Jase Is Mine

Jase Is Mine
Bab 63 - Berenang Bersama



...༻♚༺...


Di perjalanan, Edward menemukan sebuah mobil di lokasi sepi. Dimana di sisi kiri dan kanan hanya terdapat pepohonan rindang. Kap mobil itu terlihat berasap. Terdapat juga sosok tidak asing di dekat mobil. Dia tidak lain adalah Jasmine, yang celingak-celingukan seperti orang kebingungan. Tetapi saat melihat mobil Edward, Jasmine melangkah ke tengah Jalan untuk meminta bantuan.


Edward menepikan mobil ke pinggir jalan. Kemudian langsung keluar dari mobil. Kehadirannya membuat mata Jasmine terbelalak. Jantungnya berdegub kencang. Dia dan Edward saling bertukar pandang penuh akan rindu.


Jasmine dan Edward saling berpelukan. Mata mereka secara alami terpejam. Seolah sudah menemukan tempat ternyaman.


"Maafkan aku, Ed. Aku tidak akan meninggalkanmu lagi kali ini. Aku juga tidak akan peduli dengan komentar orang-orang terhadap hubungan kita," ungkap Jasmine.


"Tidak apa-apa. Yang terpenting kau kembali kepadaku sekarang." Edward menjawab sambil melepas dekapannya. Lalu mengecup dalam bibir Jasmine.


Jasmine melingkarkan tangan ke tengkuk Edward. Keduanya berciuman dengan perasaan tulus. Mereka melakukannya seakan bertekad untuk tidak melepaskan lagi.


Jasmine melepas tautan bibirnya sejenak dari Edward. Lalu berkata, "Ed, sebaiknya kita pergi dari sini sebelum hari semakin sore."


"Kau benar!" sahut Edward sembari mengalihkan perhatiannya ke arah mobil Jasmine yang mogok.


"Apa yang terjadi kepada mobilmu?" tanya Edward.


"Sebenarnya ini mobil George. Sepertinya mesin mobilnya terkena masalah," jelas Jasmine. Ia tidak mengerti apa-apa perihal mobil.


"Aku akan panggilkan tukang bengkel. Kau lebih baik ikut mobilku saja. Kita akan pergi ke London bersama-sama." Edward memberikan usul.


"London?" Jasmine membulatkan mata.


"Kau ingin pergi ke London bukan?" Edward memastikan.


Jasmine menggeleng cepat. "Tidak. Aku hanya ingin bertemu denganmu," terangnya. Membuat Edward tidak kuasa menahan senyuman senang.


"Ya sudah, kalau begitu kau harus ikut aku." Edward menarik lengan Jasmine. Masalah mobil George, dia sudah mengurusnya dengan cara menghubungi tukang bengkel terdekat.


Edward membawa Jasmine ke sebuah tempat wisata. Lokasi yang biasanya dipakai untuk orang-orang berkemah atau menghabiskan musim panas. Kebetulan sekarang suasana sudah memasuki musim gugur. Waktu yang sangat pas untuk mengunjungi area hutan. Sebab pohon-pohon akan terlihat memiliki tampilan daun berwarna-warni. Ada merah, kuning, cokelat kehijauan dan sebagainya.


Jasmine dan Edward melangkah di jalanan setapak sambil bergandengan. Momen itu seperti perbaikan hubungan sekaligus kencan bagi mereka.


"Jase, kau tidak perlu mengkhawatirkan keluarga kerajaan lagi. Karena mereka sudah setuju dengan hubungan kita," ujar Edward seraya menyamakan langkah dengan Jasmine.


"Benarkah? Bagaimana bisa?" Jasmine menatap Edward penuh tanya.


"Sebelum aku mencarimu, aku memastikan semua keluarga kerajaan untuk setuju. Kau tidak perlu tahu caranya. Yang terpenting aku ingin kau lebih percaya diri lagi. Kita jalani hubungan ini bersama-sama." Edward menuntun Jasmine menaiki jalan yang berlawanan dengan denah.


"Tentu saja. Aku akan lebih berusaha kali ini. Tetapi ada satu masalah. Aku terlanjur mengundurkan diri dari kampus. Sekarang aku tidak bisa meneruskan pendidikan lagi," ungkap Jasmine. Ia mendengus kasar.


"Kau tidak perlu khawatir. Karena itulah aku menyiapkan perjalanan kita ke Paris. Kita akan meneruskan kuliah di sana." Penjelasan Edward berhasil membuat Jasmine berhenti melangkah. Gadis itu benar-benar tidak percaya, dirinya akan mendapat ajakan berkuliah di Paris.


