
Selamat membaca...
...****************...
"umm.." terdengar suara lenguhan khas orang yang baru bangun. Ya itu adalah Celestian, atau mungkin lebih tepatnya Feya yang kini mengendalikan tubuh Celestian.
tunggu kenapa aku disini, jangan jangan...kakak, tapi bukankah dia sudah mati, batin Feya. Kepalanya terasa pusing mungkin karena efek dari ritual tadi.
Tidak lama seseorang membuka pintu, nampaklah seorang gadis berambut pendek coklat.
Ya dia adalah Fani, namun Feya tidak begitu mengenalnya karena Fani ada dalam wujud seorang gadis.
Sedangkan Fani yang melihat adiknya sudah sadar, segera memeluk adiknya.
"ka..kak" ucap Feya ragu ragu, tapi kalau dilihat dari tingkahnya ia merasa itu adalah kakak laki lakinya. Tapi mengapa kakak laki laki nya ada ditubuh seorang gadis, sungguh membingungkan.
"Feya akhirnya kamu kembali" ucap Fani sambil mencium pipi adiknya.
Feya yang merasa risih pun menghindar, namun disisi lain ia juga merindukan sang kakak yang selalu ada dipihaknya ini.
"kakak tunggu, ini pipi Celes bukan pipiku. Kakak jangan sembarang menyentuhnya, kalau tidak seluruh kerajaan dendam pada kakak" ucap Feya.
Sebenarnya kesal sihh dengan apa yang dikatakan oleh sang adik tapi mau tidak mau Fani harus melepaskannya.
"duduk lah, aku akan membawakan teh kesukaanmu" ucap Fani lalu pergi meninggalkan Feya diruangan itu.
Saat ini Feya tengah sibuk dengan pikirannya sendiri, banyak yang dia pikirkan.
aku harus bagaimana?? pasti semuanya mencari Celes lalu saat aku kembali aku harus bersikap seperti apa, sangat sulit meniru Celes, batin Feya.
aku harus segera mencari cara membangunkan Celes, batin Feya sekali lagi.
Lamunannya buyar seketika saat sang kakak datang, ia tidak ingin kakaknya tahu apa yang tengah dipikirkannya saat ini.
Fani meletakkan teh itu dimeja, lalu duduk berhadapan dengan Feya.
"kak.."
"hemm ada apa"
"bagaimana kakak bisa jadi seorang gadis, kakak kan laki laki" ucap Fey, sedari tadi ia bingung tentang hal itu.
"salah alamat" jawab Fani singkat.
"kak aku ingin tahu"
"sudahlah kan sudah kakak bilang, kakak salah alamat" jawab Fani, sebenarnya ia sangat gemas dengan ekspresi Feya.
"kamu tahu kan mereka mulai bergerak lagi" ucap Fani yang mulai membicarakan suatu hal yang dijawab anggukan oleh Feya.
"kamu harus mengendalikan sepenuhnya tubuh gadis itu, kamu tahu sendiri jika terus menerus seperti ini tubuh gadis itu akan rusak dan mati, kakak tidak mau kamu mati lagi" ucap Fani.
"Tapi kak, dia teman pertama ku" ucap Feya yang ingin menentang pikiran kakaknya.
"dua jiwa ada dalam satu tubuh itu akan membuat perlahan lahan menggerogoti tubuh itu, apalagi tidak akan ada tubuh sebagus ini lagi" ucap Fani.
"kakak, kakak dengan mudahnya bicara seperti ini. Apa kakak tidak memikirkan perasaanku" ucap Feya dengan nada sedikit meninggi.
"Feya dengarkan kakak, jika kamu dan dia tetap dalam satu tubuh salah satu dari kalian harus menghilang dan itu tidak bisa dipulihkan lagi, kakak lebih ingin kamu tidak menghilang. Kakak tidak ingin kehilangan kamu lagi" ucap Fani, ucapan Fani ini terdengar putus asa. Ia tidak ingin Feya menentangnya.
"kak!!aku tidak peduli tentang diriku, aku sudah berkali kali hidup. Apa kakak tahu rasanya, kini aku sudah punya teman. Aku tidak ingin temanku ini temanku ini menghilang, ada banyak orang berharga disisinya dan banyak yang mencintainya. Itu akan membuat mereka terluka dan sedih. Ini sama saja aku jadi penjahat dan memanfaatkan temanku" ucap Feya berdebat dengan kakaknya. Ia ingin kakaknya menyerah, ia sudah lelah hidup dalam waktu sangat lama.
"tidak, aku tidak setuju. Aku tidak mau kamu dimanfaatkan lagi oleh mereka. Dengan bersamaku aku dapat melindungimu, kakak mohon dengarkan kakak kali ini saja"
"Tapi tetap tak ingin menghianati temanku, maaf kak" ucap Feya.
Tak lama pandangan Fani tiba tiba kabur lalu ia pingsan. Ya,sejak tadi Feya mempersiapkan sihirnya, mungkin kakaknya lupa tidak menyegel terlebih dahulu sihirnya.
