Lady Celestian

Lady Celestian
Episode 46 kembalinya penderitaan Delli



Selamat membacađź“–đź“–


"Rio..." teriak Delli memanggil laki laki itu.


Rio yang mendengar suara seseorang memanggilnya segera mencari arah suara tersebut.


Menemukan suara itu, raut wajahnya tampak lega. Betapa bahagianya melihat perempuan yang dirindukannya selamat.


"Rio...." panggil Delli lemah. Rio pun segera menghampiri Delli dan menangkap tubuh Delli yang hampir jatuh.


"syukurlah kamu baik baik saja" ucap Rio sambil memeluk Delli.


Delli yang merasakan dan mendengar semuanya, hatinya lega ini bukan mimpi.


Mereka berpelukan cukup lama, bahkan Delli sesekali menetesjan air mata.


Tapi lama kelamaan, tidak ada pergerakan dari Delli. Rio melepaskan pelukannya, seketika ia menjadi sangat panik.


"Dell...Delli" ucap Rio sambil menggoyang goyangkan badan Delli. Tapi tidak ada respon apapun.


Dengan sigap, Rio segera menggendong Delli seperti putri. Lalu berlari sekencang kencangnya menuju ke arah bantuan.


Disisi lain...


Rey sangat panik karena harusnya saat ini kekuatan Delli tidak terkontrol di bulan purnama.


Wajahnya terlihat letih, frustasi, gelisah dan takut, begitu juga yang lainnya.


"kenapa mereka belum sampai juga" ucap Rey pada teman temannya.


Setelah berjam jam menunggu, akhirnya mereka datang.


Semua melihat Rio yang menggendong Delli dengan wajah cemas dan lelah.


"apa yang terjadi pada Delli?" tanya Celestian yang tak kalah panik.


"aku juga tidak tahu" jawab Rio.


Celestian menghadap ke arah atas, terlihat bulan purnama dikelilingi oleh bintang, sekarang ia tahu penyebabnya.


"cepat kita bawa Delli ke istana" ucap Celestian yang membuat semua tersadar.


Mereka pun segera naik kereta kuda lalu pergi ke istana.


...


Sesampainya di istana, disana Raja Ratu sangat cemas. Apalagi Ratu yang melihat keadaan Delli langsung menangis.


Mereka segera membawa Delli kekamarnya lalu memanggil penyihir.


"bagaimana keadaan putri kami?" tanya Raja pada penyihir itu.


"keadaan Putri sangat parah Yang Mulia, apalagi kekuatan sihir Putri yang tidka terkontrol membuat tubuhnya sulit menampung"ucap Penyihir itu.


"apa tidak ada solusinya?" tanya Raja pada penyihir itu.


"maaf tapi ini sudah diluar batas kemampuan saya"


"tapi masih ada solusi lain" lanjut penyihir itu.


"apa? cepat katakan?!"


"jika ada orang yang memiliki suatu kutukan maka tuan Putri bisa selamat tapi resikonya sangat besar" ucap Penyihir itu.


Mendengar perkataan penyihir, semua orang terduduk lemas. Mereka tidak ingin terjadi sesuatu pada Delli. Tapi resiko yang diambil sangat besar.


"berapa lama lagi Delli bertahan?" tanya Celestian dengan wajah serius.


"sekitar 3 hari lagi nona" jawab penyihir itu.


Membuat semua semakin histeris apalagi Ratu.


Selesai pemeriksaan, penyihir itu pamit undur diri dari ruangan.


Mungkin bagi orang yang melihat, Celestian itu tidak takut akan rasa kehilangan karena ia tidak menangis ataupun bersedih. Tapi malah menunjukkan ekspresi biasa.


"Saya permisi keluar" ucap Celestian lalu pergi keluar, meninggalkan kamar yang dipenuhi kesedihan.


Celestian memutuskan untuk pulang kerumah, ia ingin menenangkan dirinya.


Sesampainya dirumah, Celestian masuk kedalam kamar dan merebahkan dirinya. Ayah dan ibunya sedang melakukan peninjuan di daerah kecil.


Ia menatap kosong ke atas. Rasanya air matanya sudah terkuras banyak sampai ia sulit untuk menangis. Selama ini sebenarnya ia lelah dengan semua hal, berpura pura baik baik saja dan ceria didepan semua orang. Ia lelah dengan semua yang terjadi.


Kutukan, kekuatan sihir dan saat ini sahabat yang ia anggap saudara sendiri pun sudah tidak terselamatkan.


"aku rasa ini akan membantu Delli untuk tidak menderita lagi" ucap Celestian lirih bermonolog sendiri.


.


.


.


.


To Be Continue