
Selamat membaca📖📖📖
Feya kecil bingung dengan perkataan ibunya, mengapa ia harus pergi?
Bukankah ini rumah mereka?
Kenapa ibunya bilang kalau hanya Feya yang harus pergi?
Lalu akan kemana ibunya?
Berbagai pertanyaan muncul di otak kecil Feya. Tapi tetap tak ketemu jawabannya.
"Sayang, dengarkan ibu. Kamu harus pergi kerumah pohon" ucap ibunya Feya.
"Lalu ibu?" Tanya Feya kecil dengan wajah polosnya.
"Ibu nanti akan menyusul Feya, janji" ucap ibu Feya berusaha meyakinkan Feya kecil. Akhirnya Feya kecil mengangguk, ia percaya pada ibunya.
Saat hendak pergi, terdengar suara pintu dibuka paksa. Feya menoleh untuk memeriksa tapi pandangannya ditutupi tubuh ibunya.
"Tidak ada apa apa Feya" ucap ibu Feya dengan senyuman.
Saat akan pergi, terlambat sudah. Kepala rumah tangga dan beberapa anak buahnya sudah masuk, beberapa dari mereka membawa pedang.
"Feya cepat lari!!"
Saat Feya hendak lari, tiba tiba tangannya dicekal oleh seseorang. Seseorang itu adalah kepala rumah tangga, begitu juga dengan ibunya yang ditangkap.
"Bawa wanita itu" perintah kepala rumah tangga.
Setelah itu mereka dibawa kekediaman Raflo. Raflo adalah keluarga penyihir yang sangat terobsesi akan kekuatan sihir.
Feya kecil dan ibunya dibawa kesebuah kamar. Dikamar tersebut mereka akan tinggal.
Lalu datanglah seorang laki laki berambut hitam bermata merah. Laki laki itu terlihat kejam.
"Ooo, jadi ini putriku yang berharga itu" ucap pria yang merupakan ayah dari Feya kecil.
"Di..dia bukan anakmu" ucap ibu Feya dengan suara bergetar, meskipun begitu ia tetap berusaha melindungi anaknya.
"Kalau dia bukan putriku, tidak mungkin dia bermata merah" ucap Raflo.
"Ibu, dia siapa?" Tanya Feya kecil dengan wajah polosnya.
"Dia bukan siapa siapa nak" jawab ibu Feya.
"Aku ayahmu, hemm jadi siapa namamu?" Ucap Raflo.
"Aku Feya" ucap Feya kecil dengan suara yang terdengar imut.
"Aku akan selalu bersama ibu" ucap Feya kecil.
Mulai saat itu mereka tinggal dikediaman Raflo, awalnya mereka hidup dengan baik. Hingga......
Beberapa hari kemudian....
Raflo membawa beberapa anak buahnya dan mendatangi kamar tempat Feya dan ibunya tinggal.
"Feya kamu mau kan ikut ayah sebentar" ucap Raflo.
Mendengar apa yang dikatakan Raflo, ibu Feya tahu Feya kecil akan dibawa kemana. Ibu Feya pun langsung memeluk Feya, ia ingin melindungi putrinya itu.
"Aku tidak akan membiarkanmu membawa Feya" ucap ibu Feya.
"Serahkan dia padaku, atau kau akan tahu akibatnya" ucap Raflo dengan nada dingin nan kejam, hal itu membuat Feya kecil takut.
Melihat putrinya ketakutan, ibu Feya berusaha menenangkan putrinya.
"Sayang tidak apa apa, ada ibu. Ibu akan melindungi Feya apapun yang terjadi" ucap ibu Feya.
Sudah kehabisan waktu, Raflo pun langsung memisahkan ibu dan anak itu dengan kasar.
"Ibu!! Hikss....ibu.." isak tangis gadis kecil tersebut mulai terdengar.
"Ibu......hikss....lepaskan ibu" ucap Feya kecil ditengah tangisannya.
"Kau bisa diam tidak!!!" Bentak Raflo.
"Ahh....hikss...sakit" Feya terlihat kesakitan karena Raflo memegang dan menarik tangan Feya dengan keras.
Melihat anaknya disakiti, ibu Feya langsung melepaskan diri dan dengan cepat melepaskan tangan Raflo dari Feya kecil.
"Sudah, cup..cup..ibu ada disini" ucap ibu Feya sambil memeluk Feya kecil yang ketakutan.
Karena tidak bisa mendapatkan apa yang dia inginkan, Raflo menyuruh anak buahnya untuk membunuh wanita didepannya ini, karena akan menghalangi rencana besarnya.
Duk....Tingg(anggap saja suara ditusuk)
Darah keluar dengan deras, melihat ibunya yang mengeluarkan darah banyak membuat Feya semakin histeris.
"Sa..sayang kamu har..harus...tetap hi..hidup" ucap ibu Feya lalu langsung memejamkan mata untuk selamanya. Feya merasakan suhu ibunya semakin dingin dna banyak darah yang keluar, membuat Feya menangis rasanya seperti kehilangan cahaya yang menghangatkan dirinya.
"I..ibu" ucap Feya dengan suara bergetar dan memeluk tubuh ibunya.
Setelah kepergian ibunya untuk selamanya, Feya diseret paksa oleh Raflo.