Tapi yang bisa memanggil Mirald adalah Celestian, meskipun Feya berada ditubuh Celestian ia tidak bisa memanggil Mirald. Karena Celestian lah tuan Mirald. Kecuali Mirald sendiri yang keluar. Tetapi kemungkinannya kecil karena jiwa Celestian yang tertidur pastinya memperngaruhi Mirald, itu karena kontrak yang ada diantara mereka.
Kini tibalah Feya disebuah desa kecil, ia kembali memeriksa apakah kakaknya mengikutinya. Tapi ternyata kakaknya tak mengikutinya, ia bersyukur bisa lolos.
Karena dirasa sudah aman, Feya menggunakan sihirnya untuk sampai lebih cepat ke rumah Celestian.
Feya berpikir bahwa ia harus meminta bantuan Enna, karena hanya Enna saja yang mengetahui keberadaannya.
Sesampainya di kediaman Duke, Feya langsung masuk kedalam rumah dengan santai. Sebisa mungkin ia harus seperti Celestian. Untungnya keadaan rumah saat itu cukup sepi, sehingga Feya busa masuk dengan mudah.
Dan kini Feya telah sampai didepan kamar Celestian dan Enna.
(seperti di Chapter sebelumnya ya dikatakan kalau kamar Celestian dan Enna itu jadi satu)
Feya mengetuk pintu kamar itu, tak lama terdengar suara Enna yang hendak membuka pintu.
"iya" ucap Enna dari dalam kamar.
Saat pintu terbuka, Feya segera mendorong Enna untuk masuk kedalam kamar. Lalu ia mengunci pintu dan memasang sihir sehingga tak akan ada yang bisa mendengar mereka.
Enna yang melihat Celestian sedikit bingung, karena ia merasa aneh dengan sifat Celestian. Biasanya jika masuk ke kamar, Celestian akan langsung masuk tanpa mengetuk pintu lalu penampilannya saat ini juga sedikit berantakan.
"kamu dar-" belum selesai ucapan Enna kini sudah terpotong.
"maaf, tapi aku bukan Celestian. Aku Feya" ucap Feya, Feya melihat raut wajah terkejut dan khawatir Enna
Bagaimana tidak terkejut dan khawatir, sebenarnya apa yang terjadi.
"akan kuceritakan semuanya, maukah kamu menolongku" ucap Feya ragu, sebenarnya ia tak ingin menceritakan semuanya namun ia harus jujur agar tak ada penyesalan.
Feya mulai menceritakan dari penculikan yang telah dilakukan kakaknya sampai ia bisa mengambil alih tubuh Celestian.
Mendengar apa yang diceritakan oleh Feya, Enna menunjukkan raut wajah kaget sekaligus khawatir.
Bagaimana tidak, tadi saat festival mereka sudah mencari kemana mana. Tapi tak menemukan Celestian, namun para laki laki tetap mencari Celestian sampai saat ini.
Saat melihat Celestian pulang, Enna senang ia ternyata baik baik saja. Namun tenyata hanya tubuhnya saja, sesuai perkataan Feya, jiwa Celestian tertidur.
"Aku mohon maafkan kakakku, aku tidak menyangka dia akan berbuat senekat itu" ucap Feya dengan wajah penyesalan.
"Tidak apa apa aku mengerti kasih sayang saudara. Aku dan Celes pun juga begitu, dulu saat Celestian tidak sadarkan diri, aku pun berusaha untuk menyelamatkannya bahkan sampai aku mau mengorbankan diriku sendiri. Tapi teman teman mencegahku" ucap Enna, sebenarnya bohong kalau ia baik baik saja, mendengar apa yang diceritakan oleh Feya membuatnya terpukul. Tetapi ia mengingat perkataan Celestian untuk tak perlu khawatir dan percayakan saja padanya.
Saat Feya bercerita dan meminta maaf, Enna merasa ada ketulusan dari Feya. Bahkan Feya sudah mencoba jujur dan tak menutupi apapun.
Kenapa Feya yang sepolos ini dimanfaatkan oleh orang orang tak bermoral itu dan menjadi Raja iblis.
"Enna kumohon cepat bantu aku mencarikan cara untuk segera membangunkan Celestian. Jika terus begini kekuatanku sebagai Raja Iblis akan bangkit tak lama lagi lalu jiwa Celestian akan menghilang" ucap Feya dengan sendu, meskipun singkat namun sudah banyak kenangan indah yang mereka lewati bersama.
"berapa lama lagi kekuatanmu bangkit?" tanya Enna, ia merasakan firasat buruk tentang ini, dan biasanya firasatnya ini selalu terjadi.
"1 bulan, kita harus cepat mencari caranya. Selain itu disaat yang bersamaan kutukan Celestian akan hilang karena kutukan itu berasal dari adanya diriku" ucap Feya menjelaskan.
Bagaimana tidak gelisah Enna, waktu yang tersisa sangatlah sedikit. Apalagi pasti sangat susah untuk menemukan caranya.
"Selama itu aku akan berpura pura menjadi Celestian, ajari aku sehingga bisa sangat mirip dengan Celestian" ucap Feya yang kini menggenggam tangan Enna.
"tentu saja aku akan membantu mu itu karena kau juga percaya pada kalian" ucap Enna dengan senyuman namun tak bisa menghilangkan rasa khawatirnya pada Celestian, Feya, dan Mirald yang saling terkait itu.
.
.
.
Thanks for Reading...