Jase Is Mine

Jase Is Mine
Bab 61 - Keputusan Jasmine



...༻♚༺...


Satu hari terlewati. Jasmine memutuskan untuk berdiam di rumah terlebih dahulu. Dia berpikir keras terhadap hubungannya dengan Edward, sambil sesekali menyaksikan berita di internet. Semuanya tidak ada yang berjalan lancar. Apalagi ketika Putri Claris mendatangi rumahnya.


Wanita yang menggelung rambut dan mengenakan setelan kemeja itu, duduk dengan raut wajah cemberut. Ketika Jasmine muncul, tatapannya terlihat seperti kobaran api yang akan menyembur.


"Silahkan dimakan kue keringnya, Yang Mulia. Jasmine baru saja membuatnya tadi malam," ujar Nathalie. Bersikap sangat ramah. Namun Claris masih memasang wajah yang kurang mengenakkan.


"Aku tidak mau memakan apapun hidangan buatan Jasmine!" tolak Claris dengan gaya angkuh.


Nathalie tercengang. Dia tidak bisa berkata apa-apa, selain menatap Claris dengan nanar.


"Kumohon, Yang Mulia. Jangan memperlakukan hal buruk kepada Jasmine. Dia sudah mengalami banyak masalah akhir-akhir ini," tutur Nathalie. Ia punya firasat buruk saat melihat semburat wajah yang ditampakkan Claris.


Tidak lama kemudian, Jasmine muncul menuruni tangga. Claris lantas berdiri. Matanya semakin menyalang.


Jasmine yang sejak awal menundukkan kepala, dapat mengira apa yang akan dilakukan Claris. Ia tahu betul bagaimana sikap Claris terhadapnya. Jasmine hanya menyiapkan mental untuk menerima segala perkataan buruk.


"Jasmine!" panggil Claris. Menyebabkan Jasmine segera mendongakkan kepala.


"Tujuanku ke sini hanya ingin mengatakan, putuskan hubunganmu dengan Pangeran Edward. Aku tidak--"


"Saya akan secepat mungkin melakukannya. Lagi pula saya sudah berpikir baik-baik selama seharian," potong Jasmine sengaja. Lalu membungkuk hormat. Mimik wajahnya terlihat sendu.


"Jase..." Nathalie tidak terima dengan keputusan Jasmine.


"Baguslah. Aku tidak perlu membuang tenaga untuk membujukmu. Ini, ada imbalan sebagai ucapan terima kasihku." Claris memberikan amplop berisi uang yang banyak.


"Saya tidak bisa menerimanya." Jasmine menggeleng lemah sembari melangkah mundur. Menyentuh uang pemberian Claris pun Jasmine tidak berminat.


Claris Berdecih. Kesal dengan sikap Jasmine yang menurutnya berlebihan. "Tidak usah berlagak! Aku tahu kalian orang susah. Jika putus dengan Pangeran, kau pasti akan membutuhkan banyak uang. Cepat terima saja!" desaknya, memaksa.


"Dia bilang tidak mau, Yang Mulia! Anda sebaiknya pergi saja sekarang!" usir Nathalie. Dia sudah tidak tahan menyaksikan cucunya dipermalukan.


Claris memutar bola mata malas. "Jangan harap aku mau menerimamu di kerajaan. Keluarga pelayan seperti kalian tidak pantas!" Claris mengarahkan jari telunjuknya ke wajah Nathalie. Selanjutnya dia beranjak pergi.


Jasmine memecahkan tangis. Nathalie langsung membawanya masuk ke dalam pelukan. Ia yang awalnya ingin mempertahankan hubungan Jasmine dan Edward, mengurungkan niat. Nathalie kini akan mendukung apapun keputusan Jasmine.


"Katakan kepadaku, apa hal yang paling kau inginkan sekarang?" tanya Nathalie.


"Aku hanya ingin kembali ke desa. Aku merasa tidak sanggup lagi menemui orang-orang," jawab Jasmine seraya berusaha menghentikan isakan tangis.


"Baiklah, sebaiknya kita berkemas. Lagi pula rumah yang kita tempati ini adalah milik kerajaan," ucap Nathalie, yang langsung direspon Jasmine dengan anggukan kepala.


Jasmine dan Nathalie bersiap-siap pergi ke desa Devory. Mereka bertekad tidak akan kembali lagi ke London. Setidaknya itulah hal yang sangat di inginkan Jasmine.


Sebenarnya Jasmine sangat mencintai Edward. Tetapi dia sangat pesimis terhadap segala hal. Jasmine hanya ingin ketenangan. Ia bahkan mengajukan diri untuk keluar dari kampus tempat kuliahnya sekarang.


...'Goodbye, Edward. I hope you find hapiness with another girl.'...


Begitulah bunyi pesan terakhir yang Jasmine kirim ke Edward, tepat sebelum dia mengganti nomor. Kemudian pergi bersama Nathalie ke desa.


Kereta api yang dinaiki Jasmine masih belum berjalan. Jasmine menatap lurus ke jendela. Menampakkan banyaknya penghuni London yang berlalu lalang. Ia tidak menyangka, kota yang di idamkannya itu kini membuatnya tidak ingin datang lagi.


"Jase, kau masih mencintai Pangeran Edward bukan?" celetuk Nathalie.


