
...༻♚༺...
Jasmine hanya tersenyum mendengar ancaman Edward. Dia sama sekali tak peduli. Gadis itu malah menatap ke arah langit sore yang mempendarkan warna jingga.
Edward berdecak kesal. Dia memutar badannya, karena berniat masuk ke rumah. Namun perhatiannya sekali lagi berhasil dicuri oleh Jasmine. Terutama ketika telinganya dapat mendengar suara derap langkah kaki kuda berjalan. Edward sontak menoleh, dan menyaksikan Jasmine sudah menjalankan kuda.
Edward meletakkan tangannya ke jidat. Berupaya menghalangi cahaya matahari yang menghantam dari arah barat. Matanya sedikit menyipit agar mampu memperhatikan Jasmine dengan jelas.
Berbeda dari Edward yang sibuk dengan perasaan cemas, Jasmine justru menikmati momennya sekarang. Dia mengembangkan senyuman lebar, sampai menampakkan deretan giginya yang rapi. Rambut panjangnya berkibar indah ke belakang. Kebetulan saat itu Jasmine mengenakan dress selutut. Mengenakan sepatu boots model kekinian berwarna cokelat.
Jasmine yang terlena dengan kegiatannya, semakin melajukan pergerakan kuda. Ketika melakukannya, dia merasa seolah bebas. Penat dan lelah langsung hilang untuk sejenak.
Dari kejauhan Edward masih mengamati Jasmine. Dia menurunkan tangannya dari jidat. Terpaku pada sosok gadis yang tadinya dia anggap lemah dan bukan apa-apa. Edward terkesiap menyaksikan Jasmine. Ia merasa seperti melihat seorang gadis yang berbeda. Apalagi saat dirinya memergoki Jasmine mengembangkan senyuman bahagia. Ekspresi itu sangat meneduhkan hati.
'Sial! Apa yang kau pikirkan, Ed!' Edward segera menggeleng tegas, karena baru tersadar pada lamunan gilanya. Dia seakan terhipnotis dengan apa yang dilihatnya. 'Harusnya kau malu kepada dirimu sendiri. Kau kalah dengan gadis desa seperti Jasmine!' lanjutnya lagi. Merutuki dirinya sendiri. Edward sebenarnya merasa kalah ketika melihat Jasmine berani memacu kuda dengan lihai.
"Apa Tuan mau mencoba menaikinya?" teguran Jasmine semakin membuat Edward gelagapan. Jantungnya merespon dengan deguban kencang.
"Kau mengagetkanku!" geram Edward. Ia meliarkan matanya ke segala arah. Mencoba menutupi kepanikan yang sedang dirinya rasakan.
Jasmine terkekeh geli. "Apa Tuan takut?" timpalnya. Masih dengan semburat yang menampakkan lengkungan senyuman tipis.
"Tentu tidak! Hari sudah sangat sore, lebih baik nanti saja!" kilah Edward seraya memasang pose berkacak pinggang.
"Hmm... mengaku saja kalau Tuan takut. Aku tidak akan mengejek. Malah aku akan--" Jasmine menghentikan perkataannya, ketika melihat Edward berani berjalan mendekat. Lelaki itu kini berdiri sangat dekat dengan kuda yang dinaiki Jasmine.
"Menyingkirlah!" usir Edward, percaya diri. "Jika terjadi apa-apa kepadaku, kau-lah yang harus bertanggung jawab!" tukasnya melanjutkan.
"Kalau begitu naiklah." Jasmine menjulurkan tangannya ke arah Edward. Ia tetap duduk di tempat.
Edward tercengang. Dia tidak meraih tangan Jasmine dengan cepat. "Apa kau menyuruhku duduk di depanmu? Apa kau gila?!" ujarnya.
"Tuan bilang aku harus bertanggung jawab jika terjadi sesuatu. Dan inilah yang aku lakukan agar bisa menjaga anda," tutur Jasmine. Tangannya masih bertengger di udara. Kesempatan Edward masih terbuka lebar.
Edward memutar bola mata jengah. Dia memutuskan untuk mengabaikan Jasmine. "Sudahlah, kau membuatku tidak berminat lagi!" ungkap Edward.
"Apa Tuan merasa malu denganku? Padahal tempo hari Tuan nekat menciumku di depan umum." Jasmine menimpali Edward dengan kalimat yang menohok. Entah apa yang membuatnya berani mengatakan hal begitu. Jasmine mungkin hanya sedang terlalu bersemangat. Sudah lama dia tidak menaiki kuda.
"Tidak usah berlagak! Aku pikir ucapanmu salah mengenai cara menjinakkan kuda. Kau tahu? Saat aku mencoba mengusap pelan kepalanya waktu itu, kudanya tetap tidak menyukaiku!" Edward memberi alasan berbelit-belit. Dia sebenarnya masih takut menghadapi kuda.
