Jase Is Mine

Jase Is Mine
Bab 52 - Serangan Edward



...༻♚༺...


Edward mencoba tenang dan memaksakan dirinya tersenyum. Dia tidak punya pilihan lain selain mengajak Rose berdansa. Keduanya lantas berjalan ke tengah ruangan. Bergabung bersama pasangan-pasangan lainnya.


Jasmine hanya bisa menekuk wajahnya. Dia mendadak merasa ciut. Apalagi saat melihat betapa cocoknya Edward dan Rose. Belum lagi saat mendengar suara bisikan orang-orang, yang mengatakan kalau Edward dan Rose saling mencintai sejak kecil.


"Aku rasa benih-benih cinta dalam diri mereka tidak pernah hilang."


"Benar! Aku yakin Ratu pasti sangat senang sekarang. Semua orang tahu, Ratu sangat menyukai Rose dan menyayangi Edward."


Jasmine dapat mendengar pembicaraan orang-orang di sekitar. Menyebabkan dia semakin sadar diri. Sebenarnya apa yang selama ini dia harapkan dari cinta seorang bangsawan? Sudah jelas gadis biasa dan kolot sepertinya tidak pantas. Apalagi Edward akhir-akhir ini memang berusaha terus menghindarinya. Mungkin salah satu alasannya, karena Edward lebih tertarik kepada Rose.


"Jasmine, kenapa kau melamun saja? Cepat bantu rekan-rekanmu mengambil menu makanan!" titah Inggrid yang tiba-tiba muncul. Jasmine lantas pergi mengikuti arahannya.


Sementara Edward yang sibuk berdansa, tidak tahu harus bagaimana. Dia sudah berjanji kepada Jasmine untuk tidak bersikap kasar lagi. Sekarang dirinya terjebak dengan gadis cantik yang sama sekali tidak membuatnya tertarik. Edward kian gelisah, saat menyaksikan Jasmine beranjak dari ruangan. Perhatian Edward tidak terlepas dari Jasmine, hingga tanpa sengaja dia akhirnya menginjak kaki Rose.


"Ouch!" Rose reflek mengerang kesakitan. Edward langsung berhenti menari.


"Maaf! Kau tidak terluka bukan?" tanya Edward, berbasa-basi.


"Cuman sedikit sakit. Kau ternyata masih tidak berubah, Ed. Selalu saja--"


"Menyingkirlah, Ed! Sekarang giliranku." Sean tiba-tiba datang. Ia mendorong Edward untuk menjauh. Nampaknya Sean ingin menggantikan posisi Edward sebagai teman dansa Rose.


"Sean! Sepertinya aku tidak bisa melanjutkan lagi." Rose dengan cepat menolak Sean. Dia ingin mengobrol bersama Edward lebih lama. Tetapi Edward malah berjalan semakin jauh.


"Kenapa begitu? Kau tidak terluka bukan?" balas Sean cemas.


Edward memutuskan keluar ruangan pesta. Ia berniat mencari Jasmine yang mendadak menghilang.


Edward mencari Jasmine kemana-mana. Tempat terakhir yang didatanginya adalah dapur. Dimana para koki dan pelayan sedang sibuk dengan banyak pekerjaan.


Ceklek!


Edward membuka pintu dapur secara mendadak. Semua pasang mata sontak tertuju ke arahnya. Setelah menyadari kalau yang datang adalah Edward, barulah semua orang membungkuk hormat.


"Yang mulia! Apa yang anda lakukan di sini? Semua orang berada di pesta," seru Inggrid. Dia berjalan menghampiri dengan perasaan gelisah. Saat itulah Jasmine baru masuk dari arah pintu belakang. Gadis tersebut sudah menyelesaikan tugasnya untuk membuang sampah.


"Jasmine!!" pekik Edward. Menyebabkan Jasmine tersentak kaget. Kini dia lagi-lagi harus menjadi pusat perhatian. Apalagi oleh Inggrid yang langsung memasang pelototan tajam.


Jasmine gelagapan. Dia terpaksa berlari ke hadapan Edward. Dengan kepala yang terus menunduk ke bawah.


"Ikut denganku!" perintah Edward sembari berjalan keluar lebih dahulu. Lalu di ikuti oleh Jasmine setelahnya.


Edward membawa Jasmine ke lokasi yang sepi. Dimana tidak ada seorang pun yang dapat melihat dan mendengar pembicaraan mereka. Dia dan Jasmine berada di belakang istana. Di tempat yang hanya memiliki penerangan yang minim.


"Bukankah pesta belum selesai?" tanya Jasmine seraya mengamati ke arah istana.


"Memang belum selesai. Aku hanya ingin bicara kepadamu!" sahut Edward.


