Lady Celestian

Lady Celestian
Episode 48 sedih



Selamat membaca 📖📖📖


.


.


Celestian kini telah sampai di menara sihir. Ia sudah ada diruangan Tuan Gou, menunggu semua persiapan selesai.


"silakan diminum nona" ucap asisten Tuan Gou.


"terima kasih" ucap Celestian disertai senyuman.


Disisi lain.....


"semuanya ada kabar bahagia" ucap asisten Raja. Berita itu membuat raut wajah mereka berubah.


"penyihir bilang tuan putri Delli bisa selamat dengan melakukan proses khusus dan ada orang yang bersedia katanya" ucap asisten Raja.


Hal itu membuat mereka senang.


"Sebentar lagi penyihir yang lain dan orang itu akan sampai di istana" lanjut asisten Raja.


"Tapi siapa yang bersedia, katanya resikonya besar" tanya Belga.


"kami sendiri juga tidak tahu, kami sudah mendesak Tuan Gou untuk memberitahu siapa orang nya tapi beliau tetap tidak mau bicara bahkan katanya orang itu sendiri yang meminta merahasiakan identitasnya, kata beliau anda sekalian akan tahu dengan sendirinya setelah proses selesai" ucap asisten Raja.


Mereka pun segera pergi kekamr Delli, disana penyihir sudah berkumpul. Lalu tidak lama nampak lah seorang perempuan berambut kuning dan mata biru seusia Delli.


Tapi wajahnya tidak begitu terlihat karena menggunakan penutup.


Ya, perempuan itu adalah Celestian yang menyamar menggunakan sihir.


Ia sendiri sudh meninggalkan kalung yang selalu ia pakai sejak akan pergi ke menara sihir karena jika tidak Mirald pasti akan tahu.


"persiapan sudah selesai Tuan" ucap salah seorang penyihir yang diangguki oleh Tuan Gou.


"tolong anda sekalian menunggu diluar, karena pelaksanaan proses ini cukup berbahaya" ucap Tuan Gou.


Mereka pun keluar mengikuti arahan Tuan Gou.


"aku benar benar penasaran siapa yang bersedia melakukan hal gila ini" ucap Zaco memecah ketegangan.


"aku juga, tapi kata Tuan Gou, kita akan tahu setelah proses sihir selesai" ucap Devin.


Tapi entah kenapa firasat Enna tidak enak, rasanya terjadi sesuatu dengan Celestian.


Lama kelamaan Enna semakin tidak nyaman dengan firasatnya itu.


"kamu kenapa?" tanya Zaco yang melihat raut wajah Enna yang gelisah.


"tenanglah" ucap Devin.


"bukan begitu, firasatku tidak enak tiba tiba aku memikirkan Celes" ucap Enna yang masih tak tenang.


"tenanglah dia bisa menjaga dirinya sendiri" ucap Zaco berusaha menenangkan Enna.


"tapi firasatku selama ini selalu tepat" ucap Enna.


Sedangkan didalam kamar, ketegangan memenuhi seluruh ruangan.


*Akhhh........


akhhhh*....


Terdengar teriakan yang mungkin membuat orang yang mendengar ikut merasakan sakit.


"bertahanlah sedikit lagi nona, ini hampir berhasil" ucap Tuan Gou yang diangguki oleh Celestian.


Lalu tidak lama kemudian, proses sihir selesai. Disaat terakhir, Celestian masih membuka mata, ia melihat sahabatnya juga tengah membuka mata. Melihat sepertinya keadaan Delli sudah benar benar sembuh dan proses sihir berhasil dijalankan. Celestian tersenyum dan berkata lirih,


"syukurlah" Tentunya Delli mendengar suara itu bahkan sangat mengenalinya. Sampai pada akhirnya Delli memejamkan matanya mungkin karena lelah.


Sedangkan Celestian, ia sempat tersenyum sebelum akhirnya memejamkan mata.


Melihat hal itu membuat Tuan Gou sedikit panik, ia takut nona yang terbaring benar benar dihadapkan dengan kematian.


Tapi karena proses sudah selesai, Tuan Gou memperbolehkan semuanya masuk dan melihat perempuan yang bersedia berkorban itu.


Saat membuka pintu kamar, terlihat ekspresi Tuan Gou yang sedih terasa suram.


"apa yang terjadi?? kami boleh melihat mereka kan?" tanya Enna dengan tidak sabar yang dijawab anggukan.


Ia melihat ke ranjang Delli, terlihat Delli sudah sehat bahkan sudah tidak ada wajah pucat lagi.


"dimana perempuan itu?" tanya Enna pada penyihir yang membereskan peralatan.


Penyihir itu menunjuk sebuah pembatas, dibalik pembatas dinding ada perempuan yang rela berkorban. Enna perlahan melewati pembatas dinding.


