
...༻♚༺...
Joy segera ikut bergabung bersama Jasmine dan Edward. Dia membawakan nampan berisi makanan serta minuman.
"Menjauhlah, Ed. Apa kau tidak puas semalaman berada di samping Jasmine?" timpal Joy.
"Semalaman?" Kening Jasmine bertautan. Dia segera menoleh ke arah Edward. Menuntut lelaki itu untuk menjawab.
"Aku berusaha menjagamu, Jase." Edward memberikan penjelasan singkat.
Jasmine memasang raut wajah datar. Dia perlahan berdiri. Jasmine menatap Joy dan Edward secara bergantian.
"Aku ingin sendirian... bisakah kalian pergi?" lirih Jasmine.
Edward dan Joy sontak bertukar pandang. Keadaan tiba-tiba menjadi canggung. Apalagi dengan kebisuan Jasmine setelah menyuruh semua orang pergi.
"Baiklah, kami akan pergi. Tetapi berjanjilah, kau akan makan hidangan yang dibawa Joy." Edward bicara dengan nada pelan. Jasmine lantas merespon dengan anggukan kepala.
"Pangeran Edward benar. Kau harus makan, Jase. Oke?" Joy meletakkan nampan berisi makanan ke atas nakas. Mencoba mengukir senyuman tipis. Namun Jasmine sama sekali tidak menoleh ke arahnya. Alhasil Joy dan Edward memutuskan untuk keluar.
Edward dan Joy segera duduk bergabung bersama Nathalie. Mereka berkumpul di meja makan berukuran sedang.
"Kalian sebaiknya pulang. Aku bisa mengurus Jasmine sendirian." Nathalie berucap sembari menduduki sebuah kursi. Memandangi dua orang yang ada di hadapannya.
"Aku tidak akan pulang sebelum bisa melihat Jasmine tersenyum," ungkap Edward. Lalu menggigit sandwich buatan Nathalie.
"Aku juga." Joy ikut-ikutan bertekad.
"Kau sebaiknya pulang. Ayah dan ibumu pasti khawatir!" saran Edward kepada Joy.
"Enak saja. Justru kaulah yang harus pulang. Bukankah tugas seorang Pangeran sangat banyak?" timpal Joy sinis. Sikapnya tidak berubah, meski dirinya telah mengetahui identitas Edward yang asli.
Edward mendengus kasar. Dia menggelengkan kepala beberapa kali. Mencoba maklum terhadap sikap keras kepala Joy.
Nathalie tersenyum menyaksikan perdebatan yang terjadi di antara Edward dan Joy. Sejujurnya dia merasa senang dengan kehadiran mereka. Setidaknya suasana rumah tidak akan sepi.
Jasmine mengurung diri di kamar. Dia tidak membiarkan siapapun masuk. Apa yang dilakukannya sukses membuat semua orang cemas.
Tok!
Tok!
Tok!
"Jase, apa kau sudah memakan sarapanmu?" Joy bertanya setelah mengetuk pintu. Di belakangnya ada Edward yang memperhatikan. Entah berapa kali mereka saling bergantian untuk membujuk Jasmine keluar.
"Mungkin kita harus membiarkannya sendiri terlebih dahulu. Kita tunggu sampai Jasmine siap bicara," ujar Nathalie. Mengajak Edward dan Joy berhenti mengganggu Jasmine.
Satu detik berubah menjadi puluhan menit. Beberapa jam terlewati. Jasmine tidak kunjung keluar dari kamar. Edward sesekali memandangi kamar Jasmine. Berharap pintu tersebut bisa secepatnya terbuka.
Beberapa saat kemudian, justru terdengar suara lantunan musik dari kamar Jasmine. Lagu berjudul You're My World dari Cilla Black terputar. Semua orang otomatis menoleh ke arah sumber suara. Hanya ada pemandangan pintu yang menutup rapat.
...🎶...
...You're my world, you are my night and day...
...You're my world, you're every prayer I pray...
...If our love ceases to be...
...Then it's the end of my world for me...
...🎶...
Jasmine memang sengaja memutar alat musik vinyl. Dia duduk sambil memeluk dua lutut. Menenggelamkan wajah di antara lututnya itu. Deraian air mata kembali menghiasi wajahnya. Kesedihan belumlah pulih. Perasaan duka masih mengganjal di hatinya. Jasmine bahkan tidak menyentuh makanan bawaan dari Joy.
Di luar kamar, semua orang saling menyepi. Terutama Nathalie. Sebab dia tahu kalau musik yang terputar adalah lagu kesukaan Selene. Nathalie akhirnya tidak kuasa berlagak kuat lagi. Meski di tempat yang berbeda, dia ikut menangis bersama Jasmine.
Joy yang melihat segera menenangkan Nathalie. Memeluknya dengan lembut dari samping. Kebetulan mereka dan tengah duduk bersama ruang tengah.
"Jasmine sekarang yatim piatu..." ungkap Nathalie lagi. Tangannya yang keriput menutupi separuh wajah.
