
...༻♚༺...
Jasmine terpaksa berjalan mendekati kandang kuda. Dia sesekali menoleh ke arah Edward yang tidak berhenti mengamati. Jasmine tahu betul, kalau Edward tidak bisa berkuda. Alhasil terlintas dalam benaknya sebuah ide.
"Tuan, bisakah anda kemari?" tanya Jasmine.
"Kenapa?!" balas Edward dengan dahi yang berkerut. Meskipun begitu, kakinya tetap bergerak untuk menghampiri Jasmine.
"Coba lihatlah mereka." Jasmine menunjuk ke arah beberapa kuda yang ada di dalam kandang. Menyuruh Edward untuk memperhatikan hewan-hewan tersebut.
"Apa maksudmu? Apa kau mempermainkanku sekarang?" timpal Edward. Dia tentu tidak mengerti dengan apa yang dimaksud Jasmine.
"Kita hanya perlu memahami mereka. Dengan begitu, mereka akan percaya." Jasmine mengusap pelan salah satu kepala kuda yang ada. Kuda yang disentuhnya itu terlihat menggerakkan kedua telinganya. Pertanda menyukai sapaan lembut dari Jasmine.
Edward memutar bola mata malas. Dia sudah mengangakan mulut untuk berceloteh. Namun belum sempat dirinya berucap, Jasmine mengulurkan tangan ke arahnya.
"Aku akan membantu, Tuan..." ujar Jasmine. Dengan senyuman tipis serta ekspresi yang begitu meneduhkan. Angin kecil tampak menerpa anak rambutnya yang panjang. Edward sempat terpaku terhadap kemurnian hati dan kecantikan dari gadis itu.
Tanpa sadar, Edward menerima uluran tangan Jasmine. Dirinya seakan terhipnotis. Membiarkan Jasmine menuntunnya untuk memegang seekor kuda. Akan tetapi, semuanya tidak akan mudah bagi Edward. Dia ragu menempelkan tangannya ke kepala kuda.
"Tidak apa-apa, Tuan. Percayalah kepadaku." Jasmine mencoba meyakinkan Edward.
Edward menghela nafas panjang. Kemudian mengumpulkan keberaniannya lagi. Dia membiarkan Jasmine membawa tangannya untuk menyentuh kepala kuda. Perlahan tangan Edward berhasil bersentuhan dengan kepala kuda. Jasmine lantas membimbingnya agar bisa memberikan sentuhan lembut.
"Berilah kesempatan kepada mereka, Tuan. Jika anda melakukan hal seperti ini setiap hari, aku yakin Tuan tidak akan pernah kena amukan mereka. Malah sebaliknya, kuda-kuda ini akan menyayangi Tuan," tutur Jasmine. Dia masih menggenggam erat punggung tangan Edward.
Edward terdiam cukup lama. Dia terlena mengusap pelan kepala kuda. Sampai Jasmine akhirnya melepaskan genggaman dari tangannya. Edward kini mengelus kepala kuda tersebut dengan tangannya sendiri.
"Apa Tuan berubah pikiran?" Jasmine mencondongkan kepalanya dari samping. Menatap penuh harap kepada sang pangeran.
Edward lekas-lekas menarik tangannya. Lalu berjalan menjauh dari Jasmine. Sebelum benar-benar pergi, lelaki itu berdehem. Seakan ada sesuatu yang mengganggu di tenggorokannya. Padahal alasan dia melakukannya, hanya karena mencoba menutupi rasa canggungnya.
Jasmine terheran menyaksikan gelagat Edward. Dia hanya bisa menatap punggung lelaki tersebut. Dirinya tidak mendapatkan kepastian. Jasmine lantas tidak punya pilihan selain melepaskan kuda-kuda dari kandang.
"Jangan lepaskan mereka!" pekik Edward dari kejauhan. Kemudian langsung menghilang ditelan pintu.
Jasmine yang mendengar sontak mengembangkan senyuman. Dia senang Edward merubah pikirannya. Tanpa pikir panjang, Jasmine bergegas mengejar Edward.
"Terima kasih, Tuan. Jika anda berkenan, aku bisa membantu mengajari anda menaiki kuda!" imbuh Jasmine. Berhenti tepat di bawah tangga. Mengontrol nafas yang ngos-ngosan akibat berlari.
Edward terlihat melangkahkan kaki untuk menaiki tangga. Dia berbalik badan saat mendengar perkataan Jasmine. Keningnya mengernyit penuh tanya.
"Apa kau bilang? Mengajariku berkuda? Memangnya kau se-handal itu?" timpal Edward, meremehkan.
