Jase Is Mine

Jase Is Mine
Bab 59 - Gangguan Lain



...༻♚༺...


Sambil membina hubungan ke arah yang lebih baik, Jasmine dan Edward menjalani kuliah. Bersama-sama mereka melanjutkan perjalanan untuk menggapai cita-cita.


Jasmine dan Nathalie tinggal dengan nyaman di rumah barunya. Edward seringkali datang berkunjung bersama Ronald.


Di kampus, hanya Joy yang tahu mengenai hubungan Jasmine dan Edward. Jasmine menyuruh Joy untuk merahasiakannya. Setidaknya sampai Jasmine siap dalam segala hal.


"Aku setuju terhadap pilihanmu, Jase. Kau tenang saja. Aku akan menjaga rahasiamu dengan baik," ungkap Joy yakin.


"Thanks, Joy..." Jasmine mengembangkan senyuman. Setelah sekian lama, akhirnya dia bisa kembali ke kampus. Walau Jasmine banyak ketinggalan tugas kuliah penting. Ia berusaha mengurusnya dengan Miss Kelly.


Jasmine dan Joy berjalan berbarengan bersama. Mereka baru keluar dari koridor kampus. Saat itulah keduanya menyaksikan Edward digeromboli oleh banyak orang. Termasuk Jake.


Mengetahui Edward sebagai Pangeran, Jake tidak berminat lagi mengganggu Jasmine. Lelaki itu lebih memilih memperbaiki hubungan pertemanannya dengan Edward.


"Kata orang-orang, Edward sekarang berubah. Dia tidak bersikap dingin lagi seperti dulu," ujar Joy sembari melipat tangan di depan dada.


"Benarkah? Syukurlah," respon Jasmine. Tersenyum tipis.


"Kamu bersyukur? Justru kau harus berhati-hati. Karena separuh gadis di kampus sekarang tertarik kepadanya. Coba kau lihat kekasihmu itu." Joy mengarahkan jari telunjuk ke arah Edward. "Dia tampan, berprestasi, dan seorang Pangeran. Gadis mana yang tidak terpesona dengannya," tambahnya. Seketika memunculkan sepercik kekhawatiran dalam diri Jasmine.


"A-apa maksudmu? Aku percaya dengan Edward. Aku yakin dia akan baik-baik saja!" sahut Jasmine. Tergagap di awal.


"Mungkin. Tetapi kau pasti tidak mempercayai gadis-gadis yang genit bukan?" Joy mengulurkan kedua tangan ke depan.


"Sudahlah, Joy. Bisakah kau tidak--"


"Hai, Jase. Aku mau bertanya sesuatu kepadamu." Omongan Jasmine terpotong, karena Eva tiba-tiba datang. Eva berdiri tepat di hadapannya.


"Tidak usah bicara dengannya, Jase. Nanti malah menimbulkan masalah." Joy berupaya membawa Jasmine pergi. Dia merangkul erat pundak Jasmine.


"Kau memiliki hubungan spesial dengan Edward bukan?!" Eva melantangkan suaranya. Hingga orang-orang sekitar dapat mendengar jelas.


Jasmine menghentikan langkahnya. Hal yang sama juga terpaksa dilakukan Joy. Mereka kaget terhadap apa yang dikatakan oleh Eva.


"Jase, kita pergi saja. Lebih baik tidak usah menanggapi si jahat itu." Joy memperingatkan Jasmine yang hampir saja menoleh ke arah Eva.


"Kau benar," imbuh Jasmine. Dia dan Joy kembali melenggang maju.


"Ah, bagus kalau begitu. Berarti aku dan yang lain bisa mendekati Edward dengan bebas!" seru Eva menyimpulkan kebisuan Jasmine. Lalu melakukan high five dengan dua temannya. Mereka tertawa girang.


Jasmine berusaha keras mengabaikan. Meskipun dia merasa sangat terganggu terhadap apa yang diucapkan Eva tadi. Dirinya terus melangkah maju dengan perasaan gelisah. Kini Jasmine hanya dapat mengandalkan Edward. Ia percaya Edward akan setia kepadanya.


Saat di kantin, Jasmine dan Joy duduk berdua satu meja. Kebetulan Edward baru saja masuk bersama teman-temannya.


Perhatian Edward langsung tertuju ke arah Jasmine. Ia sangat ingin duduk di samping gadis pujaannya itu. Tetapi mengingat Jasmine menyuruhnya untuk menutupi hubungan, maka Edward tidak punya pilihan selain duduk di meja berbeda.


"Hai, Ed. Aku membawakanmu sandwich spesial. Aku membuatnya sendiri hari ini." Eva menghampiri Edward dengan senyuman simpul. Kemudian duduk ke sebelah Edward.


