Jase Is Mine

Jase Is Mine
Bab 30 - Jase Is Mine!



...༻♚༺...


"Tu-tuan... a-apa yang anda--" sekali lagi kalimat Jasmine terpotong akibat ulah Edward. Sebab Jasmine mengira Edward akan menciumnya lagi. Tetapi ketika gadis itu menyaksikan Edward mengambil daun di rambutnya, saat itulah Jasmine merasa salah tingkah. Wajahnya memancarkan rona merah.


'Kau mempermalukan dirimu sendiri, Jase.' Jasmine merutuk dirinya sendiri dalam hati.


"Setelah ini buatkan aku sarapan!" ujar Edward. Ia berusaha mengabaikan rona merah yang dilihatnya pada wajah Jasmine. Padahal dari lubuk hati, Edward merasa senang bukan kepalang melihat Jasmine salah tingkah dengannya.


'Apa Jasmine menyukaiku juga?' batin Edward menduga-duga. Senyuman langsung terukir diparasnya.


Edward segera melangkah masuk ke rumah. Sedangkan Jasmine masih terdiam di tempat. Kedua tangannya reflek menutupi wajah karena merasa malu.


Setelah puas merasakan malunya, Jasmine kembali melanjutkan pekerjaan. Dia menyelesaikan menyiram tanaman, lalu membuatkan sarapan untuk Edward. Selanjutnya Jasmine bersiap-siap pergi ke kampus.


Jasmine pergi tanpa sepengetahuan Edward, karena dia merasa sudah terlambat. Jasmine menggunakan transportasi umum seperti biasa.


Jasmine mendengus lega. Sebab dia tidak datang terlambat. Jadi Miss Kelly tidak akan bisa mengusirnya dari kelas. Jasmine langsung sibuk mengurus rancangan bajunya.


Tiga jam berlalu. Jasmine baru saja keluar dari kelas. Dia sekarang sendirian. Joy yang merupakan teman barunya, benar-benar tidak berminat dengan kuliah. Jasmine berpikir, harusnya Joy tidak perlu bermalas-malasan seperti itu.


"Aku menunggumu di kantin, Jase. Datanglah ke sini!" seru Joy dari seberang telepon. Panggilannya baru saja diangkat oleh Jasmine.


"Baiklah, aku sedang dalam perjalanan." Jasmine menjawab tenang. Lalu mengakhiri panggilan lebih dahulu. Seorang lelaki mendadak muncul di sampingnya. Dia tidak lain adalah Jake.


"Jase, kau mau ke kantin?" tanya Jake ramah. Jasmine lantas menjawab dengan senyuman sekaligus anggukan.


"Kalau begitu aku akan bergabung denganmu. Kebetulan semua teman-temanku pergi ke tempat lain. Aku malas pergi ke tempat makan di luar dari kampus," jelas Jake sembari menyamakan langkah dengan Jasmine.


"Baiklah." Jasmine setuju saja. Lagi pula Jake bukanlah seorang pengganggu baginya.


Sesampainya di kantin, Jasmine dan Jake langsung bergabung bersama Joy. Mereka saling mengobrol bersama. Jasmine dan Jake sesekali akan tertawa, jika Joy menceritakan pengalaman lucunya.


Di sisi lain, pada tempat yang sama. Edward baru saja melangkah memasuki kantin. Perhatiannya langsung terfokus ke arah Jasmine. Melihat ada Jake juga ada bersama gadis itu, Edward hanya bisa memutar bola mata kesal.


Edward memutuskan duduk sendiri. Dia terus melakukan pengamatan. Jasmine tampak begitu akrab dengan Jake. Keduanya seolah memiliki hubungan yang spesial.


Jasmine dan Jake terlihat sudah bangkit dari tempat duduk. Sedangkan Joy memilih tinggal. Sepertinya Joy memang sengaja memberikan waktu untuk Jasmine dan Jake berduaan.


Saat hendak melangkah, Jasmine tiba-tiba terhuyung. Dia tersandung kaki meja yang ada di lantai. Jake dengan sigap memegangnya, hingga Jasmine tidak terjatuh ke lantai. Tangan Jake tampak menggenggam erat pinggul dan lengan Jasmine.


Edward sempat berdiri, ketika melihat Jasmine hampir terjatuh. Tetapi dia harus mengurungkan bantuan, saat Jake lebih dahulu membantu Jasmine. Edward sekali lagi merasa kesal. Dia jelas sedang cemburu.


Edward sadar, jika dirinya terus menutupi perasaan, pasti Jake akan lebih dahulu mengambil Jasmine darinya. Edward tidak mau kesalahan yang sama terulang lagi. Dia tidak akan membiarkan Jake mendapatkan gadis yang disukainya untuk yang kedua kali.


Sebelum Jake dan Jasmine pergi, Edward berinisiatif melancarkan rencana. Dia sudah membulatkan tekad. Edward sudah tidak peduli lagi dengan status Jasmine sebagai pelayan. Dirinya yakin bisa mengatasinya nanti. Yang terpenting sekarang Edward bisa memastikan Jake menjauh dari Jasmine.


