
...༻♚༺...
Jasmine tidak menyahut perkataan Edward. Memutuskan untuk tidak peduli terhadap perkataan orang lain adalah perkara sulit baginya. Apalagi Jasmine merupakan gadis yang terbilang sangat perasa.
Menyadari Jasmine tidak merespon, Edward akhirnya mencoba melupakan sarannya kepada Jasmine. Dia berusaha kembali fokus memperbaiki alat vinyl milik Jasmine. Edward melakukan percobaan keduanya untuk memutar piringan hitam ke alat vinyl. Usahanya kali ini membuahkan hasil. Musik seketika menggema, dengan suara jernih dan khas dari alat vinyl.
...🎶...
...Baby, you don't know what you're saying...
...Because you're a victim of bright city lights...
...And your mind is not right...
...You think the world's at your feet...
...🎶...
Lagu Starstruk dari The Kinks terputar. Mengisi kesunyian di larut malam. Jasmine mengukir senyuman tipis karena alat vinyl-nya bisa berfungsi lagi.
Edward terlihat membisu. Duduk sambil melipat kedua tangan di depan dada. Salah satu kakinya bergerak mengikuti irama lagu. Seakan dirinya tenggelam dalam lagu yang sedang berdendang.
Jasmine perlahan menengok ke arah Edward. Dia berhasil memergoki lelaki itu menikmati lagu yang terputar.
"Tuan menyukai lagu The Kinks juga?" pertanyaan Jasmine sukses membuat Edward gelagapan. Seakan tertangkap basah, Edward segera menghentikan pose santainya.
"Tentu saja tidak!" bantah Edward. Dia lekas-lekas membuang muka dari Jasmine. Edward memasang ekspresi tenangnya terlebih dahulu. Kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Jasmine. "Aku lebih menyukai lagu-lagu Ed Sheeran," lanjutnya, memberi tahu.
"Aku pernah mencoba mendengarkan lagu Ed Sheeran. Dan... aku pikir lagu-lagunya sedikit terpengaruh dengan gaya musik Amerika. Pernahkah Tuan terpikir, kalau musik dari British memiliki kekhasannya sendiri? Sebagai seorang Pangeran, aku yakin anda mengetahui hal begini," jawab Jasmine. Mengungkapkan pendapatnya.
"Ya, aku tahu. Kau membicarakan The Beatles dan kawan-kawan bukan? Sekarang musik British memang tidak sepopuler zaman 90-an. Jadi, terimalah perubahan zaman Jasmine!" balas Edward. Tak ingin kalah.
Jasmine akhirnya bungkam. Dia tidak berniat memperpanjang perdebatan. Apalagi jika terkait tentang minat musik yang disukainya.
"Kau tahu, aku hanya berpikir. Bukankah seharusnya aku mendapatkan sesuatu atas jasaku dalam memperbaiki alat vinyl-mu?" celetuk Edward dengan senyuman memiring.
"Ya, kalau begitu terima kasih..." ucap Jasmine. Memasang wajah polosnya. Dia memang tidak mengerti niat terselubung dari Edward.
Edward memutar bola mata malas. "Maksudku, aku menginginkan imbalan!" jelasnya, memberitahu dengan kedua tangan yang terulur ke depan.
"Imbalan?" dahi Jasmine sontak berkerut. Dia bingung kenapa seorang bangsawan seperti Edward menginginkan imbalan kepada gadis desa sepertinya. "Apa yang ingin Tuan inginkan dariku?" Jasmine menunjukkan salah satu tangan ke dadanya sendiri.
"Hmmm..." Edward tampak memejamkan mata. Jari telunjuknya menekan area dahi. Dia tengah memikirkan imbalan yang di inginkannya dari Jasmine. "Um... sepertinya aku butuh waktu untuk memikirkannya," ungkapnya. Menyebabkan Jasmine yang tadi merasa penasaran, kini mendengus kasar.
Edward memalingkan tubuhnya, lalu melangkah meninggalkan Jasmine. Ia tidak lupa membawa jas yang tadi sempat diletakkannya di atas kursi.
Menyaksikan Edward beranjak. Jasmine bergegas mematikan alat vinyl-nya. Dia memanggil Edward. Sebab ada sesuatu yang ingin ditanyakan.
"Apa?" Edward sontak menoleh seraya mengangkat dagunya sekali.
"Bolehkah aku memutar alat vinyl-ku di saat-saat tertentu?" ujar Jasmine bertanya.
Jasmine tersenyum simpul. Ia langsung mengucapkan kalimat terima kasih. Ditambah dengan bungkukkan badannya ke arah Edward.
