
...༻❀༺...
Hari demi hari terlewati. Keseharian berkuliah dijalani dengan baik oleh Jasmine. Ia sangat sibuk, sampai tidak punya waktu untuk mencari hunian baru. Untung saja Edward tidak mendesaknya untuk lekas pergi dari rumah.
Jasmine semakin akrab dengan Joy. Teman barunya itu sangat berbeda dari Eva. Menyenangkan dan pastinya tidak bermuka dua. Joy terkesan memiliki sifat yang terlalu jujur malah. Jika dia tidak suka maka dirinya akan mengatakannya secara langsung.
"Apa makananmu itu saja? Hari ini kita harus membuat rancangan bukan? Setidaknya makanlah makanan yang banyak!" tegur Joy. Dia dan Jasmine sedang berada di kantin.
"Aku memang terbiasa tidak makan banyak. Jika mengambil banyak makanan, maka aku akan menyisakannya dipiring," terang Jasmine. Ia sibuk mencari minuman yang di inginkannya. Hingga tertujulah perhatiannya ke arah satu-satunya jus kemasan yang tersisa. Namun sebelum Jasmine sempat meraih jus tersebut, seseorang sudah lebih dahulu mengambilnya. Jasmine lantas hanya memilih air mineral.
"Ugh, Menyebalkan! Kau ingin aku merebut jusnya untukmu?" ujar Joy. Dia kesal menyaksikan temannya tidak mendapatkan jus.
"Lupakan. Lagi pula itu hanya jus, jika buku sketsaku, barulah kau bisa melakukan apapun untuk merebutnya," balas Jasmine sembari tertawa kecil. Satu tangannya menepuk pelan pundak Joy. Keduanya segera duduk di salah satu tempat yang kosong.
Bersamaan dengan duduknya Jasmine dan Joy, muncullah tangan seseorang yang mendadak meletakkan jus kemasan di atas meja. Jasmine maupun Joy otomatis merasa terkejut. Mereka langsung menoleh ke arah sang pelaku.
"Jake!" pupil mata Jasmine membesar.
"Jake?" Joy yang sama sekali belum mengenal Jake, hanya bisa mengerutkan dahi.
"Kau tidak sempat mengambil jus bukan? Jadi aku memberikan milikku untukmu," ucap Jake.
"A-apa? Jake!" Jasmine bergegas bangkit dari tempat duduk. Berdiri menghadap Jake. Ia tidak lupa mengambil jus kemasan pemberian Jake. "Kau tidak perlu repot-repot!" ungkapnya merasa tidak enak.
"Aku baru saja menyelesaikan makan siangku. Dan jus itulah satu-satunya yang tersisa. Tidak apa-apa, Jase. Ambillah!" Jake memaksa. Senyuman mengembang tipis diwajahnya.
"Kalau begitu terima kasih..." Jasmine tidak punya pilihan lain selain menerima. Dirinya kembali duduk ke kursi. Gadis itu tidak bisa menutupi semu merah diwajahnya.
Jake segera bergabung bersama teman-temannya. Termasuk Edward. Posisi duduk mereka tidak begitu jauh dari tempat Jasmine dan Joy berada.
"Apa-apaan itu. Sepertinya senior itu menyukaimu! Dia memanggilmu Jase! Bukankah panggilan itu hanya berlaku untuk orang yang dekat denganmu?!!" timpal Joy. Mencoba menggoda Jasmine.
"Stop it, Joy! Aku rasa Jake tidak menyukaiku dengan cara begitu," sahut Jasmine membantah dugaan Joy.
"Aku meragukannya." Joy menopang dagu dengan satu tangannya. "Seandainya dia tidak menyukaimu, dia tidak akan repot-repot ke sini, dan memberikan jusnya kepadamu," sambungnya.
"Entahlah, Joy. Bisakah kita makan dan membicarakan hal lain." Jasmine memutar bola mata. Dia berusaha keras menutupi gelagat salah tingkahnya.
"Ah, sepertinya kau juga menyukainya." Godaan Joy semakin menjadi-jadi. Dia mencubit salah satu pipi Jasmine. Agar temannya mau berkata jujur.
"Hentikan, Joy!" Jasmine menjauhkan tangan Joy dari pipinya. Dia lantas hanya bisa tergelak.
Tepat di meja yang ada di depan Jasmine dan Joy, Eva duduk di sana. Dia mengetahui semua yang terjadi. Perlahan seringai terukir diwajahnya.
Jasmine dan Joy berjalan berbarengan menyusuri halaman kampus yang luas. Terdapat rerumputan dan beberapa pohon yang menghiasi tempat itu.
"Aku tadi sempat membuka blog kampus kita. Dan apa kau tahu yang kudapat?" imbuh Joy. Menatap Jasmine dengan sudut matanya. Sementara Jasmine terlihat mengernyitkan kening penuh tanya.
"Aku menemukan Jake di sana. Dia dan satu temannya yang bernama Edward ternyata salah satu mahasiswa berprestasi." Joy memberitahukan sambil menyenggol Jasmine dengan sikunya.
"Benarkah? Mereka ada di jurusan apa?" Jasmine sontak merasa penasaran. Dia mengintip layar ponsel milik Joy. Sebab sejak awal, Jasmine memang tidak pernah bertanya mengenai jurusan yang diambil Jake dan Edward.
"Kau benar." Jasmine mengangguk beberapa kali.
