Jase Is Mine

Jase Is Mine
Bab 24 - Gangguan Jasmine



...༻♚༺...


Jasmine baru saja tiba di rumah Edward. Penglihatannya langsung tertuju ke arah kamar yang berada di atas tangga. Pintu kamar tersebut tampak tertutup rapat.


"Pangeran masih mengurung dirinya di dalam kamar. Dia tidak bersedia menemui siapapun." Ronald datang mendekat. Dia muncul dari balik pintu yang mengarah ke dapur.


"Benarkah? Apa dia memang sering bersikap seperti ini?" tanya Jasmine.


"Bukankah Ratu sudah menjelaskan semuanya kepadamu. Aku sarankan jangan terlalu sering membicarakan masalah pribadi keluarga kerajaan. Terutama tentang Pangeran Edward." Ronald menyahut dengan semburat wajah serius. Kedua tangannya terlihat bersembunyi dibalik punggung. Perlahan dirinya berjalan melewati Jasmine.


"Aku harus pergi sebentar. Aku sarankan jangan ganggu Pangeran!" ujar Ronald. Kemudian menghilang ditelan oleh pintu.


Jasmine memutuskan untuk langsung tidur saja. Dia akan menyelesaikan pekerjaannya besok pagi. Kebetulan juga besok jam kuliahnya dilakukan sore hari.



Dua hari terlewati, Edward tidak kunjung menampakkan diri. Edward hanya keluar dari kamar, saat mengetahui tidak ada siapapun di rumah. Dia memanfaatkan kesendiriannya untuk mengisi perut. Jasmine dan Ronald dapat mengetahui aktifitas Edward melalui kamera pengawas. Setidaknya dengan fakta tersebut, mereka tahu Edward baik-baik saja.


"Berapa lama Pengeran akan begini? Dia bahkan tidak pergi ke kampus?" tanya Jasmine sembari menatap Ronald dengan sudut matanya. Keduanya sedang berada di ruang pemantau. Tempat yang berguna untuk melihat keadaan melalui kamera pengawas.


"Entahlah... Aku harap secepatnya..." lirih Ronald. Ponselnya tiba-tiba berdering. Ronald bergegas menjawab panggilan yang sepertinya mendesak. Setelah mendapat penggilan itu, Ronald berpamitan untuk pergi. Dia mengatakan akan pergi selama dua hari. Dengan alasan mengurus ayahnya yang ada di luar kota.


"Jasmine, jagalah Pangeran. Jika ada apa-apa, beritahu aku! Dan ingat, jangan ganggu dia!" ucap Ronald, sebelum benar-benar pergi.


Jasmine mendengus kasar. Menatap mobil Ronald yang berjalan kian menjauh. Matanya segera mengedar ke sekitar. Jasmine sebenarnya agak khawatir dengan keadaan sepi rumah Edward. Terisolir dengan pagar tinggi. Dengan jarak yang agak jauh dari rumah-rumah lainnya. Satu pengawal bahkan tidak terlihat untuk menjaga kediaman Edward. Padahal sudah jelas Edward merupakan seorang Pangeran yang harus dijaga keamanannya. Rasa penasaran kembali menggerogoti kepala Jasmine.


"Berhentilah penasaran, Jase! Lebih baik lakukan sesuatu untuk Edward!" gumam Jasmine. Mencoba mengingatkan dirinya sendiri.


Jasmine masuk ke dalam rumah. Ia memasang piringan hitam ke alat vinyl, lalu menyibukkan diri membersihkan rumah. Lagu I Got My Mind Set On You dari James Ray terputar. Membuat Jasmine merasa bersemangat untuk melakukan pekerjaan. Namun Jasmine menjadi lupa diri. Dia memutar volume lagu lumayan keras. Suaranya berhasil menggema ke seisi rumah.


...🎶...


...I got my mind set on you...


...I got my mind set on you...


...But it's gonna take money...


...A whole lotta spending money...


...It's gonne take plenty of money...


...To do it right, child...


...🎶...


Jasmine menggerakkan alat pelnya sambil menari mengikuti irama lagu. Bersenandung sesuai dengan lirik yang terdengar. Dia berada dalam dunianya sendiri. Lupa dengan peringatan Edward terhadapnya beberapa hari lalu.


Ceklek!


Dari lantai dua, Edward membuka pintu kamarnya. Dia melangkah keluar dan melihat Jasmine dari kejauhan. Gadis itu asyik menari tidak karuan.


Edward menggertakkan gigi kesal. Kemudian menuruni tangga dengan tergesak-gesak. Dia langsung mematikan alat vinyl milik Jasmine.


"Ini bukan waktu yang tepat untuk memutar musik!" geram Edward. Selanjutnya dia kembali masuk ke dalam kamar. Membanting pintu dengan keras, hingga membuat Jasmine tersentak kaget.


