Jase Is Mine

Jase Is Mine
Bab 46 - Misi Pendekatan 7 Hari



...༻♚༺...


Setelah terjatuh dari kuda, Edward hanya ingin cepat-cepat pergi ke kamar. Menjauh dari keramaian sebisa mungkin. Untung saja Sean menyelamatkannya dari kekangan Rose yang tiba-tiba mengajaknya bicara.


Kini Edward tiba di kamar. Ia menyandarkan punggungnya ke pintu, lalu berusaha menenangkan diri. Tangannya bergetar hebat akibat insiden jatuh dari kuda tadi. Kali ini Edward berusaha keras menutupi ketakutannya dari orang lain.


Edward memejamkan rapat matanya sambil perlahan duduk di lantai. Dia menepis ingatan yang terus mengganggu dalam kepalanya. Edward mempraktekkan buku tentang penanganan gangguan psikologis yang pernah dibacanya. Yaitu dengan cara mengontrol nafasnya terlebih dahulu. Edward mencoba memikirkan sesuatu yang membuatnya bahagia. Entah kenapa segala hal tentang Jasmine terlintas dalam benaknya.


Edward mengambil ponsel yang sedari tadi berada dalam sakunya. Dia berniat menghubungi Jasmine. Mungkin dirinya akan lebih tenang bila berbicara dengan gadis tersebut. Namun ketika teringat Jasmine sedang sibuk bekerja, Edward mengurungkan niat. Alhasil lelaki itu memutuskan untuk membuka akun media sosialnya.


Tanpa diduga, Edward justru menemukan foto unggahan terbaru Jasmine. Dia yang tadinya merasa diserang rasa ketakutan, perlahan mengembangkan senyuman. Terutama saat membaca caption yang ada pada unggahan foto Jasmine.


"Rose?" gumam Edward sembari memikirkan makna tulisan yang ada di caption Jasmine.


Senyuman Edward semakin melebar kala mengetahui apa yang dimaksud Jasmine. Dia bisa mengira-ngira. Setelahnya, Edward langsung memberikan komentar.


'Bukankah berarti Jasmine sedang istirahat sekarang?' batin Edward. Dia segera menghubungi Jasmine melalui telepon.


Di waktu yang sama, Jasmine menghentakkan kakinya beberapa kali ke tanah. Dia menyesal telah mengunggah foto dirinya tadi. Kepanikannya bertambah tatkala Edward mendadak menelepon. Jasmine reflek membekap mulutnya sendiri.


'Sebaiknya tidak usah dijawab,' ucap Jasmine dalam hati. Dia akhirnya memilih mengabaikan panggilan Edward. Akan tetapi panggilan Edward tidak berhenti. Lelaki tersebut menelepon untuk yang kedua kalinya.


Dengan helaan nafas panjang, Jasmine akhirnya mengangkat panggilan Edward. "Ada apa, Tu-tuan..." ujarnya meragu. Matanya meliar ke segala arah. Berharap tidak ada yang mendengar pembicaraannya.


"Hei, Jase. Bisakah kita bertemu?" tanya Edward.


"Sekarang? Aku tidak bisa. Aku harus membantu Inggrid dan yang lain untuk menyiapkan makan malam," jawab Jasmine.


"Tidak, tentu tidak sekarang. Tetapi malam ini, ketika semua orang sudah tidur. Aku ingin kau pergi menemuiku. Perlukah aku menjemputmu?" Edward menuturkan dari seberang telepon.


"A-apa? Anda serius?" Jasmine tanpa sadar berbicara secara formal lagi. Ia belum begitu terbiasa.


Edward terdengar mendecakkan lidah kesal. "Aku semakin serius dengan rencanaku setelah mendengarmu bicara tadi," cetusnya. Kesal dengan cara bicara formal Jasmine.


"Maksudnya?" Jasmine mengerutkan dahi.


"Pokoknya kau tidak bisa menolak. Aku akan menghubungimu setelah makan malam nanti." Edward memaksa. Belum sempat Jasmine menjawab, dia sudah mematikan panggilan telepon lebih dulu.


Jasmine sejujurnya merasa takut berbicara dengan Edward di lingkungan istana. Tetapi karena dia sudah tidak sempat menolak, Jasmine tidak punya pilihan selain setuju.



Beberapa jam berlalu. Para keluarga kerajaan telah berada di meja makan. Kecuali Edward. Hanya dia yang tidak mau makan malam bersama semua orang. Edward beralasan kalau dirinya sedang tidak enak badan.


"Inggird, kau harus menyiapkan makan malam untuk Edward. Berikan saja apa yang dia mau, oke?" seru Evelyn, yang langsung direspon oleh Inggrid dengan persetujuan hormat.


"Yang mulia, maaf sebelumnya jika perkataanku menyinggung. Tetapi, menurutku kau terlalu memanjakan Edward. Kelakuannya cenderung berbuat sesuka hati. Aku juga tadi melihatnya mengabaikan teguranmu," tutur Christian. Ia adalah suami dari Laura. Merupakan ayah kandung dari Sean.


"Aku patut memberikan perhatian lebih kepada Edward. Dia sudah kehilangan kedua orang tuanya. Makanya aku merasa harus bertanggung jawab untuk menjaganya," sahut Evelyn yang seketika langsung membuat Christian bungkam.


