
...༻♚༺...
Jasmine memeriksa di setiap sudut kamar. Mencoba menemukan ponselnya yang telah tiada. Namun seberapa keras dirinya mencari, Jasmine tetap tidak menemukan ponselnya. Gadis itu hanya mengacak-acak rambutnya sebal.
"Jasmine!" panggil Edward. Tetapi Jasmine memilih untuk tidak menghiraukan. Seolah panggilan Edward hanya angin lalu ditelinganya. Dia terus melakukan pencarian. Mengobrak-abrik barang-barang yang ada.
Edward terlihat berdiri di depan pintu. Mengamati Jasmine yang masih belum menyadari kehadirannya. Saat itulah Edward diam-diam meletakkan ponsel Jasmine ke atas nakas. Selanjutnya, lelaki tersebut segera beranjak pergi.
Jasmine menghela nafas panjang. Dia memindai ke sekeliling kamar sekali lagi. Atensinya langsung tertuju ke ponsel yang tergeletak di atas nakas. Tanpa basa-basi, Jamine bergegas mengambil ponsel itu. Dia merasa lega, ketika menyadari kalau ponsel tersebut adalah miliknya.
'Tunggu, bagaimana ini bisa tiba-tiba di sini? Padahal saat aku memeriksanya tadi tidak ada!' benak Jasmine bertanya-tanya. Sekali lagi dia merasa curiga kepada Edward.
Jika dipikirkan baik-baik, Edward adalah satu-satunya tersangka utama bagi Jasmine. Sebab semenjak dirinya terbangun dari tidur, Edward-lah yang terlihat. Selain itu, Jasmine tidak ada menemukan siapapun di rumah, kecuali Ronald. Jelas tidak mungkin Ronald yang mengantarkannya ke rumah Edward. Dia tidak akan berani melakukannya tanpa izin dari Edward sendiri.
Jasmine berjalan keluar rumah. Perhatiannya tertuju ke arah mobil Jake yang masih terparkir di depan teras.
Dari kejauhan Jasmine dapat menyaksikan sebuah mobil berjalan kian mendekat. Kemudian berhenti di pinggir jalan. Tepat di depan rumah Edward.
Pupil mata Jasmine membesar kala melihat lelaki yang baru keluar dari mobil. Dia tidak lain adalah Jake, yang sepertinya berniat mengambil mobilnya kembali. Jasmine lekas-lekas berlari menuju pintu. Berniat bersembunyi, sebelum Jake menangkap basah dirinya sedang berada di rumah Edward.
"Jase? Kaukah itu?" Jake terlanjur memergoki Jasmine. Menyebabkan Jasmine terpaksa harus membalikkan badan. Gadis tersebut menggigit bibir bawahnya. Merasa berat hati sekaligus panik untuk menghadapi Jake. Dia tentu harus berbohong mengenai keberadaannya di rumah Edward sekarang. Jujur belum ada alasan tepat yang terlintas dalam kepalanya. Jasmine tidak suka berbohong. Sebab neneknya sering menasehati, kebohongan adalah candu. Sekali dilakukan, maka akan membuat seseorang tergoda lagi untuk melakukan kebohongan lainnya.
"Hai, Jake!" Jasmine menyapa dengan senyuman kecut.
"Kau bermalam di rumah Edward?" Jake nampak membulatkan mata. Menduga kalau sesuatu terjadi kepada Edward dan Jasmine tadi malam.
"Ini tidak seperti yang kau pikirkan. A-aku hanya..." Jasmine menjelaskan dengan gelagapan. Dia benar-benar linglung. Semuanya serba salah baginya.
"Jasmine!" dari dalam rumah terdengar suara Edward memanggil. Menyebabkan atensi Jasmine maupun Jake otomatis teralih sesaat. Keduanya sama-sama menatap ke arah pintu.
"Jasmine!" suara Edward tambah dekat.
Jasmine lantas meraih gagang pintu. Dia tidak mau Edward bertindak ke arah sesuatu yang akan membuat Jake semakin curiga. Namun ketika Jasmine memegang gagang pintu, Edward malah membuka pintunya lebih dahulu. Menyebabkan tangan Jasmine tertarik ke dalam. Hingga dia dan Edward hampir saja bertabrakan untuk yang kedua kalinya. Jarak bibir keduanya hanya beberapa senti saja. Mata mereka sama-sama terbelalak. Kaget kalau-kalau sentuhan tak terduga akan terjadi.
Belum sempat satu detik, Jasmine dan Edward langsung menjaga jarak. Mereka berusaha sebisa mungkin menutupi kegugupan yang tiba-tiba bergelut menyelimuti. Meskipun begitu, keduanya tidak bisa menutupi respon alami tubuhnya masing-masing. Baik Jasmine dan Edward, mereka terlihat sedang bersemu merah.