"Menjauhlah!" hardik Edward sembari menjaga jarak dari Eva.


"Kalian kenapa jahat sekali? Aku hanya berniat baik." Eva memasang raut wajah memelas. Tatapannya teralih kepada Jake. "Aku minta maaf atas segala kesalahan yang pernah kulakukan kepada kalian," ujarnya. Akan tetapi tidak ada satu orang pun yang menggubris perkataannya.


Eva perlahan beringsut mendekati Edward. Lalu memberanikan diri meletakkan kepala ke pundak Edward. Apa yang dilakukannya membuat banyak orang merasa kesal. Tidak hanya perempuan, namun juga para lelaki.


Edward tidak tahan lagi. Dia bergegas berdiri dan menjauh dari Eva. Kemudian mencoba pergi. Akan tetapi Eva dengan sigap memegangi tangan Edward. Gadis tersebut menarik Edward tepat ke hadapannya.


Jasmine membulatkan mata. Salah satu tangannya mengepalkan tinju. Menurutnya Eva sangat keterlaluan. Padahal Edward sudah jelas-jelas melakukan penolakan.


'Joy benar. Bukan Edward yang harus aku cemaskan. Tetapi para gadis yang sekarang mengelilinginya. Termasuk Eva!' batin Jasmine. Entah apa yang ada dalam benaknya, sampai dia tidak sadar berjalan untuk mendatangi Edward dan Eva.


"Jase, kau mau kemana?" tanya Joy khawatir. Dia batal menggigit burger yang hampir dimasukkan ke dalam mulut.


"Edward!" panggil Jasmine. Dalam sekejap dia langsung menjadi pusat perhatian.


"Jase!" Edward lekas-lekas melepas tangan Eva dari lengannya. Dia membalas tatapan Jasmine yang nampak begitu lekat.


Jasmine menggigit bibir bawahnya. Dia berpikir keras mengenai hubungan spesialnya dengan Edward. Haruskah dia tetap merahasiakan atau membeberkannya sekarang?


Jasmine tahu betul dua keputusan itu sama-sama mempunyai resiko besar. Apalagi setelah melihat bagaimana cara Eva mendekati Edward. Tetapi jika semua orang tahu kalau Jasmine adalah kekasih Edward, dirinya yakin akan mendapat banyak bully-an. Dia belum siap untuk itu.


"Ada apa, Jase? Kau ingin mengatakan sesuatu?" tanya Edward dengan dahi berkerut.


Jasmine hanya termangu. Dia mendadak kebingungan harus bicara apa. Terutama ketika semua pasang mata sedang tertuju ke arahnya.


"Bu-bukan apa-apa." Jasmine memutuskan beranjak dalam keadaan kepala menunduk. Bibirnya terasa membeku akibat kegelisahan yang dia rasakan.


Edward yang cemas, bergegas mengejar Jasmine. Mereka lantas bicara empat mata di tempat yang sepi. Dimana tidak ada orang yang bisa melihat.


"Apa ada sesuatu yang mengganggumu? Katakan saja." Edward mengamati baik-baik ekspresi yang ditunjukkan Jasmine.


"Aku bisa mempercayaimu bukan?" tanya Jasmine.


"Tentang?" Edward mengangkat dua alisnya secara bersamaan.


"Hubungan kita. Kumohon menjauhlah dari gadis-gadis yang mencoba mendekatimu!" Jasmine memukul dada bidang Edward. Mimik wajah cemberutnya membuat Edward merasa gemas.


Edward tergelak kecil sembari memutar bola mata. "Kau cemburu?" tukasnya. Tangannya menangkup wajah Jasmine yang masih merengut.


"Aku juga manusia bukan? Tentu saja aku bisa cemburu." Jasmine mengaku saja dengan apa yang dia rasakan.


Sekali lagi Edward terkekeh. Dia yang senang terhadap adanya kecemburuan, segera mengecup singkat bibir Jasmine.


"Tentu saja kau bisa percaya kepadaku. Aku tidak mungkin melihat perempuan lain selain dirimu," tutur Edward. Menatap dalam manik biru Jasmine. "Tapi jika kau khawatir, sebaiknya kita tidak perlu merahasiakan hubungan kita," lanjutnya.


"Tidak. Aku belum siap, Ed. Kau sangat populer sekarang. Tidak hanya di kampus, tetapi juga di seluruh negeri. Setiap kali aku membuka internet, tidak jarang aku melihat berita tentangmu." Jasmine memberikan alasan.


Edward mendengus kasar. Dia mengangguk lemah. Mencoba memahami kekhawatiran Jasmine.