Jase Is Mine

Jase Is Mine
Bab 11 - Edward Tak Bisa Berkuda



...༻♚༺...


Setelah membawa kuda ke hadapan Edward, Ronald terlihat berjalan ke arah dapur. Tepat dimana Jasmine berada. Jasmine sontak menyibukkan diri dengan hal lain. Berpura-pura tidak tahu dengan apa yang terjadi di halaman belakang.


"Jasmine? Sejak kapan kau datang?" sapa Ronald dengan senyuman yang merekah diwajahnya.


"Baru saja," jawab Jasmine. Balas tersenyum.


"Pangeran sedang kedatangan Tuan James. Dia adalah paman dari Pangeran. Tuan James berusaha mengajari Pangeran untuk berkuda," jelas Ronald sembari mengamati Edward dan James dari kejauhan.


"Benarkah? Memangnya Pangeran tidak bisa--"


Bruk!


Omongan Jasmine terjeda, karena terdengar suara keributan dari halaman belakang. Edward terlihat telentang di tanah akibat terjatuh. Lelaki itu tampak memegangi bagian perutnya. Wajahnya meringis kesakitan. Sepertinya Edward kena serangan amarah dari seekor kuda.


"Ouch! Ini menyakitkan! Aku sudah bilang kepadamu, kalau aku tidak akan bisa melakukannya!!!" geram Edward dengan nada penuh penekanan. Dia menatap sebal James. Edward masih terdiam di tanah menahan rasa sakit diperutnya.


"Ed, kau tidak bisa begini terus!" balas James seraya mencoba membantu. Akan tetapi, Edward dengan cepat menolaknya. Edward lebih memilih berdiri sendiri. Ketegangan yang terjadi, membuat Jasmine dan Ronald terpaku untuk melihat.


"Pergilah!" hardik Edward. Dia kesulitan berdiri, namun bersikeras menolak pertolongan dari James. Ronald yang melihatnya, otomatis mendekat dan turun tangan.


Edward menerima bantuan dari Ronald. Dia akhirnya bisa berdiri. Edward lantas berjalan tak acuh memasuki rumahnya. Dirinya sengaja mengabaikan James.


"Ed, kau tahu? Ratu mencemaskan keadaanmu? Kami pikir keadaanmu semakin membaik. Tetapi ternyata, tidak ada sama sekali perubahan darimu! Kumohon, kembalilah ke istana!" ujar James sambil melangkah cepat mengikuti. Ia meraih pundak Edward, lalu menariknya. Agar dirinya bisa bicara saling berhadapan dengan Edward.


"Apa kau mendengarku?! Mau sampai kapan kau begini, Ed?!" timpal James.


"Aku tidak bisa!!!" pekik Edward. Wajahnya memerah padam karena kemarahannya kian memuncak. "Pergilah, James! Berhentilah mendatangiku ke sini!" lanjutnya. Kemudian beralih menatap Ronald.


"Ikutlah dengan dia, Ronald. Pastikan James mengatakan kepada Ratu, kalau aku baik-baik saja!" perintah Edward. Langsung direspon dengan anggukan kepala dari Ronald.


"Biarkan aku obati dahulu perutmu!" James memegang erat pergelangan tangan Edward.


"Aku baik-baik saja. Pergilah!" Edward melepaskan paksa cengekeraman James. Kemudian beranjak pergi memasuki rumah. Melewati Jasmine seraya memegangi bagian perutnya. Nampaknya Edward masih merasa kesakitan.


Ronald bergegas memasukkan kuda ke kandang. Lalu segera ikut bersama James pergi ke istana. Sebelum itu, mereka mencoba sekali lagi menemui Edward. Tetapi Edward tetap keras kepala. Dia tidak mau berhadapan dengan James.


Ronald dan James memilih menyerah. Mereka tanpa sengaja bertemu dengan Jasmine saat hendak keluar rumah. Jasmine kebetulan sedang sibuk menyiram tanaman.


"Ini dia pelayan yang menggantikan Selene. Dia adalah putrinya Selene." Ronald memperkenalkan Jasmine kepada James.


"Kau masih sangat muda. Aku harap kau bisa bertahan dengan kelakuan Edward," tutur James ramah.


Jasmine hanya tersenyum sembari membungkuk hormat ke arah James. Dia tahu, kalau James juga seorang pangeran. Hanya saja dia lebih tua dari Edward, dan tentunya sudah berkeluarga.


"Senang bisa bertemu dengan anda, Tuan..." ungkap Jasmine. Setelah melihat dari dekat, dia baru sadar kalau sosok James adalah pihak kerajaan yang sering dilihatnya di berbagai media. Bukan hanya di majalah, tetapi juga di artikel serta televisi. James semakin dikenal, saat mengadakan pesta pernikahan dengan seorang putri pengusaha kaya raya di Inggris.


