
...༻♚༺...
Jasmine langsung menundukkan kepala. Ia tidak berani menatap ke arah Claris. Dirinya hanya bisa memainkan jari-jemarinya akibat merasa takut.
"Edward! Apa kau tidak mengajarkan dia tata krama? Bagaimana berbicara dengan keluarga kerajaan, lalu bagaimana cara berpakaian yang baik. Kau bahkan tidak memberinya seragam khusus!" timpal Claris dengan dahi berkerut.
"Aku membiarkannya memakai baju biasa, karena itu menurutku agak berlebihan." Edward menerangkan singkat.
"Apa kau bilang? Berlebihan? Kau seharusnya melihat sikapmu selama beberapa tahun ini?" Claris mendadak bangkit dari duduk. Menatap tajam Edward seakan murka. "Kau adalah satu-satunya Pangeran yang membuat semua orang kerepotan! Kau--"
"Claris! Hentikan!" James dengan cepat menghentikan ucapan Claris. Menurutnya Claris sudah bersikap berlebihan. James memegang pelan pundak Claris, namun dirinya langsung mendapatkan tepisan.
"Berhentilah, James! Kau selalu saja membela keponakanmu!" geram Claris sinis. Kemudian melangkah cepat keluar dari rumah. Dia hendak menenangkan diri sebentar.
"Maafkan istriku, Ed. Kau tahu dia selalu begitu. Claris sebenarnya sangat mengkhawatirkanmu," tutur James sembari duduk kembali.
Ronald yang juga kebetulan masih di sana, memberikan sinyal kepada Jasmine agar segera pergi dari ruang tengah. Jasmine lantas mengangguk, dan benar-benar beranjak menuju dapur.
Jasmine mendengus lega. Tangannya mengelus dada beberapa kali. Rasanya tadi jantungnya hampir copot. Reputasi Claris yang tersebar di media, ternyata tidak sesuai dengan kenyataan. Sebab kebanyakan media menyatakan kalau Claris merupakan Putri yang baik hati dan ramah.
Tidak lama kemudian, James dan Edward tampak berjalan melewati dapur. Jasmine otomatis membungkuk hormat.
Ronald yang berjalan lebih dulu, segera berlari menghampiri kandang kuda. Kemudian mengeluarkan salah satu kuda dari kandang. Edward terlihat langsung menaiki kuda.
'Edward ternyata sedang pamer,' batin Jasmine sembari tersenyum bangga. Karena dia merasa telah berhasil mengajari Edward berkuda.
James nampak memberikan tepuk tangannya untuk Edward. Claris bahkan ikut melihat kelihaian Edward. Rekahan senyum perlahan terpatri diwajahnya. Claris sebenarnya peduli kepada Edward. Hanya saja dia punya cara yang salah dalam menunjukkan kasih sayangnya.
Setelah puas berkuda, Edward, James, serta Claris, duduk bersama di gazebo yang ada di halaman belakang. Jasmine lagi-lagi harus memberikan minuman serta hidangan. Obrolan kembali di mulai.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi kepadamu. Tapi kau semakin membaik, Ed. Kau bahkan terlihat berbeda dari biasanya. Maksudku... agak lebih ceria," ungkap James. Lalu di akhiri dengan senyuman yang memperlihatkan deretan gigi-giginya.
"Mungkin Edward mendatangi Psikiter yang hebat. Bukankah begitu?" komentar Claris seraya menyesap teh.
Jasmine yang sibuk menghidangkan makan siang, dapat mendengar semua pembicaraan. Tetapi dia sudah jera untuk ikut bersuara. Jasmine berpikir, jika dirinya nekat melakukannya, mungkin Claris akan melemparkan sepatu ke wajahnya. Sikap Claris kepadanya, bak ibu tiri dalam cerita Cinderella.
Sebelum bicara, Edward melirik ke arah Jasmine. Ia tak mau Jasmine mendengar lebih jauh mengenai gangguan mental yang di alaminya.
"Aku tidak mau membicarakan perihal Psikiater. Yang jelas, aku merasa lebih baik dari sebelumnya. Aku rasa itu karena seseorang," ujar Edward. Bola matanya sekali lagi mencuri pandang kepada Jasmine. Dia berbicara sambil melipat kedua tangan di dada.
"Apa kau bilang?" dua alis James terangkat. Dia sedikit terkejut mendengar perkataan Edward.
"Hmm... Kau sepertinya sedang jatuh cinta?" tebak Claris sembari mengibaskan kipas lipatnya. Jujur saja, Claris seolah sedang mendapat kabar baik di tengah gelap gulita.
Edward tidak menjawab. Dia lebih memilih menghirup teh buatan Jasmine dengan mulutnya.
"Mana salad apelnya?" tanya Claris dengan ekspresi serius.
