Lady Celestian

Lady Celestian
Episode 57



Selamat membaca semuanya📖📖


.


Selamat Natal dan menyongsong tahun baru yang akan datang, semoga untuk kedapannya dapat menjadi lebih baik lagi....


.


.


.


Ya, sebelumnya Celestian memang menyuruh Enna membuat kekacauan untuk membuat orang panik dna kebingungan lalu juga sebagai tanda untuk ksatria yang menyelinap.


Selesai melakukan tugasnya, Enna kembali ke tempat semula.


Tidak lama, terjadi sesuatu dibelakang panggung. Hal itu terlihat dari pembawa acara berbicara dengan salah satu petugas dan pembawa acara mulai berkeringat dingin.


"Maaf para hadirin sekalian, ada sedikit kendala pada pelelamgan hari ini" ucap pembawa acara itu.


Ya, dari perkataan pembawa acara. Sudah bisa dipastikan para budak, lalu organ tubuh dan artefak berhasil diamankan.


Lalu tidak lama, terjadi serangan mendadak dipelelangan. Membuat semua orang panik.


Serangan tersebut adalah dari para ksatria yang sudah berhasil menangkap semua yang terlibat pelelangan.


Pengamanan pelelangan pun berhasil dijalankan. Tapi, terjadi serangan lagi yang dilakukan oleh orang bertopeng.


"Apa ini rencana anda juga?" Tanya Countess Becly.


"Sepertinya bukan, karena seharusnya cuma sekali penyerbuan" jawab Celestian, kini ia merasa aneh dengan situasi ini.


Celes, cepat minggir (ucap Feya)


Dengan spontan, ia meminggirkan badannya. Ya, ada panah yang melesat dengan cepat. Tapi untungnya Celes tidak terkena karena peringatan Feya.


Enna yang melihat hal itu, segera mencari asal dari panah itu. Ia mengamati sekeliling tapi tidak menemukan orang tersebut.


"Enna, ada kertas di panah itu" ucap Celestian.


Enna pun mengambil kertas tersebut dan membuka isinya.


Aku menemukanmu, bersiap siaplah. Tunggu sebentar lagi.


Itulah pesan yang ada dikertas itu.


Hal itu membuat mereka bingung.


Karena tidak ingin memperparah situasi, Celestian memanggil salah satu ksatrianya.


"Kamu antarkan nyonya Countess keluar dari pelelangan dan bilang pada ksatria lain untuk cepat mengamankan semuanya" ucap Celestian memberi perintah.


"Baik nona" jawab ksatria itu.


Setelah itu, mereka memeriksa semua tempat disana. Siapa tahu yang melepar surat masih belum pergi jauh.


Setelah berlama lama mencari tetap tidak ada.


Akhirnya mereka memutuskan untuk berhenti mencari.


"Lebih baik kita pulang, urusan disini juga sudah selesai" ucap Enna yang disetujui Celestian.


Dalam perjalan, Celestian terus berpikir tentang maksut kertas  tadi hingga sampai dirumah.


"Selamat malam, nona" ucap para pelayan yang menyambut kedatangan Celestian dan Enna.


"Nona mau beristirahat dulu?" Tanya pelayan itu.


"Iya, kami akan beristirahat" jawab Celestian.


"Akan kami persiapkan" ucap pelayan.


Setelah itu mereka beristirahat, karena hari esok menanti.


Sedangkan saat ini didalam ruang jiwa, Feya tengah cemas dengan isi kertas tadi.


"Apa itu jangan jangan dia" ucap Feya bermonolog sendiri.


"Tapi bagaimana bisa, bukankah ia sudah mati" ucap Feya lagi, saat ini ia dilanda kebingungan.


"Tapi kalau itu dia, jangan sampai dia menemukanku kalau tidak bisa bahaya" batin Feya.


Aku akan melindungimu, Celes (batin).


Pagi sudah datang, matahari dengan malu malu menampakkan dirinya pada dunia.


Hari ini, Celestian dan Enna saatnya ke akademi. Hari ini mereka sibuk, sama seperti hari biasa. Apalagi Celestian yang merupakan petugas ekskul.


Padahal baru sekitar 1 minggu, tapi rasanya waktu berjalan lambat.


Saat ini Celestian sedang melamunmerinduka sambil menunggu Enna.


Ia begitu merindukan ayah, ibu, dan teman temannya.


Ia rindu melakukan semua hal dengan mereka.


Dan entah mengapa perasaanya tidak enak hari ini, rasanya akan ada yang pergi jauh.


Celestian terus melamun, sampai akhirnya Enna datang.


"Celes" ucap Enna tapi tidak ada jawaban apapun.


"Celes!" Ucap Enna sekali lagi membuayarkan lamunan Celestian.


"Ehhh iya ada apa?" Ucap Celestian.


"Kamu kenapa melamun?" Tanya Enna.


"Aku sedang ada pikiran"


"Memang ada apa?" Tanya Enna, ia dan Celes memang saling terbuka sehingga tidak ada rahasia apa pun diantara mereka.


"Rasanya akan ada yang pergi" ucap Celestian dengan murung.


"Mungkin kamu sedang cemas dan lelah" ucap Enna, Enna sebenarnya juga merasakan sesuatu. Tapi ia tidak ingin membuat Celestian semakin cemas dan banyak pikiran.