"Jangan bilang begitu. Masih banyak orang yang sangat menyayangi Jasmine. Termasuk dirimu," ujar Joy. Secara alami dia juga ikut menangis.
Edward bangkit dari tempat duduk. Ia tidak sanggup melihat terlalu banyak kesedihan. Dirinya melangkah keluar rumah. Tepat ke halaman belakang. Di sana atensi Edward tertuju ke rumah pohon. Tanpa pikir panjang, dia segera mengunjungi rumah pohon tersebut.
Ketika sudah berada di rumah pohon, Edward terkesiap menyaksikan segala aksesoris yang ada. Dia yakin semuanya pasti milik Jasmine.
Edward melenggang ke dekat jendela. Dia memperhatikan manekin yang dibalut dengan kain bekas bersambung. Bahannya murah, tetapi cara Jasmine merancang gaun itu sama sekali tidak murahan. Bagi Edward gaun buatan Jasmine sangat berkelas.
Senyuman tipis terukir di wajah Edward. Ia terpesona dengan gaun rancangan Jasmine.
Tepat di jendela yang berseberangan dengan rumah pohon, Jasmine mendongakkan kepala. Dia perlahan menoleh ke luar jendela. Penglihatannya langsung disambut dengan sosok Edward. Lelaki berambut pirang itu tampak sibuk melihat-lihat buku sektsa.
Seakan mempunyai telepati yang kuat, Edward membalas tatapan Jasmine. Keduanya saling bertukar pandang dari kejauhan. Di balik jendela kaca yang memperlihatkan segalanya. Lagu You're My World masih terputar jelas.
...🎶...
...As the trees reach for the sun above...
...So my arms reach out to you for love...
...With your hand resting in mine...
...I feel a power so divine...
...🎶...
Jasmine sempat terpaku menatap Edward. Tangisnya seketika berhenti. Entah kenapa kehadiran Edward membuatnya tenang sejenak. Akan tetapi Jasmine lekas menyadarkan diri. Kemudian bergegas menutup jendela dengan gorden. Kini Edward tidak mampu melihat Jasmine lagi.
Jasmine segera mematikan musik. Dia akhirnya menyentuh makanan yang sedari tadi diabakan. Jujur saja, rasa ganjal di hatinya telah membuat Jasmine merasa kenyang. Ia hanya makan beberapa suap.
Di sisi lain, Edward baru saja turun dari rumah pohon. Sekarang perhatiannya tertuju ke kandang kuda. Alhasil dia beranjak menghampiri tempat yang dipenuhi kuda itu.
Tiga hari berlalu. Jasmine masih mengabaikan semua orang. Meskipun begitu, untung dia mulai bersedia makan bersama Nathalie dan yang lain. Hanya saja Jasmine tidak pernah merekahkan senyuman sedikit pun di wajah. Bahkan ketika Joy bersikap konyol.
Dalam beberapa hari semua orang saling bergantian untuk menghibur Jasmine. Termasuk Edward sendiri. Tetapi Jasmine masih tenggelam dalam duka.
Edward sebenarnya sangat paham kenapa Jasmine bersikap mengabaikan. Dia dulu juga pernah seperti itu. Mungkin sikap Edward lebih parah dibanding Jasmine.
Sekarang Jasmine dan lainnya sedang menikmati makan malam. Mereka semua berada di meja makan.
"Apa Freedy baik-baik saja? Aku belum sempat melihatnya semenjak pulang ke sini." Setelah sekian lama, Jasmine akhirnya bicara. Semua orang sontak merasa bersemangat. Kecuali Edward. Sebab Edward masih mengira Freedy adalah pria yang disukai Jasmine.
Sudah lama Edward tidak mendengar Jasmine menyebut nama Freedy. Dia bahkan hampir lupa dengan nama itu. Tetapi sepertinya Jasmine ingat lagi dengan Freedy, karena kebetulan berada di desa Devory.
"Dia baik--"
"Setelah lama tidak bicara, hal pertama yang kau bicarakan justru seorang lelaki?" timpal Edward. Tanpa sengaja memotong perkataan Nathalie.
"Memangnya dimana Freedy tinggal? Biar aku bicara dengannya." Edward melanjutkan.
Dahi semua orang mengerut bingung. Kemudian saling bertukar pandang satu sama lain. Mereka tidak mengerti maksud pembicaraan Edward.
Di saat semua orang heran, Jasmine malah tersenyum. Ia tidak bisa menahan kebenaran yang diketahuinya. Sebab hanya Jasmine yang tahu, kalau Edward mengira Freedy adalah seorang lelaki. Padahal Freedy merupakan kuda kesayangan Jasmine.
Joy tersenyum simpul. Dia senang bisa melihat Jasmine bisa tersenyum lagi. "Kenapa kau tersenyum, Jase? Beritahu kami apa yang lucu?" tanya-nya penasaran.
Jasmine menggedikkan bahunya. Dia memutuskan untuk tidak menjawab. Lalu melahap makanan.
Edward menatap tajam ke arah Jasmine. Dia hendak marah tetapi tidak tega. Makanya Edward memilih bungkam dan berhenti membahas Freedy.