"Dan satu hal lagi, lelaki yang bernama Edward itu terkenal sombong dan jahil. Meskipun dia jenius, kebanyakan orang menganggapnya menyebalkan. Kupikir dia menyia-nyiakan ketampanannya! Pantas saja orang-orang lebih menyukai Jake. Jake memang pria yang sangat gentle. Aku setuju kau berpacaran dengannya," tutur Joy panjang lebar.
Jasmine tercengang. Ia mengembalikan ponsel Joy. "Apa-apaan. Jangan berkata yang tidak-tidak. Jake tidak mungkin menyukaiku. Dia populer, dan banyak gadis cantik yang mengelilinginya!" katanya seraya menggeleng tegas.
"Maka dari itu, kau sebaiknya bertindak!" Joy menempelkan jari telunjuknya ke rongga dada Jasmine. Saat itulah atensinya tidak sengaja menangkap penampakan Jake. Joy segera menyuruh Jasmine berbalik, dan mendorong temannya tersebut untuk mengikuti Jake.
"Joy! Aku tidak mau!" Jasmine bertahan sekuat tenaga. Hingga Joy tak mampu lagi mendorongnya.
"Ah, kalau begitu aku saja yang memberitahukan Jake kalau kau menyukainya!" Joy berlalu pergi melewati Jasmine. Berniat mengekori Jake.
"Tidak! Tidak!" Jasmine bergegas menghentikan pergerakan Joy. Tindakannya sukses membuat Joy merekahkan senyuman puas.
"Baiklah, aku akan mencoba bicara kepadanya. Tapi aku tidak berjanji semuanya akan berjalan lancar!" tegas Jasmine. Kemudian beranjak untuk menuruti rencana Joy.
"Ayolah, Jase! Bersemangatlah!" pekik Joy. Menyebabkan Jasmine semakin merasa malu.
Jasmine memang tidak bisa membantah mengenai rasa sukanya terhadap Jake. Sejak awal, Jake adalah lelaki yang membuatnya nyaman sekaligus kagum. Kini Jasmine sedang dalam perjalanan mengiringi Jake dari belakang. Jake tampak sibuk bergumul dengan ponselnya.
Tidak lama kemudian Jake terlihat berhenti di hadapan seorang gadis. Mengharuskan Jasmine menghentikan pergerakan kakinya. Lalu bersembunyi dibalik pintu. Apalagi saat dirinya menyadari kalau gadis yang ditemui Jake adalah Eva.
Jasmine mengintip dari luar ruangan. Dari kejauhan dia juga dapat menyaksikan kemunculan Edward dari pintu seberang. Edward berdiri mematung di sana. Memperhatikan apa yang dilakukan Jake dan Eva.
"Aku menyukaimu, Jake!" ungkap Eva. Gadis itu segera menempelkan bibirnya ke bibir Jake. Memberikan sebuah ciuman lembut.
Deg!
Perasaan Jasmine seperti ada yang mengganjal. Ia tentu sangat kecewa. Tanpa sengaja mata Jasmine menjadi berkaca-kaca. Entah kenapa dirinya merasa dikhianati.
'Kenapa harus Eva?' batin Jasmine seraya memegangi dada dengan kedua tangan.
Jasmine lekas-lekas pergi. Dia tidak berminat lagi mengetahui apa yang terjadi kepada Jake dan Eva. Yang jelas sekarang, Jasmine bertekad tidak akan lagi berdekatan dengan Jake.
Di sisi lain, perasaan kecewa juga dirasakan Edward. Dia langsung berbalik badan setelah menyaksikan Eva mencium bibir Jake. Lalu melangkahkan kakinya keluar ruangan. Padahal sudah jelas Edward menampakkan dirinya. Ia tidak bersembunyi seperti Jasmine. Akan tetapi, Jake dan Eva bersikap seakan tidak melihatnya.
Selama ini, memang Eva-lah gadis yang disukai Edward. Pertanyaan perihal ciuman yang ditanyakannya kepada Jasmine, adalah salah satu rencananya untuk mendekati Eva. Sayangnya, semuanya tidak berjalan lancar seperti yang Edward duga.
Edward merasa patah hati. Padahal baru kali ini, dirinya merasa tertarik ingin lebih dekat kepada seorang gadis. Dia tidak menyangka gadis itu malah menyukai sahabatnya sendiri. Perasaan Edward benar-benar kesal. Ada keinginan tidak ingin kalah dari dalam hatinya. Kedua tangannya membentuk kepalan tinju penuh akan kekesalan. Dia duduk menenangkan diri di sebuah bangku panjang.
Selang sekian menit, Jake dan Eva terlihat berjalan berdampingan. Keduanya tampak bergandengan tangan satu sama lain. Edward dapat menyimpulkan kalau Jake pasti juga menyukai Eva.
Edward mencoba membuang muka ke arah depan. Perhatiannya langsung tertuju ke arah Jasmine yang sedang melangkah sendirian.
Jasmine berjalan sambil menundukkan kepala. Terpaku pada pergerakan kakinya. Dia masih terlena dengan kekecewaan. Tanpa diduga, Jasmine tidak sengaja menabrakkan dirinya kepada seseorang.
"Maaf!" ujar Jasmine. Reflek mendongakkan kepala, kemudian menatap sosok yang ada di hadapannya. Dari bau parfumnya, Jasmine merasa orang yang ada di depannya tidaklah asing. Otaknya segera memberitahukan kalau sosok yang ditabraknya itu adalah Edward. Benar saja, sosok tersebut memanglah Edward.
Edward berdiri tegap di hadapan Jasmine. Merekahkan senyuman simpul yang tak biasa. Jasmine tentu merasa bingung. Apalagi saat Edward semakin mendekat, lalu memagut bibir Jasmine tanpa permisi.