
...༻♚༺...
Satu hari terlewati. Joy tiba-tiba mendapat kabar buruk mengenai perceraian kedua orang tuanya. Joy harus pulang untuk menemani adiknya yang sendirian.
"Maafkan aku, Jase. Aku tidak bisa terus menemanimu di sini," ungkap Joy sembari memeluk erat Jasmine.
"Tidak apa-apa. Justru aku sangat berterima kasih atas kehadiranmu," tutur Jasmine.
"Sudah kubilang dari kemarin. Harusnya kau pulang lebih cepat," ujar Edward. Tersenyum, seolah senang dengan kepergian Joy.
"Kau pasti senang bukan, bisa berduaan dengan Jasmine?" timpal Joy yang sudah melepas pelukan dari Jasmine. "Awas saja kalau kau membuat Jasmine menangis. Aku tidak akan segan-segan memberimu pelajaran!" tambahnya. Kemudian masuk ke dalam mobil. Joy menghilang ditelan oleh jarak.
Kini hanya tinggal Edward dan Jasmine. Sedangkan Nathalie sengaja membiarkan Edward menghibur Jasmine. Selama beberapa hari memperhatikan, sepertinya Edward memang bersungguh-sungguh mencintai Jasmine. Nathalie mempercayai Edward sepenuhnya. Apalagi ketika bisa melihat Jasmine tersenyum saat sesi makan malam kemarin.
Setelah melepas kepergian Joy, Jasmine berjalan menghampiri kandang kuda. Dia menemui Freedy di sana. Senyuman Jasmine kembali terukir saat melihat kuda kesayangannya.
Sementara itu, Edward sibuk membersihkan diri di kamar mandi. Matanya terpejam saat air dari shower menghantam seluruh badan. Entah kenapa semenjak makan malam kemarin, nama Freedy terus saja menghantui pikirannya. Bahkan saat mengenakan pakaian sekali pun, Edward masih terus penasaran. Dia merasa harus bertanya baik-baik kepada Jasmine.
Edward bergegas menemui Jasmine. Tepat di depan kandang kuda belakang rumah. Jasmine terlihat sibuk memberi makan kuda-kuda miliknya.
"Jase, aku ingin bertanya tentang suatu hal," ungkap Edward sambil berjalan mengiringi Jasmine.
"Tentang apa?" tanggap Jasmine.
"Tentang Freedy..." jawab Edward. Dua tangannya bertautan dari balik punggung.
Jasmine tertegun. Bola matanya otomatis bergerak menatap Freedy. Posisi kuda itu persis berada di samping Edward.
"Kenapa dengan Freedy?" tanya Jasmine, memastikan. Dia berusaha keras menahan tawa.
"Kumohon jangan menyebut namanya lagi di hadapanku. Jangan memikirkannya lagi. Kau masih mencintaiku bukan?" Edward bicara dengan serius. Membuat Jasmine harus melepaskan tawa.
Edward termangu. Dia bingung harus bagaimana. Dirinya sebenarnya senang melihat Jasmine bisa tertawa. Akan tetapi Edward juga heran dengan apa yang sedang ditertawakan Jasmine. Lelaki tersebut celingak-celingukan ke segala arah. Mengira Jasmine mentertawakan sesuatu di sekitar tempatnya berdiri.
Perlahan Jasmine mencoba tenang. Lalu berucap, "Ed, bagaimana kalau aku akan memperkenalkanmu kepada Freedy sekarang?"
"A-apa?! Sudah kubilang jangan menyebut namanya lagi!" geram Edward seraya menunjukkan jari telunjuk ke wajah Jasmine. Dia kelepasan untuk menahan amarah.
Jasmine tersenyum sembari menarik lengan Edward. Menyuruh lelaki itu berdiri menghadap ke salah satu kuda.
"Kau kenapa, hah?!" Edward semakin tidak mengerti. Namun dari mimik wajahnya dia tampak kesal dengan perlakuan Jasmine.
"Dia yang namanya Freedy. Salah satu sahabatku di desa Devory." Jasmine menunjuk ke arah kuda yang ada di depan Edward. Hewan tersebut masih berada di dalam kandang. Hanya kepalanya yang mencuat keluar. Jadi orang-orang bisa mengelus kepalanya dengan mudah.
Edward sontak menoleh ke arah Jasmine. Dia merasa tidak percaya. "Jangan membohongiku, Jase. Aku tidak semudah itu mempercayainya!" bantahnya.
"Aku tidak berbohong. Tanyakan saja kepada nenek dan orang-orang sekitar sini. Mereka tahu kalau Freedy adalah kuda kesayanganku," ujar Jasmine dengan semburat wajah cengengesan.
