Jase Is Mine

Jase Is Mine
Bab 50 - Art In Your Body



...༻♚༺...


Edward dan Jasmine sudah tiba di kamar. Kini keduanya bisa mendengus lega. Jasmine mendadak terpikir akan suatu hal. Terkait dengan ajakan Edward beberapa saat yang lalu.


"Ed, ini mengenai pembicaraanmu tadi." Jasmine berucap pelan.


"Jika kau tidak bersedia, tidak apa-apa. Sejujurnya aku tidak memaksamu," balas Edward.


"Aku tahu. Tetapi aku mau melakukannya, bila kau berhenti bersikap dingin dengan semua orang. Aku yakin, kau tidak benar-benar berniat bersikap begitu," tutur Jasmine.


Edward perlahan tertunduk. Ia tidak dapat menyangkal perkataan Jasmine. Edward memilih bungkam dan tidak berkata apapun. Saat itulah Jasmine mendekat dan memegangi pundaknya.


"Jika kau terus menutup diri, kau tidak akan pernah bisa bahagia, Ed. Aku tahu ada beberapa orang jahat di luar sana, tetapi bukan berarti tidak ada orang baik." Jasmine menatap teduh Edward. Wajah cantiknya yang polos membuat senyuman Edward mengembang secara alami.


"Entahlah... Aku tidak yakin. Tapi aku akan mencoba mempercayaimu," tanggap Edward.


"Tentu saja. Karena itulah yang diajarkan oleh ibuku. Aku pernah berada di titik sulit sepertimu. Cuman bedanya, aku tidak sendirian..." Jasmine perlahan menunduk.


Edward bergerak menempelkan jidatnya ke dahi Jasmine. Matanya memejam rapat. Hal serupa otomatis dilakukan Jasmine.


"Aku juga bisa mempercayaimu bukan?" tanya Jasmine, yang tiba-tiba menegakkan kepala.


"Kita tidak harus melakukannya, Jase. Aku hanya mengusulkan saja." Edward mengusap tengkuk tanpa alasan. Entah kenapa, kini dialah yang diserang rasa malu. Edward menyesal mengajak Jasmine melakukan hal yang tidak senonoh.


"Andai aku melakukannya... kau harus memenuhi janjimu kepadaku, oke?" ucap Jasmine. Menyebabkan Edward sontak tertegun. Dia tidak pernah melihat sisi berani Jasmine.


"Kau akan melakukannya?" Edward melebarkan kelopak matanya.


"Aku pikir... aku bisa mempercayaimu. Lagi pula, kita berdua sama-sama berkecimpung di dunia seni. Aku yakin kita bisa bersikap profesional," ungkap Jasmine. Sebenarnya keringat panas dingin sudah mengalir sedari tadi di beberapa bagian tubuhnya. Jasmine tidak tahu, kenapa dirinya bisa menjadi nekat begini. Namun dia telah terlanjur bersikap sok berani. Bahkan menantang Edward untuk berjanji.


"Baiklah..." Edward berupaya keras menutupi rona merah di wajahnya.


Suasana hening terjadi dalam selang beberapa menit. Perlahan Edward dan Jasmine mulai menanggalkan pakaiannya masing-masing. Mereka melakukannya, hingga tidak menyisakan satu helai benang pun.


Edward dan Jasmine sama-sama mematung. Awalnya terasa canggung bagi mereka. Namun Edward mencoba memberanikan diri untuk mencairkan suasana.


"Bagaimana kalau kita duduk?" ajak Edward sembari duduk lebih dahulu ke kasur.


Jasmine lantas mengikuti. Dia duduk saling berhadapan dengan Edward. Sedari tadi kepalanya terus tertunduk. Jasmine tidak berani menatap Edward.


"Bukankah tidak adil, jika hanya aku yang melihatnya?" seru Edward. Menyebabkan Jasmine perlahan mengangkat kepala. Dia akhirnya saling bertukar pandang dengan Edward. Keduanya sama-sama berusaha keras menutupi rasa gugup yang ada.


"Kau sangat cantik, Jase. Aku tidak tahu harus berkata apa," ungkap Edward pelan. Dia mengatakan apa yang terlintas dalam benaknya sedari tadi. Terutama kala menyaksikan lekuk tubuh Jasmine yang terbilang ideal. Edward sebenarnya mencoba sebisa mungkin menahan hasratnya.


"Kau juga..." balas Jasmine. Matanya mengerjap dua kali.


Edward menelan salivanya sekali. Kemudian mencoba mencari topik pembicaraan lain. Belum sempat berucap, Jasmine sudah lebih dahulu angkat bicara.


"Aku ingin memperlihatkanmu sesuatu." Jasmine berbalik badan. Lalu menyisihkan rambut panjangnya ke samping. Dia memamerkan bekas luka yang ada di bagian punggungnya.


"Apa kau pernah mengalami kecelakaan?" Edward bertanya dengan nada meragu.


