Jase Is Mine

Jase Is Mine
Bab 29 - Diam-Diam Menatapmu



...༻♚༺...


Pintu terdengar dibuka. Edward bergegas mengambil tempat lilinnya, lalu berlari menuju kamar. Dia menduga kalau yang datang adalah Jasmine.


Edward sudah berada di dalam kamar. Meletakkan tempat lilin antik ke atas nakas. Kemudian langsung menghampiri cermin. Merapikan rambut serta pakaian yang sedang dikenakannya. Selanjutnya, barulah Edward keluar lagi dari kamar.


"Jasmine, kau baru pulang?" tanya Edward dengan suara lantang. Dia memasang gaya angkuhnya. Memasukkan kedua tangan ke saku celana.


"Pangeran? Ini aku, Ronald..." orang yang datang ternyata bukan Jasmine. Melainkan Ronald.


Wajah Edward secara alami memerah bak tomat matang. Dia merasa sangat malu. Satu tangannya langsung bergerak menggaruk tengkuk yang tidak gatal.


"Aku kira kau Jasmine. Ya sudah, kau bisa melanjutkan pekerjaanmu!" ujar Edward berusaha tenang. Dia segera kembali masuk ke dalam kamar.


Edward mendudukkan dirinya ke kasur. Ia mencoba sibuk untuk membaca buku. Sesekali matanya menatap keluar jendela. Berharap bisa melihat kehadiran Jasmine di depan mata.


Beberapa jam terlewat. Entah kenapa Edward merasa bosan. Padahal biasanya dia tidak pernah muak dengan kamarnya sendiri. Apalagi ketika menghabiskan waktu dengan membaca buku. Tetapi sekarang, rasanya begitu berbeda. Edward seakan menunggu-nunggu sesuatu yang dinantikannya. Kemungkinan rasa menunggu itulah yang membuatnya merasa bosan.


Edward akhirnya berjalan ke teras rumah. Ia memutuskan untuk duduk di sana. Buku yang dibawanya, diletakkan ke ubin yang kebetulan dia duduki. Tatapan Edward terfokus keluar pagar rumah. Ke jalanan dimana Jasmine sering lewati.


Gadis yang ditunggu Edward akhirnya tiba. Bukannya menyapa, Edward malah diserang rasa panik. Dia lekas-lekas masuk ke rumah. Namun sebelum itu, Edward sempat terjatuh karena kecerobohannya sendiri. Lelaki keturunan bangsawan tersebut jatuh terpeleset di lantai.


"Sial!" Edward mengumpat dirinya sendiri. Lalu segera berdiri, dan menghilang ditelan pintu.


Jasmine yang tidak tahu menahu perihal perhatian Edward, berjalan santai sambil memeluk buku sketsanya.


Langkah Jasmine harus terhenti, ketika melihat buku tergeletak di lantai. Dia otomatis mengambil buku tersebut. Membolak-balikkanya dengan penuh rasa penasaran.


"Bukankah ini milik Pangeran? Kenapa bisa ada di sini?" Jasmine mengedarkan pandangannya ke sekitar. Berupaya menemukan pemilik buku yang sedang dipegangnya.


Jasmine mengangkat kedua bahunya tak peduli. Dia lanjut menggerakkan kaki. Gadis itu langsung melanjutkan kegiatan untuk menyelesaikan pekerjaannya sebagai pelayan.


Jasmine memulai kegiatan dengan merapikan meja di ruang tengah. Meja itu selalu saja berantakan. Terutama jika Edward menghabiskan banyak waktu di sana.


"Jasmine! Buatkan aku sandwich! Aku ingin memakannya sekarang." Edward tiba-tiba muncul.


"Sandwich? Malam-malam begini?" Jasmine mengerutkan dahi.


Edward merekahkan senyuman puas sembari menghempaskan pantatnya ke sofa. "Memangnya kenapa? Apa ada alasan kau melarangku untuk memakannya?" timpal Edward sinis.


"Baiklah kalau begitu," sahut Jasmine mengalah. Dia lantas beranjak menuju dapur.


Dalam sekian menit, sandwich pun jadi. Tetapi bukannya memakan, Edward justru memperhatikan sandwich buatan Jasmine terlebih dahulu.


"Apa kau lupa memasukkan saos pedasnya?" tanya Edward dengan tatapan selidik.


"Tuan tadi tidak mengatakannya kepadaku. Tapi... bukankah biasanya sandwich tidak menggunakan saos didalamnya?" jawab Jasmine, yang diakhiri dengan pertanyaan meragu. Secara tidak langsung, dia menjawab kalau dirinya memang tidak memasukkan saos pedas ke dalam sandwich.


"Kau pikir aku peduli?" Edward melebarkan kelopak matanya. Mendesak Jasmine agar segera menambahkan saos ke dalam sandwich.


Jasmine menghela nafas panjang. Sikap menyebalkan Edward kembali menyiksanya.


Selama Jasmine di dapur. Edward sibuk menggerak-gerakkan kakinya dengan santai. Dia merasa bersemangat.


