
...༻♚༺...
Edward sukses menjatuhkan pedang anggar milik Sean. Senyuman puas terukir diwajahnya. Tetapi tidak untuk Sean. Dia membalas senyuman Edward dengan tatapan tajam.
"Kita belum selesai. Ayo kita balapan kuda. Bagi yang sampai lebih dahulu ke pohon besar itu, dialah pemenangnya." Sean nampaknya masih tidak terima dirinya dikalahkan. Dia kembali menantang Edward.
"Tentu saja!" Edward menyetujui. Beberapa saat kemudian, Peter ikut bergabung dengan kudanya.
"Hei, kalian meninggalkanku. Padahal tadi aku hanya pergi ke toilet sebentar!" protes Peter.
"Sebentar kau bilang? Pertarunganku dan Edward tadi bahkan memakan waktu hampir setengah jam." Sean memutar bola mata jengah. Sedangkan Edward hanya membisu.
Sean menoleh sejenak ke arah teras. Di sana dia melihat Rose telah datang dengan ayahnya. Rose sendiri adalah tamu terhormat dari kerajaan bernama Virlandia. Kerajaan tersebut memiliki hubungan dekat dengan keluarga kerajaan Inggris semenjak bertahun-tahun.
"Lihat! Ada Rose. Berapa kali pun aku melihatnya, dia selalu membuatku terkesima." Sean tanpa sadar bergumam. Pandangannya hanya terpusatkan kepada Rose.
Menyaksikan Sean yang begitu terpesona, Edward dan Peter lantas penasaran. Keduanya ikut menoleh ke tempat dimana semua orang sedang berkumpul.
"Ya, dia memang sangat cantik." Peter mengerjap pelan. Dia tidak dapat membantah kecantikan yang ada pada diri Rose.
Berbeda dari Sean dan Peter, atensi Edward justru tertuju kepada Jasmine. Gadis itu tampak sudah beranjak dari pavilion. Lama-kelamaan sosoknya perlahan menghilang ditelan pintu.
"Aku sangat ingin bicara dengannya..." ungkap Edward. Menyebabkan Sean dan Peter otomatis menatapnya. Mereka mengira Edward tengah membicarakan perihal Rose.
Sean menyeringai sinis dan berkata, "Dia sudah melupakanmu, Ed. Jangan bermimpi! Hubunganku sangat dekat dengan Rose."
Edward malas menanggapi perkataan Sean. Membicarakan tentang Rose saja dia tidak tertarik. "Ayo, lebih baik kita balapan saja!" serunya, sengaja merubah topik pembicaraan.
Sean dan Peter segera memposisikan kuda saling berjejer. Hal serupa juga dilakukan Edward. Mereka lantas saling bersiap-siap.
Tempat Edward sendiri berada di sisi paling kanan. Peter berada di tengah. Sementara Sean berada di sebelah kiri.
Sebelum dimulai, Sean sengaja menyenggol kaki Peter. Dia berbicara dengan gerakan bola matanya. Sean ingin Peter melakukan sesuatu agar Edward bisa kalah. Peter yang mengerti mengangguk sembari berseringai licik.
"Kita mulai saat hitungan ketiga. Satu, dua, tiga!" Sean berhitung dengan nada cukup lantang. Selanjutnya, dia, Edward dan Peter langsung melajukan kuda.
Sejak awal, Sean tampak memimpin. Di ikuti oleh Peter dan Edward setelahnya. Namun tanpa diduga, Edward tiba-tiba mampu melajukan kuda. Kelajuan kuda yang dinaikinya perlahan melewati Peter.
Sayangnya usaha Edward tidak berjalan mulus. Peter mendadak menarik tali kekang. Sampai membuat kudanya mengikik, lalu mengangkat kedua kakinya tepat ke arah Edward. Hal itu sontak membuat kuda Edward kaget. Alhasil kuda yang dinaiki Edward juga melakukan hal sama.
Edward dan Peter terjatuh bersamaan ke tanah. Kuda yang mereka naiki segera di urus oleh penjaga. Kejadian tersebut memberikan kekhawatiran terhadap semua orang. Beberapa keluarga kerajaan yang cepat tanggap langsung menghampiri Edward dan Peter. Untung saja dua lelaki itu tidak ada yang terluka.
Claris terlihat membantu Peter. Dia tentu lebih mengutamakan putranya dibanding keponakan. Ada banyak orang yang mencoba membantu Peter. Termasuk Sean, orang yang harusnya bertanggung jawab.
Edward berdiri dengan usahanya sendiri. Hanya ada tiga pelayan pria yang berusaha membantu. James yang sudah dianggapnya seperti ayah, juga terlihat sibuk mengurus Peter.
Setelah mengutamakan Peter, barulah semua orang memeriksa Edward. Ketika mereka berbalik untuk melihat, Edward sudah lebih dahulu beranjak menuju teras.
Evelyn yang tidak bisa berjalan cepat akibat usia tua, perlahan berdiri. Dia hendak memastikan keadaan Edward yang kebetulan berjalan kian mendekat.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Evelyn. Tetapi Edward sama sekali tidak menggubris. Lelaki itu terus melajukan langkahnya. Pergerakannya harus terhenti, ketika Rose tiba-tiba menghalangi jalannya.
"Ed, kau baik-baik saja?" Rose mengamati Edward. Manik abu-abunya berhenti kala menatap wajah Edward.
Helaan nafas panjang dilakukan oleh Edward. Dia tidak merespon sapaan dari Rose. Edward hanya ingin lekas-lekas pergi. Akan tetapi Rose dengan sigap memegangi lengannya.
"Apa kau sudah lupa denganku? Bukankah orang yang harusnya marah adalah aku? Kau mengabaikanku selama bertahun-tahun, Ed." Rose mengungkapkan apa yang selama ini dia pendam.
