Lady Celestian

Lady Celestian
Episode 66 Farewell



Selamat membacađź“–đź“–.....


...****************...


kini tampak seorang gadis sedang menunggu seseorang dibangku teman. Saat ini ia tengah menunggu Rey yang entah kemana pergi membeli sesuatu. Celestian(Feya) tampak menikmati pemandangan kala itu, ia merenungkan semuanya, mencoba ikhlas dengan perasaannya saat ini. Tak lama, Rey datanf dengan membawa sebuket bunga lily. Bunga kesukaan Celestian. Untuk Celestian bukan dirinya.



Melihat kebahagiaan orang yang dicintainya, sudah cukup baginya. Dirinya semakin yakin dengan keputusannya saat ini. Ini adalah kesempatan terakhirnya. Kebahagiaannya yang hanya sesaat, sudah lebih dari cukup untuknya yang selama ini menderita. Senyuman merekah dengan indah diwajahnya.


...****************...


Disuatu tempat, seorang gadis tengah terkejut dengan hal yang ia ketahui. Bahwa kenyataan bahwa seharusnya ia tidak hidup didunia ini. Ia memang seorang anak yang mendapat kasih sauang dari dewa dewi. Namun kasih sayang itu merupakan pedang bermata dua baginya, yang sewaktu waktu dapat menjadi marabahaya. Dia membawa keberuntungan sekaligus kesialan bagi orang disekitarnya Itulah kenyataan yang harus ia hadapai saat ini. Sungguh ironis sekali, penderitaan tak kunjung pergi daripadanya. Dia memang spesial tetapi kehidupannya penuh lika liku, dia adalah Celestian. Seorang gadia yang tengah termenung, memikirkan keadaannya saat ini. Saat ini ada 2 pilihan juga padanya. Hidup atau mati. Jika dia memilih hidup, ia akan merepotkan orang disekitarnya. Sedangkan jika dirinya memilih mai, jiwanya akan bebas namun ia tak akan pernah bertemu dengan orang orang yang disayanginya. Ia tak mau itu terjadi. Ibunya pernah berkata untuk hidup dengan bahagia, dan jangan merasa terikat dengan sesuatu. Jalani hidup sesuai keinginannya. Itulah kata ibunya didalam surat sebelum sang ibu meninggal. Selalu merasakan penderitaan merupakan kesehariannya tapi bukan berarti terbiasa. Sungguh Ironis. Kini keduanya tengah dilanda masalah yang sama, namun yang satu sudah memutuskannya


...****************...


Karena hari sudah malam, Celestian(Feya) dan Rey memutuskan untuk kembali ke mansion. Sesampainya di Mansion mereka makan malam disertai obrolan ringan.


"Rey..."


"hem..."


"tidak jadi"


"kamu sedang tidak ada masalah kan?" tanya Rey dengan wajah serius.


"tidak ada, hanya saja aku merasa senang bisa berlibur denganmu" kata Celestian(Feya)


maaf Rey aku tidak bisa mengatakannya.


...****************...


Sebenarnya sudah beberapa hari ini Rey merasa curiga pada Celestiam dan ada yang janggal. Ia merasa melewatkan sesuatu tapi dirinya sendiri tidak tahu. Ia merasa Celestian bukanlah Celestian yang ia kenal. Awalnya Celestian bertingkah seperti biasa, namun lama kelamaan ia merasa itu bukanlah Celestian. Perilaku dan sifatnya memang sama tetapi mata tak bisa berbohong. Rey tahu itu, namun ia segera menepis pikirannya. Sayangnya, semakin lama perasaannya semakin tidak tenang. Hal ini terbukti dengan Celestian yang sering melamun dan terkadanf mengunci dirinya sendiri dikamar. Benar benar mencurigakan. Dugaannya semakin kuat, saat secara tak sengaja Rey melihat Celestian bertemu dengan seorang perempuan dan pergi entah kemana. Dan Rey juga tak sengaja mendengar pembicaraan Celestian dengan seseorang didalam kamar serta menyebut "penyihir". Kini ia semakin penasaran dengan hal ini. Apa arti dari ini semua. Ia harus menyelidiki semua ini.


...****************...


Hampir tengah malam, Celestian(Feya) pun datang ke tempat janjian mereka. Namun ia tak sadar bahwa ada yang mengikutinya.


"bagaimana??" tanya Celestian(Feya)pada Enna.


"Aku sudah mengurus semua yang kamu butuhkan" jawab Enna yang sedang mempersiapkan semuanya.


Tak lama penyihir yang membantu mereka datang. Ya dia adalah Kevin, murid dari kakek Celestian dan teman baru Celestian. Kevin tak menyangka ini akan terjadi pada Celestian. Awalnya ia tak sengaja mengetahui dari tindakan Enna yang sering bertanya tentang sihir, alat sihir, dan artefak. Karena curiga, Kevin memaksa Enna untuk mengatakan tujuannya. Enna akhirnya menceritakan seluruh kejadian karena mungkin saja Kevin dapat membantu. Ketika sudah mengetahui semua itu, Kevin ingin membantu mereka. Kebetulan Kevin adalah seseorang yang mereka butuhkan karena sihir itu dikuasai oleh Kevin. Sihir terlarang yang memerlukan tumbal namun Kevin bisa melakukannya tanpa tumbal. Ini lebih membantu mereka.


"aku tidak membencimu" ucap Kevin pada Celestian(Feya). Ia tahu apa yang dipikirkan Feya saat ini.


"maaf dan terima kasih" ucap Celestian(Feya) pada Kevin.


Mereka pun segera menyiapkan semuanya, sebelum bulan baru muncul. Karena ritual ini harus dilakukan saat bulan baru berada di titik tertinggi. Usai melakukan persiapan, Celestian(Feya) berbaring di altar yang telah dipersiapkan. Namun muncul seorang perempuan yang amat disanyangi Celestian(Feya).


