
...༻♚༺...
Edward menggerakkan manik birunya ke arah Jasmine. Dia mulai tertarik untuk pergi ke pesta kerajaan yang akan diadakan minggu depan. Haruskah Edward mengajak Jasmine ikut?
"Baiklah, aku akan memikirkannya." Edward akhirnya angkat suara. Pilihannya membuat James dan Claris saling melemparkan senyum. Sebab ini adalah pertama kalinya Edward berniat memberi kesempatan.
"Sepertinya gadis yang kau suka itu memberikan dampak baik kepadamu," komentar Claris sembari menyatukan tangannya penuh haru. Senyumannya merekah bagaikan bunga di musim semi. Namun senyuman tersebut seketika pudar, saat Claris tidak sengaja melihat Jasmine berada di sekitar.
"Pelayan! Apa yang kau lakukan?!" timpal Claris. Dua alisnya hampir menyatu akibat merasa terheran dengan sikap Jasmine.
Jasmine gelagapan. Ia segera berdiri dan memutar tubuh menghadap Claris. Tangannya dengan cepat mengaitkan beberapa helai rambut ke daun telinga. "A-aku menyiram tanaman," gagapnya.
"Kenapa kau malah menyiram tanaman? Aku pikir kau tadi membuatkan salad apel untuk kami," balas Claris. Menggeleng tak percaya.
"Maafkan aku. Aku akan membuatkan salad apelnya." Jasmine membungkukkan badan, lalu mencoba menggerakkan kaki untuk pergi ke dapur. Akan tetapi langkahnya terhenti kala Claris berucap kembali.
"Tidak usah! Aku dan James akan pulang saja. Tapi lain kali, aku sarankan--"
"Sudahlah, Bibi. Kau dan Paman sebaiknya pulang. Aku akan menghubungi kalian terkait keputusanku nanti," ujar Edward. Sengaja memotong ucapan Claris. Dia melakukannya, karena berusaha melindungi Jasmine.
"Baiklah, kalau begitu. Jagalah dirimu, Ed!" James bangkit dari tempat duduk. Salah satu tangannya menepuk pelan bahu Edward. Dia dan Claris langsung berpamitan untuk pulang.
Kini Edward, Jasmine, dan Ronald berdiri di depan rumah. Mereka baru saja melepaskan kepergian James dan Claris.
"Ronald, Jasmine! Bersiap-siaplah. Hari ini aku mau mengajak kalian ke tempat pacuan kuda yang ada di London!" imbuh Edward.
"Tapi aku harus--"
"Tidak ada yang boleh menolak. Kecuali jika dia ingin dipecat!" tukas Edward seraya melingus pergi menuju kamar. Dia sepenuhnya membuat Jasmine berhenti bicara.
Nafas Jasmine terasa berat. Dia sebenarnya cukup senang dengan ajakan Edward. Hanya saja hari ini Jasmine telah berjanji akan menemui ibunya ke rumah sakit. Janji itu harus dibatalkan gara-gara Edward. Lagi pula kenapa Edward mendadak mengajak semua orang ke area pacuan kuda? Dia bahkan belum begitu ahli mengendarai kuda.
Jasmine mengangkat kedua bahunya tak acuh. Dia akan bersiap untuk menuruti kehendak Pangeran.
Sesampainya di area pacuan kuda, Jasmine berdecak kagum. Perhatiannya tertuju kepada seekor kuda berwarna putih. Dia tercengang, karena tidak pernah melihat kuda putih dengan mata dan kepalanya sendiri sebelumnya.
"Naiklah!" titah Edward sambil mengenakan segala peralatan keamanan untuk berkuda. Seperti helm, pelindung lutut dan lainnya.
"Benarkah? Aku tidak akan membayar mahal karena menaiki kuda hebat ini kan?" tanya Jasmine memastikan. Dia takut akan disuruh membayar lagi oleh Edward. Persis seperti saat kejadian di toko barang bekas.
"Tentu saja tidak!" sahut Edward. Ia menarik sudut bibirnya ke atas.
Jasmine lantas naik ke punggung kuda. Sebelum itu, dia tentu memakai peralatan keamanan terlebih dahulu seperti Edward. Jasmine sebenarnya malas mengenakannya, tetapi dia tidak bisa menolak suruhan Edward. Sementara Ronald memilih diam dan mengamati apa yang dilakukan Edward.
"Kuda ini sangat cantik," ujar Jasmine seraya mengelus kepala kuda dengan lembut. Tanpa diduga, Edward malah naik ke kuda yang sedang di naiki Jasmine. Jantung Jasmine rasanya hampir mau copot dari tempatnya.
"Tu-tuan, kenapa anda naik ke kuda ini juga?" Jasmine bertanya dengan terbata-bata. Kelopak matanya melebar, meski dirinya tidak dapat menatap Edward yang sedang duduk di belakang.
"Aku ingin berkuda bersamamu, itu saja." Edward mengungkapkan dengan nada berbisik. Menyebabkan darah disekujur badan Jasmine berdesir hebat. Gadis tersebut tidak tahu kenapa, yang jelas tingkah Edward berhasil membuat perasaannya tidak karuan.
Jasmine akhirnya tidak dapat berbuat apa-apa. Dia telah terjebak dalam jerat tubuh Edward yang melingkar dari belakang. Jasmine menggigit bibir bawahnya. Rasanya dirinya ingin kabur saja. Demi menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah bak tomat matang.
