
Tanpa sadar, Celestian tertidur sendiri sambil meneteskan air matanya....
Keesokan harinya.......
Hari ini Celestian sudah bersiap untuk menemui penyihir yang memeriksa Delli kemarin.
Didalam perjalanan pun Celestian melamun, memikirkan apa yang akan terjadi setelahnya. Tapi tak ia tak mau berpikir lagi resikonya, dia akan tetap pergi mengakhiri penderitaan Delli.
Sesampainya di menara sihir, ia langsung menuju ruangan penyihir tingkat pertama.
"permisi, apakah tuan Gou ada disini?" tanya Celestian pada penyihir yang berjaga.
"iya, beliau ada" ucap penyihir itu.
"tolong sampaikan, nona keluarga Faben datang untuk bertemu" ucap Celestian.
Penyihir itu pun segera memanggil tuan Gou.
Tidak lama, Tuan Gou sudah datang.
"ada apa nona mencari saya?" tanya Tuan Gou setelah mendudukkan dirinya di sofa.
"Saya ingin bertanya masalah yang kemarin"
"anda bilang diperlukan orang yang memiliki kutukan dan anda bilang resiko untuk melakukan itu sangat besar, kalau boleh tau resikonya seperti apa?" ucap Celestian.
"saya tidak ingin memberi tahu resiko yang sangat membahayakan" jawab Tuan Gou.
"saya mohon jawab saya, saya ingin menyelamatkan sahabat saya" ucap Celestian memohon dengan sangat.
Tuan Gou menghela nafas panjang, memutuskan untuk memberi tahu resiko yang terjadi. ia tidak tega dengan nona didepannya yang memohon.
"resiko pertama orang yang terkena kutukan itu bisa saja kehilangan kekuatan sihirnya, kedua fungsi otak atau saraf jadi tidak berfungsi lalu yang paling fatal orang tersebut bisa meninggal bahkan kalaupun hidup kemungkinannya hanya 1% " ucap Tuan Gou dengan kepala tertunduk karena ia tidak sanggup melihat reaksi nona didepannya.
"lalu apa yang terjadi pada orang yang kekuatan sihirnya meluap luap?" tanya Celestian sekali lagi.
"orang tersebut tidak akan mengalami gejala apa apa, kecuali jika mengalami gangguan fisik" jawab Pak Gou.
"memang kenapa bisa orang yang memiliki kutukan bisa menyelamatkan orang tersebut?" tanya Celestian, ia benar benar penasaran.
"bagi orang yang memiliki kutukan itu memang suatu penderitaan tapi bagi orang lain seperti Tuan Putri itu adalah peyelamat"
"karena kutukan itu sendiri memiliki kekuatan sebagai penekan bahkan penetral dan itu berlaku untuk selamanya"
"tapi meskipun energi kutukan pada orang yang memiliki kutukan itu sudah disalurkan tapi kutukan pada orang itu akan tetap ada, sedangkan untuk kasus seperti Tuan Putri, kutukan tersebut akan hilang dalam sekejap karena energi kutukan itu diserap oleh ener gi sihir pada orang itu" jelas Tuan Gou.
Seluruh penjelasan membuat tubuh nya lemas.
Tuan Gou yang merasa sudah selesai, segera bersiap keluar ruangan.
"Tunggu!!" ucap Celestian pada Tuan Gou yang hendak pergi. Langkah Tuan Gou pun terhenti karena suara nona itu.
"tolong dengarkan permintaan saya sebentar" ucap Celestian.
" silakan" ucap Tuan Gou.
Setelah menghela nafas panjang, Celestian mulai mengatakan permintaannya.
Tuan Gou mengerti apa yang diinginkan nona didepannya itu dan menyuruh bawahannya untuk keluar.
"tolong lakukan proses itu pada Tuan Putri" ucap Celestian.
"tapi resikonya besar dan tidak akan ada yang bersedia dengan hal itu karena taruhannya nyawa" ucap Tuan Gou.
"bukan orang lain tapi saya" ucap Celestian dengan penuh keyakinan.
"saya tidak bisa melakukan itu, apalagi anda nona dari keluarga Duke" jawab Tuan Gou.
"Dan lagi pula bukankah anda tidak punya kutukan" lanjut Tuan Gou.
"saya punya" ucap Celestian lalu mulai membuka lengan bajunya dan memperlihatkan tanda kutukan. Berupa gambar mawar hitam.
Hal itu membuat Tuan Gou tak percaya, ternyata alasan Duke dulu tidak begitu setuju dengan saran darinya untuk membuat Celestian menjadi muridnya adalah ini.
"saya tetap tidak setuju" ucap Tuan Gou dengan tegas.
"saya mohon lakukan proses itu, saya tidak ingin sahabat saya meninggalkan saya dan semuanya. Bahkan saya rela jika itu nyawa saya, dia perempuan yang baik dan sahabat saya yang berharga" ucap Celestian sekarang sepertinya ketegasan dan keceriaannya serta kekuatan besarnya menghilang. Sekarang ia bemar benar seperti anak perempuan biasanya.
"tapi harus ada persetujuan dari wali anda" ucap Tuan Gou. Ia melihat nona didepannya, padahal tadi nona itu gemetaran dan takut tapi keberaniannya dan kasih sayangnya mengalahkan dua hal itu. Dari dalam lubuk hati ia benar benar salut dengan nona didepannya.
Mendengar hal itu, Celestian segera mengeluarkan alat sihir dari dalam kantongnya dan menyerahkannya pada Tuan Gou.
Tuan Gou menyalakan alat sihir tersebut dan muncul pernyataan dari seorang pak tua.