"Jika kau perlu bahan-bahan medis. Kau cari di lemari yang ada di ruang tengah!" imbuh Ronald, sebelum benar-benar pergi.


Jasmine mendengus kasar. Dia tidak tahu bagaimana cara mengobati Edward, sementara lelaki tersebut sangat dingin kepadanya. Apalagi Edward tidak memperbolehkannya masuk ke kamar. Jasmine akhirnya memutuskan melakukan pekerjaan yang ada saja. Toh, Edward masih mengurung diri di kamar.


Ketika Jasmine mengepel lantai di ruang tengah, saat itulah Edward keluar dari kamar.


"Jasmine, ambilkan es batu dan obat untukku!" titah Edward. Dia melangkah menuruni tangga dengan pelan.


"Baik, Tuan." Jasmine lekas-lekas melaksanakan tugas yang diberikan Edward. Dia berlari mengambil es batu terlebih dahulu, kemudian baru mengambil peralatan medis dari lemari.


Edward telah duduk di sofa. Dia membuka baju atasannya. Kulit putih bersih serta dada bidangnya terpampang nyata. Badan Edward juga terlihat atletis. Otot-otot perutnya sedikit nampak dipermukaan kulitnya.


Jasmine berdiri membeku di samping Edward. Matanya mengedip beberapa kali. Entah kenapa dirinya merasa gugup saat menyaksikan Edward bertelanjang dada. Jasmine segera menyerahkan es batu beserta peralatan medis yang ada ditangannya.


"Kenapa kau memberikannya kepadaku? Kau ingin aku yang mengobati lukaku sendiri? Lalu apa fungsinya dirimu sebagai pelayanku?!" pungkas Edward.


"Tuan... ingin aku yang..." Jasmine memastikan dengan perkataan yang meragu.


"Tentu saja! Bisakah kau cepat?! Kau pikir aku suka melepas baju di hadapan matamu?!" Edward terus saja mengomel. Mengharuskan Jasmine tidak punya pilihan lain selain turun tangan.


Jasmine mengambil es batu. Lalu memasukkannya ke dalam kain bersih. Selanjutnya, gadis itu hanya tinggal menempelkannya ke memar yang ada diperut Edward. Akan tetapi, Jasmine sekali lagi mematung. Dia tidak berani menyentuh Edward, meski tidak dengan tangannya sendiri.


"Kau kenapa masih diam?" Edward mengerutkan dahi heran.


"Ma-maaf..." Jasmine memicingkan mata. Dia berupaya mengumpulkan keberanian. Alasan utamanya meragu, karena memang sejak kecil Jasmine jarang berdekatan dengan lelaki. Satu-satunya lelaki yang pernah dekat dengannya hanya ayah kandungnya sendiri. Itu pun tidak berselang begitu lama, karena ayahnya meninggal saat Jasmine menginjak usia sepuluh tahun.


Jasmine membungkuk, dan segera menempelkan es batu ke bagian memar diperut Edward. Di awal, dia melakukannya dengan asal. Hingga Edward reflek merasakan sakit.


"Pelan-pelan!" protes Edward.


"Maaf..." Jasmine sudah meminta maaf dua kali. Kegugupan dapat terlihat dari keringat yang menetes di pelipisnya, serta gemetar ditangannya.


"Duduklah di sebelahku! Kau tampak tidak nyaman dalam posisi membungkuk begitu." Edward memberikan saran. Dia menepuk area kosong yang ada di sampingnya. Menyuruh Jasmine agar duduk di sana.


"Di sini saja. Aku tidak apa-apa," jawab Jasmine. Dia kembali menempelkan es batu ke perut Edward. Rambut panjangnya yang tidak di ikat, tanpa sengaja berjatuhan mengenai kulit Edward. Bagi Edward, itu sangat mengganggu.


"Jangan keras kepala. Aku memaksa! Rambutmu membuatku risih!" kritik Edward.


"Aku pikir, Tuan bisa memegangi es batunya sendiri. Bukankah begitu?" ujar Jasmine.


"Aku tahu. Tetapi aku tidak mau!" balas Edward. Menyalangkan mata. Pertanda kalau dirinya bersikukuh terhadap keinginannya sekarang.


Jasmine tak bisa berkata-kata lagi. Akibat membungkuk lumayan lama, Jasmine akhirnya merasa penat. Dia duduk di samping Edward. Jujur saja, kepalanya sedari tadi hanya menunduk. Jasmine tidak berani menatap Edward yang kini tengah bertelanjang dada. Wajahnya memerah bak kepiting rebus. Opsi terakhir Jasmine adalah membungkam mulutnya rapat-rapat.


Edward yang memperhatikan gelagat Jasmine, menyeringai licik. Entah kenapa perasaan marahnya menghilang dalam sekejap. Terutama ketika dia memikirkan rencana jahilnya.