"Jadi selama ini..." Edward memejamkan mata akibat merasa malu. Belum lagi pipinya yang mendadak memerah bak kepiting rebus. Rasanya Edward ingin mengubur kepalanya ke dalam tanah. Dia merasakan kebodohan yang hakiki.
Edward hanya bisa membalikkan badan untuk membelakangi Jasmine. Dia merutuki dirinya sendiri yang terlalu berlebihan dalam hal cemburu.
"Ed, look at me!" Jasmine memutar tubuh Edward. Sekarang keduanya saling berhadapan satu sama lain.
Tanpa diduga, Jasmine mendaratkan sebuah kecupan singkat ke pipi Edward. Kakinya sedikit berjinjit.
"Kau membuat dirimu sendiri dalam bahaya, Jase." Edward memperingatkan. Sebab ciuman Jasmine sukses membuat Edward terbawa suasana. Rasa malunya seketika pudar.
"Bahaya?" Jasmine memasang ekspresi polos.
"Lupakan!" Edward tidak ingin membahas. Dia segera membantu Jasmine untuk memberikan makan hewan ternak.
Edward dan Jasmine sering menghabiskan waktu bersama. Dari mulai mendengarkan musik, sampai menyibukkan diri di rumah pohon. Mereka bercerita sambil memperlihatkan bakatnya masing-masing.
"Kau pasti akan menjadi perancang baju terkenal, Jase. Aku jamin itu!" pungkas Edward.
"Cukup sudah. Kau tidak perlu menghiburku lagi. Aku merasa semakin membaik. Mungkin hal terbaik dari sebuah duka adalah merelakan..." lirih Jasmine sembari sibuk menggambar sketsa di buku gambar. Dia kali ini mengambar pakaian yang menurutnya cocok untuk Edward.
Hari kebetulan hujan. Jadi Edward dan Jasmine sengaja berdiam di rumah pohon sampai hujan reda.
"Kau benar. Dan hal terpenting, aku ada di sini bersamamu," seru Edward. Beringsut kian mendekati Jasmine.
"Apa Ratu tidak akan marah kepadamu. Sudah seminggu lebih kau ada di sini." Jasmine menatap Edward. Berhenti menyibukkan diri dengan sketsa yang hendak dibuat.
Edward menghela nafas dan menjawab, "Kau tidak perlu mengkhawatirkan itu. Lagi pula, berkat dirimu aku merasa lebih baik. Karena kau aku tidak memandang negatif segalanya. Termasuk orang-orang terdekatku. Aku bisa menerima jati diriku karenamu, Jase." Edward menatap dalam manik biru Jasmine.
"Kau melakukan hal sama kepadaku. Terima kasih, Ed. Jika kau tidak ada, mungkin aku akan terus kesepian di sini," balas Jasmine. Menatap lamat-lamat sosok lelaki di hadapannya.
Edward perlahan menempelkan dahinya ke jidat Jasmine. Memegangi tengkuk, kemudian memagut bibir Jasmine. Mereka mengawali ciuman dengan lembut. Mata keduanya saling terpejam.
Lama-kelamaan, ciuman Edward dan Jasmine kian membara. Nafas mereka mulai memburu. Sesekali keduanya akan memiringkan kepala agar bisa lebih leluasa saling berciuman.
Jasmine melingkarkan erat tangannya ke punggung Edward. Mulutnya masih saja sibuk mengecup bibir Edward. Entah kenapa rasanya begitu candu.
Edward perlahan membawa Jasmine ke kasur kecil yang kebetulan tersedia di rumah pohon. Di sana mereka mulai melepaskan baju bersamaan. Selanjutnya, Jasmine telentang. Membiarkan Edward berada di atas tubuhnya.
Di tengah kegiatan yang semakin intim, Edward menghentikan pergerakannya sejenak. Dia tidak mau memaksa Jasmine seperti di waktu sebelumnya.
"Jase, apa kau yakin mau melakukan ini?" tanya Edward sembari mengatur nafas.
"Ya..." Jasmine mengangguk dua kali. Dia justru melayangkan kecupan ke bibir Edward. Aktifitas intim mereka kembali berlanjut.
Di tengah suara tetesan air hujan yang menghantam atap, Jasmine dan Edward melenguh bersahutan. Keduanya saling melepas masa bujangnya masing-masing.
Setelah saling menyalurkan hasrat. Jasmine dan Edward telentang bersama. Mereka masih belum mengenakan pakaian kembali. Keduanya saling terdiam.
Jasmine merebahkan kepala ke salah satu bahu Edward. Sehingga tangan Edward otomatis melingkar ke punggungnya. Mereka berusaha menenangkan diri sambil mendengarkan suara tetesan hujan yang mulai mereda.