"Sudahlah, ayo kita berangkat. Atau kita akan terlambat" ucap Enna yang diangguki Celestian.


Dalam perjalanan ke akademi, mereka membahas kertas kemarin.


Sesampainya di akademi, mereka langsung menuju ke kelas masing masing. Dan mulai mengikuti pembelajaran yang ada.


Beberapa jam kemudian......


Sudah waktunya Celestian dan Enna pulang. Dan sesampainya dirumah, mereka langsung dihadapkan oleh kertas kertas yang memusingkan.


Urusan kertas kemarin belum selesai dan kali ini dihadapkan oleh pekerjaan Duke dan Duchess yang begitu bayak.


Tapi mereka tidak menyerah ataupun putus asa, mereka dengan semangat mereka mengerjakan. Supaya saat semua sudah pulang, pekerjaan rumah dan politik juga selesai.


"Huh, pekerjaan hari ini juga banyak sekali" ucap Celestian menghela nafas panjang.


"Ohh ya kamu sudah laporan pada Re- maksudku Yang Mulia Putra Mahkota dan Yang Mulia Putri tentang siapa saja yang terlibat??" Tanya Enna memastikan.


"Belum, Putra Mahkota dan Putri sangat sulit ditemui karena pekerjaan mereka menumpuk. Saat aku kesana, aku malah diminta membantu Putra Mahkota dan Putri" jawab Celestian.


"Tapi sudah kubuat laporan dalam bentuk dokumen" ucap Celestian lagi.


Setelah berbagai perbincangan mereka kembali menyelesaikan dokumen yang menumpuk.


Tok...tok..tok,


Terdengar ketukan pintu.


"Masuk" ucap Enna.


Kepala pelayan pun masuk, tapi wajahnya terlihat sedih dan cemas.


"Ada apa, Holf?" Tanya Celestian.


"Nona...maaf atas kabar ini" ucap Kepala pelayan dengan kepala tertunduk.


"Ada apa?? Bicaralah" ucap Celestian.


"Nona...Nyonya meninggal" ucap Kepala pelayan dengan wajah yang ikut sedih, Celestian dan Enna yang mendengar pun sudah tidak bisakmengendalikan ekspresi wajahnya.


"Ini bohong kan..." ucap Celestian lirih yang diajwab gelengan kepala oleh Kepala pelayan.


"Ba..bagaimana bisa" tanya Celestian dengan tangan yang gemetar.


"Nyonya meninggal dalam benteng pertahanan biru tempat perbekalan dan senjata, beliau berusaha melindungi rakyat yang mengungsi sementara disana dan saat itu musuh menyerang tempat itu. Meskipun Nyonya handal berpedang dan sihir, tapi mereka kalah jumlah" ucap Kepala pelayan menceritakan.


"Ayah?"


"Tuan sedang di medan perang memimpin pasukan" jawab Kepala pelayan.


"Ini surat dari pertahanan" ucap Kepala Pelayan lalu menyerahkan surat itu pada Celestian.


Celestian menerima surat itu dengan tangan yang gemetar.


Lalu ia membuka dan membacanya. Didalam surat, berisi tentang kabar dan berita yang ditulis oleh ayahnya sendiri.


Usai membaca surat itu, Celestian lemas seperti tidak ada tenaga. Bahkan untuk berdiri pun tidak sanggup.


Begitu pun dengan Enna, ia merasa kehilangan sosok ibu yang melindungi, merawat dan menyayanginya. Padahal ia bukan anak kandung dari keluarga ini.


"Ibu..ibuu..aku ingin ke tempat ibu sekarang" ucap Celestian, sekarang bahkan suaranya tidak terdengar begitu jelas.


"Celes" ucap Enna dengan memeluk Celestian yang terduduk di sofa.


"Enna..ibu..tidak mungkin meninggalkan kita kan...itu..tidak mungkin" ucap Celestian, air matanya mengalir dengan deras.


"Celes" panggil Enna tapi ia tidak menyahut.


"Ibu..." racau Celes.


"Celes!! Lihat aku, lihat mataku sekarang" ucap Enna dengan sedikit keras, kini ia memegang wajah Celestian.


"Ibu tidak akan pergi, ibu akan tetap ada dihati kita...meskipun..ibu pergi ia akan tetap melindungi dan menyayangi kita" ucap Enna dan memeluk Celestian lagi.


Perkataan Enna membuat, Celestian semakin menangis. Enna yang memeluk Celestian juga menangis.


Mereka sama sama menangis.


Sungguh kesedihan yang amat dalam, ketika orang yang kita sayangi pergi untuk selamanya. Apalagi itu adalah sosok ibu. Ibu yang selalu menyayangi, melindungi, mendidik, dan merawat mereka. Kini ia telah pergi. Celestian merasa hidupnya dipenuhi ujian, ia punya kutukan lalu ia berpisah dengan teman dan keluarganya karena perang dan kini ia kehilangan ibunya. Kenapa rasanya dunia begitu kejam.


Besok adalah hari ibunya pulang kerumah tapi dalam keadaan tidak bernyawa.


Ibu kau sungguh orang yang sangat hebat.


.


.


.


pesan singkat:


(ibu adalah orang yang hebat, selalu ingat bahwa seorang ibu akan selalu menyangi anak anaknya. Jangan sia sia kan kasih sayang ibu yang membuat kita menjadi manusia)


.


.


.