Jase Is Mine

Jase Is Mine
Bab 44 - Menjadi Pusat Perhatian



...༻♚༺...


Evelyn tersenyum menyaksikan interaksi yang terjadi di antara Edward, Sean, dan Peter. Dia adalah satu-satunya orang yang tidak tahu, mengenai kebencian Sean dan Peter terhadap Edward.


"Tunggu, tunggu." Claris tiba-tiba berceletuk. Memecah keheningan yang sempat terjadi. Semua orang yang tadinya sibuk makan, harus mengalihkan perhatian kepadanya.


Claris memicingkan mata. Memperjelas wajah gadis yang tidak asing baginya, yaitu Jasmine.


"Edward, bukankah dia pelayan yang ada di rumahmu? Kenapa dia ada di sini?" tanya Claris. Jari telunjuknya mengarah kepada Jasmine. Kini atensi semua orang teralih ke arah Jasmine. Para keluarga kerajaan yang berjumlah sekitar dua belas orang itu, menoleh bersamaan ke arah Jasmine. Pergerakan kepala mereka persis seperti anak-anak kucing yang seolah terhipnotis akan suatu hal.


Jasmine sontak membeku. Dia seakan mendapat serangan sinar laser dari banyak pasang mata. Perasaan gugup langsung menyelimutinya.


"Benar. Namanya Jasmine. Dia katanya ingin ikut andil membantu acara ulang tahun Ratu. Selain itu, Jasmine sudah lama bermimpi untuk berkunjung ke istana." Edward memberikan alasan panjang lebar.


Jasmine terpelongo. Dia tentu bingung dengan pernyataan Edward yang jelas bukanlah fakta. "A-apa? Tapi bukankah..." Jasmine kelepasan. Dia tidak sengaja ikut masuk ke pembicaraan. Tangannya reflek menepuk mulutnya sendiri. Sekarang bukan hanya keluarga kerajaan yang melotot kepadanya, tetapi juga rekan pelayannya. Jasmine lekas menunduk dan mengulum bibirnya.


"Kinerja Jasmine sangat bagus, Yang Mulia. Dia sangat banyak membantuku." Edward menoleh kepada Evelyn. Mencoba mengalihkan pembicaraan. Dia tidak mau Jasmine kena masalah karena hal sepele.


"Aku tahu..." Evelyn melemparkan senyuman kepada Jasmine. Dia bangga, Jasmine dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. Evelyn tidak menyangka, Jasmine berhasil membuat keadaan Edward lebih baik. Cucu kesayangannya itu bahkan mulai berbicara lembut kepadanya. Padahal Edward hanya ingin menyelamatkan Jasmine. Dia sama sekali tidak berminat membuat hubungannya lebih dekat dengan Evelyn.


Claris lantas terdiam. Dia tidak dapat berbuat apa-apa, ketika Evelyn sudah mendominasi pembicaraan. Tetapi tidak untuk anggota keluarga kerajaan lainnya.


"Dia terlihat sangat muda," komentar Laura sembari memiringkan kepala. Ia menilik Jasmine dari ujung kaki hingga kepala.


"Ya, berapa umurmu?" Sean ikut menyahut. Ia menatap Jasmine dalam keadaan menopang dagu.


"Dua puluh satu tahun..." Jasmine menjawab lirih.


Sean reflek saling bertukar pandang dengan Peter. Seakan mereka memiliki dugaan yang sama.


"Bukankah itu mencurigakan? Kenapa kau tidak mempekerjakan wanita tua seperti Inggrid, Ed?" timpal Peter. Sekali bersuara, kalimatnya langsung menimbulkan kontroversi. Tidak hanya untuk Inggrid, namun juga semua orang yang ada di meja makan.


Jasmine gelagapan. Entah kenapa keringatnya mendadak mengucur deras. Dia takut keluarga kerajaan mengetahui hubungan istimewa yang terjadi di antaranya dan Edward.


"Dia adalah putrinya Selene. Dia menjadi pelayan karena hanya ingin membantu ibunya. Kau pikir aku yang memilihnya untuk menjadi pelayan di rumahku? Tidak! Itu atas kemauannya sendiri!" Edward bangkit dari tempat duduk. Matanya menyalang lurus ke arah Sean.


"Sudahlah, Ed. Kau sebaiknya tenang. Tujuan kita berkumpul di sini bukan untuk saling berdebat, oke?" James memegangi pundak Edward. Sebab Edward terlihat seperti ingin menghantamkan bogem ke wajah Sean.


"Kau juga, Peter! Jagalah mulutmu. Aku tidak pernah mengajarimu berbicara begitu!" James tidak lupa menasehati putranya.


"Apa? Aku tidak salah apapun. Aku hanya bertanya. Justru Edward-lah yang terlalu berlebihan," cetus Peter.


