
...༻♚༺...
Edward terus menyeret Jasmine. Keduanya berlari menyusuri jalanan trotoar. Melewati beberapa orang yang berlalu lalang.
"Apa yang salah, Tuan? Kenapa anda berlari?" tanya Jasmine sembari mengikuti lajunya langkah dari Edward. Sesekali dia akan menoleh ke belakang. Memeriksa apakah Jake mengikuti dari belakang.
Edward mendadak berhenti. Ia segera mengatur nafas, lalu membalikkan badan. "Jasmine, jangan memanggilku tuan saat berada di luar rumah. Bukankah aku sudah memberitahumu mengenai aturannya?" ujarnya, dalam keadaan dada yang bergerak akibat nafas yang tersengal.
"Maaf, aku lupa. Kemungkinan karena aku juga sudah terbiasa," jawab Jasmine. Dia juga sibuk mengontrol nafas. Mengaitkan beberapa anak rambut ke daun telinga.
Jasmine dan Edward saling terdiam selang beberapa detik. Edward tampak celingan-celingukan ke arah belakang Jasmine. Lelaki itu sedang memastikan keberadaan Jake tidak ada.
"Kau mau mengajakku kemana, Ed?" tanya Jasmine. Kali ini dia menuruti keinginan Edward. Yaitu berbicara secara informal.
Edward terkekeh dalam keadaan mengatup mulut. "Kau ingat mengenai imbalan yang aku inginkan? Sekarang aku tahu apa yang diriku inginkan darimu," ucapnya.
Jasmine terheran. Dia sedikit memiringkan kepala ke kanan. Mengingat perihal imbalan yang disinggung oleh Edward.
"Ah... imbalanmu karena sudah memperbaiki alat vinyl-ku?" tebak Jasmine, memastikan.
Edward mengangguk. "Ayo ikut aku!" ajaknya sembari berjalan memimpin lebih dahulu. Jasmine otomatis mengikuti, lagi pula dia memang merasa berterima kasih kepada Edward. Terutama mengenai perbaikan alat vinyl-nya.
Edward masuk ke sebuah toko barang bekas. Di sana ada seorang wanita tua bernama Veronica. Wanita tersebut merupakan sang pemilik toko.
Lonceng berdenting saat Jasmine melangkah masuk. Pandangannya segera mengedar ke segala penjuru. Memperhatikan banyak benda-benda antik yang terpajang.
"Halo, Edward. Kau tidak sendiri..." sapa Veronica sambil melirik ke arah Jasmine yang baru masuk.
"Dia berjanji akan mentraktirku. Makanya aku membawanya ikut bersamaku," bisik Edward. Menutup mulutnya dengan salah satu tangan. Veronica hanya tergelak kecil, lalu menyapa ramah Jasmine.
Veronica membiarkan Edward dan Jasmine menyusuri tokonya. Kebetulan toko itu cukup besar, dan mempunyai rak-rak besar yang berjejer.
"Kenapa Tuan memilih pergi ke kampus? Aku pikir Ronald sudah mengurus cuti anda?" celetuk Jasmine. Dia lupa lagi untuk bicara informal.
Kali ini Edward membiarkannya saja, toh posisinya dengan meja Veronica agak jauh. Jadi kemungkinan wanita tua tersebut tidak akan bisa mendengar pembicaraannya.
"Ingin saja. Apa tidak boleh?" ketus Edward. Melirik selintas Jasmine. Dia malas memberikan penjelasan lebih detail.
"Aku hanya bertanya." Jasmine menyesal bertanya. Dia mendengus kasar. Kemudian menghampiri sebuah tempat lilin antik berwarna keemasan. Ukiran seni dari tempat lilin itu membuat Jasmine berdecak kagum.
"Sangat indah bukan?" Edward ikut mengamati tempat lilin yang diperhatikan Jasmine. Mereka sedikit membungkukkan badan untuk menilik benda tersebut. Posisi Jasmine dan Edward sendiri saling bersebelahan.
"Aku tidak menyangka, anda ternyata tertarik juga dengan benda seperti ini," komentar Jasmine. Menatap Edward dengan sudut matanya.
"Aku suka dengan ukiran seninya. Menurutku, barang-barang dari zaman dahulu memiliki seni yang luar biasa. Aku banyak belajar tentang seni arsitek dari barang-barang itu," jelas Edward sambil menilik serius tempat lilin yang ada di depannya.
"Ya, aku setuju dengan pendapatmu, eh maksudku, Tuan. Aku..." Jasmine baru teringat kalau dirinya sedari tadi berbicara formal. Dia reflek menepuk jidatnya sendiri. Bicaranya menjadi meracau.