"kamu yakin?" Tanya Fani, kakak Feya.


"aku sangat yakin kak, kalaupun kakak menentanf keputusanku, aku akan tetap melakukannya" ucap Feya pada sang kakak dengan kepala tertunduk. Ia tak bisa melihat wajah kakaknya yang mungkin marah atau bahkan sedih dwngan keputusannya.


Fani hanya menggelengkan kepalanya dan mendekat pada sang adik. Membelai pipinya, Fanu berpikir impiannya untuk hidup bersama dengan bahagia dengan adiknya tidak akan terwujud. Jika memang begitu, lebih baik Fani pergi bersama Feya, ia tak ingin meninggalkan adiknya lagi.


"Rey, maaf" ucap Enna dengan wajah bersalahnya.


"Enn, kenapa kamu tidak mengatakan semuanya padaku?!!. Aku pasti mengerti!!" ucap Rey dengan nada tinggi.


"aku...aku.." belum sempat Enna berbicara, Rey sudah memotong perkataanya.


"aku kecewa dengan kalian, kalian telah membohongiku" ucap Rey dengan wajah yang sulit diartikan.


"sekarang jelaskan padaku semua yang terjadi" ucap Rey sekali lagi.


"aku akan menjelaskannya, tapi ritial ini harus segera dilakukan" ucap Enna dengan suara sedikit bergetar karena takut.


Melihat Rey, rasanya Feya ingin memeluknya untuk terakhir kali dan memgucapkan salam perpisahan. Namun ia sadar diri, ia bukanlah Celestian. Sekarang sudah cukup bermain petak umpetnya.


Ritual pun dimulai, tepat saat bulan baru berada dititik tertingginya. Ritual ini berjalan selama 5 jam dan selama itu juga Feya tak sadarkan diri.


Disisi lain, saat ini jiwa Feya sedang bersama dengan Jiwa Celestian. Mereka mengobrol juga bercanda. Dan Feya belum mengatakan pada Celestian, bila dia akan menghilang.


"Celes, ada yang ingin ku katakan padamu" ucap Feya dengan wajah tenang. Tangannya menggenggam erat tanga Celestian.


"setelah ini hiduplah dengan baik dan bahagia, jangan pikiraku tidak mengetahui kesedihan dan penderitaanmu. Bagilah dengan orang lain, biarkan mereka menghibur dan membantumu. Dengan begitu bebanmu akan berkurang. Ada banyak orang yang menyayangimu, jangan kecewakan mereka. Dan cobalah buku hatimu untuk orang lain" ucap Feya, kini matanya mulai memanas, namun ia berusaha untuk menahannya agar tak menangis.


"bahagialah untum diriku juga" ucapnya sekali lagi dengan senyuman.


Sedangkan Celestian merasa seakan mereka akan berpisah.


"kenapa seolah olah kamu akan pergi?" tanya Celestian dwngan nada khawatir. Feya menjawabnya dengan senyuman disertai gelengan kepala. Ia lalu memeluk Celestian dengan erat. Air mata yang sedari tadi ditahannya agar tidak tumpah, akhirnya membasahi pipinya.


Tak lama, secara perlahan-lahan jiwa Feya mulai transparan dan tembus pandang. Celestian merasa telah terjadi sesuatu.


"ingatlah, jalani hidupmu dengan bahagia" itulah kata kata terakhir yang diucapkan Feya sebelum dirinya benar benar pergi.


"Feya..!!!Feya...!!! kamu jangan bercanda" ucapnya yang mulai menangis.


"Bercandamu sudah kelewatan" ucap Celestian sekali lagi, kini air matanya sudah tak terbendung lagi.


ahhh...sekarang dia mengerti, Feya telah pergi. Demi dirinya. Sungguj menyakitkan bagi Celestian. Lagi lagi dirinya kehilangan orang yang ia sayangi. Mengapa takdir begitu kejam padanya.


Ditempat lain, Enna dan yang lain tengah menunggu Celestian sadar. Tidak lama kemudian, Celestian membuka matanya secara perlahan. Ia bangun dan duduk dwngan bersandar pada dinding tempat tidur. Yang pertama ia lihat adalah teman temannya. Dia mendapati seorang perempuan mendekatinya. Wajahnya menampilkan rasa bersalah sekaligus kelegaan.


"maaf telah melibatkanmu dan terima kasih telah menjadi teman Feya, kini waktuku telah habis" ucap Fani, tubuhnya secara perlahan melebur menjadi cahaya cahaya kecil. Celestian tahu, kini dua bersaudara itu telah bersama kembali.


"Celes, dimana Feya sekarang?" Tanya Enna, kaeena Enna tidak tahu apa yang akan terjadu pad Feya. Sedangkan Celestian hanya menjawab dengan gelengan.


"jangan jangan...." tanpa diberitahu pun Enna mengerti jika Feya menghilang. Hal ini membuatnya terkejut sekaligus sedih. Jika tahu ini akan terjadi, pasti ia akan mencari jalan keluar lainnya. Kenapa Feya tak memgatakan hal ini, inilah yang dipikirkan Enna. Meskipun mereka baru berteman, namun banyak kenangan yang terukir karena waktu yang telah mereka habiskan bersama. Kini kedua perempuan itu tengah menangis bersama.


Jika kalian manakah yang akan kalian pilih??persahabatan atau cinta???keputusan apapun yang akan diambil akan menentukan masa depan masing masing.


Destiny is in the hands of God, bu we are ones who determine the decisions that will determine the future. God will always see our every effort.


aku bukan sok bijak, hanya saja inilah yang terjadi dalam kehidupan manusia. Believe that God will guide.