Jase Is Mine

Jase Is Mine
Bab 32 - Jasmine VS Edward



...༻♚༺...


Semenjak berbicara mengenai perasaannya, Edward terus berusaha mendekati Jasmine. Dia bahkan melakukan hal yang tidak biasa. Seperti mendatangi Jasmine ke dapur misalnya. Meskipun begitu, Edward sama sekali tidak berlaku kurang ajar kepada Jasmine. Dia hanya memperhatikan. Baik dari jarak jauh maupun dekat.


Jasmine merasa Edward mencoba menjahilinya. Dia sekarang tidak akan tertipu lagi. Gadis itu mengabaikan sikap Edward yang terasa aneh baginya.


Di suatu waktu, ketika Jasmine sibuk mengelap meja makan. Edward datang menghampiri. Dia membawa sebuah amplop dan satu buket bunga mawar.


"Ini untuk gajimu, dan bunganya--"


"Pasti untuk ibuku. Aku berjanji akan memberikannya kepada ibu nanti. Tuan tenang saja." Jasmine menyambut amplop dan buket bunga yang diberikan Edward. Akibat terlalu bersemangat, dia tidak sengaja memotong ucapan Edward.


"Hei! Aku belum selesai bicara, kau sudah memotongnya begitu saja!" protes Edward dengan kening yang mengernyit.


"Ah, benar. Untuk gajinya, aku ucapkan terima kasih banyak! Aku berjanji akan bekerja lebih baik lagi." Jasmine memahami keluhan Edward ke lain arah. Ia mengira Edward sedang mendesaknya untuk berterima kasih.


"Bukan itu. Aku mau memberitahukan, kalau buket bunganya untukmu, bukannya ibumu!" pungkas Edward. Membuang muka dari Jasmine sejenak. Lidahnya berdecak kesal.


"Untukku?" Jasmine menunjukkan jari telunjuk ke dadanya sendiri. Kelopak matanya sedikit melebar.


"Apa aku perlu menjelaskannya dua kali?" Edward mengulurkan kedua tangan ke depan. Sejujurnya dia berniat membangun suasana romantis, namun semuanya ternyata tidak berjalan mulus.


"Kalau begitu, terima kasih, Tuan. Aku akan meletakkannya ke ruang tengah saja. Aromanya bisa menjadi pengharum ruangan alami," respon Jasmine sembari melenggang untuk meninggalkan Edward. Dia tentu tidak lupa untuk membungkuk hormat terlebih dahulu. Senyuman tak bersalah terpampang diwajahnya. Jasmine bersikukuh menganggap perhatian Edward hanyalah permainan belaka.


Edward merasa tercengang. Jual mahal sekali gadis itu? Apa dia yang sekarang mencoba main-main?


Edward memutar bola mata sebal. Dia menggaruk bagian belakang kepalanya dengan frustasi. Dirinya tidak menyangka, mendekati seorang gadis ternyata lebih sulit dari pada menyelesaikan soal ujian geometri.


Kini Jasmine sibuk mengepel lantai di ruang tengah. Dia sempat melihat Edward melingus menaiki tangga. Selanjutnya Jasmine kembali menyibukkan diri membersihkan noda yang ada di ubin.


Tidak seperti biasanya, Jasmine kali ini merasa gelisah. Dia berfirasat kuat kalau dirinya sedang diperhatikan oleh seseorang. Jasmine dapat merasakan auranya tepat dari lantai dua.


Entah kenapa bulu kuduk Jasmine sedikit merinding. Sebab pikirannya mengenai hal horor sedang bergumul. Secara perlahan dia mengalihkan pandangan ke lantai dua. Jasmine langsung membulatkan mata, karena sosok yang dilihatnya bukanlah hantu. Melainkan Edward.


Edward berdiri santai sambil meletakkan kedua tangan ke pagar pelindung. Dia mengamati Jasmine dengan raut wajah serius. Ekspresinya cenderung datar, meskipun dirinya menyaksikan Jasmine begitu terkejut.


"Tu-tuan, apa yang anda lakukan?" tanya Jasmine tergagap.


"Aku sedang memperhatikanmu. Kau pikir apa lagi? Bukankah aku sudah cukup serius dengan perasaanku?" balas Edward seraya menggedik-gedikkan salah satu kakinya. Dia bertingkah seperti lelaki yang pandai menggoda. Tetapi jadinya malah seperti lelaki yang terlalu tebar pesona. Apalagi ketika jari-jemari Edward dengan angkuh menyisir rambut pirangnya nan lembut.


Jasmine mendengus kasar. Kepalanya beberapa kali menggeleng. Menunjukkan bahwa dirinya sama sekali tidak mempercayai segala penuturan Edward.


"Aku memang berstatus sebagai pelayan anda di sini. Tetapi bukan berarti Tuan bisa selalu mempermainkanku," ucap Jasmine. Ia telah selesai mengepel lantai.


Edward sudah mengangakan mulut. Dia hendak menjawab ucapan Jasmine. Namun belum sempat berkata, Jasmine sudah terlanjur pergi dari pandangannya.


