
...༻♚༺...
Mata Jasmine membulat sempurna. Bibirnya tak bergerak sama sekali. Seolah membeku, dia tidak membalas ciuman dari Edward. Jantungnya berdebar tidak karuan. Sedangkan wajahnya memerah bak kepiting rebus. Apalagi saat Edward tak menghentikan pagutan dari mulutnya.
Parahnya Edward dan Jasmine kini menjadi bahan tontonan banyak orang. Jasmine yang baru menyadari adanya keributan di sekitarnya, bergegas mendorong Edward menjauh. Usahanya berhasil membuat ciuman Edward terlepas, namun lelaki tersebut masih bersikeras berdiri di tempatnya. Edward memegangi kedua lengan Jasmine dengan kuat. Ia justru kembali mendekat, karena berniat mengatakan sesuatu.
"Kaulah gadis itu, Jasmine..." bisik Edward. Dia tentu asal berkata. Edward hanya butuh pelampiasan dari rasa sakit hatinya. Bagi Edward, menggoda Jasmine adalah hiburan baginya. Namun permainannya sekarang sudah sangat berlebihan.
"A-apa maksudmu?..." respon Jasmine tergagap. Dahinya berkerut heran. Tidak mengerti sama sekali.
"Apa kau ingat, aku pernah bertanya perihal ciuman kepadamu. Orang yang aku suka, kaulah gadis itu," ungkap Edward. Memperpanjang dialog kebohongannya.
Jasmine terperangah tak percaya. Dia tidak tahu harus berkata apa. Sejak awal, sosok Edward memang sulit dimengerti. Keinginan untuk menampar Edward pun tidak terlintas dalam benaknya. Otak Jasmine seperti terkena serangan badai. Seolah porak-poranda dan mengalami disfungsi.
"Kau tidak perlu menjawab. Aku hanya berniat mengungkapkan apa yang aku rasakan kepadamu. Ditolak atau diterima, aku tidak peduli. Dan maafkan aku jika ini terlalu tiba-tiba. Aku tidak bisa menahannya lagi," tutur Edward sembari mengukir senyuman tidak berdosa. Atensinya dan Jasmine segera teralih ke arah banyaknya orang yang ada di sekeliling. Mereka sedari tadi menyaksikan apa yang dilakukan Edward terhadap Jasmine.
Akibat merasa malu bukan kepalang, Jasmine berlari dari keramaian. Ia pergi ke toilet, lalu mengurung diri di salah satu bilik yang ada.
Jasmine mengatur nafasnya yang bergerak naik turun dalam tempo cepat. Paru-paru dan jantungnya sedang tak terkendali. Jasmine berupaya keras untuk menenangkan diri. Satu tangannya menangkup area mulut yang telah terlanjur dinodai oleh Edward. Jasmine tak menyangka, ciuman pertamanya dilakukan bersama lelaki tersebut. Seorang pangeran, majikan sekaligus sosok yang paling dibencinya.
"Jase? Apa kau di dalam?!" Joy memanggil Jasmine dari luar. Sepertinya gadis itu sudah mengetahui semuanya.
Jasmine bergegas membuka pintu bilik toilet. Kemudian menghadapi Joy untuk memberikan penjelasan.
"Apa-apaan itu?! Bukannya dengan Jake, tapi kenapa malah dengan Edward? Apa aku yang salah lihat atau bagaimana?" timpal Joy.
"Aku juga tidak tahu! Edward tiba-tiba menabrakkan dirinya kepadaku, lalu dia..." Jasmine tidak kuasa menjelaskan sampai akhir. Dia hanya memberi kode, dengan cara menyentuh area bibirnya.
"Sial! Apa Edward menyebutkan alasannya kepadamu?" tanya Joy. Raut wajahnya terlihat serius sekali.
"Dia bilang menyukaiku. Tapi aku--"
"Apa? Benarkah?! Kau tidak bercanda bukan?! Berarti dua cowok populer di fakultas ini sama-sama menyukaimu. Astaga Jase, apa yang kau lakukan sampai mereka terpikat sekali kepadamu," ujar Joy. Dia bersemangat, sampai tidak sengaja memotong perkataan Jasmine.
"Tidak, Joy. Dengarkan aku dahulu. Aku pikir Edward tidak serius. Aku rasa dia hanya mencoba mempermainkanku," imbuh Jasmine seraya menyandarkan punggungnya ke dinding.
"Maksudmu Edward melakukannya karena ingin menjahilimu?" Joy memastikan. Jasmine lantas mengangguk untuk mengiyakan.
"Tidak mungkin. Dia tidak akan menjahili orang senekat itu. Kau harus tahu, Edward juga terkenal sebagai lelaki yang tidak tersentuh oleh para gadis. Aku mendengarnya dari beberapa orang yang berbicara, saat aku tidak sengaja melihatmu berciuman dengan Edward tadi," jelas Joy. Mengemukakan pendapatnya.