"Apa-apaan, Ed? Apa terjadi sesuatu tadi malam, di antaramu dan Jase?" pungkas Jake. Menatap Jasmine dan Edward secara bergantian.
"Jase?" Edward mengerutkan dahi. Dia tidak tahu perihal nama panggilan lain Jasmine.
"Oh, maksudku. Jasmine." Jake memberikan penjelasan singkat.
"Tidak ada terjadi apapun--"
"Jasmine mabuk berat tadi malam. Aku tidak tahu harus membawanya kemana. Jadi, aku membawanya ke rumahku." Edward memberikan alasan lugas. Memotong perkataan Jasmine dengan sengaja.
Jasmine tercengang. Dia tidak terima Edward mengatakan dirinya mabuk berat. Sebab menelan alkohol pun Jasmine tidak pernah.
"Aku mau mengambil mobilku. Tadi malam Edward meminjamnya untuk pulang. Edward memang selalu tidak betah berada di pesta terlalu lama. Bukankah begitu, Ed?" Jake menatap Edward dengan sudut matanya.
"Whatever!" balas Edward tak acuh. Membuang muka dari Jake serta Jasmine.
Suasana menghening sejenak. Jasmine memanfaatkan momen tersebut untuk melayangkan tatapan kesalnya kepada Edward. Dia masih tidak terima disebut sebagai seorang pemabuk.
Edward berpikir untuk memecah keheningan yang terjadi. Dia melambaikan kedua tangannya ke arah Jake dan Jasmine. Edward segera berucap, "Apa kita akan terus berdiri di sini sampai sepuluh tahun ke depan?"
"Maaf, aku hanya berusaha mencerna. Karena kalian berdua sepertinya masih menyembunyikan sesuatu dariku," ungkap Jake. Dia merekahkan senyuman singkat. "Baiklah, aku sebaiknya pulang sekarang!" sambungnya sembari menepuk pelan pundak Edward. Kemudian melangkah menuju mobilnya.
"Kau akan pulang? Bolehkah aku ikut?" tanya Jasmine sembari mencoba menggerakkan kakinya untuk mengikuti Jake. Namun pergerakannya tertahan, karena Edward menggenggam erat lengan bajunya.
Edward menarik Jasmine lebih dekat. Dia mendekatkan mulut ke telinga Jasmine. Bau parfum mahal yang dikenakan lelaki itu seketika kian menguar jelas di hidung Jasmine.
"Apa yang kau lakukan? Kau harus bekerja sekarang!" bisik Edward seraya mengeratkan rahangnya.
Jasmine balas berbisik, "Apa kau tidak berpikir? Jika aku tetap tinggal di sini, bukankah Jake akan semakin curiga dengan hubungan kita?"
Kening Edward mengernyit. Dia berpikir pendapat Jasmine ada benarnya.
Dari kejauhan, Jake menyaksikan kedekatan Edward dan Jasmine. Matanya memicing rapat, agar bisa melihat dengan jelas apa yang sedang dilakukan oleh dua temannya itu. Meskipun tidak mampu mendengar pembicaraan Edward dan Jasmine, Jake dapat menyimpulkan kalau hubungan keduanya terlihat sangat dekat.
"Apa mereka berciuman?" gumam Jake. Bertanya kepada dirinya sendiri. Kedua kakinya menjinjit akibat berupaya keras melihat kegiatan Edward dan Jasmine.
Beberapa saat kemudian, Jasmine berjalan meninggalkan Edward. Gadis tersebut menyuruh Jake untuk menunggu.
"Aku boleh ikut denganmu?" tanya Jasmine. Sudah berdiri di hadapan Jake.
"Ya!" Jake mengangguk sambil tersenyum kecut.
"Jake! Kau melupakan ini!" Edward melempar kunci mobil ke arah Jake. Kunci itu bisa ditangkap dengan baik oleh Jake.
"Thanks, Ed!" Jake tersenyum tipis. Dia langsung menjalankan mobil, saat Jasmine sudah duduk di sebelahnya.
Ketika di dalam mobil, Jake dan Jasmine terdiam dalam selang beberapa menit. Seperti biasa, Jake selalu menjadi orang yang memulai pembicaraan.
"Kau tahu? Aku pikir, dirimu sudah berhasil memecahkan rekor!" imbuh Jake. Menatap ke arah Jasmine selintas.
"What?" Jasmine sontak terheran.
"Ini tentang Edward. Dia hampir tidak pernah membiarkan teman-temannya untuk berkunjung ke rumahnya. Termasuk aku, tetapi kau..." terang Jake sambil fokus mengemudikan mobil.
Jasmine mengukir senyuman sesaat. Dia tentu tahu alasan Edward mengecualikan dirinya dibandingkan orang lain. Sederhana, karena Jasmine adalah seorang pelayan bagi Edward. Tidak ada yang istimewa.