
Setelah mengikuti festival di kota, Keluarga Faben akan datang ke aula Kerajaan untuk mengikuti perayaan festival panen yang dihadiri para bangsawan.
Saat ini mereka sedang bersiap siap sambil menunggu waktu.
Tapi Celestian masih belum bersiap siap, saat ini dia sedang bermain dengan Mirald di taman.
Tidak terasa hari semakin gelap dan Celestian belum bersiap siap. Dia segera masuk kedalam kamarnya dan bersiap siap. Disana sudah terlihat Enna yang sudah siap.
"kamu kemana saja?? sekarang hampir waktunya kita berangkat" ucap Enna dengan sedikit panik.
"maaf tadi aku keasykan bermain di taman dengan Mirald" ucap Celestian.
"mandilah, akan kusiapkan gaun dan aksesorismu" ucap Enna berlalu keruang pakaian.
Celestian pun segera mandi.
"Enna aku ingin gaun yang simpel saja!!" teriak Celestian dari dalam kamar mandi.
Seusai mandi, Celestian langsung ke ruang ganti di sudut kamarnya.
Lalu kemeja rias dna dirias oleh Enna sesimpel mungkin sesuai permintaan Celestian.
Mereka semua sudah siap dan akan naik kereta kuda untuk pergi ke aula Kerajaan. Diperjalanan mereka berbincang-bincang.
"Celes kamu hanya pakai gelang saja?" tanya Duchess.
"aku kan sudah pakai 2 kalung" jawab Celestian.
"maksud ibu kamu tidak pakai kalung yang lainnya"
"aku tidak akan melepaskan dua kalung ini karena sangat berharga" ucap Celestian sambil menunjukkan kalung di lehernya kalung.
"baiklah kalau begitu" ucap Duchess karena sudah malas beradu argumen dengan putrinya.
Setelah menempuk perjalanan akhirnya mereka sampai.
Keluarga Faben disambut dengan baik oleh keluarga Kerajaan.
Keluarga Faben adalah bangsawan yang dekat dengan keluarga Kerajaan dan keluarga yang paling berkuasa setelah Kerajaan.
Mereka maju ke hadapan Raja dan Ratu dan memberi salam. Setelah itu mereka berpencar sendiri sendiri.
Duchess mengobrol dengan Ratu dan nyonya bangsawan lainnya, Duke dan Raja menyambut tamu, Enna sedang menemani Celestian, dan Celestian pergi memakan kue dan meminum teh. Dia duduk di sofa dengan meja yang sudah disiapkan.
Mereka tidak merasakan ada yang menhanpiri mereka yang sedang duduk.
"Celes..Enna" sapa Delli dengan wajah senangnya.
"uh..huk..uhuk" Celestian tersedak karena kaget dengan suara Delli.
Enna pun segera mengambilkan segelas air untuk meredakan sakit ditenggorokkan Celestian karena tersedak.
"kamu seperti hantu saja" ucap Enna sambil memukul pelan dan ringan pundak Delli.
"maaf" ucap Delli dengan mata bersalah menatap Celestian.
"iya tidak apa apa" ucap Celestian sambil meminum teh.
"tumben penampilanmu sesimpe ini, biasanya Duchess dan Enna akan meriasmu" ucap Delli melihat penampilan Celestian yang sangat simpel. Dress biru dengan gelang liontin bintang di kedua tangan dan dua kalung dengan liontin sederhana saja yang dipakai Celestian. Meski begitu tetap memperlihatkan sosok yang elegan dan cantik.
"tadi aku terburu buru karena keasyikan bermain dengan Mirald" ucap Celestian sambil menghela nafas.
"kebiasaan" ucap Delli menyindir Celestian.
Enna yang melihat sosok yang dia kenal pun berniat menghampirinya.
"aku akan mengambil teh dulu disana ya" ucap Enna.
"iya, aku juga tolong ambilkan" ucap Delli.
"baiklah" Enna pun segera pergi menghampiri seseorang yang ada di teras. Dan benar itu adalah Viro, Dia berniat menghampiri Viro tapi ada sosok perempuan disebelah Viro.
Dia juga tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka.
"aku juga" ucap Viro pada perempuan itu.
Pembicaraan mereka tetap berlanjut dan tidak sadar ada seseorang dibalik tirai tidak sengaja mendengar setiap kalimat yang di bicarakan.
Mendengar setiap perkataan dua orang itu membuat darah Enna mendidih dan hatinya seakan tertusuk jarum. Tidak berlama lama, Enna pun segera pergi untuk mengambil teh. Meskipun begitu Enna tidak mau berprasangka buruk pada kekasihnya itu.
mungkin mereka teman atau sahabat yang sudah lama tidak berjumpa, aku tidak boleh berpikiran yang macam macam, batin Enna sambil berjalan kearah sahabat sahabatnya.
"kamu lama sekali" ucap Delli dengan lembut.
"tadi aku berbicara dengan nona bangsawan lain" ucap Enna memberi alasan.
"terima kasih tehnya" ucap Delli dengan senyuman.
Perayaan hampir berakhir tapi tidak ada tanda tanda Rey sang putra mahkota sama sekali.
"Rey dimana? aku tidak melihat batang hidungnya dari tadi" ucap Celestian menanyakan keberadaan Rey.
"kakak sedang dikerumuni oleh putri bangsawan disana" jawab Delli dengan menunjuk ke arah dimana Rey dikerumuni.
"dia populer sekali ya" ucap Enna sambil mengangkat dan menurunkan alisnya.
"iya sampai sampai sahabatnya sendiri tidak didatangi" sahut Delli dengan mengedipkan sebelah matanya ke arah Celestian.
"aku cari angin dulu, aku kekenyangan" ucap Celestian izin keluar sebentar.
"iya pergi sana" ucap Delli.
Karena perutnya sakit kekenyangan, Celestian memutuskan keluar jalan jalan untuk membakar energinya.
"Celes aku ikut!" ucap Rey yang terengah engah berlari.
"kenapa nafasmu seperti itu?" tanya Cellestian dengan bingung.
"aku kabur dari para putri bangsawan menyebalkan itu, saat itu aku melihatmu keluar" ucap Rey.
"perutku sakit karena kekenyangan jadi aku jalan jalan untuk membakar energi" ucap Celestian sambil berjalan pelan.
Saat berjalan jalan mereka bertemu dengan Devin di taman.
"Celes..Rey kalian mau kemana?" tanya Devin karena dia cemburu.
"aku dan Rey jalan jalan, mau iku?" ucap Celestian.
"iya kalau diperbolehkan" ucap Devin dengan senyum jahil ditunjukkan pada Rey.
Mereka bahkan sempat bersaing dibelakang Celestian.
tidak akan kubiarkan kamu berduaan dengan Celestian, batin Devin.
kamu pikir kamu sudah menang ha.., batin Rey.
awas saja kamu, batin mereka bersamaan.
Mereka bahkan perang mata juga dibelakang Celestian.
"kalian kenapa" tanya Celestian dengan bingung melihat ekspresi dua laki laki itu.
"hari sudah gelap, ayo kembali ke aula" ucap Rey.
"ayo"
Celestian, Rey, dan Devin akhirnya memutuskan untuk kembali ke aula.
Disana sudah terlihat keluarga Faben sedang menunggu Celestian untuk pulang.
Sedangkan Enna masih termenung memikirkan apa yang dia lihat dan dengar tadi di teras.
Mereka sampai rumah jam 10 malam, lalu beristirahat dikamar masing masing. Karena besok Celestian dan teman teman sudah punya rencana liburan bersama.