"Bisa dibilang begitu. Aku terjatuh saat pertama kali menaiki kuda. Punggungku terkena ranting pohon yang cukup besar. Tetapi karena ayahku, aku bisa selamat. Padahal aku kebetulan terjatuh di tengah hutan." Jasmine bercerita sambil mengingat kenangan bersama ayahnya.


Edward awalnya mengira dirinya mampu menghadapi tampilan Jasmine tanpa busana. Tetapi pada kenyataannya, itu tidak semudah yang dia kira. Nalurinya sebagai lelaki tentu tergoda. Edward ingin cepat-cepat mengakhiri, sebelum terlanjur kehilangan arah.


"Aku pikir sudah cukup. Kau harus beristirahat ke kamarmu. Kita bertemu lagi besok!" ujar Edward seraya mengenakan pakaian lebih dahulu.


Jasmine segera ikut memakai baju. Dia memutuskan mengenakan seragam pelayannya. Karena tidak mungkin dirinya kembali ke kamar dengan menggunakan dress pemberian Edward.


"Sebenarnya aku penasaran. Kenapa kau memberikan aku dress malam ini?" tanya Jasmine. Ia telah selesai berbenah. Sementara Edward, sedari tadi hanya sibuk berdiri membelakangi Jasmine.


"Tidak ada. Aku hanya mau memberikannya." Edward berbalik dengan cepat. Kemudian mendorong Jasmine menuju pintu keluar.


"Ed, ka-kau kenapa?" Jasmine merasa terkejut. Gadis polos sepertinya tidak mengerti apa-apa perihal masalah lelaki.


"Aku tiba-tiba merasa lelah. Aku yakin kau juga begitu," jawab Edward asal.


"Tapi aku belum membawa meja trolly-ku!" ujar Jasmine. Dia menoleh ke arah meja yang harusnya dia bawa.


"Lupakan saja! Aku akan menyuruh Ronald mengurusnya." Edward bersikeras.


"Ba-baiklah kalau begitu." Jasmine mencoba memahami. Meskipun dia dirundung perasaan bingung.


"Maafkan aku, Jase. Selamat beristirahat!" kata Edward, ketika sudah berhasil mendorong Jasmine keluar dari kamar. Selanjutnya, dia langsung menutup pintu.


Jasmine mengernyitkan kening. Dia tidak tahu kenapa Edward tiba-tiba bersikap kasar kepadanya. Jasmine mulai berpikir berlebihan. Gadis itu menduga-duga alasan dibalik sikap Edward tadi.


'Apakah Edward tidak menyukai tubuhku? Apa ada yang salah?' benak Jasmine bertanya-tanya. Dia merasa malu sendiri. Lalu segera menggeleng tegas. Jasmine menampik prasangkanya yang tidak-tidak. Namun tetap saja, dia merasa penasaran.


Di waktu yang sama, Edward duduk terkapar di depan pintu. Dia mendengus lega. Apalagi ketika Jasmine sudah tidak ada di hadapannya lagi. Edward bisa kehilangan kendali, jika Jasmine berada lebih lama di sisinya.


Sebagai lelaki normal, Edward tentu tergoda. Terutama terhadap gadis yang kebetulan dicintainya. Dia sangat menyesal telah menyusulkan hal gila semacam tadi kepada Jasmine. Edward bahkan tidak menyangka, Jasmine akan menyetujui usulannya tersebut. Sekarang dia harus menanggung resikonya sendiri.


"Itu adalah seni terbaik yang pernah kulihat!" gumam Edward seraya mengatur nafas. Pujiannya diberikan kepada Jasmine sepenuhnya.



Jasmine berjalan mengendap-endap memasuki kamar. Kebetulan dia satu kamar dengan dua pelayan lainnya.


Tanpa diduga, lampu kamar mendadak menyala. Sosok Inggrid terlihat jelas berdiri di samping saklar lampu.


Jasmine tersentak kaget. Dia langsung membeku di tempat. Dua teman sekamarnya terbangun akibat lampu yang menyala.


"Kau habis dari mana?!" timpal Inggrid dengan gaya berkacak pinggang. Matanya melotot tajam ke arah Jasmine.


"A-aku..." Jasmine mencoba mencari-cari alasan yang tepat.


"Cepat katakan!! Jangan bilang kau berniat mencuri sesuatu di istana!" belum sempat Jasmine menyelesaikan ucapannya, Inggrid justru melanjutkan bentakkannya.


"A-aku mengantarkan makanan kepada Pangeran Edward, Madam. Bukankah harusnya anda sudah tahu?" terang Jasmine, berusaha tenang.


Inggrid lantas dibuat bungkam. Dia mengelus dagunya beberapa kali. Kemungkinan Inggrid lupa kalau Jasmine selama ini ditugaskan mengantarkan makan malam ke kamar Edward.


"Ya sudah. Kalau begitu, istirahatlah!" suruh Inggrid seraya mematikan lampu. Ia tidak bisa membantah, ketika tugas anak buahnya berkaitan dengan keluarga kerajaan.