Jase Is Mine

Jase Is Mine
Bab 20 - Gosip



...༻♚༺...


Jasmine segera melangkah mundur. Menjauhkan dirinya dari Edward. Dia tetap tidak mau mempercayai begitu saja ungkapan pangeran yang terkenal jahil itu. Bahkan jika Edward bicara serius pun, Jasmine tetap akan memilih mengabaikan. Lagi pula apa yang dirinya harapkan? Menjalani hubungan dengan orang berderajat tinggi hanya akan menciptakan masalah baru dikehidupannya.


"Hentikanlah, Tuan..." lirih Jasmine. Menggeleng lemah. Dia kembali memanggil Edward dengan sebutan Tuan. Mencoba memberikan batasan tegas.


Edward menatap dalam manik biru milik Jasmine. "Jadi, kau mau menamparku atau tidak? Aku sudah siap menerimanya sekarang. Aku sangat tahu betapa kurang ajarnya diriku," ungkapnya.


"Lupakanlah, Tuan. Aku memaafkan anda karena Tuan sudah banyak menolongku. Terutama ibuku. Tapi berjanjilah satu hal, jangan pernah lakukan hal gila semacam tadi lagi di masa depan!" tegas Jasmine dengan kening yang mengernyit.


Edward memilih diam. Menundukkan kepala, seakan tidak bersedia menerima perjanjian yang dimaksud Jasmine. Suasana menghening dalam sesaat.


Jasmine menghela nafas berat. Dia memutuskan pergi saja. Memutar tubuh, lalu beranjak meninggalkan Edward.


Ponsel Edward mendadak berdering. Sebuah panggilan telepon membuatnya harus membiarkan Jasmine beranjak. Setelah menerima panggilan tersebut, Edward bergegas pergi dengan setelan jas rapi.



Jasmine merebahkan dirinya ke kasur. Entah kenapa pikirannya tiba-tiba teringat dengan insiden di kampus siang tadi.


Jasmine memang sempat melupakan ciuman pertamanya dalam sesaat. Namun entah kenapa sentuhan Edward masihlah terbayang. Bahkan masih terasa dibibirnya. Jasmine beberapa kali mengusap kasar area mulutnya. Dia juga menghabiskan waktu cukup lama untuk menggosok gigi. Berupaya menghilangkan sensasi ciuman pertamanya.


'Kenapa harus Edward!' keluh Jasmine dalam hati.


Jika biasanya kebanyakan gadis melakukan ciuman pertama dengan orang yang dicinta, maka semuanya berbanding terbalik pada Jasmine. Ia benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Semuanya sudah terlanjur terjadi. Jasmine tidak bisa lagi melakukan ciuman pertama dengan lelaki yang dicintainya.


Jasmine mencoba memaksakan diri untuk tidur. Akan tetapi tidak bisa. Dia lantas beringsut untuk duduk ke ujung kasur. Mengacak-acak rambut dengan perasaan kesal. Saat mendongakkan kepala, atensi Jasmine tertuju ke alat vinyl-nya yang rusak.


Jasmine berdiri dan membawa alat vinyl-nya keluar kamar. Berniat menyibukkan diri untuk memperbaiki benda pemberian ibunya tersebut. Mungkin saja aktifitasnya itu dapat membuatnya melupakan ciuman Edward.


Di bawah cahaya lampu terang meja makan, Jasmine sibuk berjuang memperbaiki alat vinyl. Pendengarannya perlahan menangkap suara langkah kaki yang kian mendekat. Meskipun begitu, Jasmine mengabaikan suara tersebut.


Edward baru pulang. Dia yang tadinya rapi dengan setelan jas, dasi dan kemeja, kini tampak berantakan. Edward melepas jas hitamnya, lalu membiarkan kemejanya keluar dari celana. Lelaki itu meletakkan jas hitam ke salah satu bahunya. Berjalan pelan mendekati Jasmine.


"Apa yang kau lakukan malam-malam begini?" tanya Edward. Berdiri tepat di samping Jasmine. Dagunya bahkan tidak sengaja menyentuh rambut Jasmine yang tergerai.


"Tu-tuan!" Jasmine terkejut dengan betapa dekatnya Edward. Untuk yang sekian kalinya, lelaki itu sukses membuat Jasmine hampir jantungan.


Jasmine reflek melangkah mundur untuk menjauh. Tetapi karena terlalu tergesak-gesak, salah satu kakinya tidak mampu menyeimbangkan gerakan tiba-tibanya. Sehingga Jasmine terhuyung ke belakang. Untung saja Edward memegangi tangannya dengan sigap, kemudian menarik Jasmine untuk berdiri tegak kembali. Jarak wajah di antara keduanya hanya helat beberap senti.