Lalu dilangkah terakhir ia terjatuh di lantai, wajahnya pucat, air matanya tiba tiba lolos.


Semua yang tadinya masih terfokus pada Dellu seketika langsung melihat Enna yang sudah menangis.


"Enna ada apa?" tanya Rey yang ikut cemas melihat raut wajah Enna.


"i..ini ti..tidak mungkin kan" ucap Enna terbata bata dan sedikit tidak jelas.


"ada apa?" tanya Zaco.


Daripada menunggu jawaban Enna, mereka memilih melihat apa yang ada dibalik pembatas dinding. Mereka pun terkejut bahkan sampai menjadi seperti patung.


Enna segera menuju ke ranjang tempat Celestian terbaring.


"Celes....bangun...jangan membuatku khawatir" ucap Enna sesegukan.


Meskipun dipanggil ataupun tubuhnya digoyang goyangkan tapi tetap tidak ada respon.


Enna memberanikan diri untuk mengecek detak jantuk, nadi, serta suhu tubuh.


Tidak ada detak jantung.....


Tidak ada denyut nadi.....


Suhunya dingin....


Wajahnya sangat pucat....


Merasakan apa yang baru ia cek, Enna langsung memeluk tubuh Celestian dengan erat.


"tidak...tidak boleh.." ucap Enna dengan sesegukan.


Mendengar dan melihat apa yang dikatakan dan dilakukan Enna. Itu bukti bahwa Celestian sudah meninggal. Meninggal bukan karena racun ataupun kutukan tapi karena kasih sayangnya pada teman temannya.


Suasana sangat suram bahkan lebih suram dari sebelumnya.


"tidak..mungkin" ucap Rey lirih.


"ini...pasti..bohong kan" ucap Zaco lirih.


"tidak...boleh" ucap Devin lirih.


"kenapa jadi seperti ini" ucap Rio.


Begitu juga dengan Belga, meskipun baru sebentar bertemu dengan Celestian tapi waktu yang singkat itu cukup indah baginya. Bahkan ini pertama kalinya ia mengagumi seorang perempuan selain ibunya.


Tidak lama, Tuan Gou masuk.


"maaf kami tidak bisa menyelamatkan nona Celestian, saya salut dengan keberaniannya" ucap Tuan Gou.


"kenapa anda tidak memberitahu hal ini pada kami?!!" ucap Rey dengan keras bahkan baginya yang seorang laki laki ini terasa sangat menyakitkan.


"nona Celestian yang meminta hal itu pada saya" jawab Tuan Gou.


"Ce..les" ucap Delli lirih, ia berjalan tertatih tatih berusaha menggapai ranjang tempat Celestian terbaring.


"Ce..les" ucao Delli lagi.


Melihat Delli yang kesulitan, Rio segera membantu Delli dan mendudukkan Delli di ranjang.


Dan Delli langsung memeluk erat tubuh Celestian.


"kamu harus istirahat, Dell" ucap Rey.


"tidak, a..aku mau bersama Celes" jawab Delli lemah.


Mereka tidak bis berbuat apa apa sekarang.


Tiba tiba Enna melepaskan pelukannya.


"aku akan se....selamatkan Celes, aku bisa menyembuhkannya" ucap Enna lalu ia mulai mengeluarkan sihir penyembuh berkali kali.


"Enna berhenti, kamu akan menyakiti dirimu sendiri" bentak Zaco.


"tidak ini masih belum cukup" ucap Enna.


Akhirnya, Zaco memegang tangan Enna dan menghentikannya. Enna pun langsung menangis dengan keras dipelukan Zaco.


Ditempat lain pun sedang ada dua orang yang dilanda kegelisahan.


"entah kenapa aku tiba tiba memikirkan Celes" ucap Vitsa pada Sarla.


"aku juga... rasanya perasaan ini sangatlah menyiksa" ucap Sarla.


Mereka terbangun karena mimpi buruk dan tiba tiba teringat Celestian.


tok...tok....., anggep aja ketukan pintu.


Sarla membuka pintu, seorang pelayan menyerahkan surat.


Tertulis di surat itu atas nama Gou Glass.


Pelayan itu segera pergi. Sebelum masuk, Sarla menutup pintu lalu menghampiri Vitsa yang duduk disofa.


"ini surat dari Tuan Gou"ucap Sarla memberi tahu.


Mereka pun segera membuka surat tersebut lalu mengarahkannya kearah lilin. Dan munculah huruf huruf yang tersusun rapi.


Setelah membaca surat tersebut, Sarla kaget lalu pingsan. Surat yang berisi berita kematian Celestian Faben.


.


.


.


Jangan lupa vote, like dan komen