
“SATPAM… DOKTER… SATPAM..” teriak seorang suster memanggil di salah satu kamar pasien
“Ada apa sust??” ucap dokter dan dua satpam yang datang menghampirinya melihat suster panik
“Anu dok,. Itu.. pasien hilang?” ucap yang terbata bata dan gugup. Dokter dan satpam langsung menengok ke dalam kamar pasien
“Apaa? Bagaimana bisa hilang” jawabnya yang ikut menjadi panik
“Iiya dok, pasien yang bernama Laura hilang, saya juga tidak tau pasti waktu saya mau memeriksa pasien kamarnya sudah kosong. Sepertinya pasien sudah sadar dari koma dok” jelasnya
“Gawat, cepat cari pasien keseluruh sudut rumah sakit sampe ketemu”
“Baik dok” ucap kedua satpam bersamaan
Mereka pun segera berpencar mencari seluruh sudut rumah sakit namun tak menemukan jejak dimana Laura berada
“Bagaimana pak? Apa pasien ketemu?” ucap dokter pada kedua satpam yang baru saja datang menghampirinya
“Saya tidak menemukannya dok” ucap seorang satpam yang bertubuh tinggi atletis
“Saya juga tidak dok” sahut satpam kedua yang sedikit pendek
“Adduh bagaimana ini bisa bisa rumah sakit ini di tuntut” ucap dokter panik
“Dok.. dokter.. Anu.. dok” ucap suster yang tadi yang menghampirinya dengan penuh kepanikan
“Ada apa sus? Apa pasien ketemu?” tanyanya
“Iya sus pasien Laura ketemu” jawabnya terpotong dengan nafas yyang tersengal
“Allhamdulilah syukur kalau gitu” ucapnya mereasa lega dan begitu kedua satpam yang tak jadi panic
“Gawat dok, pasien kritis” ucapnya kemudian
“Apa? Kok bisa? Ayo cepat kita ke ICU sekarang” ajakanya yang kemudian berjalan ke arah ruang ICU
“Iya dok, pasien kecelakaan dok katanya korban tabrak lari” jelasnya.
Sesampainya di ruang ICU mereka segera menangani Laura dengan cepat dan melakukan segala sesuatu dengan yang terbaik dan kemampuan yang mereka miliki.
“Sus cepat hubungi keluarga pasien” ucap dookter setelah menangani Laura
“Baik dok”
Trriiinggg…. Trrrriiinggggg… ttrrriiiiinnnnggggg….
“Aduuhh siapa sih ini yang telfon, sayang hape kamu bunyi ada yang telfon” teriak Gery pada Rya yang sedang ada di dapur
“Angkat dulu yang.. ini belum selesai” jawabnya dari dapur
“Kenapa sih teriak teriak kayak di hutan aja” ucap Nindy yang ngedumel
“Udah biarin” jawab Rya
“Ya udah” teriak Gery kembali
“Hallo” jawab Gery yang mengangkat telfonnya
“Hallo, selamat siang bisa bicara dengan Ibu Rya keluarga pasien bernama Cantika Putri Laura?” terderang suara di sebrang sana
“Oh kebetulan istri saya sedang sibuk, ada apa ya?” jawab Gery
“Kami dari rumah sakit pak, memohon untuk segera datang ke rumah sakit sekarang juga karena ada pesan yang akan di sampaikan oleh dokter tentang keadaan pasien” ucap suster yang menelfon
“Ada apa ya sust dengan Laura?” tanya Gery penasaran
“Maaf pak kami tidak bisa membicarakannya melalui telfon sebaiknya bapak datang langsung ke rumah sakit pak agar lebih jelas” ucap suster itu
“Kalau begitu sus kami akan segera kesana” jawabnya
“Baik pak kami tunggu kedatangannya sekarang. Terimakasih” Gery langsung mematikan telfon. Seketika perasaannya berubah menjadi tidak enak
“Ada apa sih kak teriak-teriak?” ucapnya
“Siapa sayang yang telfon?” tanya Rya yang baru saja datang menghampiri bersama Nindy di taman belakang dekat kolam renang
“Anu.. itu telfon dari rumah sakit” ucapnya sedikit terbata-bata
“Rumah sakit ada apa?” tanya Nindy dengan cepat
“Kita diminta ke rumah sakit sekarang juga” ucapnya
“Iya tapi ada apa?” tanya Rya
“Aku juga nggak tau yang bilangnya Cuma di suruh ke rumah sakit mereka nggak mau ngejelasin”
“Ya udah kita ke rumah sakit sekarang, aku siapin mobil”
“Kak aku mau naik motor aja” ucap Nindy tiba-tiba
“Hah, nggak kita semua naik mobil” ucapnya melarang
“Please kak biar cepet, aku nggak sabar buat ketemu Laura temen aku” Nindy memohon
“Biarin aja yang gapapa” tambah Rya
“Ya udah tapi jangan lupa kabarin Surya dulu, minta dia buat bawa motor juga” pintanya
“Iya-iya kak” jawab Nindy kegirangan
Merekapun cepat-cepat bergegas untuk pergi ke rumah sakit untuk melihat kondisi Laura yang sebenarnya. Nindy dan Surya datang lebih dulu.
