
...༻♚༺...
Setelah menyaksikan kegilaan Edward. Jasmine beranjak dari kostan. Dia sudah lelah dengan suasana pesta. Jasmine menyusuri jalan tak tentu arah. Hingga akhirnya dirinya memutuskan berhenti di sebuah taman bermain kanak-kanak. Jasmine duduk di salah satu ayunan. Menatap ke atas langit yang terlihat tidak menampakkan satu bintang pun.
"Hmmhh... aku tidak menyangka, London akan sesulit ini..." gumam Jasmine, setelah menghela nafas panjang dari mulutnya.
Lagu masih terputar diponsel Jasmine. Dia yang kelelahan tak kuasa menahan kantuknya. Sampai akhirnya gadis tersebut ambruk ke tanah. Untung saja tanah yang ada di bawah ayunan ditutupi oleh pasir nan lembut. Tetapi hal itu malah membuat Jasmine terlalu nyaman, hingga dia tidak sadar sudah rebahan di sana. Hawa dingin bahkan kalah dengan rasa kantuknya. Sejak kecil Jasmine memang tidak pernah kesulitan dengan yang namanya tidur. Apalagi bila dirinya habis melakukan pekerjaan yang berat.
Beberapa saat kemudian, sebuah mobil berhenti di depan taman kanak-kanak. Tempat Jasmine masih tertidur pulas. Seorang lelaki segera keluar dari mobil. Dialah Edward, yang merasa khawatir terhadap keadaan Jasmine. Dirinya mengira seseorang sedang dalam bahaya.
Edward awalnya tidak menduga kalau gadis yang telentang memiring di tanah adalah Jasmine. Setelah berlari menghampiri, barulah Edward mengenali Jasmine.
Edward memeriksa keadaan Jasmine. Memastikan denyut nadinya masih bergerak. Kini dirinya sadar bahwa Jasmine tengah tertidur. Sebab jika gadis itu pingsan, dia tidak mungkin berpose sangat nyaman. Jasmine tampak meringkuk sembari mengorok dengan keadaan mulut yang sedikit menganga.
"Jasmine!" Edward mencoba membangunkan Jasmine. Dia beberapa kali menggoyang-goyangkan tubuh gadis tersebut. Namun Jasmine tetap tak bergeming.
Edward memutar bola mata malas. Akibat ditekan oleh rasa tanggung jawab, dia akhirnya menggendong Jasmine dengan ala bridal style. Edward memasukkan Jasmine ke dalam mobil. Merebahkannya di kursi belakang. Sebelum menjalankan mobil, Edward melepas headset yang terpasang ditelinga Jasmine. Dia mengamati ponsel Jasmine dalam selang beberapa detik. Ada sesuatu yang membuatnya terpaku. Setelah puas melihat, Edward pun bergegas untuk mengemudi.
Kebetulan mobil yang dipakai Edward adalah milik Jake. Dia memang sengaja meminjamnya untuk pulang ke rumah. Sedangkan Jake sendiri memilih akan pulang dini hari nanti bersama teman-teman yang lain.
"Freedy... aku merindukanmu..." Jasmine mengigau menyebut nama kuda kesayangannya.
Edward menoleh selintas ke kursi belakang. Dia tersenyum tipis kala mendengar racauan Jasmine yang tak terduga.
"Oh, jadi itu nama pacarnya yang ada di desa?" Edward menarik kesimpulan. Dia akan mengingat informasi tersebut di kepalanya. Edward yakin itu bisa berguna suatu hari. Setidaknya dapat berguna untuk menjahili Jasmine nanti.
Ketika terlena dengan isi kepalanya, Edward tiba-tiba menghentikan mobil. Dia baru sadar, kalau dirinya tidak tahu harus mengantar Jasmine kemana. Sebab Edward yakin, Jasmine pasti tidak akan mau di antar kembali ke kost-kostannya.
"Benar-benar merepotkan! Lagi pula kenapa harus aku yang menemukannya di taman bermain tadi!" gerutu Edward dengan dahi yang berkerut. Dia menjalankan mobil menuju rumahnya. Dirinya memutuskan akan membawa Jasmine ikut bersamanya.
Setibanya di rumah, Edward terpaksa menggendong Jasmine kembali. Entah kenapa tidak terpikir dalam benaknya untuk membangunkan gadis tersebut. Melihat Jasmine tertidur sangat lelap, membuat Edward merasa juga ingin segera tidur.
Edward merebahkan Jasmine di kamar tamu. Dia memandang Jasmine yang masih asyik tertidur dalam keadaan sedikit menganga.