Satu hari berlalu. Jasmine hanya bisa tertidur tiga jam. Meskipun begitu, dia tidak terlalu memikirkan ciuman Edward lagi. Semuanya karena alat vinyl-nya yang sudah bisa berfungsi seperti sedia kala.
Di pagi tepat pada jam tujuh, Jasmine telah tiba di kampus. Ia mengenakan dress selutut. Dihiasi dengan kalung hitam berbentuk bunga forget me not. Gadis itu tidak lupa membalut dirinya dengan jaket berbahan jeans. Rambut cokelatnya digelung ke atas. Dari gayanya bisa terlihat, kalau Jasmine merupakan salah satu bagian mahasiswi jurusan fashion designer.
Banyak pasang mata yang tertuju ke arah Jasmine. Sepertinya nama Jasmine sudah melambung akibat insiden ciuman Edward kemarin.
Ketika melangkahkan kaki masuk ke kelas, atensi Jasmine langsung tertuju ke arah Joy. Dia bergegas menghampiri teman dekatnya tersebut. Mengabaikan tatapan Eva dan teman sekelasnya yang lain. Jasmine mencoba tidak peduli dengan perhatian yang sekarang didapatkannya.
"Jase, semua orang mengira kau dan Edward berpacaran!" bisik Joy ke telinga Jasmine.
"Aku tahu!" sahut Jasmine.
"Lalu? Apa kau akan menerimanya begitu saja? Aku tahu kau tidak menyukai Edward!" timpal Joy tak percaya.
"Edward bilang akan memperbaikinya. Kumohon jangan membahasnya lagi, aku--"
"Hai, Jasmine. Sudah lama kita tidak mengobrol!" Eva mendadak datang. Sengaja menghentikan interaksi di antara Jasmine dan Joy.
"Ya, tentu. Karena aku memang tidak berminat lagi mengobrol denganmu!" pungkas Jasmine ketus.
"Apa kau bilang? Tega sekali kau berkata begitu kepadaku? Aku baru saja mau bicara baik-baik." Eva menampakkan ekspresi seolah-olah kecewa.
"Hentikan, Eva. Tidak usah berlagak. Pergilah! Bukankah kami tidak termasuk tipe teman yang kau suka?" hardik Joy. Entah kenapa dia juga tidak suka dengan Eva. Padahal Jasmine tidak pernah menceritakan perihal keburukan Eva kepadanya.
"Aku hanya mau mengucapkan selamat kepada Jasmine. Dia pasti senang bukan?" sahut Eva. Mimik wajahnya sekarang berubah menjadi senyuman seperti mengejek.
"Apa maksudmu?" Jasmine tidak memahami topik yang sedang dibicarakan Eva.
"Edward! Kau berpacaran dengannya bukan?" Eva terkekeh sejenak. Menutupi mulut dengan salah satu tangannya. "Seorang pengacau memang cocok berpasangan dengan gadis kuno sepertimu. Itu hubungan yang saling melengkapi," lanjutnya.
"Lihat, Miss Kelly sudah datang!" seru Joy sembari menatap ke depan kelas.
"Kau benar!" respon Jasmine. Dia dan Joy sengaja tidak menggubris Eva. Ucapan keduanya sontak membuat Eva bergegas kembali ke tempat duduknya.
Eva langsung melotot kesal, saat perkataan Jasmine dan Joy hanyalah kebohongan belaka. Miss Kelly sama sekali tidak terlihat di depan kelas. Jasmine dan Joy lantas saling tergelak kecil.
Selang beberapa menit kemudian, akhirnya Miss Kelly benar-benar datang. Dia menyuruh semua mahasiswanya untuk mengambil buku sketsa besar yang kebetulan dibawanya.
"Buatlah sketsa baju rancangan kalian. Temanya adalah bebas. Berimajinasilah sesuka hati kalian. Aku sangat penasaran dengan bakat-bakat yang kalian miliki." Miss Kelly memberikan petunjuk dengan suara lantang. Dia tersenyum dan segera mempersilahkan semua orang untuk memulai.
Semua orang tampak bersemangat. Apalagi Jasmine. Kemungkinan dialah orang yang sudah tidak sabar dari kemarin. Gadis tersebut sudah menggoreskan pensil ke buku gambarnya. Jasmine tidak perlu waktu lama untuk mencari bahan inspirasi. Sebab baginya, alam adalah inspirasi terbesarnya.
Sebagai gadis desa, Jasmine sering melihat beragam jenis tumbuhan. Ia banyak mengambil inspirasi dari berbagai bentuk serta warna bunga. Kali ini Jasmine akan menjadikan bunga bugenvil sebagai inspirasi utama. Tanaman hias yang terkenal dengan nama bunga kertas itu memang cantik dan memiliki berbagai jenis warna.