Jasmine otomatis mencoba melepaskan tautan bibirnya. Dia pikir, Edward sudah benar-benar gila! Apalagi mereka kebetulan sedang berada di luar ruangan. Yang mana berarti, siapa saja bisa memergoki kegiatan mereka.


"Hentikan, Ed!" ujar Jasmine. Dia telah berhasil melepaskan tautan bibirnya dari mulut Edward. Deru nafasnya bergerak dalam tempo cepat.


"Kau mau tahu alasanku menghindarimu?" Edward menatap serius. Mengguncang kuat lengan Jasmine. "Karena aku takut tidak bisa menahan diri, Jase. Setelah yang kita berdua lakukan malam itu? Kau pikir aku lelaki tidak normal? Sekarang biarkan aku melampiaskan semuanya, oke?" ucapnya memberikan alasan. Kemudian kembali memagut bibir Jasmine tanpa permisi. Edward tidak bisa menahan diri lagi.


Dahi Jasmine berkerut. Dia tidak bisa melawan Edward yang sibuk mengekang kedua tangannya ke dinding. Lama-kelamaan, Jasmine akhirnya terbuai dengan ciuman Edward. Matanya memejam rapat sambil terus merespon sentuhan Edward yang kian meliar.


Deru nafas Jasmine dan Edward mulai tidak terkontrol. Keduanya tenggelam dalam gairah yang semakin menggebu. Hingga tangan Edward perlahan bergerak nakal ke beberapa titik tubuh sensitif Jasmine.


Edward memindah ciumannya ke ceruk leher Jasmine. Sentuhannya tersebut membuat darah disekujur tubuh Jasmine berdesir hebat.


"Ed, bisakah kau berhenti..." semakin Jasmine melawan, maka Edward semakin bergerak liar. Wajah Jasmine memerah padam. Dia hanya bisa menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Jasmine tidak pernah merasa begini seumur hidupnya. Bahkan tidak sekali pun. Rasanya salah, tetapi juga candu.


Edward akhirnya berhenti. Dia mengatur nafasnya sejenak dan berkata, "Aku ingin lebih dari ini, Jase. Kau bersedia bukan?"


"Tapi... waktunya sedang tidak tepat. Ada banyak tamu dan keluarga kerajaan di istana!" Jasmine mengingatkan.


"Aku tidak peduli!" Edward bertekad. Dia menarik tangan Jasmine untuk ikut dengannya. "Kamarmu di sekitar sini bukan?" tanya-nya sambil terus melangkah maju.


"Ya, tapi aku tidak tidur sendiri!" jawab Jasmine.


Edward tidak peduli. Dia langsung membawa masuk Jasmine ke ruangan yang baru saja ditemukannya.


"Ini kamar Inggrid!" ujar Jasmine. Edward akhirnya melepaskan tangannya, sebab lelaki itu sibuk mengunci pintu.


"Ed, bagaimana jika kita ketahuan?" cetus Jasmine dengan nada berbisik. Dia mendekat satu langkah kepada Edward yang baru berbalik.


"Tidak ada yang akan tahu. Percayalah kepadaku." Edward terus berjalan maju. Pergerakannya membuat Jasmine melangkah mundur.


Jasmine terus menhindar, hingga tidak sengaja menabrak kasur yang ada di belakang. Dia lantas kehilangan keseimbangan dan terduduk ke kasur. Membuat Edward mengembangkan senyum di wajahnya.


Kini Edward memojokkan Jasmine sepenuhnya. Badannya berada di atas tubuh Jasmine yang telentang. Keduanya saling bertukar pandang sejenak.


Edward membuka jas hitamnya terlebih dahulu. Melepas dasi kupu-kupu, lalu menanggalkan kemejanya. Selanjutnya barulah dia melepaskan kancing baju milik Jasmine. Namun pergerakan Edward harus berhenti, saat menyaksikan kegelisahan Jasmine.


"Kau tidak marah bukan?" tanya Edward. Ia hanya bertelanjang dada. Menatap Jasmine dengan penuh perhatian.


"Ti-tidak. Aku hanya takut..." lirih Jasmine yang tergagap.


"Kau takut denganku?" Edward memastikan. Dia tiba-tiba merasa bersalah.


"Tidak. Aku hanya..." Jasmine bingung mau mengatakan apa. "Lakukan saja," sambungnya pasrah.


Tanpa pikir panjang, Edward segera mengulum bibir Jasmine dengan intens. Sedangkan tangannya sibuk melepas pakaian atasan Jasmine. Hingga tampilan Jasmine sekarang hanya mengenakan bra dan rok pelayannya yang berwarna hitam.


"Ed!" Jasmine mencengkeram rambut pirang Edward. Dia tidak kuasa menahan respon dari sentuhan Edward yang entah kenapa terasa begitu nikmat. Dalam sekejap, kasur Inggrid yang tadinya rapi, telah menjadi berantakan akibat ulah Edward dan Jasmine.