
Hari ini keluarga Faben berencana untuk melihat festival panen dan mengikuti festival di aula Kerajaan.
Sebelumnya pagi pagi sekali semua orang di kediaman sudah bangung jam 3 pagi karena dua nona mereka pulang. Kedua nona yang dirindukan oleh semua orang dirumah itu.
Keramaian kembali pada kediaman Faben, karena si gadis berulah sudah kembali. Setelah bangun tidur mereka berkumpul di ruang tengah. Di ruangan tersebut ada Duke, Duchess, Celestian, dan Enna. Mereka akan berencana melihat festival di jalanan kota setelah itu malam harinya akan ke aula Kerajaan untuk mengikuti perayaan.
"ibu aku akan ke dapur dulu" ucap Celestian meminta izin pada ibunya.
"boleh asalkan tidka makan banyak kue" ucap Duchess seolah tahu isi hati Celestian. Meskipun Celestian tidak bisa gemuk,tapi Duchess tetap tidak mengizinkan karena tidak bagus juga untuk kesehatan.
"aku mohon, aku rindu dengan kue dan teh buatan Assa dan Yanna, aku mohon" ucap Celestian memohon pada ibunya dengan menunjukkan puppy eyes nya.
"iya baiklah" ucap Duchess mengizinkan karena Celwstian sendiri sangat sulit untuk dilarang.
"ibu yang terbaik" ucap Celestian sambil mencium pipi ibunya dan berlari ke dapur.
Sedangkan Enna masih di ruang tengah bersama Duke dan Duchess mulai dibombardir oleh pertanyaan dari mereka. Karena hanya Enna yang bisa dipercaya oleh mereka dan orang kedua yang dituruti oleh Celestian adalah Enna.
"apa disana Celestian berulah??" tanya Duchess.
"bagaimana keadaan nya saat di akademi" tanya Duke
"bagaimana sikapnya pada gurunya??"
"saat di akademi Cel-" belum selesai berbicara sudah diberi pertanyaan lagi.
"apa dia masih malan banyak kue?"
"bagaimana nilai nilainya?"
"apa kamu kesulitan mengurus anak nakal itu?"
"apa kamu juga baik baik saja disana?"
"paman..bibi" ucap Enna berusaha berbicara.
"kalian tenanglah akan aku jelaskan" ucap Enna. Memang Duke dan Duchess menyuruh Enna memanggil mereka paman dan bibi saat bukan kepentingan sebagai bangsawan dan dilarang menggunakan bahasa formal disaat santai.
"keadaan kami disana sangat baik lalu karena banyak kegiatan akademi maka Celestian sedikit lupa dengan kue karena dia setiap hari pulang sekitar jam 9 malam" ucap Enna menjelaskan.
"kenapa dia pulang malam sekali?" tanya Duke.
"Celes disana dipilih sebagai ketua kelas, ketua ekskul memasak, dan sekretaris ekskul berpedang. Dia punya banyak pekerjaan." ucap Enna menjelaskan semuanya.
"aki hanya menjabat sebagai sekretaris kelas dna tidka menyulitkanku untuk tetap mengawasi dan memerhatikan Celes"
"kamu juga jangan memaksakan diri ya Enna" ucap Duchess dengan lembut.
"iya bibi akan ku usahakan"
Didapur.....
"Assa..Yanna aku rindu kalian dan kue buatan kalian" ucap Celestian yang berlari dan memeluk mereka.
"kami sudah tahu nona akan mengambil kue dan sudah kami siapkan" ucap Assa dwngan tersenyum.
"terima kasih"
Celestian menatap kue-kue dan teh yang sudah disiapkan dengan mata yang berbinar binar lalu segera melahapnya.
"kue kalian tambah enak, buatkan lagi untukku" ucap Celestian yang masih memakan dengan lahap kue di meja dapur.
"iya iya nona" ucap Yanna senang karena nona mereka suka dengan kue yang dibuat mereka.
Semua kue sudah habis dan tidak terasa waktu sudah menunjukkan jam 7 pagi. Festival akan dimulai pada jam 9 pagi, jadi saat ini mereka harus mulai bersiap siap.
Semua sudah siap, mereka pun menaiki kereta kuda lalu berhenti di jalan pusat perbelanjaan.
