Jase Is Mine

Jase Is Mine
Bab 35 - Stuck In The Party



...༻♚༺...


Joy menarik tangan Jasmine. Keduanya berlari kecil memasuki rumah dimana pesta sedang diselenggarakan.


Lagu Bad dari David Guetta, langsung menyambut pendengaran Jasmine. Musik yang kental dengan EDM itu sukses memeriahkan pesta yang ada. Tetapi tidak untuk Jasmine, dia benar-benar tidak suka mendengarnya. Rasanya seperti mendengar musik dari neraka.


"Joy! Kau mau membawaku kemana? Bolehkah aku pergi saja?" pekik Jasmine. Ia terpaksa meninggikan nada suaranya, karena volume musik sangatlah nyaring. Lampu yang ada juga berwarna-warni dan terlihat agak redup.


Joy mengabaikan seruan Jasmine. Dia terus menyeret Jasmine, hingga berhenti di depan meja. Dia mengambil dua gelas minuman. Lalu memberikan salah satunya kepada Jasmine.


"Minumlah!" suruh Joy.


"Apa ini mengandung alkohol?" Jasmine membaui minuman yang diberikan oleh Joy. Dari baunya yang menyengat, sudah jelas kalau minuman pemberian Joy pasti mengandung alkohol.


"Minum saja, Jase!" Joy memaksa.


"Tapi, aku tidak pernah meminum alkohol seumur hidupku!" sahut Jasmine.


"Kalau begitu pecahkan rekor itu sekarang!" Joy mencoba meyakinkan Jasmine. "Tidak apa-apa jika dilakukan sekali-kali. Kau pantas bebas, Jase!" sambungnya.


Jasmine masih ragu. Keningnya mengernyit sambil menatap minuman yang ada di dalam gelas.


"Jika kau tidak mau meminumnya, maka biarkan aku meminum semua gelas yang ada di sini!" Joy mendesak. Dia memang terlihat meminum beberapa gelas alkohol secara beruntun. "Biarkan saja aku mabuk sampai tidak sadarkan diri," ujarnya lagi.


"Hentikan, Joy! Baiklah, aku akan meminumnya." Jasmine mnghentikan pergerakan Joy. Kemudian segera meminum alkohol dari gelas yang dipegangnya. Lidahnya langsung disambut oleh rasa pahit yang begitu menyengat. Hingga wajah Jasmine sampai meringis geli. Anehnya, rasa pahit tersebut membuat Jasmine candu. Alhasil Jasmine lanjut menenggak alkohol sampai habis.


"Oke, sekarang kau sudah dapat energi. Ayo!" Joy mengajak Jasmine masuk ke lantai dansa. Dia meminta Jasmine untuk menggerakkan badan mengikuti irama musik.


"Ayolah, Jase! Bersenang-senanglah denganku!" ujar Joy sembari menggerakkan pinggul dan tangannya dengan keren. Dia sempat tenggelam dalam kesenangannya. Namun ketika Joy melihat Jasmine sibuk menutupi telinga, barulah dia sadar kalau temannya tidak menikmati pesta seperti dirinya.


"Kau tidak apa-apa, Jase?" tanya Joy cemas.


"Aku tidak suka dengan musiknya! Rasanya aku ingin pulang saja!" jawab Jasmine. Rasa sempoyongan mulai menggerogoti kepalanya. Tetapi anehnya, rasa itu membuat Jasmine melayang. Seolah berada dalam keadaan semangat yang menggebu.


"Ah itu, kenapa kau tidak bilang dari tadi. Ayo ikut aku!" Joy lagi-lagi menyeret Jasmine untuk ikut bersamanya.


Setelah menyusuri gerombolan orang, tibalah Joy ke tempat yang di inginkannya. Yaitu posisi dimana DJ sedang berada.


"Hai, Ben! Apa kau mau merubah musiknya demi temanku? Dia baru pertama kali datang ke pesta. Aku tidak mau membuat sudut pandangnya terhadap pesta menjadi buruk." Joy dengan berani memegangi lengan DJ yang bernama Ben tersebut.


Ben tersenyum ramah. Perlahan dia melepaskan tangan Joy darinya. "Kau tidak perlu repot-repot merayuku, karena aku pasti akan membantu temanmu," ucapnya sembari menatap ke arah Jasmine. "Siapa namamu?" tanya Ben melanjutkan.


"Jasmine," sahut Jasmine dengan ekspresi bingung.


"Kau suka musik yang seperti apa?" tanya Ben.


"The Beatles?... Maksudku, lagu-lagu lawas yang berasal dari tahun 80 atau 90-an mungkin..." Jasmine menjelaskan musik yang disukainya.


"Ah... i'm so sorry, Jasmine. Aku tidak punya lagu-lagu lawas dalam daftar musikku. Tapi..." Ben mengacungkan jari telunjuknya ke depan wajah Jasmine. Kemudian meneruskan, "Aku tahu lagu yang cocok untukmu!"