Inggrid lantas beranjak kembali ke dapur. Dia akan melaksanakan apa yang diperintahkan Ratu kepadanya. Namun saat di tengah jalan, Ronald mencegat pergerakannya.


"Maaf, Inggrid. Pangeran Edward baru saja memperintahkanku untuk mengambilkan makanan. Dia akan memakan sajian yang sudah tersedia saja," pungkas Ronald sambil mengacungkan jari telunjuk ke depan wajah Inggird. "Oh dan satu hal lagi, Pangeran Edward mau Jasmine yang mengantarkan hidangannya," tambahnya dengan memasang raut wajah meyakinkan.


"Jasmine? Kenapa?" Inggrid sedikit memiringkan kepala. Dia heran sekaligus penasaran.


"Haha!" Ronald tertawa hambar. Sebenarnya dia hanya berusaha mengulur waktu untuk mencari alasan. Untung saja dia mengetahui kabar keributan yang dibuat Jasmine tadi siang.


Inggrid mengangguk beberapa kali. Pertanda kalau alasan Ronald sudah dipercayainya. Tanpa pikir panjang, Inggrid berbalik dan menyuruh Jasmine untuk mengantarkan makanan ke kamar Edward.


Jasmine baru keluar dari dapur. Dia membawa meja bertrolly. Di atas meja itu ada banyak suguhan makan malam untuk Edward.


Karbon dioksida dikeluarkan Jasmine melalui mulut. Ia tidak menyangka Edward benar-benar serius ingin menemuinya.


"Jasmine, usahakan jangan terlalu memakan banyak waktu. Aku juga harus beristirahat. Kau tahu itu?" Ronald tiba-tiba muncul dari samping. Dia menyelaraskan langkahnya dengan Jasmine. Ronald sebenarnya bertugas mengurus CCTV untuk menjaga keamanan pertemuan Edward dan Jasmine.


"Maksudnya?" kedua alis Jasmine hampir bertautan.


"Maksudku, jangan terlalu lama menikmati waktu kencanmu. Jika Pangeran keras kepala, berusahalah lebih keras kepala darinya. Aku yakin dia akan mengalah denganmu," terang Ronald. Kemudian berjalan ke lain arah. Dia pergi ke lorong sebelah kiri. Sedangkan Jasmine ke arah kanan.


Pergerakan kaki Jasmine terhenti ketika tiba di depan pintu kamar Edward. Sebelum mengetuk, Jasmine menarik nafas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya dengan rileks.


Tok!


Tok!


Tok!


Jasmine mengetuk pintu kamar Edward. Namun Edward tidak menjawab sama sekali. "Tuan?" panggilnya. Kedua tangannya bergerak-gerak tidak karuan memukul pegangan meja trolly.


Ceklek...


Dua pintu besar bak sebuah gerbang itu akhirnya terbuka. Edward membukakan pintu luas-luas. Senyuman simpul serta tatapan penuh arti dilakukannya untuk Jasmine.


"Padahal anda bisa saja menyuruhku masuk sendiri," ungkap Jasmine seraya menundukkan kepala. Wajahnya sudah memerah. Dia tidak berani menatap Edward. Jasmine hanya fokus membawa meja ke dalam kamar.


Edward menutup pintu kembali. Dia bergegas menghampiri dan membantu Jasmine menyiapkan makanan.


"Anda tidak perlu--"


"Apa kau lupa lagi? Bukankah sudah kubilang, aku tidak ingin kau bicara terlalu formal denganku!" potong Edward. Dia mengambilkan kursi untuk Jasmine. Lalu barulah Edward mengambil kursi untuk dirinya sendiri.


"Maaf, tapi aku harus melakukannya karena kita sedang berada di istana." Jasmine memberikan alasan.


"Ya sudah, aku akan memaafkannya. Duduklah! Kita makan malam bersama." Edward tampak duduk lebih dahulu. Di ikuti oleh Jasmine selanjutnya. Mereka duduk saling berhadapan.


"Makanlah, Jase!" suruh Edward.


Jasmine tersenyum tipis. Dia malu-malu, namun tetap mengambil makanan yang ada. Segalanya di awali dengan suasana hening.


"Kau tahu? Aku tidak ingin kau terus-terusan merasa canggung denganku. Aku mau kau merasa nyaman saat denganku." Edward memulai pembicaraan. Ia sudah menghabiskan makanannya.


Jasmine memainkan jari-jemarinya di bawah meja. Dia mempunyai keinginan yang sama dengan Edward. Jasmine ingin tahu lebih banyak tentang lelaki yang sekarang duduk di hadapannya.


"Aku pikir kita bisa memulainya pelan-pelan," tanggap Jasmine.


"Ya, pelan-pelan. Tapi... aku ingin semuanya dilakukan selama tujuh hari kita berada di sini." Edward melipat kedua tangan di depan dada. Menantang Jasmine dengan tatapannya.


Jasmine tertunduk sejenak. "Entahlah... apa itu bisa dilakukan? Bagaimana jika ada yang tahu?" tanya-nya sembari mendongak kembali.


"Kau tidak perlu khawatir. Biar aku yang mengurusnya." Edward terlihat bertekad. Jasmine lantas hanya bisa mengangguk lemah untuk setuju.