"A-aku tidak membuatnya..." gagap Jasmine dengan nada sumbang.
"Apa?!" Claris terperangah. Dia berdiri sembari berkacak pinggang. Mengalihkan pandangannya ke arah Edward.
"Ed, apa kau tidak memberitahunya mengenai hidangan wajib keluarga kerajaan?!" timpal Claris, yang kini bicara kepada Edward.
"Claris, hentikan. Pelayan ini masih baru. Selain itu, Edward juga hanya membutuhkannya untuk mengurus rumah. Kau harusnya memuji gadis ini, dia melakukan semua pekerjaan sendirian." James melakukan pembelaan untuk Jasmine.
"Ah benar! Itu karena kau mengerjakan segalanya sendirian!" Claris bertepuk tangan satu kali. Dia tiba-tiba mendapatkan ide cemerlang dalam benaknya. "Aku akan mencarikan pelayan untukmu, Ed. Kasihan pelayanmu ini sendirian," lanjutnya. Mengungkapkan pendapat.
"Tidak!" tolak Edward tegas. Dia memukul meja dengan kedua tangan. Mimik wajahnya tampak marah.
James yang melihat sontak khawatir. Dia takut Edward tidak mampu mengendalikan amarah. James segera bertindak dengan cara memegang erat lengan Edward.
"Kau tahu aku tidak suka keadaan rumah yang terlalu ramai!" pungkas Edward. Memberikan pelototan tajam kepada bibinya.
"Bukankah kau sudah membaik? Bisakah kau berhenti bersikap begini?! Apa kau mau identitasmu terus disembunyikan dari publik?!" tanggap Claris. Nada bicaranya yang sengit tentu membuat Edward semakin naik pitam. James terpaksa turun tangan, sebelum Edward kehilangan kendali.
"Hentikan, Claris! Kau memperburuk keadaan. Tujuan kita ke sini adalah untuk meyakinkan Edward, bukannya malah menimbulkan pertengkaran!" ucap James.
Claris mendengus kasar. Ia mengangkat kedua tangan ke udara seakan mengaku kalah. James lalu menyuruh Edward kembali duduk. Sedangkan Jasmine, memutuskan melanjutkan pergerakan kakinya.
Jasmine menghentikan jalannya saat melihat tanaman hias di halaman belakang. Dia baru ingat, kalau dirinya belum menyiram semua tanaman. Jasmine pun berinsiatif untuk menyiram tanaman lebih dulu. Lagi pula dia sudah sepenuhnya selesai dengan urusan makan siang.
"Minggu depan Ratu akan merayakan ulang tahun. Seperti biasa, dia akan mengadakan pesta khusus. Kali ini, Ratu sangat mengharapkan kedatanganmu. Aku pikir kau pasti juga ingat dengan tanggal lahirnya," tutur James. Dia berucap saat suasana di antara Edward dan Claris sudah tenang. Jasmine yang kebetulan masih berada tidak jauh dari gazebo, bisa mendengar segalanya.
"Aku tahu. Tapi, aku masih belum siap." Edward menyahut sambil membuang muka dari James.
"Ayolah, Ed. Kau sudah melewatkan acara kerajaan selama beberapa tahun terakhir. Toh kau terlihat membaik sekarang," kata James. Mencoba meruntuhkan tembok yang dibangun Edward selama bertahun-tahun.
"Maaf atas sikapku beberapa saat yang lalu, Ed. Tapi jujur saja, aku merasa cemas dengan keadaanmu. Sebagai Bibimu, aku juga menginginkan yang terbaik untukmu. Aku tidak mau pihak kerajaan terus menutupi jati dirimu. Itu akan merugikanmu. Kau masih muda dan tidak mengerti banyak hal." Sekarang Claris bersuara dengan nada lembut.
"Pilihanku tetap tidak!" tegas Edward tak peduli.
"Bagaimana kalau kau ajak gadis yang kau suka ke istana? Apa itu akan membuatmu bersemangat?" tawar Claris. Ekspetasinya mengenai gadis yang disukai Edward sangat tinggi. Dia yakin Edward pasti jatuh cinta pada gadis yang cantik dan kaya raya.
Deg!
Baik itu Edward maupun Jasmine, keduanya sama-sama kaget. Jantung mereka berdetak kencang dalam waktu bersamaan. Meskipun begitu, Jasmine masih ragu dengan perasaan Edward terhadapnya. Jadi gadis itu tidak yakin kalau Edward akan mengajaknya. Lagi pula, Edward nampaknya bersikukuh tidak ingin mendatangi pesta perayaan Ratu.
Jasmine akhirnya mampu membuat jantungnya berdetak normal lagi. Ia memilih fokus menjadi dirinya sendiri, yaitu menjadi seorang PE-LA-YAN. Benar, Jasmine hanyalah orang rendahan dimata semua keluarga kerajaan.