Sudah terlihat suasana semakin ramai. Lalu terlihat barisan ksatria yang berjalan di kanan kiri. Raja dan Ratu duduk di atas kereta yang ditarik oleh 4 kuda putih, terlihat Raja dan Ratu yang mengikuti festival.
"ibu lihat itu!!" ucap Celestian sambil menarik tangan ibunya.
"mereka datang juga" ucap Vitsa.
"mereka kan Raja dan Raru jadi harus datang" ucap Sarla pada suaminya karena mulai dengan sikap dinginnya.
"ayah ayo, aku ingin ikut menari" ucap Celestian pada ayahnya yang dijawab gelengan kepala tetapi Celestian tetap memaksa dan menarik tangan ayahnya.
"aku dan Enna akan ikut menari juga" ucap Sarla karena dia sangat suka dengan festival.
Mereka menari berpasangan seperti di parade. Tidak hanya mereka, Semua rakyat kerajaan juga ikut menari. Semua terlihat gembira.
Senyuman riang terukir dari Celestian dan Enna.
Parade sudah usai dan sekarang saatnya menikmati semua hal yang ada di kota itu.
"Enna aku ingin dapat boneka beruang kecil imut itu, panahlah semua apel di meja itu" ucap Celestian, dia tidak pandai memanah tapi Enna ahli memanah.
"baiklah, ayo" ucap Enna, dia pun sangat senang.
Enna mulai memanah, terlihat 3 panah ada dibusur dan tiga tiganya langsung dia tembakkan.
"terima kasih Enna" ucap Celestian menerima boneka beruang kecil yang sebesar telapak tangan ayahnya.
"ayah aku ingin liontin ini" ucap Celestian meminta.
"tapi liontin ini hadus beli 2 pasang sayang" ucap Vitsa dambil mengelus kepala Celestian.
"iya aku tahu, aku mau ini" ucap Celestian tetap pada pendiriannya.
"iya iya baiklah" ucap Vitsa dengan tersenyum karena merasa sudah tidak bisa berdebat dengan Celestian.
Vitsa pun membelikan liontin yang diinginkan oleh putrinya itu.
Setelah itu, Celestian memberikan kepada ibunya, ayahnya, dan Enna.
ini liontinnya ya.
.
.
Karena lelah berjalan, mereka memutuskan untuk makan di cafe terdekat.
"aku mau pesan ayam panggang pedas, cocho cake 2, cupcake 3, dan es coklat" ucap Celestian.
"kalau aku steak, cappucino, dan cupcake" ucap Enna sambil menutup buku menu.
"kami pesan steak 2, salad buah, cappucino, teh, dan kue strowberry" ucap Sarla yang juga memesankan Vitsa.
Setelah selesai memesan, mereka berbincang bincang sambil menunggu makanan datang.
"Celestian kan sudah ibu bilang jangan makan banyak kue" ucap Sarla mengingatkan.
"hanya sebentar, ibu tahu diakademi Enna selalu melarangku makkan banyak kue bahkan kadang sampai bilang pada kantin untuk tidak membuat kue untukku" ucap Celestian dengan cemberut.
"kerja bagus Enna" ucap Sarla dengan menunjukkan ibu jarinya pada Enna. Mendengar perkataan Celestian membuat semua dimeja itu tertawa.
"satu lagi, Enna sudha punya pacar di akademi dia terlihat seperti ayah dingin dan cuek" ucap Enna memberitahu pada Sarla dan Vitsa.
"benarkah?" ucap Sarla sambil menatap Vitsa yang mengalihkan pandanganya. Memang diantara mereka tidak ada yang namanya rahasia.
"siapa?" tanya Sarla deengan penasaran. Dari sifatnya, Celestian memang mirip dengan ibunya.
"namanya Viro Ag Reliti" ucap Enna dengan wajah merona.
"ya tidak apa apa, kan bagus punya seseorang yang selalu ada untuk kamu" ucap Sarla.
Tidak lama kemudian makanan datang. Mereka makan sambil berncanda dan Enna yang menceritakan sikap Celestian pada mereka.
Karena hari sudah petang, mereka pun pulang kerumah dan istirahat agar nanti saat ke festival di aula kerajaan tidak kelelahan.
.
.
.
Jangan lupa like ya