Jase Is Mine

Jase Is Mine
Bab 40 - Aku Mencintaimu...



...༻♚༺...


Ronald berada tidak jauh dari posisi Edward dan Jasmine. Dia merasa kaget bukan kepalang. Matanya membuncah hebat, seakan hendak keluar dari tempatnya. Dirinya tidak tahu harus berbuat apa saat menyaksikan kenyataan di depan mata.


Jasmine yang sempat terbuai dengan ciuman Edward, akhirnya berusaha menyadarkan diri. Dia mendorong Edward menjauh darinya. Hingga tautan bibirnya terlepas dari mulut Edward. Akan tetapi tangan lelaki itu dengan sigap memegangi lengannya


"Jase, aku mencintaimu..." ungkap Edward dengan raut wajah serius. Bibirnya tampak membengkak akibat ciuman yang dilakukannya tadi.


Jasmine bingung harus menjawab apa. Dia segera melepas tangan Edward darinya. Kemudian melajukan derap langkahnya menuju toilet. Jasmine hanya ingin kabur dari momen yang membuatnya merasa begitu canggung.


Edward masih mematung di tempat. Iris birunya menatap kepergian Jasmine yang telah menghilang ditelan jarak. Edward mengembangkan senyuman tipis. Ia dapat melihat jelas wajah Jasmine yang penuh akan sipu malu.


Edward melanjutkan senyumannya secara terus-menerus. Dia tidak dapat membendung perasaan bahagianya. Hingga tanpa sengaja atensinya tertuju ke arah Ronald. Edward langsung meletakkan jari telunjuknya ke depan bibir. Memberikan perintah, agar Ronald menutup mulut terhadap apa yang sudah dilihatnya. Ronald lantas mengangguk, lalu sedikit membungkukkan badan.


Edward mengenakan helm kembali. Dia lantas menaiki kuda lagi. Hal yang sempat tidak disukainya itu, kini telah berakhir menjadi sesuatu yang digemarinya. Edward sangat menikmati momen berkudanya sekarang.



Setibanya di toilet, Jasmine langsung masuk ke salah satu bilik. Dia memegangi bagian dada kirinya yang masih berdegub kencang. Rasanya tadi seperti mimpi. Dari lubuk hati yang paling dalam, Jasmine sebenarnya merasa senang.


Jasmine menghabiskan waktu cukup lama berdiam di toilet. Ketika dia ingin membuka pintu, benaknya malah selalu berusaha menghentikan. Jasmine masih enggan menemui Edward. Entah sudah berapa kali dirinya memegangi pipinya dengan telapak tangan.


'Apa yang harus aku lakukan?' batin Jasmine sembari menghentakkan kakinya ke lantai. Ia mondar-mandir di depan wastafel dalam sekian detik.


Kegelisahan dirasakan oleh Jasmine. Apalagi saat mendengar panggilan Edward dari arah luar. Jantungnya yang sempat tenang seperti air danau, sekarang kembali bergejolak.


"Jase? Apa yang kau lakukan? Ayo kita pulang!" ujar Edward dengan kapasitas suara yang cukup nyaring.


Jasmine sebenarnya sudah berdiri di depan pintu. Satu jari telunjuknya diapit oleh gigi atas dan bawah. Matanya mengerjap penuh akan keragu-raguan.


'Buka atau tidak? Buka atau tidak? Buka atau...' Jasmine seakan sedang berperang dengan sebuah pintu bercatkan putih di depannya.


"Jase?" panggil Edward lagi. "Jika kau tidak mau keluar, maka aku akan masuk ke dalam!" lanjutnya, memberikan ancaman.


Mata Jasmine membulat. Mendengar ancaman Edward, dia sontak membuka pintu toilet. Penampakan wajah Edward yang tampan segera menyambut penglihatannya. Jasmine seketika membeku.


"Kau kenapa sangat ketakutan?" timpal Edward. Dia tersenyum akibat tidak kuasa menahan gelitikan di perutnya. Sikap Jasmine benar-benar menggemaskan. 'Haruskah aku menjahilinya kembali?' batinnya yang kembali berniat membuat ulah.


"A-ayo kita pulang!" ucap Jasmine. Dia melingus begitu saja melewati Edward. Gadis itu berjalan sambil menundukkan kepala.


Edward bergegas mengejar. Kemudian memposisikan dirinya berjalan di samping Jasmine. Kedua tangannya nampak tersembunyi dari balik punggung.


"Jase, bolehkah aku tahu, kenapa kau membalas ciumanku tadi?" tanya Edward. Dia hanya ingin kepastian dari Jasmine. Mengetahui perasaan Jasmine saat mabuk, serta ciuman yang terbalaskan tadi, belumlah cukup baginya.