“Yangg kok kamarnya sepi gini ya?” ucap Rya pada suaminya
“Iya aku juga nggak tau sayang kok bersih gini” jawab Gery yang juga bingung karena melihat kamar Laura yang tidak ada orang sama sekali
“Masak sih Nindy sama kak Surya belum dateng?” ucapnya
“Sus mau tanya pasien yang ada disini dimana ya?” tanya Gery pada Suster yang lewat
“Iya sus temen saya dipindah dimana ya?” imbuh Rya
“Oh pasien Laura sekarang berada di ruang ICU pak bu” jawab suster itu
“HAH?” seketika mereka kaget
“Kalau begitu terimakasih sus” ucap Gery
“Sama-sama pak, saya permisi” ucap suster berjalan pergi
“Yang kenapa Laura dipindah ke ICU? Perasaanku jadi nggak enak” ucap Rya panik
“Aku juga nggak tau yang, kamu jangan terlalu panik ya kasian anak kita. Ayo sekarang kita kesana” ajak Gery pergi
Dari kejauhan mereka melihat Nindy yang terduduk di lantai dengan Surya yang merangkulnya dan dia menangis begitu keras dan di sisi lain ada dokter yang sudah berdiri menanti di sana.
“Nind kamu kenapa? Kenapa menangis histeris? Ada apa kak?” tanya Rya yang tak digubris oleh Nindy yang sedang menangis
“Biar dokter yang menjelaskan” ucap Surya singkat
“Apa yang sebenarnya terjadi dok?” tanya Gery
“Bagaimana keadaan Laura dok?” tanya Rya langsung
“Maaf pak bu kami sudah melakukan semua yang terbaik dan seluruh kemampuan yang kami miliki namun nyawa pasien tidak bisa kami selamatkan, ini semua sudah kehendak yang mahakuasa. Semoga kalian bisa menerimanya dengan hati yang ikhlas” ucap dokter seketika mereka syok dan kaget dengan ucapan dokter”
“Apa?? Nggak ini nggak mungkin dokter pasti bohongkan?” ucap Rya tidak percaya dengan menggoyangkan tubuh dokter
“Nind ini nggak benerkan, Laura masih hidupkan nin?” ucap Rya histeris
“Sayang tenang dong, kamu lagi hamil kasian anak kita kamu harus tenang” Gery yang mencoba menenangkan
“Nggak, aku nggak percaya ini pasti bohong. Aku mau masuk” Rya menerobos masuk
“Ra, ini bohongkan ra. Bangun dong ra jawab aku! BANGUN LAURA” teriak Rya histeris
“Sayang, kamu nggak boleh kayak gini kita harus ikhlas mungkin ini jawaban doa kita dari Tuhan. Kamu jangan seperti ini Laura pasti sudah bahagia dia tidak akan merasakan sakit lagi”
“Nggak Laura kamu harus bangun” Rya masih berusaha tidak percaya melihat tubuh sahabatnya yang sudah tak bernyawa di hadapannya dengan tangisnya
Semua orang merasa terpukul, sedih, kecewa dan pasti kehilangan orang yang sangat berarti bagi mereka. Keesokan harinya semua orang datang ke pemakaman Laura untuk yang terakhir kalinya.
Terlihat seluruh keluarga hadir dan teman-teman seperti kedua sahabatnya Nindy, Rya, Gery, Rizal, Arga, bahkan Sam, Ilham dan beberapa teman lainnya tampak hadir karena berita kepergiannya cepat menyebar
“Laura cucu kesayangan kakek. Maaf kakek tidak bisa menjagamu dengan baik seadainya nyawa kakek bisa di tukar kakek akan menukarnya dengan nyawamu sayang” ucap kakek yang terlihat wajah keriputnya yang menghiasi wajahnya yang sedih
“Sayang maafkan mamah selama ini yang tidak pernah berprilaku adil padamu. Mamah sungguh menyesal sayang. Kenapa kamu meninggalkan mamah begitu cepat saat mamah ingin memulai yang baru denganmu?” ucap Dena mamah Laura dalam hati
“Ra kenapa kamu pergi secepat ini, bahkan belum bertemu dengan calon keponakanmu ini. Aku pikir ini pilihan yang terbaik untukmu agar kamu tidak merasakan sakit lagi nantinya. Aku akan selalu berdoa untukmu disana dan aku janji akan mengajak keponakanmi ini untuk datang mengunjungimu” ucap Rya yang juga menaburkan bunga
“Ra cepet banget ninggalin kita tanpa pamit. Kamu tau nggak kita semua kehilangan kamu disini tap kita akan selalu mendoakanmu jangan terlalu cemas dengan kami. Kita semua sayang kamu ra” ucapan terakhir dari Nindy
Nindy dan Rya begitu terlihat sangat sedih kehilangan
Acara pemakaman Laura pun selesai. Satu per satu dari mereka mulai pergi meninggalkan pemakaman hingga tidak ada satu orangpun berada disana. Salah satu orang yang memakai pakaian serba hitam dengan topi dan kacamata hitam menghampiri makam Laura.
“Hey ini aku. Maaf kita harus bertemu dengan seperti ini. Aku sungguh minta maaf padamu maaf aku tidak mengucapkannya secara langsung. Setiap hari aku selalu mencarimu namun tidak ada hasil hingga saat ini aku baru bisa menemukanmu dalam keadaan seperti ini. Sekali lagi aku minta maaf dan semoga kau bahagia disana” ucap Dion
END