"Kalau begitu aku bisa menyimpulkan, bahwa Tuan masih takut dengan kuda." Jasmine memberikan pendapatnya. "I dare you, Prince Edward!" tambah Jasmine.
Edward membuang muka sejenak. Remehan Jasmine membuatnya tertantang. Alhasil Edward memilih naik ke punggung kuda. Dia benar-benar duduk di depan Jasmine.
"A-apa kita tidak pakai pengaman apapun? Seperti helm misalnya?" ucap Edward memperingatkan. Akan tetapi Jasmine sama sekali tidak hirau. Gadis tersebut langsung memberikan sinyal kepada kuda untuk berjalan.
Jasmine sedikit menjaga jarak dari belakang Edward. Meskipun begitu, dia tetap memegang tali pengendali kuda. Jasmine mencoba mencari waktu yang tepat untuk memberikannya kepada Edward.
"Apa Tuan sudah menikmatinya?" tanya Jasmine.
"Entahlah." Edward masih berusaha menutupi rasa takutnya. Untung saja Jasmine tidak bisa menyaksikan ekspresi paniknya.
"Tuan mau memegang tali pengendalinya?" tawar Jasmine.
"Aku-- aaaargghh!!!" Edward reflek berteriak saat kuda mendadak berbelok sambil mengibaskan kepala. Tindakan hewan itu menyebabkan Edward kaget bukan kepalang. Tanpa sengaja tangan Edward berpindah pegangan. Dia menggenggam erat sesuatu yang kenyal di belakangnya.
Jasmine yang berada di belakang membulatkan mata. Wajahnya memerah malu. Sebab tangan Edward menggenggam kuat pangkal pahanya.
Edward masih mengatur nafas. Lelaki itu sempat mengumpati kuda yang telah berhasil membuatnya kaget.
Saat kuda mulai berjalan normal, barulah Edward tersadar, kalau sedari tadi tangannya menempel ke pangkal paha Jasmine. Sama halnya Jasmine, wajah Edward seketika memerah. Sebab apa yang terjadi, tidak sesuai dengan rencananya. Edward lantas kembali mengalihkan pegangan ke depannya.
Jasmine dan Edward tenggelam dalam perasaan malu. Keduanya terdiam untuk sejenak.
"Aku pikir kita harus berhenti saja. Sore sudah semakin larut," kata Edward. Dia tidak berminat membahas insiden sentuhan tak terduganya tadi. Sengaja mengubah topik pembicaraan.
"Tidak juga. Aku ingin melihat Tuan memegang tali kendali terlebih dahulu." Jasmine menyerahkan tali kendali kepada Edward.
"Fine..." Edward menuruti kemauan Jasmine. Dia akan membuktikan kalau dirinya bukanlah pecundang.
Kini Edward yang mengendalikan jalannya kuda. Dia dapat melewati dengan mudah tahap pelajaran pertama dari Jasmine.
"Sekarang, saatnya kita membuat kudanya berlari. Apa Tuan siap?" Jasmine mengusulkan tahap terakhir.
"Tidak! Lebih baik kita lakukan nanti saja!" tolak Edward. Dia mencoba menghentikan jalan kuda. Sebenarnya hal yang paling ditakutkan Edward ketika berkuda, adalah saat kuda tersebut berlari laju.
Jasmine dengan cepat mengambil alih tali pengendali kuda. Dia segera membimbing kuda, agar bisa melajukan langkahnya. Alhasil hewan itu sekarang berlari.
Edward membelalakkan mata. Mulutnya mengatup rapat dalam keadaan membeku. Dia tidak sempat turun, karena kalah cepat dari Jasmine.
Edward sedang waspada terhadap segala hal buruk yang akan terjadi. Tetapi lama-kelamaan rasa takutnya berkurang. Mungkin dia mulai sedikit terbiasa. Meskipun rasa takut yang dirasakannya, tidak sepenuhnya berkurang.
Entah kenapa Edward perlahan menoleh ke samping. Tepat dimana wajah Jasmine bertengger sangat dekat dengannya.
Jasmine tampak kesulitan melihat ke depan, karena badan Edward yang lebih tinggi darinya. Namun dia tetap bisa mengendalikan kuda dengan baik.
Merasa ditatap terus-menerus, Jasmine otomatis melirik Edward. Tatapan mereka sontak saling bertemu. Terjadi hanya dalam selang satu detik. Sebab Edward lekas-lekas mengalihkan pandangan ke depan.
Edward menghembuskan nafas dari mulut. Dia tiba-tiba merasa jantungnya berdebar tidak seperti biasanya. Apalagi ketika dirinya menyaksikan wajah Jasmine dari dekat.