Kuda perlahan berjalan. Menyusuri jalanan yang telah disediakan. Edward dan Jasmine menyusuri jalan dengan santai.
Edward menikmati waktunya bersama Jasmine. Dia tidak bisa menahan rasa bahagianya. Persetan dengan apa yang telah terjadi di pesta kemarin malam. Yang terpenting Edward sudah tahu kalau Jasmine juga menyukainya. Edward bertambah yakin saat mendengar pernyataan Jasmine ketika di pesta tadi malam.
"Apa kau serius dengan perkataanmu kemarin?" tanya Edward. Dia menghirup aroma rambut Jasmine yang harumnya menenangkan seperti bunga tulip.
"Maksud Tuan?" Jasmine tak mengerti. Sebab dia tidak mengingat semua perkataannya saat mabuk kemarin malam.
"Kau bilang lelaki yang kau suka bukan Jake, tetapi aku?" Edward memastikan. Dia hanya asal sebut. Tetapi tebakannya membuat jantung Jasmine berdetak semakin kencang. Proses pemompaan darah di tubuh Jasmine menjadi kian dipercepat. Gebu antusias serta kegugupan bercampur aduk menjadi satu.
"A-apa?! Kapan aku bilang begitu?" Jasmine tergagap untuk yang kesekian kalinya. Dia benar-benar bodoh jika berhadapan dengan yang namanya suasana romantis. Otaknya merespon seperti lambatnya gerakan seekor siput.
Peluh Jasmine sudah menetes di ubun-ubun. Keringat panas dingin akibat rasa gugup itu beberapa kali harus diusapnya.
Edward terkekeh geli. Dia sangat paham dengan kekakuan Jasmine. Dirinya tahu Jasmine memang tidak memiliki pengalaman dalam berhadapan dengan yang namanya cinta. Secuil pun tidak ada. Hidup Jasmine hanya disibukkan dengan musik, merancang, dan berkhayal.
"Tadi malam. Tapi sepertinya kau lupa. Karena tadi malam kau mabuk berat," kata Edward. Dagunya perlahan bertengger di atas salah satu bahu Jasmine. Dia juga membuat kuda berjalan kian melambat. Saat itulah Edward mendekap Jasmine dari belakang.
Nyaman, adalah definisi kata yang tepat terhadap perasaan yang dirasakan Edward sekarang. Dia ingin waktu berhenti, agar momennya bersama Jasmine bisa dirinya rasakan terus-menerus.
Debaran jantung Jasmine dan Edward memadu jadi satu. Terutama saat Edward nekat menempelkan badannya ke punggung Jasmine.
"Tu-tuan, anda--"
"Pssst!" Edward lekas-lekas menyuruh Jasmine diam. Dia justru mengencangkan pelukannya.
Jasmine membeku. Dia sempat ingin menolak. Namun mulutnya perlahan melengkung untuk membentuk sebuah senyuman. Meski tipis, tetapi ekspresi tersebut memberikan tanda bahwa Jasmine juga merasa nyaman.
Edward memejamkan mata. Dia tenggelam dalam aroma khas tubuh Jasmine yang terasa candu. Rasanya Edward ingin memasukkan Jasmine ke dalam tas, dan akan membawanya kemana pun pergi.
Tidak terasa, kuda berjalan di tempat seharusnya dia berhenti. Perjalanan Edward dan Jasmine telah berakhir. Edward harus melepaskan pelukannya, kemudian membiarkan Jasmine turun lebih dulu. Keduanya langsung melepas helm mereka dari kepala masing-masing.
Akibat terlalu malu, Jasmine berdalih ingin ke toilet. Dia melajukan langkahnya sekuat tenaga. Akan tetapi Edward tiba-tiba memegangi tangannya. Mengharuskan Jasmine otomatis berhenti berlari.
Edward dengan cepat menarik Jasmine mendekat. Memposisikan gadis itu berdiri tepat di depannya. Tanpa pikir panjang, Edward segera menempelkan bibirnya ke mulut Jasmine.
Jasmine sontak kaget. Manik birunya membulat. Edward lagi-lagi menciumnya di tempat yang salah. Edward seolah tidak peduli dengan yang namanya keramaian. Mungkin dia memang gemar berciuman di depan umum. Edward bisa dibilang seorang keturunan bangsawan yang nekat.
Meskipun begitu, Jasmine mencoba menenangkan dirinya. Ia memejamkan matanya terlebih dahulu. Hingga bibirnya mulai bergerak untuk membalas ciuman Edward.
Respon Jasmine memunculkan sepercik api dalam diri Edward. Lelaki itu akhirnya terbawa suasana. Edward mencengkeram tengkuk Jasmine, sedangkan tangan yang satunya menggenggam pinggul ramping Jasmine. Relung paru-parunya bergerak cepat untuk merubah oksigen menjadi karbon dioksida. Suara nafasnya terdengar sudah menderu-deru.
Hal serupa juga dirasakan Jasmine. Dia tak punya pilihan selain melingkarkan tangannya ke pinggul Edward. Bagi Jasmine, inilah ciuman pertamanya. Terasa nyata dan juga memabukkan. Debaran di jantungnya bergema mengikuti arus suasana.