"Jake!" panggil Edward. Membuat Jake langsung berhenti melangkah, kemudian menoleh. Mereka otomatis menjadi pusat perhatian semua orang di kantin. Takut kalau amukan Edward akan terjadi lagi.


Edward tidak peduli dengan orang-orang di sekitar. Dia hanya berjalan menghampiri Jake. Lalu menyodorkan tangannya kepada Jake.


"Ed... kau..." Jake tidak tahu harus merespon bagaimana.


"Aku benar-benar menyesal dengan apa yang aku lakukan tempo hari. Aku kehilangan kendali," tutur Edward. Tangannya masih terbuka untuk menyambut persetujuan dari Jake.


"Itu sudah berlalu. Kumohon jangan begitu lagi, Ed." Jake menyambut tangan Edward. Perdamaian pun terjadi. Edward melupakan harga dirinya demi Jasmine.


"Terima kasih," ungkap Edward. Pandangannya perlahan teralih ke arah Jasmine yang masih berdiri di sebelah Jake.


"Kalian tidak sedang melakukan kegiatan yang mendesak bukan?" tanya Edward dalam keadaan kedua alis yang terangkat. Alhasil Jake dan Jasmine menggeleng secara bersamaan.


"Kalau begitu, Jake. Bisakah aku bicara denganmu sebentar?" Edward membawa Jake masuk ke dalam rangkulannya.


"Maaf, Jase. Aku harus..." Jake merasa menyesal kalau dirinya harus meninggalkan Jasmine.


"Tidak apa-apa, Jake. Aku bisa pergi ke perpustakaan sendiri saja." Jasmine tersenyum yakin. Sebenarnya dia memang lebih senang pergi sendirian. Jasmine lantas beranjak sembari memegangi tas ranselnya.


Kini Edward membawa Jake ke belakang bangunan kampus yang sepi. Dimana tidak akan ada satu orang pun yang melihat.


"Apa perkataanmu tadi hanya sandiwara? Kau akan memukuliku lagi bukan?" timpal Jake sambil melipat tangan di depan dada. Dia tiba-tiba bersikap angkuh. Kemungkinan besar karena tidak ada orang yang melihatnya selain Edward.


"Kali ini tidak. Aku hanya akan bicara baik-baik. Ini mengenai Jasmine." Edward mengungkapkan.


"Bukankah kau menyukai Eva?" balas Jake.


"Seharusnya aku yang bertanya begitu. Aku tidak tahu kenapa kau tiba-tiba putus dengannya," sahut Edward.


"Aku bosan dengan gadis seperti Eva, Ed. Dia terlalu agresif. Jase yang sikapnya malu-malu, sepertinya lebih menarik. Dia polos dan cantik. Gadis sepertinya lemah dan mudah terpengaruh. Aku baru mengetahui juga tadi, kalau Jase belum pernah berpacaran. Coba bayangkan itu, Ed. Dia pasti belum tersentuh oleh lelaki mana pun. Sekarang aku tahu alasan kau menciumnya tempo hari." Jake menjelaskan panjang lebar.


"A-apa?" Edward terperangah. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya dia mendengar niat jahat Jake. Itulah alasan utama Edward memukuli Jake habis-habisan tempo hari. Jake merupakan sosok lelaki yang licik. Kejahatan tersembunyi dibalik semua kebaikannya.


"Kau mau bersaing denganku? Siapa yang mendapatkan Jase lebih dulu, dia--"


"Jake!" Edward sengaja memotong perkataan Jake. Dia memejamkan matanya terlebih dahulu. Sehingga amarahnya bisa terkendali.


Edward mencengkeram erat kerah baju Jake. "Jase is mine!" tegasnya. Akan tetapi Jake malah mentertawakannya.


Setelah puas tertawa, Jake melepaskan paksa cengkeraman Edward dari kerah bajunya. Memancarkan binaran mata yang menantang.


"Kau sepertinya sangat serius. Tapi aku juga tidak akan kalah darimu! Aku akan tetap mendekati Jase. Maafkan aku, Ed. Aku sebenarnya sangat berterima kasih dengan banyaknya uang yang diberikan oleh keluargamu. Aku rela dipukuli lagi olehmu, demi mendapatkan uang serta reputasi yang lebih bagus." Jake menepuk pelan pundak Edward. Dia bertingkah seperti menggurui.


"Dasar monster!" cerca Edward sambil mengepakan tinju di kedua tangan. Dia berupaya menahan keras amarahnya.


"Pukul saja aku, Ed. Maka reputasimu akan semakin memburuk. Lagi pula beberapa pukulan tidak akan membuatku mati," balas Jake. Lalu beranjak pergi begitu saja. Sebelum benar-benar jauh dia menyempatkan diri untuk berucap, "ingat Ed! Aku tidak akan mengalah. Meski kau terus mengelukan 'Jase is mine, Jase is mine' atau apalah itu. Terdengar sangat percaya diri, tapi juga menyedihkan."


Edward melampiaskan amarahnya dengan menghentakkan sebelah kaki ke tanah. Dia semakin bertekad untuk mendapatkan Jasmine. Edward tidak akan membiarkan lelaki munafik seperti Jake mendapatkan hati Jasmine.