
...༻♚༺...
Tanpa sepengetahuan Edward dan Jasmine, ada seseorang yang diam-diam mengikuti. Dia tidak lain adalah Eva, yang terlanjur penasaran dengan hubungan Edward dan Jasmine. Eva semakin ingin tahu, ketika menyaksikan sikap aneh Jasmine di kantin tadi.
Eva tidak lupa merekam segala yang dilakukan dua pasangan itu sejak awal. Alhasil dia sukses mendapatkan adegan Edward mencium bibir Jasmine.
"Sudah kuduga, ada sesuatu di antara kalian. Aku tidak akan pernah lupa panggilan Jasmine terhadap Edward saat di pesta," gumam Eva. Dia mengingat momen Jasmine ketika mabuk di pesta. Kala itu Jasmine secara gamblang memanggil Edward dengan sebutan Pangeran beberapa kali.
"Mampus sudah kau, Jase!" rutuk Eva sembari berseringai. Tanpa pikir panjang, dia segera menyebarkan video Edward dan Jasmine ke internet. Tidak perlu waktu yang lama, berita tersebut menyebar ke berbagai media.
Beberapa jam berlalu. Jasmine kebetulan menghabiskan waktu hampir seharian berada di kelas. Ia sibuk merancang baju untuk mengejar tugas yang tertinggal. Jasmine bahkan rela menghabiskan waktu sendirian. Joy sudah pulang lebih dahulu, karena ada urusan mendesak mengenai keluarga. Saat itulah Eva datang menghampiri.
"Hai, Jase. Sepertinya kau belum melihat berita hari ini." Eva menarik sebuah kursi kosong, lalu mendudukinya.
"Aku sibuk." Jasmine menjawab singkat. Dia bahkan sama sekali tidak menoleh ke arah Eva.
"Pantas saja. Makanya aku ke sini untuk memberitahumu sesuatu. Ini tentang hubunganmu dan Pangeran Edward," ungkap Eva.
Jasmine sontak menghentikan kesibukan. Dia akhirnya berbalik menatap Eva. Meminta penjelasan lebih lanjut.
"Coba periksalah ponselmu. Apa kau memang sengaja mematikan koneksi internet?" ujar Eva.
Jasmine yang merasa cemas, bergegas mengambil ponsel. Sejak tadi dia memang sengaja mematikan konseksi internet. Hal itu dilakukannya karena Jasmine ingin fokus menyelesaikan tugas kuliah.
Mata Jasmine terbelalak tatkala melihat banyak berita mengenai dirinya bertebaran di intenet. Orang-orang sedang sibuk membahas tentang siapa Jasmine. Bahkan ada wartawan yang sudah menyelidiki sampai ke desa Devory.
Terdapat juga puluhan pesan dari Edward dan Joy. Dua orang yang paling peduli kepada Jasmine tersebut tentu khawatir. Mereka berkali-kali menanyakan perihal keadaan serta tempat dimana Jasmine berada sekarang.
Jasmine tidak lupa membuka video yang dikirimkan Joy kepadanya. Dia bisa melihat jelas, kenapa berita tentang dirinya menyebar luas. Ternyata semua orang sudah melihat adegan ciuman Edward terhadap Jasmine.
Eva tergelak kecil. Ia merasa puas dapat menyaksikan kegelisahan Jasmine. Perlahan Eva bangkit dan menghampiri Jasmine.
"Sebaiknya kau menyerah saja dengan Edward, Jase. Aku yang lebih kaya darimu bahkan menyerah. Apa gadis desa sepertimu memang tidak tahu malu? Coba kau lihat komentar orang-orang di twitter. Banyak sekali orang mencemohmu di sana," ujar Eva seraya melenggang menuju pintu. Keberadaannya segera menghilang dalam sekejap. Eva merasa puas bisa melihat Jasmine menderita.
Jasmine membekap mulutnya dengan satu tangan. Dia tidak tahu harus bagaimana. Jasmine menjadi tidak fokus lagi menyelesaikan tugas kuliah.
Ponsel Jasmine berdering. Ada nama Edward tertera di sana. Dia langsung mengangkat panggilan itu.
"Jase, kau tidak apa-apa? Katakan kau ada dimana?" tanya Edward dengan nada yang terdengar seperti tergesak-gesak.
Jasmine menghela nafas panjang. "Aku tidak apa-apa, Ed!" jawabnya.
"Jangan berbohong! Aku bisa mendengar helaan nafasmu!" tukas Edward.
"Kita sebaiknya tidak bertemu dahulu. Aku tidak mau orang-orang tambah heboh mengenai hubungan kita," ucap Jasmine. Kemudian langsung mengakhiri panggilan telepon.