Edward hampir saja kembali mengomel. Akan tetapi Jasmine dengan sigap menghentikan pergerakannya. Jasmine kebetulan berdiri di belakang Edward. Tangannya menarik kuat kemeja mahal milik Edward.


Edward akhirnya kembali duduk. Dia dan semua orang kembali tenang. Menikmati hidangan yang seharusnya sedari tadi dihabiskan.


Setelah makan siang, kegiatan dilanjutkan dengan latihan berkuda. Para penjaga terlihat membawa kuda satu per satu ke halaman belakang istana.


"Kau yakin ingin melakukan ini?" tanya James seraya menyodorkan perlengkaapan keamanan untuk Edward.


"Tentu saja. Lalu untuk apa aku mengenakan semua ini sekarang. Lagi pula, aku sudah cukup ahli!" sahut Edward yakin.


"Aku tahu kau cukup ahli berkuda. Tapi tidak untuk anggar. Kau bahkan tidak pernah berlatih lagi." James merasa ragu dengan keputusan Edward. Dia khawatir kekalahan akan membuat emosi Edward kembali membuncah.


"Aku memang jarang berlatih. Tapi setidaknya aku tahu secara teori. Aku telah menghafal semua gerakan dari buku yang kubaca," terang Edward sembari naik ke punggung kuda. Wajahnya yang putih bak porselen, serta rambut pirang berwarna keemasan, menunjukkan kepantasannya sebagai Pangeran.


"Bukankah Pangeran Edward sangat tampan?"


"Benar. Kenapa dia menyembunyikan semua pesonanya dari publik?"


Dua pelayan yang ada di samping Jasmine terdengar membicarakan Edward. Mereka terus saja curi-curi pandang sambil mengumpulkan piring dan gelas kotor.


Jasmine menarik sudut bibirnya ke atas. Dia agak risih menyaksikan kelakuan dua perempuan berseragam serupa dengannya itu. Tanpa sadar, Jasmine menumpuk asal piring kotor yang ada di depannya. Hingga salah satunya terdorong dan harus terjatuh ke lantai.


Prang!


Baru beberapa jam berada di istana, Jasmine sudah berhasil memecahkan piring. Untuk yang kedua kalinya Jasmine menjadi pusat perhatian. Inggrid yang mendengar, bergegas menghampiri.


Inggrid baru saja mengangakan mulut, karena berniat mengomel. Akan tetapi dia urung berucap, karena Evelyn lebih dahulu bersuara.


"Biarkan saja, Inggrid. Lagi pula itu hanya satu buah piring!" ujar Evelyn. Lalu kembali mengalihkan pandangan ke arah cucu-cucunya yang sibuk berkuda. Dia dan keluarga kerajaan lainnya duduk di teras. Jaraknya sendiri tidak begitu jauh dari lokasi pavilion. Makanya Evelyn bisa mendengar jelas keributan yang ditimbulkan Jasmine.


Inggrid mengangguk pelan. Dia perlahan menatap Jasmine. "Cepat bersihkan pecahan..."


Perkataan Inggrid lagi-lagi terjeda, sebab Jasmine sudah lebih dahulu membersihkan pecahan kaca. Gadis itu melakukannya sebelum disuruh.


Tidak lama kemudian, muncul seorang gadis dari balik pintu. Dia sangat cantik. Pakaiannya juga modis dan elegan. Berambut pirang dan mempunyai tatapan teduh. Gadis tersebut tidak sendiri. Ada seorang pria paruh baya yang berjalan berbarengan dengannya.


Jasmine tertegun. Sebab gadis yang dilihatnya sangat cantik. Semua keluarga kerajaan juga menyambut kedatangan gadis itu dengan ramah.


'Apakah dia seorang putri?' batin Jasmine bertanya.


Tidak terasa, kerjaan Jasmine dan rekannya sudah rampung. Sekarang Jasmine kebagian membersihkan meja dan menyapu pavilion.


Pandangan Jasmine sesekali mengarah kepada Edward. Lelaki yang ditatapnya tersebut tampak lihai menjalankan kudanya. Edward juga terlihat bertarung anggar dengan Sean.


Senyuman simpul terukir diwajah Jasmine, kala melihat Edward sukses menjatuhkan pedang anggar milik Sean. Jasmine lantas bertepuk tangan secara spontan.


Dahi Jasmine berkerut, saat menghentikan tepuk tangannya. Karena ada suara tepukan tangan lain dari sampingnya. Alhasil Jasmine menengok ke sumber suara. Dia dapat menyaksikan sosok gadis cantik yang tadi sempat dilihatnya.


"Kau pasti sangat senang bisa bertemu Edward lagi, Rose." Claris mendekati gadis yang ternyata bernama Rose itu.


"Ya! Aku sangat merindukannya." Tatapan Rose tidak teralihkan dari Edward.