Bukannya takut atau kesal, Jasmine malah mengukir senyuman. Dia senang dapat menyaksikan Edward muncul di hadapannya lagi. Entah kenapa Jasmine merasa rindu dengan sikap menyebalkan lelaki tersebut.


Setelah selesai membersihkan rumah, Jasmine melanjutkan kesibukannya dengan memasak. Dia berniat membuatkan Edward makan siang. Kebetulan juga hari sedang libur. Jasmine juga tidak ada rencana apapun selain pergi ke rumah sakit nanti malam.


Tok...


Tok...


Tok...


"Tuan, aku membawakan makan siang." Jasmine mengetuk pintu kamar Edward. Ditangannya terdapat nampan berisi makanan. Tetapi seberapa lama dirinya memanggil, Edward tidak kunjung merespon.


Berbeda dari sebelumnya, kini Edward menjadi dingin dan pendiam. Kemungkinan itu terjadi karena dia sedang merasa stress. Bagi Edward, menyendiri adalah obat terbaik. Dirinya juga sama sekali tidak berminat untuk berkunjung ke psikiater.


Jasmine tidak menyerah mendatangi Edward. Dia sudah lebih dari tiga kali mengetuk dan memanggil. Semuanya dilakukannya dengan kalimat permohonan yang lembut.


"Baiklah kalau begitu, aku akan meletakkan makanannya di atas nakas. Tuan bisa mengambilnya sendiri nanti," ujar Jasmine yang pada akhirnya menyerah. Dia beranjak ke halaman belakang. Berniat memberi makan kuda yang ada di kandang.


Tanpa sepengetahuan Jasmine, Edward keluar dari kamar. Lalu mengambil makanan yang tadi diletakkan Jasmine di atas meja. Edward segera membawa makanan tersebut ke kamar dan memakannya. Dia makan dengan lahap karena masakan Jasmine sangat enak. Sampai akhirnya Edward lupa diri, kalau di atas nampan, Jasmine tidak memberikannya satu gelas pun minuman.


"Sial! Apa gadis itu sengaja melakukannya?" keluh Edward. Dia merasa makanan yang ditelannya mengganjal didada. Edward butuh minuman secepat mungkin. Beberapa kali tangannya menepuk-nepuk dada, agar makanan yang ada dapat segera turun ke dalam perut.


Edward lekas-lekas pergi ke dapur. Tanpa pikir panjang, dia langsung mengambil air mineral untuk diminum. Edward meneguk air putih sampai habis. Kebetulan dia berdiri di depan jendela. Jadi pandangannya tertuju ke arah halaman belakang. Atensinya otomatis tertuju ke kandang kuda. Edward tiba-tiba merasa khawatir. Terutama saat melihat Jasmine mengeluarkan salah satu kuda dari kandang.


"Gadis itu! Dia memang mencoba main-main!" Edward menghempaskan gelasnya dengan kesal. Lalu beranjak pergi ke halaman belakang. Dia berusaha menghentikan tindakan Jasmine. Sayangnya usahanya gagal, karena Jasmine terlihat sudah memakaikan pelana ke atas punggung kuda.


Edward cemas Jasmine akan kena amukan kuda seperti dirinya beberapa waktu lalu. Jujur saja, Edward tidak percaya kalau Jasmine ahli berkuda. Baginya gadis tersebut terlalu lemah untuk mengatasi hewan kuat seperti halnya kuda.


Langkah dilajukan oleh Edward. Dia mendatangi Jasmine. Sebelum dirinya sempat berteriak, Jasmine telah terlanjur menaiki kuda.


"Hentikan, Jasmine! Apa kau gila?!" timpal Edward. Berusaha mencegah.


"Tu-tuan!" Jasmine turun dari punggung kuda. Dia langsung menatap Edward sambil memegangi kuda.


"Masukkan kembali kudanya!" titah Edward. Dia menjaga jarak dengan kikuk.


"Bisakah Tuan mengizinkanku untuk menaikinya?" bukannya menuruti perintah Edward, Jasmine malah mengatakan kalimat permohonan.


Edward berseringai remeh. Ia menatap Jasmine tak percaya. "Apa kau benar-benar bisa menaiki kuda? Kau pikir aku percaya dengan penuturanmu tempo hari?" timpalnya.


"Jadi Tuan tidak percaya aku bisa menaiki kuda?" Jasmine justru balas bertanya. Kedua alisnya nampak terangkat dalam waktu bersamaan.


"Tentu tidak!" pungkas Edward.


"Kalau begitu, izinkan aku membuktikannya sekarang. Aku akan tunjukkan kepada Tuan." Jasmine kembali naik ke atas punggung kuda. Duduk tepat di atas pelana yang sudah terpasang.


"Kau benar-benar gadis desa yang gila! Jika terjadi apa-apa, kumohon jangan salahkan aku!" Edward mengangkat kedua tangan ke udara. Melemparkan tatapan jengkelnya kepada gadis yang kini siap menjalankan kuda.


Catatan kaki :


Pelana : Tempat duduk yang ada di atas punggung kuda.