
...༻♚༺...
Jasmine memperhatikan Edward dari kejauhan. Dia menyaksikan lelaki tersebut menghampiri Eva. Entah kenapa dirinya merasa penasaran tentang hubungan Edward dan Eva. Jasmine mendadak teringat dengan sikap Edward saat dulu di supermarket. Edward bersikap berbeda saat kebetulan bertemu Eva.
"Aku pikir Edward menyukai Eva. Mungkin itulah alasan dia sangat marah kepadaku kemarin. Harusnya dia bicara baik-baik mengenai perasaannya," celetuk Jake, yang ternyata masih berdiri di dekat Jasmine.
"A-apa?" mata Jasmine terbelalak.
"Ya, awalnya aku mau membahas perihal dirimu kepada Edward. Karena aku tahu betapa jahilnya dia. Aku tidak mau kau dipermainkan olehnya. Tapi bukannya membahas tentangmu, Edward justru menyindir hubunganku dengan Eva." Jake menjelaskan panjang lebar.
Jasmine terdiam seribu bahasa. Dia semakin mengamati Edward yang tampak serius bicara dengan Eva. Ada satu kesimpulan yang terpikir dalam otaknya. Yaitu alasan utama dibalik Edward mencium dirinya di depan umum tempo hari.
'Apakah Edward melakukannya karena ingin membuat Eva cemburu? Berarti benar yang dikatakan Jake. Edward mempermainkanku! Sejak awal yang aku lakukan hanya berlagak seperti orang bodoh,' batin Jasmine. Dia beranjak pergi dengan perasaan kecewa. Mengabaikan Jake yang berupaya memanggilnya beberapa kali.
'Aku sudah menduga sejak awal. Kalau Edward tidak pernah serius dengan perasaannya. Tidak mungkin seorang Pangeran sepertinya jatuh cinta kepadaku. Apalagi aku hanyalah seorang pelayan dimatanya...' Jasmine terpaku pada kekecewaannya. Dia tidak tahu kenapa dirinya merasa sangat kecewa. Jasmine sudah berada di kelas. Sibuk berdiri menghadap rancangan bajunya. Tidak melakukan apapun, dan hanya terbuai dalam pikiran.
"Jasmine, apa kain itu sudah pas dengan keinginanmu?" teguran Miss Kelly sukses membuat Jasmine terperanjat. Gadis itu segera menghentikan lamunannya.
"Tentu saja, Miss!" Jasmine lekas menyahut. Tidak lama kemudian, Eva baru saja memasuki kelas.
"Eva, Hayley! kalian terlambat. Kalian tentu tahu apa sanksinya. Get out of my class!" Miss Kelly memberikan ketegasan. Sesuai perjanjian dengan para mahasiswanya, jika ada yang terlambat, maka orang tersebut harus dikeluarkan dari kelas.
"Oh my god! Ini semua gara-gara lalat berambut pirang itu!" gerutu Eva. Terpaksa menuruti perintah dari Miss Kelly. Jasmine yang kebetulan berada di kursi paling depan, dapat mendengar semua keluhan Eva.
"Lalat? Maksudmu Edward? Aku pikir dia menyukaimu," respon Hayley sembari bergerak mengekori Eva.
"Kau tahu? Awalnya aku kira dia cowok yang paling poluler di kampus. Tapi ternyata..." ucapan Eva tidak terdengar lagi, kala gadis tersebut semakin berjalan jauh.
Setelah mendengar pembicaraan Eva dan Hayley, Jasmine tambah yakin kalau Edward memiliki perasaan istimewa kepada Eva. Jasmine hanya menghela panjang nafasnya. Untungnya, rasa suka Jasmine terhadap rancangan baju, berhasil membuatnya melupakan kekecewaan.
Sementara itu, Edward menghempaskan pantatnya ke sebuah bangku panjang. Mimik wajahnya terlihat datar. Tidak marah dan sedih. Namun ambigu. Bahkan setelah dirinya harus menerima penolakan dari Eva.
'Ada apa denganku? Kenapa aku tidak semarah sebelumnya?' benak Edward bertanya-tanya. Tanpa sadar dia menatap lurus ke depan. Perhatiannya tertuju ke arah Jasmine, yang baru saja keluar dari salah satu bangunan kampus.
Dari jauh, Edward dapat melihat Jake datang menghampiri Jasmine. Barulah dia mulai kesal. Edward tidak tahu kenapa dirinya merasa tidak suka Jake terlalu dekat dengan Jasmine. Dan kenapa harus lagi-lagi Jake orangnya?
Edward memejamkan rapat matanya. Ia mencoba menyadarkan diri. Edward tidak mau menyimpulkan perasaannya terlalu cepat. Apalagi dengan gadis seperti Jasmine. Alasannya bukan karena Jasmine adalah gadis desa, melainkan karena posisinya sebagai pelayan Edward.
