
Selamat membaca...
......................
Kini malam telah tiba disertai hujan.
Diatas sana tak satupun bintang menghias langit.
Dan kini dua perempuan tengah berada di dimensi lain, didalam sebuah gubuk sederhana.
Sihir yang mengekang perempuan itu dilepas oleh yang lain.
ya,,, perempuan itu adalah Celestian.
Perempuan yang membawa Celestian kesini melepas mantel nya.
Kini tampaklah seorang perempuan yang sangat cantik bak boneka.
"siapa kamu?" tanya Celestian yang kini duduk disofa tadi tangan dan kakinya masih terikat dengan rantai sihir.
Perempuan itu tidak menghiraukan pertanyaan Celestian. Ia pergi ke dapur untuk membuat sesuatu.
Setelah beberapa menit, perempuan itu kembali ke kamar dan duduk didepan Celestian.
Ia menghidangkan teh dimeja lalu menutup rapat pintu dengan sihir. Kemudian membukan ikatan Celestian.
"siapa kamu?? dan ini dimana?? dan kenapa??" tanya Celestian sekali lagi.
Perempuan itu meneguk tehnya dengan santai, lalu segera meletakkan teh itu dimeja.
"aku Fani, seorang penyihir hitam" ucap wanita itu.
"kamu pasti tahu siapa aku" ucap Fani sekali lagi.
Selesai mengamati Fani, wajah bak boneka ini...
Tunggu kenapa sedari tadi ia tak sadar kalau wajah Fani mirip dengan Feya?
"apa hubunganmy dengan Feya?" tanya Celestian dengan penasarang.
"aku kakaknya, dan aku akan kembali menghidupkan adikku sekalipun adikku menolak" ucap Fani sambil meneguk tehnya sekali lagi.
"apa itu tujuanmu menangkapku?"
"iya,akan kulakukan apapun agar bisa bersama Feya" ucap Fani.
"Tapi Feya tidak cerita soal ini" gumam Celestian.
"apa kau juga yang melesatkan panah di pelelangan?"
"iya"
"a..apa kau juga orang dibalik pelelangan itu,"
"iya, aku turut andil dalam pelelangan itu karena aku ingin melihat orang seperti apa wadah adikku" ucap Fani dengan santai.
Celestian tidak percaya, mengapa ada orang sekmengeluarkan
Disaat Celestian sibuk dengan pikirannya,
huk...hukk....
Fani batuk terus menerus dan bahkan mengeluarkan darah, Celestian yang melihat itu menjadi panik.
"ehh kamu tidak apa apa??" tanya Celestian, ia berniat membantu tapi dengan cepat tangannya ditepis oleh Fani.
"Jangan menyentuhku!!!" ucap Fani.
"tapi kamu tidak baik-" belum selesai ucapan Celestian sudah terpotong.
"cihh...gara gara tubuh lemah ini aku tidak bisa mengeluarkan sihirku yang sesungguhnya" ucap Fani.
"tunggu, apakah itu bukan tubuhmu" tanya Celestian.
"tentu saja bukan, umurku bahkan lebih tua 10 tahun dari Feya" ucap Fani.
"dan aku ini sebenarnya laki laki bukan perempuan, tubuh ini saja yang perempuan dan apalagi nama asliku Fani" ucap Fani sekali lagi.
Sedangkan Celestian kaget dengan apa yang dikatakan oleh Fani ia tidak menyangka jiwa seorang laki laki merasuk ke tubuh perempuan.
"Sudahlah, kita binyak membuang waktu disini. Akan segera kumulai ritual ini" ucap Fani lalu membuka salah pintu yang ada dikamar dan masuk kedalamnya. Sepertinya ia tengah melakukan persiapan.
Selesai melakukan persiapan, Fanu keluar dan membawa paksa Celestian kedalam ruangan itu.
"ritual apa ini?" tanya Celestian, ia merasakan tekanan kuat diruangan ini"
"bersiaplah tidur untuk selamanya" ucap Fani dengan senyuman jahat.
Diruangan tersebut, terdapat lingkaran sihir dengan ukuran besar. Ditengah tengah lingkaran sihir terdapat tempat tidur.
Disanalah Celestian diberada saat ini.
Bait demi bait mantra telah selesai diucapkan oleh Fani, kini ia mengambil gelas lalu teteskan darahnya pada gelas itu.
Kemudian darah didalam gelas, dijadikannya tinta. Ia menulis di lengan tubuh Celestian.
tidur dan bangkit, itulah yang ditulisnya di lengan tubuh Celestian dengan menggunakan bahasa sihir hitam.
Kini Fani terlihat senang, ritualnya yang telah selesai. Jiwa Celestian tertidur lelap.
