Jase Is Mine

Jase Is Mine
Bab 12 - Aku Tahu Sikap Asli Manusia Tampan Itu



...༻♚༺...


Edward masih mengamati wajah Jasmine yang tampak bersemu merah. Dia tahu kalau gadis itu sedang merasa gugup. Rambut panjang Jasmine yang berwarna hazel menutup sebagian wajahnya. Edward berpikir Jasmine memang sengaja berlindung dengan cara begitu.


'Apa gadis ini tidak pernah berhadapan dengan lelaki sebelumnya?' batin Edward seraya mengangkat salah satu alisnya.


Edward telah mengaktifkan mode jahilnya. Dia beringsut lebih dekat kepada Jasmine. Menyebabkan Jasmine otomatis bergeser mundur menjauhinya. Akan tetapi, Edward malah kembali mendekat. Perilakunya berhasil membuat Jasmine terus berusaha untuk menghindar.


"Apa yang anda lakukan? Tuan tidak perlu terlalu dekat denganku," kata Jasmine. Dia kembali menjaga jarak dari Edward. Namun Edward tetap saja keras kepala, lelaki tersebut beringsut lebih dekat lagi. Hingga Jasmine akhirnya bergegas berdiri, kemudian melangkah sejauh mungkin dari posisi Edward.


Jasmine sempat terhuyung karena tidak sengaja menabrak meja. Untung saja dia tidak terjatuh ke lantai akibat kecerobohannya sendiri.


Edward berusaha menahan tawanya. Dia berdiri lalu mengenakan pakaiannya kembali. Selanjutnya, dirinya meminta Jasmine untuk memberikan obat penghilang rasa sakit.


"Apa aku sudah boleh pergi sekarang? Masih ada pekerjaan yang harus aku--"


"Tidak. Jangan pergi. Duduklah!" potong Edward, sengaja. Jari telunjuknya mengarah ke arah sofa yang ada di depannya. Dia menyuruh Jasmine untuk duduk di sana. Jasmine menurut saja, meski dirinya tidak tahu harus melakukan apa.


Edward hanya terdiam sambil menyandarkan tubuhnya ke sofa. Matanya terpejam dalam keadaan mendongakkan kepala.


"Apa kondisi ibumu membaik?" celetuk Edward.


"Aku pikir begitu. Hari ini aku akan menjenguknya ke rumah sakit," jawab Jasmine. Dia memainkan jari-jemarinya tanpa alasan.


"Benarkah?" Edward menegakkan badannya. Ia kembali terdiam untuk sesaat. "Kalau begitu, ayo kita pergi bersama. Ada yang ingin aku bicarakan kepada ibumu," lanjutnya.


"Apa?! Tuan tidak akan mengatakan kalau kinerjaku buruk kan?" respon Jasmine dengan keadaan kelopak mata yang sedikit melebar.


Edward mengabaikan pertanyaan Jasmine. Dia bangkit dari sofa, lalu menyuruh Jasmine untuk menuntaskan pekerjaan yang ada lebih dahulu.


Jasmine menggeleng tak percaya. Baginya, Edward benar-benar menyebalkan. Entah sampai kapan dia mampu bertahan menjadi pelayan untuk lelaki itu.


Setelah menyelesaikan semua pekerjaannya. Jasmine dan Edward segera pergi ke rumah sakit. Sebelum pergi, Jasmine tidak lupa untuk menghubungi Nathalie terlebih dahulu.


"Jase, kamu tidak perlu cemas, aku dan ibumu baik-baik saja." Nathalie menyahut dari seberang telepon.


"Syukurlah... aku sedang dalam perjalanan ke sana sekarang. Aku pergi bersama Pangeran Edward." Jasmine melirik canggung ke arah Edward yang sedang sibuk menyetir. Lelaki tersebut tidak memasang ekspresi apapun. Dia hanya fokus mengendalikan alat kemudinya.


"Benarkah? Ini sebuah kehormatan untuk kita, Jase. Berperilakulah baik kepadanya. Pangeran orang yang sangat baik bukan? Aku yakin kau betah bekerja dengannya," tutur Nathalie.


"Ya, aku rasa begitu..." Jasmine menjawab singkat. Dia tentu tidak sependapat dengan sang nenek. Baginya Edward hanyalah seorang pangeran yang manja dan suka mengomel tidak jelas. Lagi pula Jasmine tidak dapat membantah pernyataan Nathalie, ketika dirinya sedang duduk di samping sosok yang dia bicarakan. Selanjutnya, Jasmine segera menutup panggilan telepon.