"Baiklah kalau begitu. Terima kasih, Ben! Kami akan ke lantai dansa terlebih dahulu!" ungkap Joy girang. Ia segera memegangi tangan Jasmine.


"Come on!" Joy dan Jasmine berlari memasuki area lantai dansa. Mereka berada di antara kerumunan orang.


Ben tersenyum, dan langsung memutar musik yang menurutnya akan disukai oleh Jasmine. Lagu yang berjudul Stuck dari The Aces sudah dimainkan. Lagu itu bukanlah salah satu musik lawas. Namun gaya musiknya memang sukses membuat Jasmine jatuh cinta. Karena ritmenya yang hampir menyerupai lagu-lagu lawas zaman 90-an.


...[Disarankan untuk mendengarkan lagu Stuck dari The Aces.]...


...🎶...


...The words, the words don't resonate...


...Seasons, they always seem to stay the same...


...I'm holding on to things we said we would change...


...🎶...


Jasmine akhirnya menari mengikuti irama lagu. Meskipun begitu, dia melakukannya dengan pelan. Ditemani oleh Joy, yang setia berada di sisinya.


Berbeda dari Jasmine dan Joy, semua orang berhenti menari. Mereka bingung dengan musik yang tiba-tiba berubah. Atensi semua orang otomatis tertuju ke arah Jasmine dan Joy yang asyik sendiri.


Jasmine merasa berada dalam dunianya sendiri. Dia tidak tahu kenapa, namun dirinya merasa seolah akan terbang. Jasmine memutar tubuhnya beberapa kali, lalu menari kembali mengikuti irama musik.


Sesekali Jasmine akan berpegangan tangan dengan Joy. Kemudian memutar badan bersama. Hingga penglihatan Jasmine sepenuhnya hanya di isi oleh Joy yang sibuk tertawa bersamanya.


Menyaksikan Jasmine dan Joy begitu menikmati musik, membuat beberapa orang tertarik untuk ikut bergabung ke lantai dansa. Sampai pada akhirnya lantai dansa penuh kembali dengan banyaknya orang.


"Minumlah lagi, Jase." Joy menyodorkan satu gelas alkohol kepada Jasmine. Dia berniat meminumnya di waktu bersamaan dengan Jasmine.


"Terima kasih, Joy. Aku pikir, alkohol membuatku merasa sedikit berbeda," ungkap Jasmine. Lalu meneguk alkohol sampai habis. Hal yang sama juga dilakukan Joy. Mereka minum sampai tiga gelas. Lalu kembali lanjut menari ke lantai dansa.


Jasmine benar-benar menikmati kegiatannya sekarang. Ia menggerakkan kepala hingga tangannya dengan lihai. Tarian yang biasanya dilakukan Jasmine saat di rumah, kini diperlihatkannya kepada semua orang.


Di waktu yang tak terduga, seseorang tiba-tiba menepuk pelan pundak Jasmine. Tindakan orang itu membuat Jasmine membalikkan badan. Akan tetapi Jasmine tidak mampu melihat jelas orang tersebut.


Jasmine memicingkan mata, dan dia menyadari satu hal kalau sosok di depannya adalah seorang lelaki. Jasmine yakin dia adalah Edward. Setidaknya begitulah menurut penglihatan Jasmine yang masih samar.


"Jase, kau--" kalimat lelaki itu terhenti, saat Jasmine tiba-tiba mencium bibirnya.


Joy yang tadi sibuk menari bersama orang asing, memeriksa sebentar ke arah Jasmine. Betapa kagetnya dia, ketika melihat Jasmine berciuman dengan Jake. Mata Joy membulat, sembari membekap mulutnya yang menganga lebar. Sebagai sahabat, dia merasa senang. Apalagi kala menyaksikan Jake membalas ciuman Jasmine.


Jasmine memperagakan apa yang diajarkan Joy kepadanya. Memagutkan bibirnya, hingga membiarkan Jake membalas ciumannya. Mereka melakukannya dengan lembut. Sampai Jake akhirnya mulai terbawa suasana. Tangannya memegang tengkuk Jasmine tanpa harus melepaskan tautan bibirnya.


...🎶...


...I'm stuck, babe...


...Stuck with nowhere to go...


...It cuts, babe, 'cause we're just taking it slow...


...It's overdue, make your move...


...Stuck, babe...


...Stuck with nowhere to go...


...🎶...


Lagu Stuck dari The Aces masih menggema. Menjadi musik latar belakang suasana romantis yang dirasakan Jasmine. Seperti judul lagu yang terputar, Jasmine seakan terjebak dengan suasana yang menyelimutinya. Yang ada dalam pikiran Jasmine hanyalah Edward. Dia masih mengira lelaki yang diciumnya sekarang adalah Edward.


Pada kenyataannya, Edward yang asli sedang berdiri di dekat meja. Sukses melihat apa yang sedang dilakukan Jasmine bersama Jake.


Edward segera membalikkan badan. Mengambil segelas minuman dan menenggaknya sampai habis. Selanjutnya Edward mencengkeram gelas yang terbuat dari karton itu dengan kuat, hingga hancur tak berbentuk.