
...༻♚༺...
Edward berhasil memergoki adanya kegugupan yang dirasakan Jasmine. Dia bisa mengetahui dari tatapan getir serta wajah merah yang ditunjukkan gadis itu. Edward berupaya keras menahan tawanya. Hingga saat dirinya menyaksikan semu merah Jasmine menjalar ke telinga, barulah Edward melepaskan tawa.
"Hahaha! Lihatlah dirimu. Wajahmu memerah seperti sebuah tomat yang matang," ungkap Edward disela-sela gelak tawanya.
Wajah Jasmine yang tadinya memerah karena malu, kini berubah menjadi merah akibat marah. Apalagi ketika Edward tergelak sampai memperlihatkan gigi-giginya yang putih dan rapi. Nafas Jasmine mulai tidak bisa terkontrol. Bergerak melewati relung paru-parunya dalam tempo cepat. Jasmine menatap kesal Edward sembari mengepalkan tinju dikedua tangannya.
Perlahan Edward meredakan tawanya, lalu kembali berkata, "Jangan bilang kau berpikir aku akan menciummu. Oh my godness..." Edward kini sepenuhnya berhenti tergelak. Menggeleng remeh. "Menyentuh tanganmu pun aku tidak berminat," sambungnya.
Pitam Jasmine mencapai level tertinggi. Dari pada dirinya meledakkan amarah dan membuat keributan, gadis tersebut memilih pergi. Namun belum sempat Jasmine berjalan jauh, Edward sudah memanggilnya kembali.
"Kau mau kemana?" tanya Edward. Semburat diparasnya berubah menjadi serius.
Jasmine menghela nafas panjang. Menenangkan dirinya sejenak, kemudian baru memutar badannya menghadap Edward.
"Aku akan membuatkan kopi yang baru," kilah Jasmine. Padahal dia hanya ingin pergi sejauh mungkin dari hadapan Edward. Walau Edward mempunyai wajah tampan, tetapi sikap menyebalkannya membuat simpati Jasmine pudar seketika.
"Lupakan tentang kopi. Aku sudah tidak menginginkannya lagi. Sekarang ambil kertas dan pulpen. Kau membawanya bukan?" ujar Edward seraya berjalan menuju sofa. Dia kembali duduk dengan gaya seperti sebelumnya.
Jasmine memilih diam dan menurut saja. Sudah tiga kali lebih dia mendengus kasar. Baru beberapa menit dirinya bekerja dengan Edward, lelahnya sudah terasa minta ampun.
"Duduklah di sofa yang ada di depanku ini!" perintah Edward. Memperhatikan Jasmine dengan manik birunya.
Jasmine langsung duduk. Dia tidak bertanya atau mengucapkan kata permisi terlebih dahulu. Gadis itu nampaknya benar-benar kesal terhadap apa yang sudah dilakukan Edward tadi. Jasmine kini duduk dan menyiapkan diri untuk menulis. Dirinya tidak menanyakan apapun, dan hanya menatap penuh tanya ke arah lelaki di hadapannya. Seolah menuntut Edward untuk menjelaskan, tanpa harus ditanya terlebih dahulu.
"Begitukah sikapmu kepada seorang pangeran? Kau sangat tidak sopan!" kritik Edward.
"Katakan saja apa yang harus aku lakukan." Jasmine berusaha sangat keras untuk bersabar. Dia sebenarnya sangat ingin menimpali Edward dengan perkataan yang menohok. Namun seberapa keras dia meniatkan hatinya, logika otaknya tetaplah menang.
Edward memutar bola mata malas. "Aku hanya ingin memberitahukan beberapa aturan kepadamu. Karena kita kebetulan berkuliah di kampus yang sama, aku harus membuat beberapa aturan untukmu," tuturnya.
Jasmine melebarkan kelopak mata. Mendadak terlintas dalam kepalanya tentang suatu hal. Terutama mengenai hubungannya dengan Edward sekarang. "Bolehkah aku mengusulkan sesuatu juga?" tanya-nya penuh harap.
"Aku akan pikirkan itu, setelah aku memberitahu milikku lebih dahulu," sahut Edward sembari melipat tangan didada.
"Oke, yang pertama. Jika kita berada di luar lingkungan rumah, kita tidak berhubungan seperti pangeran antar pelayan lagi. Melainkan hanya orang biasa. Kau juga harus menganggap dan memperlakukanku seperti orang biasa. Catat itu!" jelas Edward.
Jasmine tersenyum simpul sambil menganggukkan kepala senang. Dia merasa girang terhadap aturan tersebut. Setidaknya dia bebas dari suruhan Edward ketika berada di kampus nanti.
"Aku harus menyiapkan semua itu setiap hari?" Jasmine membulatkan mata. Dia tentu kebingungan dengan jadwal kerja sepadat itu.
"Tentu saja, kecuali bagian pemesanan obat. Biasanya dilakukan seminggu sekali. Ah benar, apa kau akan bekerja sambil kuliah? Apa kau benar-benar bisa melakukannya?" Edward bertanya dengan kening yang mengernyit. Dia meragu kalau Jasmine mampu mengatasi pekerjaannya sembari menjalani kuliah.
"Aku yakin bisa!" Jasmine mengangguk.
