Lady Celestian

Lady Celestian
Episode 58 Aku akan bahagia bu



Hari ini hari dimana ibu nya dipulangkan.


Inilah titik terendah Celestian, dimana ia ditinggalkan oleh orang yang sangat disayanginya.


"Celes, ibu sudah datang" ucap Enna. Disaat terakhir ia melihat Duchess, ia ingin memanggil ibu.


"iya"


Peti ditempatkan diruang tamu, para ksatria membuka pet tersebut dan terlihat wajah seorang wanita yang sangat dirindukan oleh mereka.


Celestian mendekati ibunya, kini air matanya sudah tak terbendung lagi.


Ia menumpahkan perasaannya dalam setiap tetesan air mata yang keluar.


"ibu...ibu akan pergi...ada banyak hal yang..belum ku katakan padamu" ucap Celestian sambil menangis.


"ibu...aku akan bahagia sesuai kenginanmu...aku tidak akan menangis lagi...aku akan jadi lebih kuat dan melindungi semuanya.."


"selamat tinggal..ibu" ucap Celestian dengan senyuman, meski air mata terus menetes. Mungkin bagi orang lain Celestian akan terlihat tidak begitu peduli tapi inilah cara Celestian membuat ibunya tenang.


Inilah caranya ia menunjukkan bahwa ia baik baik saja pada ibunya.


Setelah itu ganti Enna yang melihat wajah Duchess.


"maaf Enna baru memanggil ibu padahal ibu selalu menyuruh Enna memanggilmu seperti itu"


"Enna janji akan menjaga Celestian dan keluarga ini bu, kami baik baik saja bu" ucap Enna, air mata yang tadinya ia tahan akhirnya keluar.


Bagi Enna Duchess adalah sosok ibu yang mau menerimanya tanpa memedulikan siapa dirinya, padahal ia bukan anaknya ataupun kerabatnya dan bahkan ia bukanlah manusia. Tapi Duchess bahkan memberi nama keluarganya pada Enna.


"ibu maafkan ayah yang tidak datang ya" ucap Celes. Ia tahu ayahnya tidak bisa datang karena medan perang saat ini begitu kacau.


"tapi pasti saat ini ayah sedang memikirkan ibu" ucap Celes dengan suara bergetar.


"Maaf, sudah waktunya Nyonya dimakamkan" ucap pendeta kuil suci.


Mau tidak mau mereka harus membiarkan ibu mereka pergi untuk selamanya.


Dipemakaman cukup ramai karena para nyonya bangsawan yang cukup dekat dengan Duchess hadir.


"nona, anda yang sabar ya" ucap salah satu nyonya.


"iya, terima kasih" ucap Celes.


Selesai pemakaman, Celes dan Enna pulang.


Entahlah, mereka tidak tahu lagi harus bagaimana...


.


.


.


Perang telah usai dan mereka kembali membawa kemenangan.


Festival dan Pesta yang meriah digelar tidak hanya oleh masyarakat tapi bangsawan juga.


Begitupun dengan Celestian sudah lama tidak bertemu dengan teman temannya maupun ayahnya.


"ayah, kami merindukan ayah" ucap Celestian, saat ini Enna dan Celestian tengah memeluk sang ayah yang pulang membawa kemenangan.


"ayah juga merindukan kedua putri ayah ini" ucap Duke.


"baiklah ayah cepat mandi, kami akan melayani ayah hari ini" ucap Celestian dengan semangat.


"baiklah terima kasih putri ayah" ucap Duke sambil mengecup kening kedua putrinya lalu pergi kekamar untuk bersiap siap.


"Enna ayo buat makanan yang enak untuk ayah" ucap Celestian.


"ayo" Enna pun setuju ide Celestian.


Mereka mulai berkutat didapur tanpa bantuan pelayan sedikitpun. Awalnya pelayan ingin membantu mereka tapi mereka menolak karena ingin melayani sang ayah yang baru saja pulang dari perang.


Tidak lama makanan siap lalu mereka menata semua makanan di meja makan. Begitu pun dengan Duke yang datang ke ruang makan.


"wahhh sepertinya sangat enak" ucap Duke yang melihat makanan yang tertata begitu rapi.


"ini semua kami yang buat, ayah ayo duduk dan makan" ucap Enna.


Duke pun mulai mencicipi satu persatu makanan yang sudah dibuat oleh kedua putrinya dengan susah payah. Bahkan dari yang dilihat Duke tangan kedua putrinya terdapat plester maupun luka, mungkin itu semua karena usaha mereka.


"Bagaimana Yah?" Tanya Celes.


"Tentu saja Enak, ini kan buatan putti putri ayah yang cantik" ucap Duke.


Mereka berdua yang mendapat pujian akan mananan yang mereka buat sangat senang.


Mereka makan dengan diiringi canda dan tawa bahkan rumah itu sangat ramai, meskipun ada yang kurang.


Kebahagiaan itu sederhana.


.


.


.


Thanks for Reading