"Lalu bagaimana dengan kesibukanmu sebagai Pangeran?" Bukannya mencemaskan diri sendiri, Jasmine justru memikirkan nasib Edward.


Senyuman mengembang di wajah Edward. Dia suka saat Jasmine begitu memperhatikannya. "Mudah saja. Kebetulan James dan Ronald akan menemani kita di sana. Ah benar... kau juga bisa mengajak nenekmu," ucapnya sambil mengajak Jasmine kembali menggerakkan kaki.


Terlintas dalam benak Jasmine tentang ekspetasi indah saat di Paris nanti. Dia bahkan sampai senyum-senyum sendiri. Selain bisa meraih cita-citanya sebagai fashion designer, Jasmine juga bisa berkencan bersama Edward di kota yang terkenal romantis tersebut.


Ilustrasi danau yang didatangi Edward dan Jasmine :



"Danau? Jangan bilang kau mau mengajakku berenang?" tukas Jasmine tak percaya.


"Tebakanmu benar! Sebelum ke Paris aku ingin menghabiskan waktu denganmu di sini." Edward berlari lebih dahulu. Ia segera melepas pakaian, hingga menyisakan celana pendeknya.


"Aku tidak bisa, Ed." Jasmine menggeleng beberapa kali sambil memeluk badan sendiri.


"Kenapa kau terlihat ketakutan begitu? Jangan bilang kau tidak bisa berenang?" timpal Edward menebak.


Jasmine lekas membuang muka. Dia tidak membantah dugaan Edward. Namun Edward bersikeras mengajaknya untuk berenang.


"Aku akan mengajarimu. Anggap saja ini sebagai bayaran karena kau sudah mengajariku berkuda," kata Edward sembari menarik Jasmine untuk ikut.


"Oke, oke. Biarkan aku melepas pakaian terlebih dahulu." Jasmine terpaksa setuju. Dia langsung melepas pakaian sampai menyisakan tanktop dan celana pendek sepangkal paha. Meskipun begitu, Jasmine merasa ragu masuk ke dalam air.


"Aku akan membantumu." Edward yang sudah menenggelamkan sebagian badan ke air, mengulurkan tangan.


Jasmine menghela nafas berat. Kemudian meraih tangan Edward. Mereka berjalan pelan masuk ke dalam danau. Jasmine menampakkan ekspresi tegang, sementara Edward tidak berhenti tersenyum.


"Jika aku tenggelam. Kau harus bertanggung jawab!" ancam Jasmine dengan mimik wajah merengut.


"Tidak diragukan. Mana mungkin aku meninggalkanmu tenggelam di sini begitu saja," jawab Edward yakin.


Edward terus menuntun Jasmine berjalan. Sampai Jasmine mulai kehilangan pijakan di tanah. Hal tersebut menandakan bahwa air danau semakin dalam.


"Ed! Cukup di sini saja!" ujar Jasmine. Memegang erat kedua tangan Edward. Air terlihat sudah memakan sebagian tubuhnya. Menyisakan hanya bagian kepala saja.


Edward terkekeh geli. Dia bersikeras menarik Jasmine untuk memasuki bagian danau yang dalam.


"Pegangi aku, Jase. Tidak apa-apa," saran Edward. Ia meletakkan tangan Jasmine ke pundaknya.


Jasmine mengikuti saja arahan Edward. Namun dia justru memeluk Edward dengan erat. Jasmine terlalu takut.


"Ed, kumohon... kita berenang di bagian yang dangkal saja," ungkap Jasmine gelagapan.


Edward memegangi pinggul Jasmine. Dia tidak berhenti tergelak menyaksikan sikap menggemaskan Jasmine.


"Jangan tertawa!" geram Jasmine seraya mengukir ekspresi hampir merengek. Akan tetapi Edward malah melayangkan kecupan singkat ke bibir Jasmine. Selanjutnya, barulah Edward membawa gadis itu ke tempat air dengan kedalaman dangkal.


Kini Jasmine dapat memijakkan kakinya ke tanah. Ia benar-benar merasa lega. Melihat Edward terus tersenyum, Jasmine tidak segan-segan memukul. Pukulannya tidak berjalan lancar. Sebab Edward dengan cepat memegangi tangannya.


"Kau tampak semakin cantik jika sedang marah. Sekarang, aku akan mengajarimu." Edward menyuruh Jasmine untuk menggerakkan kaki di bawah air. Sedangkan tangan gadis tersebut menggenggam kuat jari-jemari Edward.


"Aku tidak bisa. Ini sangat sulit," keluh Jasmine.


"Percayalah kepadaku." Edward mengajari Jasmine pelan-pelan.