"Right. Aku yakin begitu. Lagi pula, saat kuliah, aku banyak menghabiskan waktu di luar pada siang hari. Aku biasanya pulang jam tujuh malam. Kau bisa datang sebelum jam tujuh malam, apalagi bila perkuliahan sudah dimulai nanti. Untuk sekarang serta hari libur lainnya, kau diwajibkan datang sebelum aku bangun tidur. Tapi kau tenang saja, aku biasanya bangun jam tujuh pagi." Edward menjelaskan panjang lebar.
"Jam tujuh pagi?" Jasmine memastikan. Dia merasa itu terlalu pagi. Jasmine dapat mengartikan bahwa dirinya harus bekerja sekitar jam enam pagi.
"Dua hal lagi. Dilarang mengeluarkan kuda yang ada di kandang. Lalu, jangan pernah coba-coba masuk ke dalam kamarku!" Edward memberitahukan aturan terakhirnya. "Selain dari itu, kau bisa tanyakan kepada ibumu untuk lebih jelasnya. Ada beberapa hal yang tidak bisa aku katakan sendiri," tambahnya. Kemudian bangkit dari tempat duduk. Beranjak pergi meninggalkan Jasmine begitu saja.
"Tunggu, kau tidak mau mendengar--"
"Bersihkan rumah kaca yang ada di belakang, Jasmine. Semenjak ibumu pergi, tempat itu kotor dan tidak terawat. Aku risih melihatnya!" titah Edward. Tanpa menoleh ke belakang. Sengaja memotong ucapan Jasmine. Nampaknya Edward tidak tertarik mendengar usulan dari pelayan barunya.
Jasmine segera melaksanakan tugasnya. Dia membuka pintu belakang rumah. Rerumputan dan pepohonan sukses membuat gadis itu mengembangkan senyuman lebar. Atensi Jasmine awalnya tertarik ke arah kandang kuda. Tetapi dirinya lekas menggeleng, dan memutuskan menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu.
Rumah kaca yang dimasuki Jasmine dipenuhi oleh beragam jenis tumbuhan. Kebetulan musim sekarang sudah memasuki musim semi. Jadi banyak tumbuhan yang berbunga di sana. Ada bunga anggrek, daisy, mawar, dan yang paling difavoritkan Jasmine adalah forget me not.
"Senang bertemu denganmu, beautiful!" sapa Jasmine kepada bunga favoritnya. Aksen britishnya mengental saat dia mengucapkan kalimat tersebut. Setelah puas terpaku pada bunga-bunga yang ada, Jasmine segera bergerak untuk bersih-bersih. Untuk kali ini, dia melakukannya dengan senang hati. Entah kenapa, apa yang diberikan alam terhadapnya, selalu membuat Jasmine merasa tenang dan bahagia.
Bunyi mesin mobil mencuri perhatian Jasmine. Gadis itu sontak mencari sumber suara. Dari kaca yang sudah dibersihkan, Jasmine dapat menyaksikan sebuah mobil berhenti di depan halaman rumah. Dia bisa melihatnya, karena letak rumah kaca berada di samping. Memang posisinya agak di belakang, namun dari sana, Jasmine masih mampu mengamati halaman depan rumah Edward.
Edward tampak masuk ke dalam mobil. Selanjutnya, mobil tersebut berjalan memasuki jalanan beraspal. Jasmine sekarang menyadari satu hal, Edward telah pergi. Dia lantas berlari mendekati kandang kuda. Memperhatikan semua hewan yang ada di sana satu per satu. Seperti biasa, Jasmine tidak butuh waktu yang lama untuk menjinakkan seekor kuda.
"Aku rindu jalan-jalan sambil berkuda." Jasmine bergumam sembari mengedarkan pandangan ke sekitar. Memastikan tidak ada orang yang melihatnya. Dia bingung mau menuruti keinginannya atau menuruti aturan Edward.
Setelah berpikir keras, Jasmine akhirnya memilih menyelesaikan semua pekerjaan saja. Dia akan menaiki kuda di lain waktu. Jasmine melakukan pekerjaannya dengan baik. Dari mulai mencuci, memasak, dan membersihkan rumah. Dia hanya melewatkan kamar Edward untuk dibersihkan. Dirinya mengetahui kamar Edward, karena kebetulan pintunya sedang dikunci. Jasmine yakin, Edward memang sengaja melakukannya.
"Cih, dia pikir aku akan berani menerobos masuk ke kamarnya? Enak saja, melihat wajahnya pun aku sudah malas. Apalagi masuk ke kamarnya!" gumam Jasmine. Dia telah menyelesaikan tugasnya. Kini gadis tersebut melangkah pergi. Jasmine memilih pulang ke kost-kostan-nya. Perlu memakan waktu sekitar lima belasan menit untuk sampai ke sana.
Setibanya di kost-kostan, langkah Jasmine langsung terhenti. Dia terperangah menyaksikan keadaan kost-kostannya ramai akan banyak orang. Musik berdentum dan ada lampu kerlap-kerlip yang menghiasi tiang rumah.
"Apa mereka berpesta?" Jasmine mematung di tempat. Menatap kosong ke arah hunian kost-kostannya. Dia masih berusaha mencerna apa yang dilihatnya.