"Kau tahu? Jika kau bersungguh-sungguh, kau masih bisa memperjuangkannya. Nenek bisa membantumu. Ratu Evelyn mendukung hubungan kalian." Seolah memberi kesempatan terakhir, Nathalie mencoba merubah keputusan Jasmine. Entah kenapa dia merasa kalau pilihan Jasmine bukanlah keputusan yang tepat. Nathalie takut Jasmine semakin kesepian. Edward adalah satu-satunya orang yang mampu membawa kebahagiaan Jasmine setelah berduka.


"Aku hanya ingin pulang, Nek." Jasmine tetap dengan pendiriannya. Alhasil Nathalie mengangguk saja. Kereta yang mereka naiki perlahan berjalan. Meninggalkan secercah kenangan yang tertinggal.



Di sisi lain, Edward gelagapan ketika mendapatkan pesan Jasmine. Dia berupaya menghubungi, tetapi nomor Jasmine sudah tidak aktif.


Tanpa pikir panjang, Edward segera mendatangi rumah yang ditinggali Jasmine. Namun dia hanya menemui rumah kosong. Tidak ada satu orang pun di rumah. Surat untuk Edward bahkan tidak ada.


Untuk mengetahui keadaan Jasmine, Edward memeriksa rekaman CCTV. Ia sangat kaget kala menyaksikan kedatangan Claris. Edward tambah marah, saat melihat momen Claris memarahi Jasmine dan Nathalie.


Bruk!


"Arrrghh!!!" Edward menendang meja yang ada di depannya. Meja tersebut roboh ke lantai. Menghamburkan vas bunga yang ada di atasnya.


Edward berniat ingin menemui semua anggota kerajaan. Ia meminta Evelyn untuk mengumpulkan semua orang di istana. Terutama Claris.


Sebelum menemui Jasmine, Edward bertekad bicara dengan keluarga kerajaan. Evelyn yang dapat mengetahui betapa seriusnya Edward, menyetujui permintaan cucu kesayangannya itu.


Karena Evelyn yang memberikan perintah, para keluarga kerajaan langsung berkumpul semua. Saat itulah Edward ikut bergabung, lalu angkat bicara.


"Aku pikir, kalian sudah mendengar berita tentangku di berbagai media," ujar Edward. Menyebabkan semua orang memanggut-manggutkan kepala. Bahkan ada yang terdengar berdecih seakan tak peduli.


"Ayolah, Ed. Kenapa kau harus memilih pelayanmu sendiri untuk dijadikan kekasih? Padahal sudah jelas hal itu sangat mempermalukan keluarga kerajaan. Untung saja, semua orang belum tahu kebenaran tentang Jasmine yang pernah menjadi pelayanmu," timpal Claris.


"Aku mencintai Jasmine. Dialah yang membuatku berubah seperti sekarang. Jika Jasmine tidak muncul dalam hidupku, maka aku tidak akan pernah menghadapi kalian seperti ini!" balas Edward.


"Hubungan kalian sama sekali tidak profesional," komentar Laura. "Baru kali ini aku mendengar seorang Pangeran jatuh cinta dengan pelayannya sendiri," tambahnya sinis.


"Menurutku tidak apa-apa. Hal terpenting bagiku, Jasmine adalah gadis yang baik dan sopan." James memiliki pendapat lain. Sebagian besar anggota kerajaan menganggukkan kepala. Hanya Claris dan Laura yang tak acuh.


"Aku juga sependapat dengan James. Status sosial tidak bisa menjadi penghalang kebahagiaan dua manusia yan saling mencintai," sahut Evelyn.


"Nenek benar. Tetapi jika status itu benar-benar akan menghalangiku, maka aku... bersiap mundur dari keluarga kerajaan." Edward berkata sambil memasang raut wajah serius.


Mata Evelyn terbelalak. Ia segera bengkit dari tempat duduk. "Tidak Edward!" serunya. Kemudian mengamati semua anggota kerajaan satu per satu.


"Katakan siapa saja orang yang tidak setuju dengan hubungan Edward dan Jasmine!" ujar Evelyn.


"Maafkan aku, Yang Mulia. Aku tidak setuju, karena aku tidak mau kejadian yang menimpa ayahnya Edward kembali terjadi!" ungkap Claris.


"Kita bisa hadapi itu bersama-sama, Claris. Yang terpenting sekarang adalah kebahagiaan keluarga kita. Bukankah begitu?" sahut Evelyn dengan tatapan meneduhkan. Claris perlahan kembali duduk.


"Laura? Apa kau masih menantang juga?" tanya Evelyn. Laura langsung menggeleng. Dia tidak mau lagi membantah.


"Edward, kau harus bahagia. Setelah di pikir-pikir, kau sudah banyak mengalami hal buruk sejak kecil. Mungkin sekarang adalah saat terbaik untuk merubahnya," tutur Laura. Ia berubah pikiran ketika mendengar pernyataan Evelyn.


"Terima kasih... Sekarang aku sebaiknya mencari Jasmine." Edward ingin lekas-lekas menyusul Jasmine.


"Tunggu, Ed." Evelyn memegangi lengan Edward. Sebelum menemui Jasmine, Evelyn ingin Edward melakukan sesuatu terlebih dahulu.