Tapi sebenarnya masih perlu satu ritual lagi, tetapi Fanu sudah tidak mampu lagi karena tubuh yang ia rasuki sangat lemah dan sangat tidak memungkinkan mengeluarkan sihir lebih dari ini.
Hanya tinggal menunggu waktu hingga Feya menguasai tubuh tersebut.
......................
Saat ini semua orang kebingungab karena Celestian menghilang. Bahkan Rey dan Delli yang baru saja kembali dari daerah Barat ikut mencari Celestian.
Jejak sihir Celestian pun tidak ada.
Udara dingin yang menusuk nusuk tulang dan hujan lebat kini mereka rasakan.
Sudah sejak tadi siang, tapi tak ketemu juga. Bahkan Duke pun sampai mengerahkan hampir seluruh ksatrianya untuk mencari. Ia sangat menyayangi putri putrinya karena itulah yang ditinggalkan sang istri yang kini telah tiada.
"Enna, Delli kalian kembali lah. Biar kamu yang mencari Celestian" ucap Zaco.
"aku tidak akan kembali sebelum Celestian ditemukan" ucap Enna ditengah hujan.
"kalian jangan keras kepala, kalau saat Celes sudah kembali dan melihat kalian sakit maka Celes akan kecewa pada kami karena tidak bisa menjaga kalian" ucap Zaco dengan suara yang sedikit dikeraskan. Karena hujan yang lebat membuat suara tidak terdengar.
Dengan ragu ragu Enna dan Delli menuruti apa kata Zaco. Mereka kembali ke kediaman Duke sambil menunggu hujan reda dan kabar dari yang lain.
......................
Kini Fani sedang menunggu adiknya bangun. Ia duduk diseberang jendela sambil mengingat kenangan buruknya tepat ditengah tengah hujan seperti ini.
Flashback on.
Fani POV
Kini aku tinggal bersama bibi Ru yang merupakan adik dari ibu.
Aku tidak tahu kemana ibu pergi, bahkan ibu melarangku untuk menemuinya dengan alasan ia sedang bekerja dan aku harus menemani bibi Ru yang sedang sakit keras.
Lalu aku tidak pernah tahu siapa ayahku, dulu saat aku berumur 5 tahun aku pernah bertanya tentang ayah. Tapi ibu langsung marah dan malamnya saat aku mengambil air minum, aku mendengar ibu menangis. Sejak saat itu aku tidak pernah bertanya tentang ayah.
Selain itu saat ini aku sedang menunggu adikku lahir.
aku berjanji pada ibu kalau aku akan menjaga ibu dan juga adik.
Sebenarnya aku merasa sepertinya ibu menyenbunyikan seseuatu, tapu aku tidak mau berpikir terlalu panjang lagi dan kutepis pikiranku itu jauh jauh.
"ibu, kapan adik akan lahir?" tanyaku pada ibu.
"adikmu akan lahir sebentar lagi, dan Fani harus menjaga dan melindunginya ya" ucap ibu.
"tentu aku akan melindungi ibu dan adik, tapi memang ibu mau kemana?" ucaoku pada ibu sambil mengelus perut buncit ibu.
"ibu tidak akan kemana mana kok sayang" ucap ibu.
Kami berbincang sangat lama, membahas ini membahas itu bahkan hal sepele pun dibahas.
Tidak lama sudah waktunya ibu pergi, ibu akan kemari sebulan sekali itu pun hanya 7 jam lalu pergi.
"kenapa ibu tidak tinggal bersamaku dan bibi?" tanyaku pada ibu yang saat itu bersiap siap pergi.
"maaf kan ibu sayang, ibu harus bekerja selain itu kamu harus menemani bibi Ru" itulah yang diucapkan ibu padaku.
"baiklah, tapi lain kali ibu disini harus lebih lama. Aku ingin bersama ibu dan adik" ucapku pada ibu dan memeluknya.
"iya sayang, itu pasti"
Namun hari yang kutunggu tunggu tidak kunjung tiba bahkan sudah hampir satu tahun ibu tidak menemuiku dan bibi. Setiap hari saat aku dan bibi merindukan ibu. Kami pasti akan melihat foto ibu yang terpajang didalam kamar kami.
Selain itu seharusnya adik sudah lahir.
Adik yang tidak pernah kulihat, aku ingin melihatnya, memeluknya, mencium pipinya, bermain, dan menjaganya.
Tapi tidak kusangka, hari dimana aku mengetahui segalanya tiba saat beberapa orang itu tiba....
.
.
.
.
Thanks for reading..
Jangan lupa like,, vote, give, dan komen ya.. supaya author semakin semangat dan karya ini berkembang...