Di waktu yang sama, Jasmine keluar dari dapur. Ia membawa nampan berisi buah-buahan. Kakinya harus berhenti sejenak.
Jasmine kebetulan dapat menyaksikan Edward dan Rose yang tampak saling bertukar pandang. Meskipun begitu, Jasmine tidak mampu mendengar segala pembicaraan dua insan berambut pirang itu.
Edward melepaskan tangan Rose. "Jadi apa maumu?" balasnya.
Kemunculan Jasmine tentu berhasil mencuri perhatian Edward. Penuturan Rose bahkan terdengar samar di telinga.
"Ed?" Rose memanggil, karena Edward tidak kunjung menanggapi perkataannya.
"Apa kau bilang?" Edward ingin Rose mengulangi ucapannya barusan.
Rose memanyunkan mulut kesal. "Aku bilang, aku--"
"Rose!" kalimat Rose terjeda akibat panggilan dari Sean yang terdengar nyaring. Sean terlihat berlari semakin dekat. Edward lantas memanfaatkan kesempatan untuk melarikan diri.
Rose yang tadi sempat menoleh ke arah Sean, bergegas kembali menatap Edward. Tetapi sosok Edward sudah tidak ada lagi. Kini gadis itu hanya bisa mengedarkan pandangan ke segala penjuru. Dia tidak menemukan Edward dimana pun. Rose akhirnya memutuskan mengobrol dengan Sean saja.
Semua orang telah selesai dengan segala aktifitas. Para keluarga kerajaan memilih berdiam di kamar masing-masing. Sedangkan para pelayan menikmati waktu istirahat untuk sejenak.
Jasmine memutuskan beristirahat ke taman yang ada di halaman belakang. Dia duduk sambil memegang gelas mug berisi teh chamomile hangat. Di satu tangannya yang lain, Jasmine asyik berbalas pesan dengan ibunya. Dia hanya melaporkan bahwa keadaannya sekarang baik-baik saja.
Setelah memberi kabar kepada ibunya, Jasmine terpaku menatap bunga mawar di hadapannya. Pikirannya terus saja merasa gelisah saat mengingat kedekatan Edward dengan Rose. Ia merasa penasaran sekaligus cemburu.
'Harusnya kau tahu diri, Jase. Tapi kenapa kau malah merasa marah kepada Rose.' Jasmine mencoba memperingatkan dirinya sendiri. Walaupun begitu, perasaan cemburu lebih mendominasi dibanding rasa rendah dirinya.
Ini baru pertama kalinya Jasmine membenci yang namanya bunga. Padahal dia biasanya selalu memuja-muji kecantikan beragam jenis bunga yang diketahuinya. Salah satunya sendiri adalah bunga mawar. Tetapi tidak untuk sekarang. Kekesalan Jasmine mungkin diakibatkan karena gadis yang tadi tampak dekat dengan Edward. Rose namanya, yang berarti mawar.
Jasmine meletakkan gelas mug ke bangku. Kemudian membuka akun media sosialnya. Akhir-akhir ini dia menggunakan akun tersebut untuk memamerkan beberapa gambar rancangannya. Karena rancangan yang dibuat Jasmine unik dan bagus, dia otomatis memiliki cukup banyak pengikut. Terutama dari orang-orang terdekat, seperti Joy, Edward, Jake dan teman kampus lainnya.
Jasmine menggigit bibir bawahnya. Ia mengintip akun profil milik Edward. Sama seperti dirinya, Edward juga memanfaatkan media sosial untuk memperlihatkan karya seninya.
Sebenarnya Jasmine sangat ingin menanyakan perihal Rose kepada Edward. Tetapi Jasmine merasa masih canggung. Gadis itu terlalu malu. Alhasil terbersitlah sebuah ide dalam benaknya.
Jasmine berdiri dan memetik setangkai bunga mawar. Lalu mengambil foto dengan bunga mawar tersebut. Tanpa pikir panjang, Jasmine segera mengunggahnya ke media sosial.
Ilustrasi unggahan foto Jasmine :
'Aku penasaran dengan Rose (mawar). Mereka terlihat indah tetapi ternyata memiliki duri. Who do you like? Rose or Jasmine?'
Begitulah bunyi tulisan yang terdapat pada caption unggahan foto Jasmine. Dia berharap Edward melihatnya. Gadis yang pendiam sepertinya, hanya berani mengungkapkan perasaan lewat sebuah kode.
Baru lima menit mengunggah foto, satu orang sudah berkomentar. Siapa lagi kalau bukan Joy si detektif menyebalkan.
Ilustrasi percakapan Jasmine dan Joy di kolom komentar :
Joy : Apa ada yang salah, Jase? Tidak biasanya kau memamerkan wajahmu di sini?
^^^Jasmine : Tidak ada. Aku hanya ingin saja.^^^
Joy : Apa kau sedang memberi kode kepada seseorang?
Jasmine mengulum bibirnya. Kenapa Joy selalu saja berhasil menangkap basah dirinya? Bahkan saat tidak saling berhadapan sekali pun.
Kala Jasmine hendak membalas Joy, sebuah komentar baru sukses membuat jantungnya berdegub kencang. Bagaimana tidak? nama Edward tertera jelas di kolom komentar unggahan fotonya. Jasmine reflek gigit jari.
^^^Edward : Rose bukan tandingan Jasmine. Dia bukan apa-apa.^^^
Joy : OMG! Apa kalian sudah berani saling merayu di depan publik?
Jasmine tidak kuasa membalas lagi. Dia langsung menghapus unggahannya karena merasa sangat malu.
"No! No! No! Apa yang sudah aku lakukan!" Jasmine kesal kepada dirinya sendiri. Ia menepuk pipinya beberapa kali.