"Aku ingin ke super market lebih dahulu. Ibumu harus dibelikan banyak buah-buahan," imbuh Edward sambil menjalankan mobil memasuki area parkiran super market. Edward langsung keluar, saat mobil benar-benar dihentikan. Di iringi oleh Jasmine setelahnya. Keduanya berjalan beriringan memasuki super market.


Jasmine terpaku dengan beberapa barang yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Tanpa sengaja, dirinya berjalan memisah dari Edward. Saat itulah Edward dengan sigap menarik tangannya. Lelaki itu terlihat menampakkan raut wajah kesal.


Jasmine hanya cemberut. Tangannya otomatis memilih beberapa buah-buahan yang ada. Entah sudah berapa kali dirinya mendengus kasar. Perlahan telinga Jasmine mendengar ada dua gadis saling berbisik di hadapannya. Jasmine segera memeriksanya.


Ternyata tidak hanya dua gadis yang saling berbisik, tetapi beberapa perempuan yang ada di sekitarnya. Lirikan mata mereka tertuju ke arah Edward. Mereka sepertinya mengagumi ketampanan Edward. Semuanya tampak jelas bagi Jasmine. Karena para gadis itu terlihat cengengesan dan tidak mampu mengalihkan perhatiannya dari sosok Edward.


"Bukankah dia sangat tampan? Bentuk wajahnya sangat sempurna."


"Kenapa orang setampan dia tidak pernah muncul di televisi?"


"Oh my god, aku rasa dia seorang pangeran dari dunia fantasi."


Jasmine bisa mendengar pembicaraan dua gadis di depannya. Jujur, dia sangat ingin masuk ke dalam pembicaraan mereka, lalu mengatakan sifat asli Edward yang sebenarnya. Jasmine yakin seratus persen, rasa kagum mereka pasti menghilang dalam sekejap.


"Apa kau sudah selesai? Selama itukah kau memilah-milih sesuatu?" ucap Edward dengan nada pelan. Dia nampaknya berupaya menjaga sikap, karena sadar sedang berada di tempat umum.


"Aku baru saja selesai." Jasmine memaksakan dirinya tersenyum.


"Baiklah, ayo kita bayar semuanya ke kasir!" ajak Edward sembari melangkah lebih dahulu.


Ketika dalam perjalanan menuju meja kasir, Edward dan Jasmine tanpa sengaja bertemu dengan Eva. Gadis itu tidak sendiri. Eva terlihat ditemani Hayley.


"Hai, Jasmine." Hayley menyapa datar, disertai dengan senyuman singkatnya. Dia tampak malas menatap ke arah Jasmine. Ada binar kebencian dalam sorot matanya.


"Apa kalian berkencan?" tanya Eva. Menatap penuh selidik.


"No way, Eva." Edward membantah tegas. Entah kenapa tangannya bergerak menyisir rambutnya yang berwarna pirang.


"Ini tidak seperti yang kalian pikirkan. Aku hanya kebetulan bertemu Edward. Dia membantuku memilihkan buah-buahan yang bagus." Jasmine memberikan alasan. Tanpa sengaja dia mengarahkan dirinya jatuh ke dalam jurang sindiran.


"Jasmine benar! Dia tadi memang terlihat sangat kebingungan." Edward menambahkan. Ia tersenyum lebar sambil menatap Eva.


Eva tergelak kecil. "Ah, tentu saja. Gadis desa sepertinya butuh waktu yang lama untuk beradaptasi," sarkasnya. Tanpa menoleh sedikit pun ke arah Jasmine. Eva dan Edward melanjutkan obrolan mereka. Hayley bahkan juga tampak ikut bergabung.


Sekali lagi Jasmine merasa seperti patung. Meskipun begitu, dia tak mau ambil pusing. Gadis tersebut memutuskan ke meja kasir lebih dahulu, seraya mendorong trolly belanjaannya.


Edward menatap selintas ke arah Jasmine. Namun dia memilih untuk membiarkan Jasmine pergi lebih dulu darinya. Edward melakukannya, agar Eva dan Hayley tidak curiga lagi.


Jasmine sudah tiba di depan meja kasir. Dia kaget dengan harga buah yang telah dibelinya. Sebab harganya sangatlah mahal. Jasmine merasa lebih baik membelinya di toko buah yang ada di desa Devory.


"Bisakah kau memberiku diskon?" tawar Jasmine penuh harap.


"I'm sorry, my dear. Aku tidak bisa. Harganya bisa mendapat diskon saat di waktu tertentu saja." Sang kasir dengan rambut yang digelung rapi itu menjawab ramah.


"Biar aku saja yang bayar!" suara seorang lelaki berhasil mengagetkan Jasmine. Dia tidak lain adalah Jake.