Saya dengan ini mengizinkan Celestian Faben selaku cucu saya melakukan proses itu demi menyelamatkan sahabatnya yang berharga. Meskipun saya melarang pun juga percuma, dia tidak akan medengarkan dan tetap melakukan hal itu. Selama dia kecil, dia hidup dengan lemah bahkan sampai tidak bisa berdiri. Tapi saya senang melihatnya bahagia demi orang yang disayanginya, saya senang dia memiliki teman yang berharga bahkan dia sampai rela menukarkan nyawanya demi temannya itu. Sekali lagi saya izinkan Celestian Faben, cucu saya untuk melakukan proses tersebut.
Alat sihir itu mati dengan sendirinya setelah pernyataan dari kakek Celestian selesai.
Tuan Gou yang sudah mendengarkan pernyataan mau tidak mau akan melakukab proses tersebut.
"apa andaa yakin?" tanya Tuan Gou sekali lagi.
"saya yakin dan siap untuk itu" ucap Celestian.
"iya silakan"
"tolong jangan beritahu yang lainnya cukup anda, saya, orang tua saya, dan kakek saya. Saya mohon" ucap Celestian sambil membungkukkan dirinya didepan Tuan Gou.
"baiklah, saya terima permintaan anda. Proses akan dilakukan malam nanti apakah tidak apa apa" ucap Tuan Gou pada Celestian.
"iya, saya juga ingin segera melakukannya" jawab Celestian dengan keadaan masih membungkuk. Setelah Tuan Gou pergi, ia baru berdiri tegak.
Hari sudah siang tidak terasa perbincangan panjang itu sudah berakhir.
Celestian memutuskan untuk menemui teman temannya mungkin untuk terakhir kali.
Setibanya di istana, ia langsung menuju ke ruangan dimana biasanya mereka berkumpul.
Ia berdiri didepan pintu, menarik nafas dalam dalam lalu membuangnya baru membuka pintu.
Terlihat semuanya sedang bersedih bahkan Enna masih menangis.
"kalian masih menangis" ucap Celestian tiba tiba membuyarkan lamunan mereka.
"Delli akan marah jika melihat kalian sedih" ucap Celestian sekali lagi.
"tapi hidupnya tinggal 2 hari lagi, apa kamu tidak sedih" ucap Enna pada Celestian.
"aku sedih, tapi aku yakin semuanya baik baik saja, Delli kan kuat" ucap Celestian.
"tapi dia-" belum selesai Rio berbicara sudah dipotong oleh Celestian.
"percayalah pada keajaiban, kalau pun keajaiban tidak berpihak pada kita. Aku akan mewujudkannya" ucap Celestian dengan percaya diri.
"memangnya kau Dewa atau Dewi" ucap Zaco dengan sedikit keras.
"hmmm entahlah" ucap Celestian.
Kehadirannya membuat suasana menjadi tidak begitu suram lagi seperti sebelumnya.
Setelah merasa semuanya baik baik saja, Celestian pergi ke kamar Delli.
"aku ingin waktu pribadi dnegan Delli jadi jangan mengganggu" ucap Celestian dengan sedikit senyum yang diangguki semuanya.
Celestian pun masuk kedalam kamar Delli.
Ia duduk dikursi dekat tempat tidur lalu menggenggam erat tangan Delli.
"sabarlah sebentar lagi, kamu tidak akan menderita lagi. Entah apa yang akan terjadi tapi aku percaya semuanya akan baik baik saja. Mungkin ini untuk terakhir kalinya tapi selamat tinggal aku menyayangimu" ucap Celestian lirih lalu mengecup kening Delli sekilas.
Celestian pun keluar dari kamar.
"sudah selesai?" tanya Zaco yang diangguki Celestian.
"dimana Rey? dari tadi aku tidka melihatnya" tanya Celestian.
"Rey dari tadi pagi terus berlatih berpedang di tempat latihan" jawab Devin.
"baiklah aku akan kesana sebentar" ucap Celestian lalu pergi mencari Rey.
Terlihat temannya yang satu utu berusaha menutupi kesedihannya.
"heii mau sampai kapan seperti itu terus, katakan saja kalau kamu sedih" ucap Celestian sedikit keras agar terdengar oleh Rey.
Rey yang mendengar suara seseorang pun membalik badan dan terlihatlah seorang perempuan yang selama ini ia cintai.
"Jangan lampiaskan dengan seperti itu, butuh sandaran.." ucap Celestian.
Rey pun berjalan menghampir Celestian lalu duduk disebelah Celestian.
"aku takut kehilangan Delli, kalau bisa aku ingin menggantikannya" ucap Rey, saat ini ia tengah bersandar pada bahu Celestian.
"Tenanglah, kalau kau sedih nanti Delli pasti marah" ucap Celestian.
"Lalu apakah kau ingat dulu kita sering bermain disini berempat dan sembunyi diatas pohon saat kabur karna dimarahi" ucap Celestian yang diangguki Rey.
"dulu Delli terlihat saangat ceria bahkan nakal" ucap Rey.
"maka dari itu dia akan tetap ceria dan nakal, dia kan perempuan yang kuat" ucap Celestian.
"ouhh sudah malam, aku harus pergi karena ada urusan. Gara gara Dellu aku jadi banyak urusan, aku akan memarahinya saat dia sadar karena melimpahkan semua pekerjaannya padaku" ucap Celestian, raut wajahnya dibuat seperti marah.
"nahh senyumlah seperti itu" ucap Celestian lalu mengecup pipi Rey sekilas dan pergi. Tindakan yang dilakukan Celestian membuat Rey seketika menjadi patung. Tapi saat dilihat lagi Celestian sudah pergi.
Ya tujuan Celestian malam ini adalah menara sihir.
.
.
.
.
jangan lupa vote dan like terus komentar ya... karena itu penyemangatku