Jasmine berpindah ke tugas selanjutnya. Dia sibuk memberikan makanan untuk kuda yang ada di kandang. Dari arah belakang, Edward berjalan kian mendekat. Kali ini telinga Jasmine dapat mendengar suara derap kaki milik Edward. Jadi dipastikan dirinya tidak akan terkejut lagi.


Untuk yang sekian kalinya Jasmine hampir jantungan karena Edward. Bagaimana tidak? Posisi wajah lelaki itu mencondong dekat ke arahnya. Nyaris saja ciuman kedua Edward dan Jasmine terjadi. Andai Jasmine memiliki riwayat penyakit jantung, mungkin dia akan bolak-balik mendatangi rumah sakit.


Jasmine sontak memundurkan badan dari Edward. Mencoba menghindari tatapan panah cinta dari Edward yang terus memantul di logika Jasmine. Akan tetapi Edward justru semakin bebal, dia tersenyum dan semakin mendekatkan dirinya kepada Jasmine.


"Jangan macam-macam!" cegat Jasmine sambil mengarahkan satu tangannya ke depan. Ia melakukannya karena sudah terpojok ke kandang kuda.


Edward tertantang dengan penolakan Jasmine. Ia terus melangkah lebih dekat. Hingga Jasmine perlahan menurunkan tangannya. Gadis tersebut seolah memberikan izin kepada Edward untuk mendekat.


Sekarang jarak wajah Edward dan Jasmine sangat dekat. Helatnya tidak sampai dua senti. Jantung mereka berdebar kencang bagai gendang yang ditabuh.


Jasmine tidak mengerti dengan perasaannya. Kali ini sangat berbeda. Dia tidak merasa gugup seperti sebelumnya, melainkan bersemangat serta penuh harap. Atensinya perlahan tertuju ke arah bibir Edward. Secara alami Jasmine memejamkan mata.


Sekian detik berlalu, bahkan ketika detik hampir mencapai enam puluh, Jasmine tidak merasakan apapun dibibirnya. Dia lantas membuka mata, dan melihat Edward sudah menghilang. Jasmine lekas mengedarkan pandangan ke sekeliling. Sampai akhirnya dia dapat melihat Edward sibuk berbicara melalui ponselnya.


Jasmine melampiaskan rasa malunya dengan menggigit bibir bawahnya. Ia merasakan malu tak terhingga. Rasanya Jasmine ingin menukar letak wajah dengan pantatnya. Menurutnya itu posisi paling aman untuk bersembunyi.


Ember yang tadinya di isi dengan makanan kuda, segera diambil Jasmine. Seperti dikejar-kejar gelombang tsunami, Jasmine berlari secepat mungkin menuju rumah. Gadis itu menjadikan rambut panjangnya seperti tirai penutup wajah.


"Jase!!!" pekik Edward. Dia memanggil, kala Jasmine hampir masuk ke rumah.


"Kemarilah!" Edward kembali bersuara lantang. Dia melambaikan tangan. Seakan mendesak Jasmine untuk mendatanginya.


Jasmine memutar bola mata kesal. Sikap Edward benar-benar menyebalkan. Jasmine menyesal pernah merindukan sikap arogan dan semena-mena itu dari Edward.


"Ada apa?" Jasmine menghampiri Edward. Dia enggan menyebut kata Tuan atau panggilan hormat lainnya.


"Aku ingin menaiki kuda sekarang. Kau harus membantuku, oke?" ujar Edward sembari menunjuk ke arah kuda dengan dagunya. Melalui bahasa tubuh tersebut, Edward mendesak Jasmine untuk melakukan perintahnya.


Dengan helaan nafas kasar, Jasmine meletakkan kembali ember ke tanah. Dia berjalan menghentak dengan laju. Gelagatnya menunjukkan kekesalan yang sedang dirasakannya. Edward bahkan bisa memahami itu.


Edward berusaha menahan tawa. Sehingga dia mengatup rapat mulutnya, lalu menutupi dengan satu tangan.


Edward sebenarnya tahu alasan dibalik kemarahan Jasmine. Ia tahu gadis tersebut marah karena merasa malu. Edward mendadak menyesal. Kenapa tadi dia malah memilih menjahili Jasmine? Naluri jahil Edward memang terkadang muncul secara tiba-tiba. Dia memang sengaja pergi saat Jasmine kebetulan memejamkan mata.


Edward mencoba mengabaikan kekesalan Jasmine. Ia yakin gadis itu pasti juga mempunyai rasa yang sama dengannya. Dia bisa melihat dari sikap Jasmine yang tadi mendadak memejamkan mata. Jadi Edward percaya kalau dirinya tidak akan ditolak.


Jasmine terlihat telah mengeluarkan salah satu kuda dari kandang. Dia juga tidak lupa memakaikan pelana ke punggung kuda.


Edward berlari kecil mendatangi Jasmine. Ia berkacak pinggang karena menunggu Jasmine untuk menaiki kuda lebih dulu. Tetapi Jasmine tidak kunjung naik ke punggung kuda.


"Kau kenapa--"


"Naiklah! Saatnya anda melakukannya sendiri!" imbuh Jasmine. Perkataannya membuat mata Edward reflek terbelalak. Kepercayaan diri Edward seketika runtuh menjadi kepingan ketakutan. Dia tentu ragu menaiki kuda sendirian.