Mata Jasmine terbelalak, dalam keadaan nafas yang tak terkontrol. Tanpa sadar dia menyorot ke arah bibir Edward. Bayangan tentang insiden di kampus tadi, menyebabkan Jasmine langsung menjaga jarak dari Edward. Dia menundukkan kepala, mencoba menyembunyikan rona merah dengan rambut panjangnya.


Sementara Edward, berusaha keras menahan tawa. Sikap gugup Jasmine memang selalu berhasil menghiburnya. Edward menggigit bibir bawahnya sembari menatap gemas Jasmine.


"Apa kau sudah mendengar tentang gosip kita berdua?" imbuh Edward seraya menarik kursi, kemudian mendudukinya.


"Kau tidak memeriksa ponselmu setelah insiden di kampus tadi?" bukannya menjawab, Edward malah bertanya balik.


Jasmine menggeleng. Lalu berlari masuk ke dalam kamar. Memeriksa pesan yang masuk di aplikasi ponselnya. Benar saja, dia memang menemukan gosip tentang dirinya dan Edward. Bukan hanya itu, Jasmine juga melihat foto ciumannya dengan Edward telah tersebar luas.


Raut wajah Jasmine berubah menjadi cemberut. Ia segera menghampiri Edward. Lelaki itu tampak memperhatikan alat vinyl milik Jasmine yang rusak.


"Tuan harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah terjadi!" geram Jasmine.


"Aku telah minta maaf kepadamu. Aku juga tidak lupa memintamu untuk menamparku. Tapi tadi sore kau dengan cepat memaafkanku." Edward terlihat biasa saja, bahkan tidak menoleh sedikit pun ke arah Jasmine. Dia justru asyik bergumul mencari celah untuk memperbaiki alat vinyl.


"Lagi pula itu hanya ciuman. Orang-orang hanya menganggap kita berpacaran!" lanjut Edward.


Jasmine tercengang. Kedua tangannya membentuk bogem akibat merasa saking kesalnya. Namun gadis tersebut tidak tahu cara mengungkapkan amarahnya lewat kata-kata. Alhasil dia dan Edward saling terdiam cukup lama.


Hembusan nafas kasar dikeluarkan Jasmine dari mulutnya. Ia berupaya mengambil vinyl miliknya dari Edward. Tanpa sepatah kata pun, Jasmine menarik benda kesayangannya itu dari hadapan Edward.


"Apa-apaan! Aku hampir berhasil memperbaikinya!" protes Edward. Tetapi Jasmine sama sekali tak peduli. Gadis tersebut mengangkat alat vinyl-nya sekuat tenaga, lalu mencoba melangkah menuju kamar.


"Apa kau marah karena gosip yang tersebar?!" timpal Edward sambil menahan pergerakan Jasmine. Usahanya berhasil membuat langkah Jasmine terhenti.


"Aku akan memperbaikinya. Kau tenang saja. Aku akan katakan kalau kita hanya berteman. Bila perlu aku akan mengatakan yang sejujurnya, kalau kau sudah mencampakkan diriku!" ucap Edward. Merebut kembali alat vinyl dari tangan Jasmine. Kemudian kembali meletakkannya ke atas meja.


"A-apa?" Jasmine heran dengan penuturan Edward. Seberapa keras lelaki itu mengungkapkan perasaan kepada dirinya, Jasmine tetap merasa tidak percaya.


Edward sengaja mengabaikan Jasmine. Ia malah mengukir senyuman karena sukses memperbaiki alat vinyl yang rusak.


"Cepat serahkan piringan hitamnya!" titah Edward.


Jasmine mendengus kasar. Walaupun begitu, dia tetap menuruti perintah Edward. Apalagi ketika suruhan itu terkait sesuatu hal yang berhubungan dengan alat vinyl-nya.


"Apakah alat vinyl-nya bisa berguna lagi?" Jasmine datang mendekati Edward. Menyerahkan piringan hitam agar segera diputar di alat vinyl.


"Kita akan lihat!" sahut Edward sembari memasang piringan hitam ke alat vinyl. Dia dan Jasmine terpaku menatap alat pemutar musik jadul tersebut. Perselisihan yang sempat terjadi beberapa menit lalu, secara alami memudar begitu saja.


Sekian lama menunggu, alat vinyl tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Menyebabkan Edward harus bertindak kembali untuk mencari kerusakannya.


"Jasmine, kau harus tahu kunci utama saat dirimu tinggal di kota," celetuk Edward.


Jasmine hanya membisu. Bola matanya perlahan tertuju ke arah Edward. Pertanda dirinya penasaran dengan penjelasan Edward lebih lanjut.


"Tidak peduli dengan perkataan orang-orang terhadapmu. Itulah yang harus jadi prinsip hidupmu saat tinggal di kota. Jadi, aku sarankan, abaikan saja gosip tentang kita berdua," terang Edward. Dia menatap Jasmine selintas.