Jasmine duduk dengan perasaan kalut. Ia termangu di ruangan sepi yang dipenuhi banyak rancangan baju. Akibat merasa penasaran, Jasmine lantas membuka internet sekali lagi. Dirinya hendak melihat tanggapan orang-orang.
...'Jika gadis itu nanti menikahi Pangeran Edward, dia pasti akan banyak mengalami kendala di keluarga kerajaan. Aku bisa memahami gadis biasa dari kota, tetapi tidak gadis dari desa. Anggota kerajaan pasti akan kesulitan mengajarinya tentang etika kerajaan.'...
...'Aku tidak rela Pangeran Edward berkhir menikahi gadis desa kolot sepertinya! Aku harap mereka putus saja.'...
...'Seperti apa rayuannya? Sampai Pangeran Edward menatap dan menciumnya seperti itu?'...
Begitulah bunyi pesan-pesan yang dibaca Jasmine. Komentar buruk lebih menearik perhatiannya. Sebab jumlahnya lebih banyak dari pada komentar positif. Jasmine menggigit bibir bawahnya. Baru saja dia bangkit dari duka keterpurukan, sekarang dirinya harus menghadapi hal tak terduga seperti ini.
Sekali lagi ponsel Jasmine menerima panggilan telepon. Kali ini Nathalie yang memanggil. Jasmine segera mengangkat telepon.
"Jase, are you okay? I'm worry about you." Nathalie bertanya dengan aksen british-nya yang kental.
"Aku tidak apa-apa, Nenek. Aku fokus menyelesaikan tugas kuliahku," sahut Jasmine. Mencoba tenang. Ia tidak mau neneknya khawatir.
"Jase, aku sudah melihat semuanya. Orang-orang sudah mengetahui hubunganmu dan Pangeran. Aku menanyakan keadaanmu, karena aku tahu kau pasti sedang gelisah. Banyak kabar yang tidak-tidak mengenai dirimu," tutur Nathalie yang merasa cemas.
"Aku tidak apa-apa. Sungguh! Nenek sebaiknya khawatirkan dirimu sendiri terlebih dahulu," ujar Jasmine. Sekali lagi dia mengakhiri panggilan lebih dulu.
Jasmine memutuskan menyelesaikan tugas kuliah. Kemudian barulah dia keluar dari ruangan. Di koridor kampus, Jasmine langsung disambut dengan banyak pasang mata yang menatap datar.
"Hei, apa kau ingat sikap gilanya saat di pesta? Aku pikir saat itulah dia mencoba merayu Pangeran Edward."
"Ya, aku rasa begitu. Kita semua ingat, Jasmine memanggil Edward dengan sebutan pangeran beberapa kali."
Orang-orang tidak lagi berbicara dengan berbisik. Namun secara blak-blakkan. Bahkan mungkin disengaja ketika Jasmine lewat. Parahnya ada yang terang-terangan merekam dan memfoto Jasmine. Terutama Eva. Orang yang telah menyebarkan kabar hubungan Jasmine dan Edward.
Jasmine benar-benar merasa tidak nyaman menjadi sorotan banyak orang. Dia hanya mampu menundukkan kepala. Sambil memasang raut wajah sendu. Jasmine hanya ingin pergi secepat mungkin.
Dari kejauhan, Jasmine dapat menyaksikan Edward berjalan kian mendekat. Raut wajahnya nampak serius sekali. Tatapan Edward hanya tertuju ke arah Jasmine.
"Jase!" Edward memegangi lengan Jasmine. Seperti biasa, dia tidak pernah peduli terhadap orang-orang sekitar yang memperhatikan.
Jasmine tersentak. Matanya langsung memindai ke sekitar. Jelas semua orang tengah sibuk menontoni interaksi di antara dirinya dan Edward. Kenapa Edward sama sekali tidak peduli akan hal itu?
"Ed, kita bicara nanti saja. Aku merasa tidak nyaman," ungkap Jasmine seraya melepaskan genggaman Edward.
"Mau sampai kapan? Cepat atau lambat kita harus menghadapi semua ini." Edward bicara dalam keadaan berbisik.
"Aku tidak siap! Oke? Beri aku sedikit waktu." Jasmine menunjukkan ekspresi masam. Dia bergegas meninggalkan Edward.
Edward tetap mengiringi dari belakang. Ia hendak memastikan keadaan Jasmine baik-baik saja. Namun Jasmine tiba-tiba berbalik menghadap ke arahnya.
"Kumohon, jauhi aku untuk sementara, Ed. Aku hanya ingin berpikir jernih." Jasmine mengusir Edward secara halus.
"Baiklah. Hubungi aku jika terjadi apa-apa, oke?" tanggap Edward. Terpaksa membuang egonya demi Jasmine.