
Saat ini diruangan tempat ada seorang gadis sedang menangis, air mata membasahi pipinya yang putih itu, matanya sembab karena selalu menangis.
Gadis itu merasakan perasaan yang benar benar campur aduk. Ada perasaan sedih, kecewa,takut, menyesal, dan apa yang harus dia perbuat.
Rasanya sekarang jalan yang dia lalui sedang buntu.
Ya, gadis itu adalah Delli. Saat ini ia sedang berada dia ruangan kecil, pintunya dikunci rapat.
Sekarang apa yang harus ia lakukan, dia benar benar bingung. Ia ingin segera bebas dari sini menemui keluarga dan teman temannya.
Ya Delli, telah diculik oleh Putra Mahkota Jerifo yang bekerja sama dengan Clara.
"aku...mohon lepaskan aku...hiks" ucap Delli dengan menangis sambil menggedor gedor pintu. Tapi naas tidak ada yang membuka pintu.
Didalam ruangan tersebut terdengar suara tangisan Delli, tapi tidka ada yang peduli.
"kenapa jadi seperti ini...hiks" ucap Delli lirih ditengah tangisannya.
"kakak, Celes.....kalian dimana..hiks"
"ayah...ibu....tolong Delli"
Tidak lama pintu terbuka dan tampaklah sesosok pria muda yang menghampiri Delli.
"bagaimana keadaanmu sayang" ucap pria itu dengan senyuman jahatnya. Pria itu memegang dagu Delli, membuat Delli bergidik ngeri dengan apa yang dikatakan oleh pria itu.
Ya pria itu tidak lain adalah Jerifo.
"sebentar lagi kamu akan menjadi milikku, tunggu saja" ucap Jerifo pada Delli.
"aku tidak akan mau menjadi milikmu dan tidak akan pernah!!!" bentak Delli dan menepis tangan Jerifo.
"kalau begitu tunggu saja nanti" ucap Jerifo lalu keluar dari ruangan tersebut.
aku harus keluar dari tempat ini, batin Delli.
Sudah 2 hari Delli dikurung didalam ruangan tersebut, matanya sembab karena menangis. Tidak lama pintu terbuka dan tampaklah 3 orang peruas yang sepertinya akan meriasnya.
"kami akan merias anda nona" ucap salah satu perias.
"kenapa kalian meriasku?" tanya Delli.
"aku tidak mau!! pergi dari sini!!" bentak Delli pada 3 perias tersebut.
"anda harus mau nona, jika anda seperti itu kami juga akan terkena masalah" ucap perias tersebut.
Pada akhirnya percuma saja penolakan yang dilakukan olehnya, karena ujunf ujungnya dia tetap dipaksa.
Dewi tolonglah aku, batin Delli.
"nona kami mohon jangan menangis atau riasan anda akan luntur" ucap perias yang menangani riasan.
"aku tidak peduli" ucap Delli yang masih menangis.
"nona, gaunnya sudah datang akan segera kami persiapkan" ucap perias yang memegang gaun putih panjang tersebut.
Delli melihat gaun putih panjang dengan pernak pernik yang dibawa oleh perias, dia merasa hancur sehancur hancurnya. Dari gaun yang dilihatnya sudah jelas itu gaun pernikahan.
Perias itu meletakkan gaun tersebut ditempat tidur. Delli yang melohat gaun itu langsung melempar gaun itu ke lantai dan menginjak nginjak gaun tersebut.
"nona, meskipun anda merusak gaun itu masih ada gaun lagi yang sudah disiapkan" ucap perias itu lalu keluar mengambil gaun lagi.
Sekali lagi Delli menangis, ia ingin keluar dari sini. Ia tidak ingin menikah dengan Jerifo, ini semua pemaksaan.
"aku ingin keluar dari sini...hiks....kak Rey....Celes....tolong aku" ucap Delli ditengah tangisannya.
Ia memandangi dirinya dicermin, rasanya sungguh ia tidak ingin jadi seperti ini. Seharusnya ia bisa kabur dengan sihirnya tapi tempat ini diberi antisihir.
Sore hari hampir tiba dan Delli sudah selesai dirias.
apakah aku akan berakhir seperti ini, batin Delli.
aku tidak mau menikah dengan Jerifo, batin Delli lagi.
.
.
.
Hapoy reading.....