” diketuknya kaca mobil dengan keras yang tak terlihat siapa pengemudinya menambah geramnya.


“KELUAR” teriaknya hingga membuat pengemudi itu keluar dari mobilnya


“HAH?”


Jangan lupa vote, like dan coment kalian biar bisa tambah semangat buat update episode selanjutnya. Thank you see you next episode