
...༻♚༺...
Untuk yang kedua kalinya, Edward tidak ikut makan malam bersama keluarga kerajaan. Dia memilih menikmati makan malam dengan Jasmine. Persis seperti malam sebelumnya.
"Apa kau selalu bersikap kasar dengan keluarga kerajaan?" tanya Jasmine. Dia baru selesai menelan hidangan makan malamnya.
"Memangnya kenapa? Aku memang terbiasa begitu," jawab Edward tak acuh.
"Jika kau terus--"
"Jase, malam ini aku ingin mengajakmu berkeliling istana. Ronald sudah mempersiapkan segalanya, agar perjalanan kita berdua aman." Edward sengaja memotong ucapan Jasmine. Dia bangkit dari tempat duduk, lalu mengambil sebuah tas karton. Edward segera memberikan tas itu kepada Jasmine.
"Apa ini?" Jasmine bertanya sembari memeriksa apa yang ada di dalam tas karton.
"Aku ingin kau mengganti pakaianmu," sahut Edward.
Jasmine mengambil pakaian yang ada di dalam tas karton. Dia melihat sebuah dress selutut berwarna hitam di sana. Jasmine menelan salivanya sendiri. Kemudian menatap tak percaya kepada Edward. Sebab dirinya tahu betul kalau dress pemberian Edward sekarang adalah salah satu yang terbaik.
"Bukankah ini harganya sangat mahal?" mata Jasmine membulat.
"Berhentilah merasa terpesona. Lebih baik kau ke ruang ganti dan kenakan dress itu!" seru Edward seraya mendorong Jasmine masuk ke ruang ganti.
Selang beberapa menit, Jasmine keluar dari ruang ganti. Dia terlihat tambah cantik dengan mengenakan dress pemberian Edward. Wajah Jasmine memerah malu. Dia mengusap tengkuknya tanpa alasan. Saat itulah Edward meraih tangannya dan melangkah menuju pintu.
"Kau yakin kita tidak akan ketahuan?" Jasmine yang hampir tidak pernah melanggar peraturan dalam hidupnya, sontak merasa khawatir. Akan tetapi Edward sama sekali tidak menanggapinya. Lelaki itu justru terus membawa Jasmine keluar dari kamar.
"Kau mau membawaku kemana, Ed?" tanya Jasmine. Dia berusaha menyamakan langkah dengan Edward.
Edward membimbing Jasmine masuk ke pintu besar yang berhiaskan arsitektur kuno. Keduanya masuk ke dalam sana. Penglihatan Jasmine langsung disambut dengan lukisan-lukisan besar yang tertempel di dinding. Lukisan-lukisan tersebut memperlihatkan keluarga kerajaan. Dari mulai zaman dahulu hingga sekarang.
Edward berhenti di depan salah satu lukisan seorang lelaki. Jasmine merasa tidak asing dengan lukisan lelaki itu. Sebab dia salah satu pangeran yang dikenal baik hati. Bahkan salah satu keluarga kerajaan yang nekat menikahi gadis biasa. Dialah Pangeran Stevan.
"Pangeran Stevan, nenek dan ibuku banyak menceritakan segala hal tentangnya." Jasmine terpaku menatap lukisan yang ada di depannya.
"Dia adalah ayahku," ungkap Edward. Menyebabkan Jasmine reflek menoleh kepadanya. Sebab tidak banyak orang yang tahu mengenai kenyataan itu. Sepertinya rumor yang dulu pernah beredar memang benar adanya. Kalau Pangeran Stevan memiliki seorang anak yang sengaja disembunyikan dari publik.
"Benarkah itu, Ed?" Jasmine mencoba membandingkan wajah Edward dengan lukisan Pangeran Stevan. Setelah dilihat-lihat, memang terdapat kemiripan di antara keduanya.
"Dia punya alasan kuat untuk menyembunyikan identitasku dari publik," jelas Edward.
"Bolehkah aku tahu kenapa?" Jasmine bertanya dengan meragu.
"Kata Ronald, dia melakukannya untuk melindungiku. Aku tidak tahu dari apa. Tetapi, justru dia dan ibuku yang harus menanggung resikonya." Edward bercerita dengan raut wajah sendu. Dia mengingat masa lalunya yang kelam.
Edward yakin, kecelakaan yang menimpa ayah dan ibunya bukanlah kebetulan. Alias sesuatu yang sudah direncanakan. Namun seberapa keras Edward mencari tahu, masih banyak hal yang sulit untuk dipecahkan.
Jasmine menggenggam lembut jari-jemari Edward. Dia tidak menyangka, dibalik sikap angkuh Edward, ada kerapuhan yang tersembunyi.