"Orang sepertimu tidak akan pernah bisa menjadi bagian keluarga kerajaan. Astaga..." komentar Edward sembari menggelengkan kepala. Kemudian pergi keluar dari kamar. Meninggalkan Jasmine meneruskan tidurnya sampai puas.
Satu malam berlalu. Jasmine yang telah puas mengistirahatkan diri akhirnya membuka mata. Dia segera merubah posisi menjadi duduk. Menguap sambil meregangkan badannya. Matanya mengerjap, hingga samar di penglihatannya perlahan menjadi jelas. Jasmine terkejut dengan suasana di sekitarnya.
Jasmine langsung berdiri dan mencoba mengetahui dimana tempat dirinya berada. Ketika dia membuka jendela, rumah kaca yang sempat dibersihkannya kemarin menjadi atensi utamanya.
Jasmine membuka pintu dan segera keluar. Kepalanya menoleh ke kiri dan kanan. Lalu melangkah memasuki ruang tengah.
'Mungkinkah Edward yang membawaku ke sini?' batin Jasmine menduga. Dia menatap kamar Edward dari bawah tangga. Kamar Edward sendiri berada di lantai dua. Tidak begitu jauh dari tangga.
Jasmine terperanjat saat Edward mendadak membuka pintu. Lelaki itu tampak sudah berpakaian rapi. Rambutnya terlihat disisir ke belakang.
Jasmine tetap berdiri di tempatnya. Berniat menanyakan sesuatu yang sejak tadi membuatnya penasaran.
"Kau baru datang?" sapa Edward. Dia baru turun melewati tangga. Seperti biasa, Edward selalu memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
"Tuan tidak tahu? Bukankah anda yang membawaku ke sini?" ujar Jasmine meragu.
"Apa? Aku?" Edward menggeleng tak percaya. Bersikap seakan tidak tahu apapun. "Apa kau berkhayal? Untuk apa aku membawamu ke sini," jelasnya.
"Lalu, siapa yang mengantarkanku tadi malam ke sini? Apa Tuan mengetahui siapa orangnya?" timpal Jasmine. Dia mulai sedikit panik. Takut sesuatu yang buruk telah terjadi kepadanya tadi malam.
"Aku tidak tahu apapun!" Edward bersikeras tidak mengaku. Dia memang sengaja melakukannya. Bukan saja karena merasa gengsi untuk mengaku, tetapi juga karena niat jahilnya terhadap Jasmine.
"Lalu siapa?" Jasmine berupaya keras mengingat segala hal kecil tentang tadi malam.
"Tenanglah dahulu. Coba kau ceritakan apa yang terjadi, sebelum dirimu benar-benar sampai ke sini?" Edward menyuruh Jasmine duduk ke sofa.
Jasmine lantas menceritakan semuanya yang dialaminya. Terutama setelah dirinya jatuh tertidur di taman bermain.
"Benar-benar aneh. Apa kau pernah mengalami riwayat penyakit tidur sambil berjalan?" tanya Edward seraya memasang raut wajah serius.
Jasmine berpikir sejenak. Lalu segera memberitahu kalau dirinya memang pernah tidur sambil berjalan. Namun itu terjadi ketika dia masih berumur sebelas tahun. Meskipun begitu, bukan tidak mungkin hal tersebut akan terjadi lagi di saat Jasmine sudah dewasa.
"Ah... pantas saja," respon Edward. Bertingkah seakan memantapkan teori yang pas, mengenai misteri sampainya Jasmine ke rumahnya.
"Tetapi, mungkinkah itu benar terjadi? Bukankah jarak antara rumahmu dan kost-kostanku sangat jauh? Lalu, kenapa alam bawah sadarku memilih membawaku pergi ke sini?" Jasmine benar-benar dirundung perasaan bingung. Seberapa keras dirinya bertumpu pada logika, tetap saja semuanya terasa ada yang ganjil.
Edward membuang muka dari Jasmine. Melepaskan tawanya yang sudah tak terbendung lagi. Dia menikmati kejahilannya. Apalagi Jasmine sangat berbeda dari orang-orang yang pernah dikerjainya sebelumnya. Gadis tersebut sangatlah polos.
"Benar! Aku baru ingat, kalau aku tertidur sambil mendengarkan lagu. Handphoneku! Sepertinya aku kehilangannya!" ungkap Jasmine sembari bangkit dari tempat duduk. Dia berlari kembali ke tempat dirinya pertama kali terbangun.
Deg!
Edward baru saja kaget akibat perkataan Jasmine barusan. Dia merasa tertangkap basah. Sebab ponsel Jasmine sengaja dibawanya ke kamar tadi malam. Alhasil Edward lekas-lekas berlari masuk ke kamarnya. Dia kali ini merasa panik seperti halnya Jasmine.