Jase Is Mine

Jase Is Mine
Bab 43 - Bertemu Keluarga Kerajaan



...༻♚༺...


Edward dan Ronald terlihat sudah siap. Kedua lelaki itu duduk berseberangan di sofa ruang tengah. Pusat perhatian mereka tertuju ke arah Jasmine yang baru saja datang.


"Maafkan aku... Tadi aku harus meminta izin kepada ibu dan nenekku." Jasmine memberikan penjelasan sebelum ada seseorang yang bertanya. Ia menatap Edward dan Ronald secara bergantian.


"Hurry up!" ucap Ronald tanpa mengeluarkan suara. Tetapi Jasmine sangat mengerti maksud dari pergerakan mulutnya.


"Kau tidak akan berat hati untuk ikut kan?" timpal Edward. Ia merasa percaya diri, karena sekarang Jasmine pasti tidak akan bisa menolak ajakannya.


"Tentu tidak!" Jasmine menggeleng tegas. Dia masih diam di tempat. Suasana menghening dalam sesaat. Seakan semua orang bingung harus bicara apa.


Edward yang tersadar lebih dahulu, segera menegur Jasmine. "Lalu apa yang kau tunggu? Bukankah lebih baik kau bersiap? Aku dan Ronald cukup lama menunggu," ujarnya. Menyebabkan Jasmine bergegas untuk beranjak.


Jasmine berlari tergesa-gesa memasuki kamar. Dia mengambil beberapa pakaian dari lemari, lalu memasukkannya ke dalam tas. Jasmine juga tidak lupa untuk merapikan diri. Mengenakan pakaian yang pantas dan sopan.


Rambut Jasmine dibiarkan tergelung. Dia tersenyum kepada pantulan cermin. Kemudian segera pergi sambil membawa tas.


Kali ini Jasmine duduk di depan bersama Ronald. Sementara Edward duduk di belakang. Seperti biasa, lelaki itu selalu sibuk dengan sebuah buku di tangannya.


Jasmine perlahan melirik ke arah kaca spion yang ada di depannya. Lewat sana, dia dapat menyaksikan Edward yang tengah duduk di belakang.


Seakan terpesona, Jasmine tidak mengalihkan bola matanya dari Edward. Rambut pirang yang tersisir rapi, serta setelan pakaian mahal limited edition, membuat Jasmine menelan ludah.


'Bagaimana bisa Edward mendapatkan pakaian itu? Bukankah pakaiannya hanya dirilis dua setelan saja ke pasaran?' benak Jasmine bertanya-tanya. Ia mengingat artikel mode yang dibacanya beberapa hari lalu lewat internet. Jasmine tiba-tiba menciut. Rasanya sosok Edward terlalu hebat dibandingkan dirinya. Jasmine merasa seperti tanah, sementara Edward adalah bintang di langit yang sulit untuk digapai.


Tanpa diduga, Edward berhasil memergoki Jasmine yang sedang sibuk menatapnya. Jasmine sontak mengalihkan pandangan ke arah jendela. Jantungnya berdebar akibat tertangkap basah.


Edward menyunggingkan mulutnya ke kanan. Ia senang melihat Jasmine diam-diam memperhatikannya.


Ronald membawa mobil memasuki gerbang istana. Jasmine tetap berdecak kagum, meskipun ini bukan pertama kalinya dia melihat tampilan istana yang megah.


Berbeda dengan Jasmine, Edward justru memasang ekspresi serius. Dia sudah siap terhadap segala apa yang akan menyambutnya nanti.


Ketika mobil berhenti, Jasmine bergegas keluar. Tetapi pergerakannya langsung dihentikan oleh Ronald. Lelaki paruh baya itu berbicara dengan tatapannya. Dia menggerakkan bola matanya ke arah Edward.


Jasmine yang mengerti, segera mengangguk. Dia paham kalau Ronald harus keluar lebih dahulu dan membukakan pintu untuk Edward.


"Aku bisa keluar sendiri!" Edward dapat memahami interaksi yang terjadi di antara Jasmine dan Ronald. Ia memilih keluar dari mobil dengan membuka pintunya sendiri. Lagi pula tidak ada orang yang melihat. Edward tidak perlu terlalu berlagak seperti bangsawan.


Jasmine hampir melangkah masuk ke istana, namun Edward mendadak berdiri tepat di depannya. Lelaki tersebut menoleh sebentar ke belakang lebih dahulu. Lalu menatap lekat Jasmine.


"Ada apa?" tanya Jasmine. Dia salah tingkah dengan tatapan Edward. Satu tangannya teflek mengusap tengkuk tanpa alasan.


"Tidak apa-apa. Aku hanya senang kau ikut. Ayo!" ajak Edward sembari berjalan memimpin lebih dahulu. Di ikuti oleh Ronald dan Jasmine setelahnya.


Kedatangan Edward pertama-tama disambut oleh dua pengawal yang berjaga. Dilanjutkan dengan sambutan puluhan pelayan yang berjejer rapi. Mereka semua membungkukkan badan sekitar sembilan puluh derajat.


Seorang pelayan wanita paruh baya berdiri menghadap Edward. Namanya adalah Inggrid. Dia memberitahukan, kalau semua anggota keluarga kerajaan sedang berkumpul di pavilion halaman belakang.