Akibat tidak mau atensinya terus dicuri oleh keberadaan Jasmine, Edward memutuskan beranjak. Dia pergi ke perpustakaan. Menyendiri dan membaca buku di sana.
Edward merupakan orang yang tidak peduli terhadap pandangan, serta omongan orang lain terhadapnya. Dia melangkah dengan percaya diri saat melewati orang-orang yang menggunjingnya. Edward juga tidak hirau jika dirinya sendirian sekarang. Tidak ada satu orang pun yang mau menjadi temannya.
"Akhirnya..." gumam Edward seraya membuka sebuah buku. Dia duduk di meja paling belakang perpustakaan. Edward sengaja menyepi.
Bruk!
"Hai, Ed!" sapa Joy. Ia langsung mengulurkan tangan ke arah Edward. "Kenalkan aku Joy, teman satu jurusan Jasmine," sambungnya.
Edward hanya merespon dengan tatapan risih. Dia merasa terganggu terhadap kehadiran Joy.
"Aku tahu semua manusia punya sisi jahat. Tapi bukan berarti mereka juga tidak memiliki kebaikan dalam dirinya." Joy mulai berceloteh. Dia perlahan menarik tangannya kembali, karena Edward tidak bersedia menyambutnya.
"Aku tidak mengenalmu, dan aku tidak mau mengenalmu. Aku tidak butuh belas kasih!" Edward menegaskan. Tangannya menutup buku, lalu lekas-lekas meninggalkan Joy. Sikapnya benar-benar dingin.
Joy tercengang. Ia mengelus dadanya sendiri, karena merasa terperangah dengan cara Edward memperlakukannya.
"Ternyata selama ini Jasmine benar!" komentar Joy. Kemudian segera tiduran di kursi. Dia menutupi wajahnya dengan buku.
Edward melangkah cepat keluar dari perpustakaan. Dia sesekali menoleh ke belakang. Memastikan Joy tidak mengikuti. Namun tanpa diduga, Edward malah tidak sengaja menabrak seseorang.
"Maaf!" gadis yang tidak sengaja ditabrak Edward lebih dulu meminta maaf. Suaranya terdengar tidak asing. Sebab dia memang orang yang dikenal Edward. Siapa lagi kalau bukan Jasmine.
Edward sempat tertegun sejenak. Dia menatap lekat Jasmine. Saat itulah dirinya merasakan degub tidak biasa dijantungnya.
Jasmine tersenyum kecut, kemudian berlalu begitu saja. Ketika menyaksikan wajah Edward, dia hanya bisa mengingat permainan yang lelaki itu lakukan.
"Jasmine!" panggil Edward. Dia kembali ke perpustakaan demi mengikuti Jasmine.
Panggilan Edward memecah keheningan di dalam perpustakaan. Lagi-lagi dia dan Jasmine menjadi pusat perhatian. Terutama untuk wanita penjaga perpustakaan yang bernama Jessica.
Jasmine sontak membalikkan badan, lalu menatap Edward. Pupil matanya tampak membesar. Jasmine agak kaget dengan teguran dari Edward.
"Ikutlah denganku!" Edward menggenggam pergelangan tangan Jasmine. Berniat membawa gadis tersebut ikut bersamanya.
"Ada apa?" tanya Jasmine. Dia bersikeras diam di tempat, karena tidak mau menuruti keinginan Edward.
"Aku--"
"Jika ingin berpacaran, lakukanlah di tempat lain. Jangan di perpustakaan! Get out!" Jessica bersuara lantang. Ucapannya sukses menjeda perkataan dari Edward. Alhasil Jasmine tidak punya pilihan selain mengikuti Edward. Keduanya lantas pergi meninggalkan perpustakaan.
Jasmine berjalan mengekori Edward. Ia tidak tahu lelaki itu mau membawanya kemana. Jasmine enggan bertanya akibat sibuk menundukkan kepala. Sebab dimana ada Edward, maka perhatian semua orang otomatis tertuju ke arahnya.
Kala Edward melangkah menuju pintu keluar dari kampus, barulah Jasmine bertanya. "Tuan, anda mau mengajakku kemana?" bisiknya sambil menengok kanan dan kiri. Memastikan tidak ada yang mendengarkan ucapannya.
"Ikut saja--"
"Jase!" dari arah belakang, Jake berjalan kian mendekat. Seruannya membuat Edward dan Jasmine reflek menoleh.
Edward membulatkan mata, kemudian dengan cepat menarik tangan Jasmine. Edward lantas mengharuskan Jasmine untuk ikut berlari bersamanya.