"Kau tahu? Ayahku pergi meninggalkanku saat aku masih berusia empat belas tahun. Itu adalah momen terburuk dalam hidupku. Aku sempat mengurung diri dari segalanya. Ibuku bahkan melakukan berbagai cara agar bisa membuatku bangkit lagi..." lirih Jasmine.
Edward tersenyum tipis. Dia kembali menarik tangan Jasmine untuk mengikutinya. Kini Edward menuntun Jasmine pergi ke arah taman. Di sana ada banyak beragam jenis bunga yang harum semerbak.
Jasmine dan Edward berjalan santai menyusuri taman. Suasana terasa sunyi. Hanya di isi oleh suara binatang-binatang malam.
"Entahlah, hanya beberapa," sahut Jasmine.
Edward terkekeh geli. "Maukah kau memberitahukanku apa itu. Jika kau bersedia, maka aku juga akan mengungkapkan rahasiaku," ujarnya dengan nada berbisik.
"Sebenarnya aku pernah diam-diam menyukai lelaki saat SMA. Dia merupakan guru Biologi. Aku sangat ingat, betapa kerasnya perjuanganku untuk mendapatkan nilai terbaik. Tapi dia tidak pernah sekali pun tertarik kepadaku," kata Jasmine.
"Ah... jadi ternyata aku bukan yang pertama?" Edward menyimpulkan.
"Menurutmu? Kau mencuri ciuman pertamaku, Ed!" Jasmine memukul pundak Edward.
"Kenapa kau marah? Harusnya kau senang. Ternyata orang yang telah mencuri ciuman pertamamu adalah lelaki idamanmu," pungkas Edward percaya diri. Membuat Jasmine harus memutar bola mata jengah.
"Sekarang biarkan aku memberitahukanmu. Kalau ciuman yang kau bilang pertama kali untukmu, juga adalah hal pertama bagiku." Edward mengungkapkan.
"Jangan membohongiku." Jasmine tidak mau percaya.
"Ayolah, Jase. Coba kau tanyakan kepada semua orang terdekatku, mereka pasti tidak pernah melihatku berdekatan dengan seorang gadis. Kau bisa menanyakan Jake terlebih dahulu." Edward memasang ekspresi yang tampak meyakinkan.
Dari kejauhan, terlihat ada seorang penjaga yang berpatroli sambil membawa seekor anjing. Edward yang tidak ingin ketahuan, segera membawa Jasmine untuk bersembunyi. Mereka berlindung di balik semak dedaunan yang rimbun.
Gonggongan anjing terdengar kian mendekat. Jasmine lantas membekap mulutnya sendiri agar tidak berisik. Ketika anjing sudah hampir menemukan tempat persembunyiannya dan Edward, saat itulah mereka harus melarikan diri.
"Hei! Siapa itu?!" sang penjaga memekik lantang. Dia bergegas melakukan pengejaran terhadap dua sosok asing yang dilihatnya. Lampu taman yang agak remang, menyebabkan penglihatannya tidak begitu jelas.
Edward dan Jasmine berlari sambil tertawa. Entah kenapa pelarian yang mereka lakukan terasa menyenangkan. Mereka kembali masuk ke area istana. Berlari menyusuri lorong menuju kamar.
Edward langsung menghentikan pergerakan kakinya, saat menyaksikan kemunculan Peter. Sekali lagi dia mengajak Jasmine untuk bersembunyi. Mereka sekarang berada di sebuah ruangan yang gelap gulita.
Jasmine dan Edward sama-sama sibuk mengontrol nafas. Keduanya menyandar di depan pintu.
"Jase, kau masih bersedia membagikan rahasiamu bukan?" tanya Edward dengan nada berbisik.
"Aku akan melakukannya, jika kau juga bersedia." Jasmine menjawab sambil mengatur nafas.
"Semua rahasiamu?" Edward memastikan.
"Ya, semuanya..." lirih Jasmine.
"Kau yakin?" Edward kembali bertanya. Namun kali ini Jasmine tidak menjawab. Gadis itu mengerutkan dahi.
"Kau sebenarnya membicarakan perihal apa?" Jasmine berbalik tanya.
"Aku membicarakan tentang seni yang ada di tubuh kita," terang Edward.
Jasmine reflek membelalakkan mata. Dia tentu kaget dengan penuturan Edward. "Maksudmu, kau ingin kita saling memperlihatkan..." ujarnya penuh akan keragu-raguan.
"Ya, aku ingin kita tidak hanya saling jujur mengenai cerita masa lalu," cetus Edward. Kemudian membuka pintu dengan pelan. Memastikan keadaan telah aman.
"Ayo! Sudah aman!" ajak Edward.
Jasmine lantas mengangguk dan berjalan mengekori Edward. Pikirannya sedang bergumul memikirkan tawaran dari Edward tadi.