"Tuan, sandwichnya sudah aku tambahkan saos pedas. Ditambah satu sandwich yang sesuai dengan seleraku." Jasmine meletakkan hidangan ke meja.


Edward tertawa kecil melihat sandwich yang sesuai dengan selera Jasmine. Sandwich itu tampak di isi dengan telur mata sapi dan selai manis. Lebih aneh dibandingkan sandwich yang di inginkannya. Sedangkan Jasmine sama sekali tidak peduli terhadap respon Edward. Ia melamun sambil memeluk sebuah nampan.


"Baiklah. Kau bisa duduk di sofa!" titah Edward. Menunjuk sofa dengan cara menggerakkan bola matanya. "Dan sandwich menyedihkan itu untukmu!" lanjutnya.


"Terima kasih, Tuan. Tapi aku ingin pergi ke kamar saja. Aku ingin beristirahat. Tuan sudah tidak akan menyuruhku melakukan apapun lagi kan?" ungkap Jasmine.


Edward agak kaget mendengar penolakan Jasmine. Tetapi ketika dirinya melihat raut wajah Jasmine, barulah dia tersadar kalau Jasmine memang sudah lelah. Kenapa dia tidak menyadarinya sejak tadi? Jasmine terlihat sangat lesu.


"Baiklah, beristirahatlah! Dan jangan lupa untuk memakan sandwichmu," ujar Edward.


"Terima kasih, Tuan." Jasmine membungkukkan badan. Lalu mengambil sandwich pemberian Edward. Dia segera pergi memasuki kamar. Edward sekarang hanya berharap Jasmine akan baik-baik saja.



Satu malam terlewat. Pagi hari yang cerah menyapa Jasmine. Dia tidur sangat nyenyak tadi malam. Sepertinya semuanya gara-gara sandwich pemberian Edward. Satu porsi makanan tersebut sukses mengobati perutnya yang lapar tadi malam.


Jasmine beringsut ke ujung kasur. Membersihkan diri ke kamar mandi, dan langsung sibuk mengurus tanaman. Jasmine mengambil alat penyiram tanaman. Mengisinya dengan air sampai penuh. Saat itulah matanya menangkap kemunculan Edward.


Edward baru saja keluar dari pintu belakang. Dia duduk di kursi yang kebetulan ada di sana. Meletakkan salah satu kakinya ke atas lutut. Edward terlihat membaca bukunya.


Kening Jasmine mengernyit heran. Sebab baru pertama kalinya dia menyaksikan Edward membaca buku di teras belakang. Namun Jasmine mencoba tidak memikirkannya berlarut-larut. Dia lantas mulai berjalan menghampiri tanaman berbunga yang ada di halaman belakang. Lokasinya tepat berada di hadapan Edward.


Edward memang terlihat sedang membaca buku. Tetapi sebenarnya itu merupakan kilahnya saja. Tujuan Edward hanya ingin mengamati Jasmine. Memastikan gadis tersebut baik-baik saja. Dia melakukannya diam-diam. Bola matanya mengiringi pergerakan Jasmine. Edward lega, dapat melihat Jasmine nampak sehat kembali.


Edward perlahan menurunkan bukunya. Ia lelah terus menatap Jasmine dari balik buku. Edward sekarang melemparkan pandangan sembari menyandarkan punggung ke kursi. Toh Jasmine tengah tenggelam dalam aktifitasnya. Jadi Edward yakin, gadis itu pasti tidak akan sadar dengan tatapannya.


"Tuan!" Jasmine tiba-tiba membalikkan badan. Menyebabkan mata Edward membuncah hebat. Tangannya dengan cepat meraih bukunya kembali.


"Ke-kenapa?!" timpal Edward. Sempat tergagap di awal. Dia masih saja bersikap dingin. Demi menutupi perasaan yang sebenarnya.


Edward sama sekali tidak takut mengakui perasaannya kepada perempuan. Namun tidak untuk Jasmine. Gadis itu adalah pelayannya. Sebagai pangeran, Edward tentu tahu diri. Makanya Edward harus berpikir dua kali, jika ingin menjalin hubungan dengan Jasmine.


"Aku menemukan buku anda di teras kemarin. Apa Tuan sengaja membuangnya?" tanya Jasmine sambil berjalan kian mendekat.


"Ah, itu..." Edward membuang muka sejenak. Berusaha mencari-cari alasan yang tepat untuk dijelaskan.


"Sepertinya hanya terjatuh. Mana bukunya? Apa kau menyimpannya?" Edward memberikan alasan asal. Lalu sengaja mengubah topik pembicaraan. Atensinya teralih ke arah daun yang kebetulan tersangkut di rambut Jasmine.


"Aku sudah meletakkannya ke--" perkataan Jasmine terhenti, saat Edward mendadak melangkah lebih dekat.


Mata Jasmine semakin membulat. Terutama kala Edward mendekatkan wajah. Tanpa sengaja Jasmine harus menenggak salivanya sendiri. Jantungnya berdetak kencang. Jasmine terpaku pada paras Edward yang rupawan. Entah kenapa dia terdiam mematung. Berharap Edward bisa lebih dekat lagi dengannya.