"Aku tidak mengakui diriku handal. Tetapi, aku hanya berusaha membantu Tuan..." kata Jasmine. Dia sebenarnya hanya berupaya menyelamatkan semua kuda. Agar Edward tidak berpikir untuk menjualnya lagi.
"Baik, Tuan." Jasmine tersenyum tipis. Dia segera beranjak ke arah dapur. Menyelesaikan semua pekerjaan yang tersisa.
Dua hari terlewati. Tibalah semua orang di hari mulainya jadwal perkuliahan. Jasmine dan Edward sama-sama bersiap untuk pergi ke kampus. Walaupun begitu, keduanya pergi sendiri-sendiri. Edward menggunakan mobilnya, sementara Jasmine menaiki bus umum.
Jasmine berderap memasuki kelas. Atensinya tentu tidak luput dari keberadaan Eva. Gadis itu sudah berhasil memiliki banyak teman. Eva memang pandai mencari muka.
Jasmine memilih duduk di sebuah kursi yang berdekatan dengan seorang perempuan berambut pendek sebahu. Dia terlihat modis dengan segala aksesoris yang dikenakannya.
"Hai, aku Jasmine." Jasmine memberanikan diri menyapa lebih dahulu. Namun sang perempuan berambut pendek sama sekali tidak hirau. Dia justru sibuk memandangi kuku-kukunya yang berwarna ungu.
Jasmine menghela nafasnya. Ia melepaskan tas ransel. Kemudian mengambil buku sketsa miliknya. Jasmine mencoba memeriksa semua hasil sketsanya. Jujur, gara-gara dirinya sibuk bekerja, Jasmine sampai lupa dengan hobi yang sedari dulu sering dia lakukan.
"Apa semua itu adalah buatanmu?" si perempuan berambut pendek akhirnya bersuara. Dia mengamati desain Jasmine yang ada di buku sketsa.
"Benar, ini hasil karyaku baru-baru ini. Sebenarnya aku sudah banyak membuat sketsa saat masih SMA," jawab Jasmine.
"Itu luar biasa." Perempuan berambut pendek sebahu itu menganggukkan kepala. Matanya masih memperhatikan gambar sketsa milik Jasmine. "Ah, kenalkan. Namaku Joy, maaf dengan sikapku di awal tadi. Aku memang tidak begitu bersemangat untuk melakukan kuliah ini," tambahnya. Mengukir senyuman singkat diparasnya.
"Kenapa kau bisa jadi tidak bersemangat? Bukankah ini hari pertama kita?" balas Jasmine.
"Tujuanku berkuliah, karena aku tidak ingin seharian berada di rumah. Mendengar semua omelan ayah dan ibuku, itu hal paling menyebalkan bagiku!" Joy mengangkat kedua bahunya sekali.
"Tapi dilihat dari gayamu, kau benar-benar seperti seorang perancang baju yang ahli," komentar Jasmine. Dia menyukai gaya pakaian yang sedang dikenakan oleh Joy sekarang.
"Thanks." Joy tersenyum. Lalu mendekatkan mulut ke telinga Jasmine. "Aku melihat seseorang merekomendasinya di salah satu video yang ada di youtube!" bisiknya sembari tergelak kecil. Tawanya tersebut berhasil menular kepada Jasmine.
"Kau bisa memanggilku, Jase. Semua orang terdekatku memanggilku begitu. Aku ingin kau menjadi yang salah satunya," imbuh Jasmine bersemangat. Dia sangat senang bisa menemukan seorang teman. Meskipun hanya satu orang saja.
"Wow, slow down, girl. Apa kau langsung mempercayaiku?" Joy agak terkejut dengan ungkapan Jasmine.
"I'm so sorry, apa itu membuatmu tidak nyaman? Aku hanya..." Jasmine tidak tahu harus berkata apa. Dirinya memang tidak pandai bersosialisasi.
"Ya, itu membuatku tidak nyaman. Kau terkesan seperti ingin memaksaku untuk menjadi temanmu," sahut Joy blak-blakan.
"Maafkan aku," ucap Jasmine seraya menundukkan kepala.
"It's ok. Aku akan memakluminya, kita bisa menjadi lebih dekat seiring waktu berjalan. Biarkan semuanya mengalir secara alami, oke?" kata Joy. Jasmine otomatis mengangguk lemah dan tersenyum tipis.
Tidak lama kemudian dosen yang mengajar masuk ke dalam kelas. Dia adalah seorang wanita berbadan tinggi dan mempunyai rambut berwarna pirang kemerahan. Semua orang sering memanggilnya dengan sebutan Miss Kelly. Salah satu dosen yang membimbing mahasiswa yang ada di jurusan Fashion Designer.