"Terserah apa katamu Joy. Tapi aku tetap tidak percaya dengan segala perkataan Edward. Sekarang yang hanya ingin aku lakukan adalah memarahi dan menamparnya!" kata Jasmine, bertekad. Salah satu tangannya membentuk kepalan tinju.
"Terlambat, kenapa kau tidak melakukannya dari tadi?" pungkas Joy sambil menggeleng heran.
"Aku sangat kebingungan tadi. Sebab aku tidak pernah berciuman sebelumnya, oke?" Jasmine tidak sengaja mengungkapkan kebenaran yang seharusnya dia rahasiakan sendiri.
"Joy, Jake tidak menyukaiku. Dia menyukai gadis lain. Jadi kau tidak perlu khawatir, Jake tidak akan bertengkar dengan Edward karena diriku." Jasmine menyahut pelan.
"Ah, begitukah? Maafkan aku." Joy merasa menyesal, kemudian melangkah lebih dekat ke arah Jasmine. "Oke, sebaiknya kita tidak perlu membahas perihal kelakukan gila Edward lagi. Lebih baik kita ke kelas, dan fokus dengan rancangan baju. Walaupun aku tidak akan bisa membuat rancangan sebagus dirimu," saran Joy sembari membawa Jasmine masuk ke dalam rangkulannya.
"Don't say that, Joy. Aku akan membantu agar kau bisa membuat rancangan baju yang bagus," balas Jasmine. Ucapannya sukses membuat Joy tersenyum gembira. Keduanya lantas beranjak pergi dari toilet.
Ketika perkuliahan telah selesai. Semua mahasiswa dan mahasiswi kembali pulang ke huniannya masing-masing. Termasuk Jasmine. Tetapi bedanya, dia memilih untuk menjenguk ibunya di rumah sakit. Memastikan keadaan Selene dan Nathalie baik-baik saja. Jasmine juga tidak lupa memberitahukan kalau kehidupan sosial serta perkuliahannya berjalan lancar. Gadis tersebut tentu menceritakan tentang teman barunya yang bernama Joy.
Setelah menghabiskan beberapa jam di rumah sakit, Jasmine memutuskan untuk pulang. Ia tidak punya pilihan lain selain pergi ke rumah Edward. Karena tempat tinggalnya sekarang memanglah di sana. Toh Jasmine juga ingin berbicara serius kepada Edward, mengenai insiden ciuman di kampus tadi.
Tak!
Tak!
Tak!
Suara sepatu boot yang dikenakan Jasmine, mengeluarkan bunyi menghentak di lantai. Ia berjalan menghampiri Edward. Jasmine mengira, lelaki itu pasti sedang duduk di sofa ruang tengah. Namun dugaannya salah, Edward ternyata tengah sibuk bergumul dengan kuda yang ada di kandang. Edward tidak sendiri, ada Ronald yang menemani di sampingnya.
"Edward!" pekik Jasmine. Dia melangkah laju mendekati Edward. Panggilannya terhadap Edward, sukses membuat Ronald merasa begitu kaget.
'Beraninya gadis itu memanggil nama pangeran tanpa hormat sedikit pun?' batin Ronald sambil melayangkan tatapan untuk memberitahu Jasmine. Akan tetapi Jasmine tidak menghiraukannya sama sekali.
Berbeda dengan Ronald, Edward malah tersenyum kala menyaksikan kehadiran Jasmine. Dia bersiap untuk kembali memulai permainannya.
"Ronald, bisakah kau pergi sebentar? Aku dan Jasmine harus bicara." Edward menyuruh Ronald beranjak. Ronald otomatis membungkukkan badan, lalu pergi menjauh.
"Maafkan aku, sekarang aku tidak mau memanggil anda dengan sebutan Tuan! Sekarang lebih baik anda jelaskan kebenaran dari insiden di kampus tadi?!" tuntut Jasmine. Memancarkan binar tajam disorot matanya.
"Ya, kau memang pantas memarahiku. Aku akan menerima apapun itu. Kau bahkan bisa menamparku kalau perlu. Diriku memang sangat keterlaluan. Maafkan aku..." Edward bertutur kata lembut. Menunjukkan mimik wajah seperti tak berdosa. Parasnya sangat bercahaya karena pantulan mentari senja. Rambut pirangnya nampak berkilau indah, kemudian sesekali beterbangan diterpa oleh angin kecil.
"Kumohon jangan berbasa-basi. Jujur saja, kepadaku!" desak Jasmine.
Edward melangkah lebih dekat. Menempelkan dahinya ke jidat Jasmine. Apa yang dilakukannya itu berhasil membuat Jasmine tenggelam dalam kebungkaman.
"Kau sudah tahu alasannya. Aku menyukaimu..." ungkap Edward lirih.
Deg!
Jantung Jasmine tidak mampu menahan debaran lebih cepat. Lagi-lagi dirinya mematung. Apalagi ketika melihat ekspresi Edward yang tampak tulus.