Jasmine mengulum bibirnya. Dia memilih bungkam. Lagi-lagi Jasmine memanfaatkan rambut panjangnya untuk menutupi rona merah diwajah. Jika terus-terusan begitu, Jasmine merasa wajahnya akan meledak di waktu yang tak terduga. Jasmine hanya melajukan pergerakan kaki, dan mengabaikan Edward untuk yang kesekian kalinya.


Jasmine dan Edward berjalan beriringan menuju mobil. Sedangkan Ronald, terlihat sudah duduk menunggu di depan setir.


Kala Jasmine hendak membuka pintu depan mobil, Edward langsung menghentikan pergerakannya. Jasmine otomatis kaget sekaligus bingung.


"Duduklah di belakang bersamaku!" ajak Edward. Dia menarik paksa Jasmine untuk mengikuti keinginannya.


Jasmine terpaksa menurut. Kini dia duduk berdampingan dengan Edward di kursi belakang. Rasa gugup kembali menyelimuti Jasmine. Gadis itu hanya dapat memainkan jari-jemarinya tanpa alasan.


Mobil telah dijalankan. Sejak awal masuk ke dalam mobil, Edward terus saja memperhatikan Jasmine dengan lirikan tajamnya. Seringai terukir diwajahnya. Edward perlahan bergeser mendekati Jasmine. Tangannya bahkan diletakkan di atas kursi yang diduduki Jasmine. Edward berniat merangkul Jasmine dalam bertahap.


Menyadari Edward kian mendekat, Jasmine lantas menjaga jarak. Sampai dia terpojok ke pintu mobil yang kebetulan tertutup. Akan tetapi Edward tidak menyerah. Dia justru duduk lebih dekat dengan Jasmine. Tangannya juga telah sukses besar membawa Jasmine masuk ke dalam rangkulan.


Jasmine merasa tidak risih terhadap perlakuan Edward. Meski merasa gugup, sejujurnya dia senang bisa terus berada di dekat Edward. Alhasil Jasmine memilih diam dan membiarkan Edward merangkul pundaknya. Posisi duduk mereka bertahan seperti itu hingga tiba di tempat tujuan.


Ketika mobil telah berhenti, Jasmine lebih dahulu keluar. Gadis itu buru-buru masuk ke dalam rumah.


"Pangeran..." panggil Ronald lirih. Edward yang sudah menaiki tangga menuju teras, sontak menoleh ke arah Ronald.


"Ada apa?" tanya Edward dengan kening yang mengernyit.


"Apa Tuan serius dengan Jasmine? Aku takut anda akan--"


"Kau tidak perlu mencemaskanku. Yang terpenting kau harus menyembunyikan semuanya dari keluarga kerajaan. Aku perlu waktu untuk meluluhkan hati Jasmine," jelas Edward. Ia dapat melihat ada kegelisahan yang terpancar di wajah Ronald.


"Aku akan menanggung resikonya. Kau tenang saja!" pungkas Edward. Kemudian melenggang memasuki rumah.


Ronald mendengus kasar. Sebenarnya dia tidak hanya mengkhawatirkan Edward, tetapi juga Jasmine. Ronald benar-benar tidak pernah menduga, Pangeran akan jatuh hati dengan gadis seperti Jasmine. Dia merasa bersalah sekaligus takut.


Di waktu yang sama, Edward baru saja masuk ke kamar. Dia langsung mandi dan mengganti pakaian. Selanjutnya, Edward memanggil nama Jasmine untuk segera mendatanginya.


Jasmine yang sedang sibuk menyiapkan makan malam, otomatis berlari menghampiri Edward. Namun langkahnya harus terhenti saat tidak menyaksikan Edward dimana-mana. Baik di ruang tengah, dan juga di depan pintu kamar.


"Tuan?" panggil Jasmine.


"Kemarilah!" sahut Edward. Suaranya terdengar dari dalam kamar.


Jasmine beranjak menaiki tangga. Lalu berhenti di depan pintu kamar Edward. Dia berusaha melupakan apa yang telah terjadi tadi siang. Jasmine berpikir, dirinya harus tetap bersikap profesional.


"Aku sudah di depan pintu, Tuan." Jasmine memberitahukan.


"Masuklah! Pintunya tidak dikunci," perintah Edward.


Jasmine tertegun sejenak. Dia sangat ingat kalau kamar Edward adalah tempat terlarang untuknya. Kenapa sekarang Edward malah mempersilahkannya masuk ke tempat itu?