Jasmine mendengus kesal. Dia mendadak berdiri, kemudian menghadap ke arah Edward. "Tuan, aku kesulitan bicara dengan anda jika begini terus. Aku akan tetap bicara dengan formal saja. Dimana pun itu. Aku berjanji akan bicara secara berbisik, apalagi jika sedang berada di keramaian," imbuhnya.
"Tuan tenang saja. Itu tidak akan terjadi. Aku akan berhati-hati," ujar Jasmine yakin. Sampai sedikit membusungkan dadanya.
Edward berdiri tegak. Tempat lilin antik telah berada dalam genggamannya. Dia lantas memutar badannya untuk menghadap Jasmine.
"Aku mau ini!" ucap Edward dengan senyuman puasnya.
Jasmine terkesiap. "Maksudnya, anda ingin aku yang membayar?" tanya-nya. Dalam keadaan kelopak mata yang melebar.
"Tentu saja." Edward menjawab santai.
Jasmine mengusap tengkuk tanpa alasan. Ia segera memeriksa uang di dalam dompetnya. Dirinya sangat heran dengan Edward. Kenapa lelaki itu menginginkan imbalan yang berkaitan dengan uang? Jasmine benar-benar tidak menduganya. Padahal Edward jelas memiliki uang yang banyak. Wajah Jasmine tampak ditekuk dengan ringisan takut. Gadis tersebut takut uangnya tidak akan cukup.
Tanpa sepengetahuan Jasmine, Edward diam-diam memandangi dengan binar mata penuh arti. Jantungnya berdetak penuh gebu. Entah kenapa dia selalu ingin menatap gadis itu. Tetapi atensi Edward harus teralih, ketika melihat uang di dalam dompet Jasmine. Uangnya tidaklah banyak.
"Aku akan menanyakan harganya kepada Veronica dahulu," kata Jasmine seraya mengambil alih tempat lilin dari genggaman Edward.
"Baiklah." Edward mencoba membiarkan saja. Dia hendak menyaksikan Jasmine mengatasi kesulitan keuangannya.
Jasmine berjalan ke depan meja kasir. Posisi dimana Veronica berada. Dia meletakkan tempat lilin yang di inginkan Edward ke atas meja.
"Berapa harga benda ini?" tanya Jasmine.
"Hmmm... coba kulihat." Veronica meraih tempat lilin antik. Dia membolak-balikkan benda itu lebih dahulu.
"Harganya sekitar 45 pounds, my dear..." Veronica memberitahukan harga tempat lilin yang di inginkan Edward.
"Oke..." lirih Jasmine melemah. Bagi gadis desa sepertinya, 45 pounds itu mahal. Meskipun begitu, Jasmine tetap mengambil uang dari dompet, dan semuanya hanya berjumlah sekitar 35 pounds.
"Aku hanya membawa uang tunai 35 pounds. Bisakah kau memberikan harganya dengan uang yang aku bawa." Jasmine mengatupkan kedua tangan ke hadapan wajahnya. Menggosok-gosoknya beberapa kali. Memasang wajah memohon kepada Veronica.
Veronica tertawa kecil sambil menggelengkan kepala. "Kau sangat manis sekali. Ya sudah, ambil saja barangnya. Anggap saja ini hadiah atas kedatangan pertamamu ke sini," tuturnya dengan senyuman tulus.
"Tidak! Aku tidak mau mengambilnya begitu saja. Terimalah uangku!" Jasmine menyerahkan uangnya kepada Veronica. Lalu berlari keluar pintu sambil membawa tempat lilin antik. Dia tidak mau melihat Veronica mengembalikan uang miliknya.
Setelah Jasmine pergi, Edward berjalan mendekati Veronica. Dia mengambil uang Jasmine, dan memberikan 45 pounds kepada Veronica.
"Sekarang impas bukan?" ujar Edward. Dia bertukar senyuman dengan Veronica.
"Dia sepertinya gadis yang baik. Aku menyukainya dibanding gadis yang kau bawa sebelumnya," ungkap Veronica. Sebelum Edward benar-benar pergi.
"Thanks, Veronica." Edward hanya menyahut asal. Dia segera menyusul Jasmine. Mereka sama-sama kembali ke kampus.
Edward pulang lebih dahulu dibanding Jasmine. Dia terus memandangi tempat lilin antik yang dibelikan Jasmine untuknya. Kini dia sepenunya menyadari, bahwa dirinya memang memliki rasa yang tak biasa terhadap Jasmine. Edward sudah memastikannya saat membawa Jasmine pergi ke toko barang bekas tadi. Itu memang salah satu rencananya demi membuktikan kalau perasaannya nyata.
"Aku tidak bisa membantahnya lagi. Apa yang harus kulakukan?" gumam Edward sambil menopang kepala dengan jari telunjuk. Dia tidak bisa menampik kalau dirinya telah jatuh cinta kepada Jasmine.