Perhatian Inggrid perlahan teralih kepada Jasmine. Dia sebenarnya sudah mendapat kabar dari Ronald, bahwa ada pelayan yang akan membantu persiapan ulang tahun Ratu.


"Yang mulia... apakah dia pelayan yang anda bawa untuk membantu kami?" tanya Inggrid lembut.


Dengan nafas berat, Edward melangkah meninggalkan Jasmine. Dia segera bergabung dengan keluarga kerajaan yang lain.


Kini Jasmine harus berhadapan dengan Inggrid. Wanita paruh baya itu segera memberitahukan segala macam tugas Jasmine. Dari mulai membantu mendekor ruang utama, membersihkan istana, serta menyajikan makanan.


"Sekarang kau lebih baik pakai seragam pelayanmu. Kita harus menyajikan makanan untuk semua anggota kerajaan," ucap Inggrid sembari memberikan Jasmine seragam pelayan. Jasmine lantas mengangguk dan segera berganti pakaian.


Di sisi lain, Edward berjalan dengan santai menuju pavilion. Semua pasang mata tertuju kepadanya. Bagaimana tidak? Setelah beberapa tahun menghilang, Edward tiba-tiba muncul di hadapan semua keluarga kerajaan. Ini mungkin adalah pertama kalinya Edward mau mendatangi acara penting ke istana.


"Apa aku bermimpi? Edward, kaukah itu?" seorang wanita yang sering dipanggil Madam Laura berdiri. Dia sepupu dari ibunya Edward. Jadi bisa dibilang, Laura juga merupakan bibinya Edward.


"Kau terlihat lebih baik, Ed!"


"Apa wajahnya dahulu setampan ini?"


"Semakin dewasa, kau semakin mirip dengan ibumu."


"Apa dia masih bersikap gila?"


"Aku heran, kenapa dia sangat menutup diri dengan kita."


Berbagai kalimat sambutan dapat terdengar dari beberapa anggota keluarga kerajaan. Mereka ada yang kagum, bahkan berbicara sinis tentang Edward. Akan tetapi Edward sama sekali tidak hirau. Seperti biasa, dia selalu bersikap tak acuh.


Edward menarik kursi kosong, lalu mendudukinya. Ia tampak tenang sambil menampakkan raut wajah datar. Tidak ada ekspresi yang terpampang jelas diparasnya. Sedangkan semua orang di sekitar, masih saja sibuk membicarakan perihal dirinya. Keributan menyelimuti suasana.


Teng!


Teng!


"Silence, please!" Evelyn memukulkan sendok ke gelas seraya bersuara cukup lantang. Semua orang otomatis terdiam.


"Senang bisa melihatmu di sini, Ed. Aku dengar keadaanmu bertambah baik." Evelyn menatap teduh Edward. Ia berucap dengan perasaan tulus.


"Begitulah." Edward menjawab singkat. Dilanjutkan dengan meneguk segelas sampanye. Baru beberapa menit bergabung, Edward sudah merasa bosan.


Saat itulah Pangeran yang bernama Sean datang. Dia merupakan putra kandung dari Laura. Kedatangannya disusul oleh James, Claris dan putranya yang bernama Peter.


Sean dan Peter memiliki usia sepantaran dengan Edward. Cuman bedanya, identitas Sean dan Peter telah diketahui oleh publik. Sean yang parasnya lebih tampan dibanding Peter, memiliki penggemar sangat banyak. Ia bahkan menamakan klub penggemarnya dengan sebutan Osean. Tetapi jujur saja, jika dibandingkan dengan Edward, ketampanan Sean bukanlah apa-apa.


Sean dan Peter cukup dekat. Keduanya sama-sama membenci Edward. Sebab Edward merupakan cucu kesayangan Evelyn.


Sepuluh menit berlalu. Para pelayan mulai berdatangan sambil membawakan hidangan untuk makan siang. Jasmine kebetulan menjadi salah satu pelayan yang bertugas. Kemunculannya menyebabkan rasa bosan Edward menghilang dalam sekejap.


Sayangnya Edward hanya bisa mengamati Jasmine dengan matanya. Dia harus berbaur dan menikmati sajian makanan yang telah dihidangkan.


"Aku dengar kau sudah ahli berkuda, Ed. Bagaimana kalau kita bertanding?" celetuk Sean, yang tiba-tiba memberikan tantangan. Setelah berkata begitu, dia langsung saling cekikikan bersama Peter. Ketika masih kecil dahulu, Edward memang sering menjadi bahan ejekan mereka. Apalagi Edward seringkali ketakutan saat menaiki kuda.


Edward berseringai. Manik birunya menatap Sean melalui sudut matanya. "Kau menantangku? Bermain anggar sambil berkuda pun aku bisa!" balasnya, penuh akan keyakinan.


"Baiklah kalau begitu. Kita akan bertarung anggar sambil menaiki kuda!" tanggap Sean santai. Dia terkenal gemar berolahraga. Jadi kegiatan seperti berkuda sembari bertarung anggar bukanlah apa-apa baginya. Terutama jika lawannya adalah Edward.